
'Apa yang kamu lakukan, Rhea? Seharusnya kamu tidak boleh seperti ini. Ingat, sekarang Langit sudah mempunyai pacar, dan kamu tahu itu. Ini tidak benar jika kamu membiarkannya seperti ini, Rhea,' pikiran Rhea yang masih waras berusaha menyadarkan dirinya bahwa yang dia lakukan ini salah. Tapi di sisi lain, hatinya begitu bahagia dan bahkan ingin mendapatkan yang lebih dari ini.
"Rhea, ayo kita juga ke sana," ajak Sean sambil menunjuk ke arah anak-anak yang sedang berkumpul menunggui Riyan dan Feri yang berusaha menyalakan kayu bakar.
Rhea kembali fokus setelah mendengar ajakan Sean lalu melihat ke tempat yang ditunjuk Sean. Memang benar mereka semua sudah berkumpul di sana, ada Intan juga yang sempat dia cari-cari tadi. Tidak ketinggalan Gilang juga sudah berada di sana.
"Mm.. tapi..." Rhea bimbang dengan ajakan tersebut, karena sebenarnya dia masih ingin lebih lama bergandengan tangan dengan Langit.
"Tidak apa-apa, kalau kamu masih ingin di sini," setelah berucap seperti itu, Sean beranjak berdiri tanpa memberi Rhea kesempatan untuk berpikir lagi.
Mengetahui bahwa Sean akan berdiri, Rhea segera menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Langit. "Aku ikut," Rhea juga buru-buru berdiri spontan mengikuti Sean.
Tapi Sean berjalan cepat meninggalkan Rhea di belakangnya. Dia tidak ingin Rhea tahu bagaimana ekspresi yang dia pasang sekarang. Dia sangat marah, bukannya karena cemburu, hanya saja jengkel dengan kelakuan mereka berdua. Yahh, memang ada rasa cemburu juga, sih. Tapi tidak sebesar dengan rasa marahnya saat ini.
Bagaimana tidak, jelas-jelas apa yang mereka barusan lakukan itu salah. Tidak satu dua kali Sean mengetahui perbuatan yang diam-diam mereka lakukan di belakang, dan ini adalah yang kesekian kalinya. Selalu saja Langit mencoba mendekati Rhea jika ada kesempatan.
Dia marah karena Langit tidak tegas dengan sikapnya. Jika dia memang suka Rhea, seharusnya dia segera mengakhiri hubungannya dengan Intan. Sean sudah pernah menegurnya, dan Langit hanya menjawab jika dia tidak enak hati kalau sampai memutuskan seseorang.
'Lalu, apakah dia enak hati kalau terus menyakiti Rhea? Tidak memberi kejelasan dan menggantungkannya dengan hubungan yang jelas-jelas salah dan merugikan Rhea.'
'Rhea juga. Sebenarnya dia itu terlalu polos atau bodoh. Dia mau-mau saja diperlakukan tidak adil seperti itu. Memang ya, cinta itu membutakan.'
"Haahh..." Sean menghela nafas pelan. Dia tidak bisa menyalahkan Rhea, karena dia sendiri juga merasakannya. Dia menyukai Rhea dan akan melakukan hal yang bisa membuat Rhea senang. Mungkin pemikiran seperti itu juga yang ada di hati Rhea.
__ADS_1
'Kenapa dengannya? Jalannya cepat sekali, seperti sengaja ninggalin aku. Sudahlah, toh cuma jalan dekat ke sini saja, aku bisa sendiri.' Rhea berjalan tanpa memperdulikan Sean lagi dan tidak mengikutinya. Dia memilih menghampiri Emma daripada menyusul Sean yang sekarang sudah ikut jongkok diantara Riyan dan Feri.
Langit yang datang setelahnya juga berniat ikut jongkok, tapi tidak jadi karena Intan menyambutnya dengan meraih lengan Langit dan bergelayut manja di sana.
Walau tidak ingin melihatnya, tapi tetap saja Rhea dapat melihatnya dari ekor matanya. 'Sudah, sudah. Ayo kembali fokus dan jangan hiraukan mereka,' batin Rhea sambil menggelengkan kepalanya berusaha tidak terpengaruh dengan mereka berdua.
"Apa menyalakan api unggun itu sulit?" tanya Rhea pada Emma. Karena setahu Rhea, dari tadi mereka masih belum juga bisa menyalakan api unggunnya.
"Tidak, kak. Mungkin karena agak lembap, jadi ya begitu."
"Oh." Rhea tidak pandai berbasa-basi, sehingga tidak tahu harus berbicara apalagi.
Rhea lalu berjongkok memeluk lututnya lagi karena hawa dingin yang tidak bisa ditahannya walau dia sudah menyilangkan kedua tangan di depan dadanya saat berdiri di samping Emma.
Namun tidak lama setelahnya Rhea dibuat terkejut ketika sebuah kain yang lumayan tebal jatuh dari atas dan menimpa kepalanya sampai menutupi penglihatannya.
Rhea menarik kain tersebut dan mendongak mencari darimana benda itu berasal. 'Gilang? Kok dia bisa ada di sini? Tadi kan, Emma yang ada di sebelahku.'
Rhea lantas mengedarkan pandangan mencari sosok Emma yang ternyata sudah berada lebih dekat dengan kayu bakar dan sedang memotretnya dengan ponsel. Mungkin dibuat untuk status di akun media sosialnya.
Sebenarnya Gilang dari tadi memang berdiri tidak jauh darinya, dia berdiri di sebelah Emma juga. Hanya saja karena terhalang Emma, Rhea jadi tidak dapat melihatnya dengan jelas. Perhatiannya juga sempat teralihkan dengan Langit dan Intan sehingga dia tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya.
"Pakai itu," ucap Gilang.
__ADS_1
"Hah? Apa?" Rhea kembali menoleh pada Gilang lalu berdiri agar lebih jelas mendengar ucapan Gilang yang mirip dengan gumaman itu.
"Pakai itu," ulang Gilang sambil menunjuk apa yang ada di tangan Rhea.
Mengikuti arah yang ditunjuk Gilang, membuat Rhea menyadari kembali tentang kain yang jatuh di kepalanya tadi. Dia jadi melupakannya karena dikejutkan dengan keberadaan Gilang yang tiba-tiba ada di sebelahnya.
"Ini apa?" tanya Rhea sambil merentangkan kain tersebut yang ternyata adalah sebuah sweater. "Ini... Aku tidak bisa memakainya. Kalau aku pakai, lalu kamu bagaimana? Sekarang cuacanya sangat dingin," tolak Rhea sembari menyerahkan kembali sweater tersebut.
"Tidak perlu. Kamu pakai saja," setelah mengatakan itu, Gilang pergi meninggalkan Rhea sendiri, tidak memberi kesempatan untuk Rhea menolak lagi.
Tidak ingin ribut hanya karena masalah sweater, Rhea pun menggantungkan sweater tersebut ke pundaknya dan tidak memakainya. Dia merasa canggung jika memakainya.
Dia dan Gilang baru kenal siang tadi dan mereka belum menjadi akrab sampai bisa berbagi sweater seperti ini. 'Jangankan akrab, tapi dia malah terlihat tidak suka denganku. Aku tidak tahu apa niatnya memberiku sweaternya.'
"Akhirnya, nyala juga. Yan, tambah kayu bakarnya pelan-pelan," instruksi Sean kepada Riyan yang berada dekat di tumpukan kayu bakar yang mereka dapat dari hasil melihat-lihat sekitar.
Api perlahan mulai membesar dan memberikan kehangatan di sekelilingnya. Mereka mulai berkumpul mengelilingi api unggun untuk menghilangkan hawa dingin yang menyelimuti mereka.
Mereka hanya bisa berjongkok ataupun berdiri karena tanah yang masih basah akibat hujan tadi. Mereka semua terdiam sambil memandangi satu-satunya penerangan paling terang yang ada di sana.
Rhea menjulurkan kedua tangannya lebih dekat ke api unggun, berharap rasa kebas di jari jemarinya akibat kedinginan bisa menghilang secepatnta.
"Hati-hati. Jangan terlalu dekat, bahaya." Sean memegang pergelangan tangan Rhea, menghentikannya untuk menjulurkan tangannya lebih dekat ke arah api unggun.
__ADS_1