Kuingin Yang Tak Kuinginkan

Kuingin Yang Tak Kuinginkan
Mie Kuah


__ADS_3

Tidak berapa lama kemudian, ibu pemilik warung mendatangi Sean, "Ini mas, mie kuah pesenan masnya.", ujarnya sambil meletakkan mangkuk mie yang masih mengepulkan asap panas di depan Sean.


"Terima kasih, Buk.", ucap Sean berterima kasih dan meraih mangkuk mie dihadapannya kemudian menggesernya ke depan Rhea. "Nih, cepetan dimakan sebelum dingin."


"Makasih.", tanpa sungkan Rhea langsung menyendok mie kuah di hadapannya. Mungkin karena hawa pegunungan yang dingin, membuat perut Rhea yang memang mudah lapar menjadi sangat kelaparan.


"Hei, pelan-pelan. Kebiasaan ya, kamu ini kalau makan terburu-buru begitu.", keluh Sean sambil menyibakkan rambut Rhea yang menjuntai ke belakang telinganya agar tidak masuk ke dalam mangkuk mie.


Rhea tidak mempedulikannya dan masih dengan lahap menyantap mie kuahnya. Sedangkan Langit menjadi cemburu melihat Sean begitu perhatian pada Rhea, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini sedang bersama Intan.


Emma yang duduk di sebelah Rhea samar-samar sedikit memahami bahwa sepupunya, Sean, memiliki rasa terhadap Rhea, karena baru kali ini Sean terlihat begitu peduli pada seorang gadis. Dia tahu, walau Sean genit dan seorang playboy, tapi dia tidak pernah serius menanggapi para gadis yang mendekatinya.


"Heh, Gilang Pradana! Sini, gih, cepetan! Nih, mie kuah sama teh anget buat kamu, keburu dingin.", seru Riyan saat melihat Gilang datang setelah berganti pakaian.


Tanpa banyak kata, Gilang berjalan menghampiri Riyan dan duduk di sebelahnya di sisi lain meja, "Thanks." Memang ya, cuaca dingin itu mudah membuat perut orang merasa lapar.


"Oh, iya, Emma. Aku tadi masih belum paham.", Rhea yang sudah selesai menghabiskan mie kuahnya lantas mengajak Emma bicara dengan suara lirih berbisik.


"Apanya, kak?", balas Emma.


"Soal ronjot tadi, yang dimaksud Gilang tadi, apa ya?", tanya Rhea penasaran.


"Ah, itu. Bukan apa-apa sih, kak. Nggak terlalu penting. Itu cuma istilah yang kadang dipakai anak-anak ini."


"Emang apa artinya?"


"Yah,, kalau seseorang dari mereka sedang membonceng cewek, tapi ceweknya tidak pegangan atau duduknya jauhan, mereka menyamakan mereka dengan ronjot, karena rasanya seperti bonceng barang, bukan orang.", jelas Emma sedikit takut jika Rhea tersinggung.

__ADS_1


"Oalah, kirain apaan.", ujar Rhea lantas menyeruput teh hangatnya hingga habis.


"Kak Rhea nggak tersinggung, kan?"


"Nggak, biasa aja. Toh emang kenyataannya begitu waktu aku dibonceng tadi.", jawab Rhea meringis menunjukkan sederet gigi putihnya.


'Manisnya.', batin Emma. 'Nggak heran juga, kalau kak Sean sampai kepincut. Terus orangnya kayaknya asik, nggak baperan.'


"Aku udah tanya ibuknya, katanya nggak apa-apa kalau kita mau pakai emperan warung sebelah buat bermalam.", ucap Sean yang kembali duduk di sebelah Rhea setelah pergi menemui ibuk pemilik warung saat Rhea sedang makan tadi.


"Beneran nggak apa-apa?", tanya Riyan memastikan.


"Iya, tadi sama ibuknya juga udah ditelfonin ke pemilik warung sebelah buat ijin.", jawab Sean pasti.


"Lha kenapa kita bermalam di emperan sebelah? Bukannya kalau camping tuh tidur di tenda, ya?", tanya Rhea lagi dengan suara lirih ke Emma. Dia tidak bertanya kepada Sean karena Sean masih sibuk berdiskusi dengan Riyan yang duduk di depannya.


"Nggak tahu, kak Riyan sama Feri tuh gimana nyari tempat buat masang tenda tadi. Masa di dalam tenda kemasukan air pas hujan mulai turun, jadinya nggak bisa ditempati buat tidur, kak.", keluh Emma sedikit cemberut.


"Kan, bisa dilap, dibersihin gitu."


"Ini kemasukan airnya lumayan parah, kak. Soalnya airnya di dalam tenda tuh menggenang, anggap saja seperti rumah kebanjiran gitu deh katanya."


"Kok katanya?"


"Iya, yang tahu keadaanya tuh kak Riyan sama Feri. Kita pas sampai sini juga sudah hujan, lalu sama kayak kak Rhea dan kak Gilang, kita dicegat sama mereka berdua di warung sini.", jelas Emma.


"Ooo....", gumam Rhea ber-o-ria sambil sedikit manggut-manggut.

__ADS_1


"Rhea, maaf, ya.", ujar Sean di sebelahnya.


"Nggak masalah. Oh iya, celanaku kan lumayan basah gegara hujan, tolong tanyain ke ibuknya dong, dimana buat jemurnya.", pinta Rhea.


"Iya, bentar aku tanyain.", Sean bangkit berdiri lagi dari duduknya. "Eh, kamu mau nambah mienya nggak? Sekalian aku pesenin lagi.", tawar Sean setelah melihat mangkuk mie Rhea yang sudah ludes bersih tidak bersisa, bahkan kuahnya sekalipun tidak ada setetes.


"Ih, apaan sih. Nggak lah, aku kenyang.", protes Rhea sedikit canggung.


"Yakin?", goda Sean. Dia tahu kalau sebenarnya porsi makan Rhea itu banyak.


"Ntar se-jam-an aja lagi deh pesennya.", imbuh Rhea sambil nyengir.


"Tuh, kan. Aku tahu itu. Dasar perut gentong.", ledek Sean sambil mengacak-acak rambut Rhea sebelum pergi bertanya ke ibuk pemilik warung. Sekali lagi, Langit hanya bisa cemburu melihatnya. 'Rasain. Makanya yang tegas dong jadi cowok.', ejek Sean yang menyadari kecemburuan Langit.


Setelah kepergian Sean, Rhea tidak tahu mau ngapain. Gilang yang duduk di sisi meja lain sebelah kiri Rhea, masih sibuk dengan makanannya. Riyan dan Feri juga terlihat asik dengan obrolan mereka sendiri.


Sedangkan Langit dengan Intan yang juga duduk di sisi meja lain sebelah kanan Rhea, juga asik sendiri dengan kemesraan mereka. Yaahh, walau sebenarnya Intan yang lebih dominan bicara sambil bermanja ria, tapi di mata Rhea mereka terlihat seperti dunia milik mereka sendiri. 'Aku cemburu tahu! Huh.', batin Rhea sambil menepuk pelan dadanya yang sedikit nyeri.


Rhea ganti mengalihkan pandangannya ke arah Emma yang duduk tepat di sebelah kanannya. Dia terlihat sibuk sendiri memainkan ponselnya, sehingga Rhea sungkan untuk mengajaknya ngobrol. 'Lagian aku nggak tahu mesti ngobrol tentang apa sama dia.'


'Haaahh... Memang ya, aku ini nggak pintar bersosialisasi. Kalau nggak dideketin duluan, aku pasti juga nggak bakal ndeketin.', keluh Rhea pada dirinya sendiri sambil menghela nafas pelan. Dia lalu mengambil ponsel di ranselnya yang saat ini ada di pangkuannya dan mulai membuka media sosialnya yang bisa dibilang sepi. 'Ahahaha... Bahkan di dunia maya aku juga tidak terlalu punya banyak teman.'


Rhea menggerakkan jarinya ke atas ke bawah di permukaan layar ponselnya, hanya asal menggeser tanpa melihat secara cermat apa yang ada di tampilan layar ponselnya. 'Aku jadi sedikit menyesal karena sudah ikut camping ini. Mending rebahan aja di rumah.'


Gilang yang sudah menyelesaikan makannya, melirik sebentar ke arah Rhea yang sedang bertopang dagu, bibirnya sedikit mengerucut dengan ekspresi wajahnya yang bosan. 'Kalau bukan gara-gara dia, aku pasti sudah rebahan aja di rumah.', batin Gilang sambil memalingkan wajahnya kembali ke gelas minumnya, lalu meneguknya perlahan.


"Rhea, ayo aku tunjukkin tempatnya.", ajak Sean yang sudah kembali dan berdiri di belakang Feri.

__ADS_1


"Em.", Rhea mengangguk dan berdiri sambil menenteng kantong plastik yang berisi celana panjangnya yang basah.


__ADS_2