Kuingin Yang Tak Kuinginkan

Kuingin Yang Tak Kuinginkan
Karena Aku Cantik


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan!!", teriak pengunjung itu sambil menarik tangannya namun tidak bergeming sama sekali.


"Minta maaf.", ujar Langit dengan tatapan dingin membuat pengunjung itu sedikit bergidik.


"Kau... Kau... Beraninya kau bersikap kurang ajar terhadapku! Kau tidak tahu siapa aku? Aku akan membuat kau menyesali perbuatanmu!!", rentet pengunjung tersebut seraya melayangkan pukulan dengan tangannya yang lain.


Namun lagi-lagi Langit menghentikan tangannya dengan sigap. Pengunjung yang sedikit mulai sadar dari mabuknya itu mengernyit kesakitan oleh cengkeraman Langit.


"Ada apa ini? Mohon jangan membuat keributan di sini.", tiba-tiba seorang pria dengan perawakan gendut datang menghampiri mereka.


Ia adalah manager restoran. Ia segera bergegas turun begitu mendapat laporan bahwa ada keributan di restoran.


"Langit. Cepat lepaskan!", bisik Rhea yang mulai risih karena menjadi pusat perhatian.


Langit pun melepas cengkeramannya secara mendadak sehingga membuat pengunjung itu sedikit terhuyung ke belakang.


"Maaf, telah membuat Tuan merasa tidak nyaman. Kami akan meminta pelayan lain untuk melayani Tuan.", kata sang manager dengan sopan dan sedikit membungkuk begitu mengetahui siapa pengunjung yang tengah membuat keributan.


Ia adalah Toni Mahendra, anak tertua dari keluarga Mahendra yang merupakan keluarga terpandang di kota ini.


Ia memang terkenal dengan sikapnya yang arogan sehingga sering membuat masalah. Walau demikian tidak ada satu pun yang berani melawannya.


Dengan menahan malu dari tatapan orang-orang, Toni pun beranjak pergi mengikuti pelayan yang telah ditunjuk oleh manager restoran.


Sebelum pergi dia menatap tajam ke arah Rhea yang sudah membuatnya terlihat konyol di depan banyak orang. 'Lihat saja! Aku akan membuat perhitungan denganmu wanitan sialan!!'


"Kamu! Datang ke ruanganku!", perintah manager kepada Rhea lalu pergi menyusul ke arah Toni untuk menenangkan amarahnya.


Rhea pun beranjak dari tempatnya, berjalan menuju ruangan manager yang berada di atas gedung restoran.


Rhea memasuki ruangan manager yang tidak bisa dibilang bersih, bau rokok dan alkohol sedikit tercium membuat Rhea harus menahan nafas sebentar.


Ia mulai memperhatikan sekeliling ruangan setelah penciumannya terbiasa. Ruangan itu kecil sehingga hanya sedikit perabotan yang ada di sana.


Rhea berjalan menuju kursi yang menghadap meja manager, menunggu kedatangan manager. 'Sepertinya aku harus mencari pekerjaan lagi.'

__ADS_1


Brak!


Mendengar suara pintu terbuka membuat Rhea berdiri sopan ke arah manager yang memasuki ruangan.


"Duduk.", perintah manager setelah ia duduk di kursinya. "Kau tahu siapa pria tadi? Ia adalah anak tertua keluarga Mahendra! Kau membuat masalah dengan orang yang salah! Untungnya ia tidak akan mempermasalahkan hal ini, asal kau dipecat!", ujar manager dengan gusar.


Sebenarnya ia menyayangkan jika Rhea sampai dipecat. Rhea adalah pegawai cekatan dan rajin yang selalu bersungguh-sungguh dengan pekerjaannya.


Selain itu ia juga cantik sehingga menarik perhatiannya dan telah memasukkannya ke dalam daftar wanita buruannya untuk bersenang-senang.


"Baik, pak. Saya akan berhenti bekerja.", jawab Rhea tenang karena sudah memperkirakannya.


"Aku harap kau mengerti bahwa ini demi rumah makan ini. Anggap saja kau lagi tidak beruntung karena berhadapan dengan Toni Mahendra."


"Iya, pak. Kalau begitu Saya permisi.", Rhea berdiri dan membungkuk sopan lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan.


Ia tidak ingin berlama-lama di sana karena tatapan aneh dari manager membuatnya tidak nyaman.


Sesampai di ruang ganti, Rhea langsung membuka loker dan mengambil tasnya tanpa mengganti seragamnya. Ia ingin cepat-cepat pulang dan tidur karena merasa lelah.


"Rhea! Kau tidak apa-apa, kan? Apa kata manager tadi? Apa kau akan pulang sekarang? Tunggu aku, ayo kita pulang sama-sama.", Siska yang baru sampai di ruang ganti langsung menanyakan keadaan Rhea.


"Kau tidak apa-apa?", tanya Langit menghampiri Rhea begitu melihatnya keluar dari restoran. Ia sudah menunggu Rhea dari tadi di depan restoran.


"Aku tidak apa-apa. Kenapa kau masih di sini?", tanya Rhea seraya menenangkan degup jantungnya. 'Selalu saja seperti ini jika bersama Langit. Aku harus belajar tenang'.


"Aku ingin mengantarmu pulang."


"Tidak perlu. Rumahku dekat hanya perlu jalan kaki 15 menit.", tolak Rhea mulai melangkahkan kakinya.


"Aku temani.", Langit pun tidak menyerah dan ikut berjalan di samping Rhea.


"Terserah.", Rhea tidak ingin berdebat karena merasa lelah.


"Oke.", senyum tipis menghiasi wajah Langit karena bisa bersama dengan Rhea walau hanya sebentar.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang mereka tidak banyak bicara. Rhea diam karena dia belum merasa nyaman dengan Langit, berbeda dengan Julie dan Sean, Langit terlihat sedikit pendiam.


Mungkin jika Julie dan Sean mendengarnya, mereka akan tertawa, karena pada dasarnya Langit bukan orang yang pendiam.


Langit diam di depan Rhea karena tidak tahu harus membicarakan apa. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin membicarakan banyak hal dengan Rhea. Ia ingin mengenalnya lebih dekat.


"Kita sudah sampai. Terima kasih sudah mengantarku. Aku masuk dahulu.", ucap Rhea membuyarkan lamunan Langit yang masih memikirkan percakapan yang bisa mendekatkan mereka.


"Ternyata memang dekat.", gumam Langit pelan.


"Kau pikir aku berbohong saat aku bilang kalau rumahku dekat dengan restoran?", walau pelan, Rhea dapat mendengar gumaman Langit.


"Tidak. Aku hanya menyesal karena tidak bisa lebih lama bersamamu.", jawab Langit tanpa sadar mengeluarkan isi hatinya.


Mendapat jawaban seperti itu membuat Rhea tertegun dan jantungnya berdegup kencang.


Bahkan Langit pun ikut tertegun dengan ucapannya sendiri.


Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara serangga dan desiran angin malam.


"Apa kau menyukaiku?", tanya Rhea tiba-tiba memecah kesunyian.


Ia memang tidak begitu suka basa-basi. Dan ia ingin memastikan perasaan Langit agar ia bisa bersikap biasa kedepannya saat bertemu Langit.


"Ya...", mendadak ditanya seperti itu membuat Langit menjawab dengan sedikit menggantung, karena ia belum siap untuk menyatakan perasaannya.


"Kenapa? Bukankah kita baru mengenal satu sama lain? Bahkan kamu belum mengenalku dengan baik. Kita juga tidak pernah bicara.", Rhea menjadi semakin berdebar dan sedikit senang mendengar jawaban Langit, tetapi ia berusaha menekan perasaannya, karena seperti yang ia katakan barusan, tidak ada alasan yang membuat Langit menyukainya.


Langit terdiam bingung harus menjawab apa. Yang dikatakan Rhea benar. Mereka baru berkenalan dan tidak pernah saling berbicara dengan benar, hanya pernah saling menyapa.


Jika ia menjawab jatuh cinta pada pandangan pertama, ia takut dianggap konyol dan tidak serius.


Rhea melihat Langit yang terdiam tidak bisa menjawab, membuatnya sedikit kecewa.


"Apa karena aku cantik?", tanya Rhea mengingat alasan yang selama ini dikatakan oleh pria-pria yang mencoba mendekatinya.

__ADS_1


Langit semakin kehilangan kata-kata melihat Rhea bertanya seperti itu dengan ekspresi datar.


'Memang benar Rhea cantik. Tetapi ia benar-benar mengatakan sendiri hal itu dengan polosnya? Imutnya...' Ia ingin sekali mencubit pipi Rhea saking gemasnya.


__ADS_2