
Cuaca cerah hari ini. Rhea terlihat canggung berada di antara teman-teman Sean dan Langit. Saat ini mereka sedang berkumpul di rumah Langit.
"Langit lama banget, sih. Jemput satu perempuan aja nggak balik-balik.", keluh salah satu di antara mereka yang sepengetahu Rhea bernama Riyan.
"Iya, ngapain juga Intan ikutan camping. Pasti ngerepotin. Ck.", timpal pria yang terlihat paling kecil, namanya Feri kalau tidak salah.
Rhea hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Rhea belum bisa berbaur dengan mereka. Dia tadi hanya sekilas berkenalan dengan mereka. Setelah berkenalan dia hanya duduk di pojokan menunggu Sean yang tadi pergi meninggalkannya untuk menjemput sepupunya.
"Hei. Kamu pasti Rhea. Boleh aku duduk di sini?", sapa seorang perempuan sambil menunjuk tempat kosong di samping Rhea.
"Ah, ya. Silahkan.", jawab Rhea sambil sedikit menggeser posisinya mempersilahkan perempuan tadi.
"Kenalin. Aku Emma, sepupu kak Sean.", kata Emma memperkenalkan diri mengulurkan tangannya ke arah Rhea.
"Rhea.", jawab Rhea tersenyum tipis sambil menyambut uluran tangan Emma.
"Hei, Emma. Kamu sudah datang. Sean mana?", tanya Riyan yang berjalan menghampiri mereka.
"Masih di depan mungkin, kak. Tadi begitu sampai langsung aku tinggal masuk dia.", jawab Emma.
"Itu orangnya, Yan.", timpal Feri yang juga ikut menghampiri mereka.
"Hai, semua.", sapa Sean yang baru saja masuk. "Lha? Mana Langit sama Intan? Masih belum datang juga?", tanya Sean setelah tidak menemukan sosok kedua orang tersebut diantara mereka.
"Entah. Kenapa juga sih mendadak Intan ikutan camping? Ini kan bukan seleranya. Bikin repot aja.", keluh Riyan.
'Dia mendadak ikut karena tahu kalau Rhea mau ikut juga. Sepertinya dia takut Langit kepincut sama Rhea. Ngerti?', batin Sean yang satu-satunya tahu alasan Intan mendadak ikut.
Flashback semalam.
"Kak Sean. Sendirian aja, nih? Mau aku panggilkan kak Intan, kak?", tanya salah satu pegawai kafe Intan kepada Sean yang baru saja datang.
"Nggak usah, Gita. Toh, aku sendirian, nggak sama Langit. Aku pesan minum kayak biasanya aja, ya.", kata Sean sembari melihat sekeliling.
"Oke, kak.", Gita meninggalkan Sean dan pergi menemui Intan.
Walaupun Sean menolak untuk dipanggilkan Intan, tetapi Gita tetap memberitahukan kedatangannya kepada Intan. Karena bagaimanapun Sean adalah teman dekat Langit yang merupakan pacar Intan.
"Kok sendirian, Sean? Mana Langit?", tanya Intan yang baru saja duduk di depan Sean.
__ADS_1
"Lagi di rumah ngerjain tugas."
"Aku tahu."
"Terus kenapa nanya?"
"Maksud aku, kenapa kamu ke sini nggak sama Langit? Kan biasanya kalian sering pergi berdua."
"Emang kita sepasang sepatu yang harus selalu berdua. Ah, Rhea!", Sean sedikit berteriak memanggil Rhea yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
Rhea yang hendak kembali dari mengantar pesanan ke pelanggan kafe langsung menoleh ke arah Sean. Iya, Rhea sudah bekerja di kafe Intan. Dan hari ini adalah hari keempat dia bekerja di sini.
Rhea sedikit ragu untuk menghampiri Sean, karena sekarang masih jam kerjanya.
"Sini.", Sean melambaikan tangannya agar Rhea menghampirinya.
'Ke sana aja, lah. Mungkin Sean mau pesan sesuatu. Itu di atas mejanya masih kosong juga.', batin Rhea sambil mulai berjalan menghampiri mereka.
"Sini.", Sean menepuk kursi di sebelahnya menyuruhnya duduk. Tapi Rhea tetap berdiri tidak menurutinya dan melihat ke arah Intan yang sedang memainkan ponselnya.
Sean paham apa yang dipikirkan Rhea, sehingga ia ganti berbicara ke Intan. "Nggak apa-apa, kan, Rhea aku ajak duduk? Toh, jam kerjanya sebentar lagi selesai."
Mendengar itu, Rhea melihat jam yang tergantung di dinding belakang kasir. 'Pukul sepuluh kurang lima menit. Memang sebentar lagi waktunya aku pulang.', batin Rhea.
"Ayo.", Sean menarik lengan Rhea agar segera duduk. "Gimana? Kamu sudah ijin buat nggak masuk kerja besok?"
"Mmm,, itu...", belum selesai Rhea menjawab, Intan sudah menyela.
"Tidak boleh. Dia baru empat hari kerja di sini, dan sudah mau ijin tidak masuk? Walau dia teman kamu, aku tidak bisa mengijinkannya. Aku tidak ingin dianggap pilih kasih oleh pegawaiku yang lain. Lagian kenapa kamu ikut campur soal ijinnya?"
"Ya karena dia ijin buat pergi bersamaku besok." Sean kembali beralih bertanya ke Rhea, "Kamu nggak bilang alasan ijin kamu, Rhe?"
Lagi-lagi, belum sempat Rhea menjawab, Intan sudah menyahuti perkataan Sean.
"Kamu mau keluar sama Rhea besok?Emangnya kamu besok nggak jadi ikut camping sama Langit dan anak-anak lainnya?", tanya Intan.
"Ya, ini. Aku ngajak Rhea ikut juga."
"Aku juga mau ikut. Besok kafe aku liburin.", setelah bicara seperti itu, Intan bangkit berdiri meninggalkan mereka begitu saja sambil menghubungi seseorang, yang tak lain adalah Langit.
__ADS_1
Iya, dia memberi tahu Langit saat itu juga kalau dia akan ikut camping. Dia juga memberitahu semua pegawainya bahwa kafe akan diliburkan selama tiga hari.
Kembali ke saat sekarang.
"Begini saja, deh. Aku sama Feri berangkat duluan aja. Buat nyari tempat terus masang tendanya di sana.", usul Riyan.
"Iya, deh. Gitu aja. Aku nyusul ntar sekalian masih nunggu si Gilang, nih.", Sean menyetujui.
"Gilang ikut juga? Katanya kemarin lagi males jalan, mau rebahan aja di rumah rencananya.", sahut Riyan.
"Ya, mendadak dia ingin ikut.", jawab Sean mengangkat bahu. 'Aku paksa ikut tepatnya.', batin Sean.
"Ah elah."
"Kalau begitu kita duluan, ya.", pamit Feri sembari menyusul Riyan yang sudah berjalan keluar duluan.
Tidak berapa lama kemudian, seorang pemuda tinggi datang masuk ke dalam rumah. "Permisi.", ucapnya kalem.
"Gilang, nyampe juga kamu akhirnya. Kenapa lama datangnya?", sambut Sean.
"*****. Kamu yang tadi habis jemput Emma mendadak datang ke rumahku dan maksa aku ikut camping. Jadi nggak usah banyak bacot.", omel Gilang yang langsung rebahan di atas sofa.
"Woah, kalem aja kali. Sori, oke? Salah Emma juga yang mendadak ingin ikut.", kilah Sean.
"Karena kakak juga mendadak bilang ke aku kalau mau camping itu tadi malam.", sergah Emma tidak mau disalahkan.
"Haaahh,, oke, aku yang salah. Maaf.", kata Sean pasrah.
"Huh.", dengus Emma.
"Jadi, Rhea ntar kamu dibonceng Gilang, ya." Sean menghampiri Gilang yang masih berbaring. "Bangun.", Sean menendang pelan kaki Gilang.
Dengan sedikit malas, Gilang bangun dan duduk bersandar pada sofa. Sean juga ikut duduk di sebelahnya.
"Gilang, itu Rhea. Ntar kamu boncengin dia, ya. Karena aku wajib boncengin Emma. Disuruh mamanya.", jelas Sean.
"Iya, terserah."
"Nggak apa-apa, kan, Rhe?"
__ADS_1
Rhea mengangguk setuju.
"Itu kak Langit sudah datang sama kak Intan.", seru Emma yang melihat kedatangan mereka di halaman depan rumah.