
Rhea sedang duduk di bawah pohon menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Ia bersandar di batang pohon sambil menengadah memejamkan mata. Ia selalu menikmati momen saat sendirian.
"Rhea. Bagaimana keadaanmu? Aku dengar kamu mau cuti kuliah?"
Rhea membuka matanya melihat siapa yang sedang berdiri di depannya. 'Tomy!? Sial. Kenapa harus bertemu dengan dia!'
"Aku baik-baik saja. Maaf aku harus pergi.", Rhea segera bangkit berdiri dan ingin segera pergi menjauh dari Tomy.
"Hey, tunggu. Kenapa terburu-buru? Bukankah aku bertanya baik-baik?", Tomy memegang lengan Rhea.
"Lepaskan!", Rhea menyentakkan tangannya dengan kuat agar terlepas.
"Hei, hei, tenanglah. Aku tidak akan melakukan apapun.", Tomy mengangkat tangannya ke atas.
Rhea mendengus kesal dan langsung meninggalkan Tomy.
"Dasar ******. Asal kamu tahu, aku tidak pernah menyukaimu. Aku hanya kasihan padamu karena sepertinya tidak ada yang menyukaimu. Brengsek!", setengah berteriak Tomy memaki Rhea yang mulai berjalan menjauh.
'Sinting!', batin Rhea.
Tomy adalah teman kampusnya yang dikucilkan karena selalu membuat onar.
Suatu hari Rhea tidak sengaja melihat dia duduk termenung sangat tertekan. Rhea merasa kasihan. Ia pun menghampirinya dan memberinya minuman kalengnya yang beru saja ia beli. Berharap supaya dia sedikit terhibur.
Tapi ternyata Tomy menyalah artikan perbuatannya sebagai rasa suka.
Rhea sudah berada di luar gerbang kampus ketika tiba-tiba ada yang menariknya dari belakang. Dan itu adalah Tomy. Ternyata dia masih mengikutinya.
"Kamu... Mmph...", Tomy membekap mulut Rhea dan menariknya masuk ke dalam gang kecil yang ada di dekat sana.
Rhea menendang keras kaki Tomy sehingga ia melepaskan Rhea dan jongkok memegangi tulang keringnya yang terasa ngilu.
"Beraninya kamu menendangku. Ternyata aku sudah terlalu baik padamu.", Tomy berdiri dan berjalan mendekati Rhea.
Rhea hendak lari, namun dihadang oleh Tomy.
Sekarang Rhea terkunci di dinding dengan kedua tangan Tomy.
"Bukankah kamu menyukaiku? Kenapa memasang wajah takut begitu? Aku sudah merendahkan diriku untuk menerima perasaanmu, tapi kamu malah menghindariku dan sok jual mahal. Kau bahkan menganggapku sebagai penguntit. Tidakkah itu sudah keterlaluan?"
"Cepat menjauh dariku! Dasar sinting!", Rhea mencoba mendorongnya namun dia seorang wanita yang jelas kalah dengan kekuatan seorang pria.
"Jelas-jelas kamu suka padaku tapi masih mengelak. Aku akan membuatmu mengerti."
Tomy semakin mendekatkan wajahnya, tapi tiba-tiba ada yang memukul wajahnya dari samping dan membuatnya tersungkur ke tanah.
__ADS_1
Belum sempat berdiri, perut Tomy juga mendapat tendangan.
"Jangan pernah ganggu Rhea.", ujar Sean. Ia sudah berada di atas Tomy dan memukuli wajahnya.
"Sean. Sudah hentikan. Ayo kita pergi.", Rhea menarik lengan Sean menghentikan pukulannya.
Tanpa banyak bicara, Sean langsung berdiri dan menggandeng tangan Rhea berjalan keluar gang.
"Masuklah.", ujar Sean setelah membukakan pintu mobil sportnya.
Rhea menurut, karena ia juga ingin segera pergi dari sana.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?", tanya Rhea setelah Sean duduk di depan kemudi.
"Siapa laki-laki brengsek tadi?", Sean balik bertanya.
"Orang sinting. Sudahlah jangan membahasnya. Kita mau ke mana?"
"Makan siang. Kamu ingin makan apa?"
"Mie ayam ceker. Aku tahu tempat yang enak. Aku juga sering ke sana. Tidak jauh dari sini."
"Oke."
***
"Aku baik-baik saja. Makanya aku bisa langsung pergi ke kampus. Aku ingin segera mengurus cuti kuliahku."
"Lalu rencanamu sekarang apa?"
"Aku harus mencari pekerjaan full time. Dan kemarin Langit bilang kalau kafe Intan sedang butuh pegawai. Aku mau mencobanya."
"Rhea. Apa kamu tahu kalau Langit dan Intan sudah kembali lagi?", dengan ragu Sean bertanya karena takut menyakiti Rhea.
"Ini kak pesanannya.", seorang pelayan datang dan meletakkan dua mangkuk mie ayam di atas meja mereka.
"Makasih, bang.", Rhea menerima mie ayamnya dan mulai meraciknya dengan kecap dan sambal yang sudah tersedia di atas meja. Tidak lupa ia menambahkan lauk berupa sate telur puyuh, sate usus, sate bakso, kepala ayam, ceker ayam.
"Yakin kamu bisa habiskan itu semua?", Sean takjub melihat mangkuk Rhea yang penuh sampai tidak terlihat mie ayam itu sendiri.
"Hm. Aku selalu seperti ini jika makan di sini.", jawab Rhea tanpa malu-malu dan mulai menyantap makanannya.
"Perut gentong.", Sean pun juga mulai makan.
"Aku sudah tahu."
__ADS_1
"Kamu sadar diri rupanya."
"Iya. Makanya aku biasa aja dan nggak mau terlalu memikirkannya."
"Iya, jangan terlalu dipikirkan. Lakukan sesukamu saja."
"Pastinya. Toh aku tidak mau memaksakan perasaannya. Jika ini membuatnya senang, maka aku akan mendukungnya."
".....", Sean berhenti sejenak untuk memahami perkataan Rhea, entah kenapa ia merasa tidak nyambung. "Rhea? Sekarang kita lagi bahas apa memangnya?"
"Soal Langit dan Intan.", jawab Rhea masih dengan lahap memakan telur puyuhnya.
"Ha? Bukannya kita membahas soal perut gentong kamu?"
"...?", Rhea mendongak menatap lurus ke arah Sean dengan ekspresi heran. "Bukannya tadi kamu tanya soal aku tahu apa tidak kalau Langit dan Intan balikan lagi?", tanya Rhea dengan kedua pipinya menggembung karena sedang makan telur puyuh.
"Pft... Ahahahaha.", melihat itu membuat Sean tertawa karena gemas.
Ingin rasanya ia menepuk kedua pipi Rhea yang menggembung itu. Tapi tidak mungkin ia melakukannya, ia tidak ingin tersembur makanan oleh Rhea jika menepuk pipinya.
"Kenapa tertawa? Salah, ya?"
"Ah, ya. Eh, tidak.", jawab Sean tidak fokus.
"Yang benar yang mana? Iya atau tidak?", sedikit kesal Rhea kembali menyendok makanannya dan tidak menghiraukan Sean yang sedang menertawakannya.
"Ehem. Oke, serius. Kamu berarti sudah tahu kalau mereka balikan?", tanya Sean lagi setelah meredakan tawanya.
"Tidak. Aku hanya menduganya. Aku baru tahu setelah kamu bertanya tadi."
"Kenapa kamu bisa menduga seperti itu?"
"Karena hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Semalam saja mereka bertemu saat aku di rumah sakit. Lalu tadi pagi Langit memilih pergi mengantar Intan, daripada mengantarku pulang dari rumah sakit. Tapi untungnya ada kamu yang menjemputku."
"Semalam Langit bukannya menjagamu tapi malah pergi menemui Intan?", Sean mengepalkan tangannya karena kesal dengan perlakuan Langit.
'Tahu begitu semalam aku tidak pulang dan menjaga Rhea di rumah sakit.', batinnya.
"Em."
"Kamu terlihat tenang seperti ini, apa tidak merasa sakit hati? Kamu kan suka Langit."
"Sakit hati banget. Tapi ya itu tadi, selama orang yang aku suka senang, maka aku tidak masalah.", jawab Rhea dengan tersenyum getir.
"Sudahlah, kita bahas hal lain saja.", Sean mencoba mengalihkan pembicaraan agar Rhea tidak sedih. "Kamu suka camping, nggak?"
__ADS_1
"Aku belum pernah camping, sih. Kenapa?"
"Ayo ikut aku camping!"