
"Akhirnya kamu dateng juga, Lang. Lama banget, ngapain aja?", seru Sean.
"Tanya Intan aja.", jawab Langit mengangkat bahu.
"Aku dandan dulu. Kenapa? Mau protes?", tantang Intan.
Langit meninggalkan mereka berdua yang lagi berdebat lalu duduk di sebelah Gilang.
"Bukannya kapan hari kamu bilang kalau kamu nggak mau ikut, Lang?", tanya Langit.
"Tanya Sean aja.", jawab Gilang meniru perkataan Langit.
Langit terdiam sejenak, lalu beralih bertanya kepada Emma. "Di mana Riyan dan Feri?", tanyanya tidak lupa curi pandang ke arah Rhea.
"Mereka berangkat duluan, kak."
"Ayo kita berangkat sekarang. Gara-gara seseorang kita jadi terlambat.", ajak Sean meninggalkan Intan yang masih kesal karena disalahkan. Dia berjalan mendekati Emma dan Rhea.
"Ayo.", jawab Emma sambil berdiri kemudian diikuti oleh Rhea. Langit dan Gilang juga ikut berdiri.
Intan yang keluar rumah terlebih dahulu karena dia masih berdiri di depan pintu sejak kedatangannya tadi.
Disusul dengan Gilang kemudian Sean, karena dia hendak memperingati Gilang agar hati-hati saat membonceng Rhea. Dia bahkan menyuruh Gilang agar memakai ranselnya di punggung supaya tidak berdekatan saat membonceng Rhea.
"Emma, anterin aku ke kamar mandi sebentar, ya.", bisik Rhea menghentikan Emma yang juga akan menyusul Sean keluar rumah.
"Baiklah, ayo."
"Kamu tahu di mana tempat kamar mandinya?", tanya Rhea. Dia hanya pernah sekali di rumah Langit waktu itu, dan tidak tahu di mana letak kamar mandinya.
Emma menggelengkan kepala, "Maaf, kak. Aku nggak tahu. Aku kira kak Rhea yang tahu."
"Ada apa?", tanya Langit yang tengah menunggu mereka di dekat pintu.
"Ini, kak. Kak Rhea minta antar ke kamar mandi."
"Ayo, aku antar.", Langit melangkah masuk ke dalam rumah.
"Itu udah dianterin kak Langit, kalau begitu aku keluar dulu, kak.", pamit Emma.
Rhea masih berdiri di tempatnya, mendadak dia tidak ingin buang air kecil, dia terlalu gugup jika harus hanya berdua dengan Langit.
"Rhea, ayo.", ajak Langit karena Rhea tidak kunjung mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
"Ah, iya.", Rhea akhirnya berjalan menghampiri Langit. Dia mengikuti Langit dalam diam.
"Di sini.", ucap Langit yang berdiri di samping pintu kamar mandi yang ternyata letaknya ada di dekat dapur.
"Makasih.", Rhea buru-buru masuk ke kamar mandi tanpa melihat ke arah Langit.
Setelah beberapa saat, Rhea keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan urusannya.
"Rhea.", panggil Langit yang ternyata masih menunggunya di luar kamar mandi.
Rhea hendak menoleh ketika tiba-tiba tangannya ditarik ke samping oleh Langit. Dalam sekejap dia berada dalam pelukan Langit. "Aku kangen kamu, Rhe.", ucap Langit sambil mengecup kepala Rhea.
Rhea merasa senang sekaligus sakit hati. Dia senang karena orang yang disukainya merindukannya, tapi dia sakit hati karena orang itu milik orang lain dan bukan miliknya.
Langit melepaskan pelukannya. Sebagai gantinya dia menangkupkan tangannya ke wajah Rhea yang mungil. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Rhea dan mengecup bibir Rhea.
Niat awalnya dia hanya ingin mengecup bibir Rhea. Tapi setelah melakukannya, dia masih merasa belum cukup. Maka dia kembali mengecup bibir Rhea lebih lama.
Kecupan berubah menjadi ciuman lembut yang membuat Rhea terlena dan hanya bisa pasrah. Otaknya menyuruhnya untuk menghentikan Langit karena tahu bahwa yang mereka lakukan saat ini adalah salah. Tapi hatinya tidak ingin menyuruhnya berhenti.
"Woy, cepetan. Ntar keburu malem sampai sana.", teriak Sean dari ruang tengah.
Teriakan Sean membuat Rhea tersentak kaget dan langsung mendorong Langit menjauh. Rhea tersipu malu dan dengan canggung memalingkan wajahnya menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
"Emm,, aku keluar dulu.", pamit Rhea terlebih dahulu karena Langit tidak segera beranjak dari tempatnya.
Di ruang tengah Rhea bertemu dengan Sean. "Kenapa lama? Kamu buang air besar?", tanya Sean.
"Apaan, sih. Nggak, lah. Resleting celanaku macet, makanya lama.", jawab Rhea asal.
Setidaknya saat berhadapan dengan Sean selalu membuatnya nyaman, sehingga dia dapat mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi.
"Sekarang sudah bisa apa belum resletingnya? Apa mau aku bantu buat benerin?", senyum jahil Sean mengembang di wajahnya yang tampan dan tengil itu.
"Udah. Ayo kita buruan keluar. Udah ditunggu sama yang lain di luar."
"Kan kamu yang buat kita nunggu lama lagi.", jawab Sean sambil menyamai langkahnya di samping Rhea yang sudah jalan lebih dahulu.
"Terus, mana Langit?", tanya Sean melihat ke belakang.
Rhea pura-pura tidak mendengar pertanyaan Sean dan mempercepat langkahnya untuk keluar rumah.
Ekspresi Sean berubah menjadi datar dan sedikit dingin saat melihat Rhea dari belakang karena meninggalkannya. Senyum jahilnya menghilang seketika. Sekelebat gambaran dua orang yang sedang berciuman muncul kembali di pikirannya.
__ADS_1
Sebenarnya tadi dia melihat Langit dan Rhea berciuman saat akan masuk ke dapur menyusul mereka karena lama tidak kunjung keluar. Setelah mengetahui itu, dia kembali berjalan ke ruang tengah dan berteriak memanggil mereka.
Dia merasa cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena saingan cintanya adalah sahabat karibnya sejak kecil yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri.
"Ayo. Kenapa malah berdiri di sini?", ajak Sean kepada Rhea yang berhenti di teras. Dia menggenggam pergelangan tangan Rhea mengantarnya ke arah Gilang.
"Lang, nitip Rhea, ya. Wajib ati-ati kalau mbonceng dia.", Sean mengingatkan Gilang.
"Iya, ngerti. Udah, sana.", usir Gilang.
"Udah nggak ada yang ketinggalan, kan? Barang-barang kalian udah kalian bawa semua?", tanya Langit yang sudah keluar dan hendak mengunci pintu rumah.
"Nggak. Udah cepet buruan berangkat. Kasihan Riyan sama Feri.", jawab Sean.
Langit pun mengunci pintu rumahnya lalu berjalan ke arah motornya, di mana Intan sudah menunggunya di sana.
Sean yang melajukan motornya terlebih dahulu, diikuti oleh Langit dan kemudian disusul oleh Gilang. Mereka mengendarai motor tidak saling beriring-iringan layaknya konvoi. Mereka melaju sesuai kecepatan mereka masing-masing sehingga ada rentang jarak di antara mereka.
***
Cuaca yang tadinya cerah mendadak mendung ketika sudah memasuki daerah pegunungan.
"Namamu Rhea, kan?", tanya Gilang tiba-tiba yang sedari tadi diam saja selama perjalanan.
"Ha? Ah, iya.", jawab Rhea kaget karena mendadak diajak bicara. 'Aku kira dia nggak bakal ngajak aku bicara.', batin Rhea.
"Sepertinya di sana sedang hujan.", tunjuk Gilang ke arah pengendara yang berlawanan arah.
Mereka yang berkendara dari arah depan mengenakan jas hujan dan ada bekas air hujan tertinggal di mobil yang juga melaju dari arah berlawanan.
"Iya, sepertinya."
"Aku nggak bawa jas hujan."
"Terus kenapa?", Rhea tidak paham dengan tujuan pembicaraan Gilang yang sepotong-sepotong. 'Apa masalahnya?', lagi-lagi Rhea membatin.
"Kita berhenti?"
"Lha kenapa berhenti?", tanya Rhea cengo. 'Sumpah, aku nggak paham maksud dia apa.'
"Ya karena aku nggak bawa jas hujan. Kamu mau kalau kehujanan?"
'Oalah, kenapa dia nggak langsung bilang gini aja dari tadi?'
__ADS_1