
Malam semakin larut, tapi rasa kantuk tidak sedikit pun menghantui mereka berdelapan. Yang ada mereka semakin terhanyut dengan suasana yang ada.
Sean juga sudah mengambil alih permainan gitar dari Riyan. Saat ini dia yang memainkan gitar. Tidak diragukan lagi jika dia sedang pamer di depan Rhea.
Dia memetik senar gitar dengan lihai dibarengi dengan suara nyanyiannya yang ternyata cukup melelehkan hati perempuan yang mendengarnya.
'Wah. Nggak nyangka kalau Sean bisa menyanyi sebagus ini. Padahal tampangnya terlihat tidak meyakinkan untuk bernyanyi seromantis ini. Yahh,, mungkin dia juga menggunakan ini untuk merayu gadis-gadis,' batin Rhea sedikit terpesona dengan tindakan Sean.
Saat Rhea fokus menikmati alunan dari Sean dan terus menatapnya, tanpa dia tahu ternyata Langit memperhatikannya. Disaat semua orang fokus menikmati lagu yang dinyanyikan Sean, Langit mengambil kesempatan itu untuk menatap lekat Rhea.
Langit sekali lagi mendapati dirinya cemburu tatkala Rhea tampak terkagum dengan kebolehan Sean. Karenanya, begitu Sean selesai menyanyikan bait terakhirnya, Langit berinisiatif mengambil gitar dari Sean.
"Sini, gantian," pinta Langit.
Sean sedikit menahan pegangannya pada gitar, seakan tidak rela jika Langit juga bermain gitar dan akhirnya akan membuat Rhea semakin menyukainya. Karena Sean tahu kalau Langit bisa bermain gitar, dan malahan lebih bagus darinya.
Walau orang awam seperti Rhea memang tidak akan tahu perbedaannya, tapi apapun itu jika orang yang kita sukai melakukan sesuatu pasti akan terlihat menarik dan menambah daya pikatnya. Dan Sean berpikir kalau Rhea juga pasti akan begitu, 'Dia pasti akan bias,' batin Sean sambil melirik ke arah Rhea.
"Hei, Sean. Cepat lepasin. Biarin Langit memainkan lagu untukku," seru Intan tidak sabaran.
Sean pun dengan terpaksa membiarkan Langit mengambil gitar yang ada di tangannya. Intan sangat antusias karena Langit akan bermain gitar. Begitu juga dengan Rhea, dia penasaran apakah Langit bakal bermain gitar sebagus Sean.
Saat Langit memulai intro lagunya, Sean bangkit berdiri dan kembali berada di samping Rhea. Benar dugaannya, mata Rhea yang cerah terlihat lebih berbinar-binar memandang ke arah Langit.
Karena tidak tahan melihatnya, Sean melongokkan kepalanya tiba-tiba tepat di depan Rhea sehingga menutupi pandangannya terhadap Langit. "Hei, kamu ngapain? Aku jadi nggak kelihatan," protesnya.
"Kamu lapar nggak?" tanya Sean.
"Belum terlalu. Kenapa? Sudah, cepat minggir sana." Rhea menarik pundak Sean menyamping agar menjauh dan tidak menutupi pandangannya lagi.
__ADS_1
"Tapi aku lapar banget," Sean tidak mau kalah dan kembali melongokkan kepalanya di depan Rhea.
"Terus?" tanya Rhea sedikit jengkel. Karena gangguan Sean, dia sudah tidak bisa terlalu menikmati lagu yang dimainkan Langit.
"Temani aku makan. Ya?" pinta Sean sambil memasang wajah memelas.
Rhea terdiam sejenak, menatap lurus ke arah Sean yang masih berada tepat di depan wajahnya. Dia ingin menolak tentunya.
"Rhea, ayo. Perutku lapar banget, sampai melilit rasanya. Kamu pasti paham kan bagaimana rasanya."
Ya jelas tahu lah Rhea, bagaimana rasanya kelaparan itu. Dia sering mengalaminya, terutama ketika tanggal tua alias akhir bulan, di mana semua gajinya bulan itu sudah menipis. Sehingga dia sering tidak makan dalam sehari dan akan makan keesokan harinya, itu pun dia juga makan tidak sampai tiga kali dalam sehari.
Begitu seterusnya cara Rhea bertahan di setiap akhir bulan sampai dia gajian lagi di awal bulan berikutnya. Karenanya dia paham betul rasa lapar yang menyiksa dan dapat mengganggu konsentrasi seseorang.
"Baiklah. Ayo," jawab Rhea akhirnya, karena dia tidak tega melihat Sean yang sepertinya benar-benar kesakitan saking laparnya.
"Yes," Sean berdiri secepatnya saking senangnya karena tujuannya agar Rhea tidak fokus memperhatikan Langit, berhasil. "Ayo," ajak Sean sembari mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu Rhea berdiri.
"Sayang? Kenapa berhenti?" tanya Intan ketika Langit mendadak menghentikan jarinya untuk memetik senar gitar.
"Aku lupa kuncinya," jawab Langit singkat.
"Tumben. Ini kan lagu yang sering kamu mainkan. Tapi, yahh ... kamu bisa memainkan lagu yang lain," ujar Intan penuh harap.
"Tidak. Aku mau ke kamar mandi," tolak Langit lantas berdiri dan mengembalikan gitar kepada Riyan. Setelahnya dia berbalik pergi.
"Hmm...." Emma yang pada dasarnya adalah gadis yang sangat peka mulai manggut-manggut sendiri, mengerti apa yang sudah terjadi. 'Begitu rupanya,' batinnya.
'Yang benar saja. Sean tidak bisa terus-terusan bersikap seperti itu. Jelas-jelas dia tahu aku suka sama Rhea, tapi dia tetap bertindak seenaknya terhadap Rhea,' sungut Langit dalam hati.
__ADS_1
Langkah kaki Langit membawanya ke dalam warung yang dituju oleh Sean dan Rhea. Dia tidak berniat pergi ke kamar mandi seperti yang dia pamitkan sebelumnya.
"Sean," panggil Langit.
Kedua orang yang sedang duduk berdampingan itu pun mendongak bersamaan menoleh ke arah sumber suara.
"Bisa bicara sebentar?" imbuh Langit setelahnya.
"Oke," jawab Sean ringan. Dia sepertinya sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Langit. Bagaimanapun mereka adalah teman bagai saudara yang sudah saling mengenal luar dalam.
"Aku tinggal dulu ya, Rhe. Kalau makanannya sudah datang, kamu makan saja duluan," ucap Sean sebelum pergi mengikuti Langit yang sudah berjalan keluar kembali.
"En," angguk Rhea mengiyakan ucapan Sean.
'Ada apa, ya? Kok aku merasa Langit kelihatan serius banget raut mukanya. Aku jadi tegang sendiri,' batin Rhea sedikit parno sepeninggal mereka berdua. 'Apa mereka bakalan berantem, ya.'
Rhea masih berkutat dengan pikirannya ketika sampai akhirnya sebuah mangkok berisi mie kuah dengan asap panas masih mengepul di atasnya diletakkan di meja.
"Ini pesanannya, mbak."
"Makasih ya, pak," balas Rhea sambil menarik mangkok mienya lebih dekat ke hadapannya, lalu mengambil satu mangkok lainnya ke sampingnya untuk Sean.
Menghirup aroma mie kuah yang ada di depannya membuat perut Rhea yang tadinya tidak terlalu lapar menjadi lapar kembali. Rhea nyengir sendiri karena heran dengan perutnya yang selalu mudah sekali merasa lapar.
Dan yang lebih membuatnya heran, dia sebenarnya bisa menahan lapar untuk berhari-hari sekalipun, dan itu sering dia lakukan. Sebab itulah dia punya penyakit maag, dan itu membuat Julie jadi sering mengomelinya.
"Aku jadi kangen Julie," gumamnya ketika teringat sahabatnya yang super duper cerewet itu.
Rhea mulai menyeruput kuah mie yang sudah mulai menghangat. 'Memang ya, mie instan itu makanan terenak yang tidak akan pernah membuatku bosan, yang ada malah bikin aku nagih rasanya. My favorit food.'
__ADS_1
Dengan segera Rhea menikmati makanan favoritnya itu dengan lahap tanpa teringat lagi dengan ketegangan yang terjadi antar Langit dan Sean, maupun dengan Julie yang katanya dia rindukan barusan.