Kuingin Yang Tak Kuinginkan

Kuingin Yang Tak Kuinginkan
Cheese Burger Tanpa Keju


__ADS_3

"Apa? Intan mantan pacarnya? Tapi mereka terlihat baik-baik saja.", Rhea terkejut mendengarnya.


Dia jadi merasa kecil hati mengingat Intan yang cantik dan modis, berbeda jauh darinya. Rhea semakin yakin jika dia tidak punya harapan untuk bisa bersama dengan Langit.


"Karena Intan masih berharap untuk berpacaran dengan Langit. Dia satu-satunya perempuan yang pantang menyerah untuk mendapatkan Langit. Mereka sudah sering putus lalu baikan lagi.", jelas Sean.


"Mungkin Langit sangat menyukainya.", gumam Rhea.


"Itu tidak benar, karena Langit tidak pernah benar-benar menyukai seseorang. Dia hanya menerima begitu saja semua perasaan pacar-pacarnya selama ini. Dia terlalu baik sampai tidak bisa menolak mereka."


"Tapi katamu mereka sudah sering putus lalu baikan lagi, siapa tahu mereka benar-benar saling menyukai.", ucap Rhea sinis.


"Itu karena Intan yang selalu minta baikan lagi, dan Langit hanya bisa mengiyakan.. Kamu kerja sambilan jam berapa? Mau aku antar sekalian?," Sean melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh.


"Boleh. Anterin ke MnD yang ada di dekat rumahku.", pinta Rhea tanpa sungkan.


Setelah menghabiskan minumannya, Rhea beranjak dari duduknya dan berjalan ke kasir.


"Tunggu, biar aku yang bayar.", Sean menghentikan Rhea yang tengah berjalan melewatinya.


"Kenapa? Atas dasar apa kamu membelikanku makanan? Aku tidak terlalu suka ditraktir tanpa alasan yang jelas.", Rhea menarik tangannya dari pegangan Sean dan mulai melangkah maju.


Rhea sudah terbiasa mandiri dan tidak ingin terlihat kekurangan walaupun dia bukan orang kaya. Dia tidak ingin direndahkan lagi hanya karena masalah keuangan keluarganya seperti di sekolahnya dulu. Hanya karena dia dari keluarga sederhana, dia dikucilkan, dihina, dan diremehkan.


Itulah sebabnya, begitu lulus sekolah dia pergi dari rumah meninggalkan orangtua yang dia sayangi. Dia takut penghinaan itu masih berlanjut saat dia kuliah maupun bekerja.


Walaupun kedua orang tua Rhea sudah menentang keputusannya dan melarangnya pergi, tapi dia tetap bersikeras dengan pendiriannya.


"Berapa tagihannya mbak?", tanya Rhea begitu sampai di depan kasir sambil merogoh tas selempangnya.


"Pakai ini saja, mbak.", Sean yang sudah menyusul Rhea memberikan kartunya kepada kasir.


"Kamu...", belum selesai Rhea protes, Sean sudah memotongnya.


"Sudahlah Rhea, hari ini biar aku yang traktir, sebagai gantinya lain hari kamu yang traktir. Jadi impas, kan?", bujuk Sean.


"Baiklah.", dengan berat hati Rhea mengiyakan karena tidak ingin berdebat di depan kasir.

__ADS_1


Setelah diantar Sean ke tempat kerjanya, Rhea langsung berjalan menuju ruang ganti.


"Hai, Rhea. Baru datang?", sapa Siska, rekan kerjanya.


"Hai juga, Sis.", balas Rhea.


"Siapa tadi yang mengantar kamu? Pacar kamu?", tanya Siska yang memang terkenal dengan rasa ingin tahunya.


"Bukan, hanya teman.", jawab Rhea singkat tanpa menoleh dan masih meneruskan langkahnya menuju ruang ganti yang berada di belakang dapur.


"Benarkah? Aku kira pacar kamu, karena kamu tidak pernah terlihat berteman dengan seorang pria."


"Jangan bergosip."


Sesampainya di ruang ganti, Rhea berjalan ke lokernya dan mulai berganti seragam kerjanya.


"Siapa tahu nanti dia jadi pacar kamu. Kalian terlihat serasi tadi. Dari tatapan matanya, sepertinya dia menyukaimu.", oceh Siska yang juga berganti seragam di sebelah Rhea, karena loker mereka bersebelahan.


"Dia terlihat periang, cocok dengan kamu yang sedikit pendiam.", lanjut Siska sambil mengingat kejadian saat Sean membukakan pintu mobil untuk Rhea dan mengusap lembut kepala Rhea dengan tatapan yang tidak rela untuk berpisah.


"Dia memang seorang playboy, makanya sudah terbiasa bersikap manis dengan perempuan.", Rhea menata rambutnya membentuk kuncir kuda.


"Justru karena kaya itulah, dia bisa menjadi playboy.. Ayo ke depan.", ajak Rhea setelah menutup dan mengunci pintu lokernya.


"Tunggu!", Siska menarik pelan Rhea yang akan melangkah pergi.


"Walaupun kamu tidak biasa pakai makeup, tetapi setidaknya berdandanlah sedikit saat bekerja, karena kamu harus berpenampilan baik di depan pelanggan.", dengan sedikit memaksa, Siska merias wajah Rhea setipis mungkin agar dia merasa nyaman.


Rhea hanya bisa pasrah dirias oleh Siska. Itu memang sudah kebiasaan Siska jika mereka sedang satu shift. Siska merupakan teman dekatnya di tempat kerjanya ini, tetapi tidak seakrab seperti dia dengan Julie.


"Kamu terlihat cantik.", Siska puas dengan hasil tangannya, walaupun pada dasarnya Rhea sudah cantik, hanya dengan sedikit pulasan bisa menambah kecantikannya.


"Sekarang ayo kita mulai bekerja, sudah waktunya pergantian shift.", ajak Rhea lagi.


"Sebentar.", Siska terburu-buru memasukkan barang-barangnya ke loker karena Rhea sudah melangkah pergi.


"Rhea, tunggu!", mendengar teriakan Siska, Rhea menghentikan langkahnya menunggu Siska yang tengah berlari kecil menyusulnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan jalannya.", gerutu Siska yang sudah berada di dekatnya. Padahal Rhea berjalan dengan pelan, tetapi masih tetap terdapat jarak diantara mereka.


"Menurutku, aku sudah berjalan pelan.", ujar Rhea dan mulai berjalan lagi.


"Jalanmu memang pelan, tapi ingat, kaki aku tidak sepanjang kaki kamu yang bisa melangkah lebar-lebar.", sungut Siska sedikit ngos-ngosan setelah sedikit berlari tadi.


"Itu derita kamu.", seringai Rhea usil mengangkat pundaknya dan meninggalkan Siska.


Siska memang tidak setinggi Rhea, bahkan bisa dibilang tingginya sedikit di bawah rata-rata orang kebanyakan, seperti anak kecil.


Pakaiannya yang ketat memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sedikit berisi, terutama bagian dadanya. Rambut model bobnya yang pendek di bawah telinga, membuat pipi tembamnya terlihat jelas.


Berbeda jauh dari Rhea yang tinggi ramping dan mempunyai postur tubuh layaknya seorang model serta bentuk tubuh yang proposional. Rambut hitam lurusnya yang berkilau kontras dengan kulit putihnya yang mulus tanpa cacat.


'Bahkan dari belakang pun dia terlihat indah.', batin Siska iri memandang punggung Rhea yang berjalan menjauh.


"Rheaaaa..!! Aku bilang tunggu aku..", Siska kembali mengejar Rhea dan bergelayut di lengannya begitu sampai di samping Rhea.


Restoran tempat Rhea bekerja adalah tempat makan yang menyediakan menu junk food.


Hari ini restoran sangat ramai pengunjung karena merupakan akhir pekan.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan malam hari, tetapi para pengunjung yang kebanyakan anak-anak muda masih saja berdatangan.


"Selamat malam. Mau pesan apa, kak?", tanya Rhea tanpa memalingkan pandangan dari layar monitor kepada pengunjung yang baru saja datang.


"Pesan cheese burger tanpa keju, minumnya cola.", jawab pengunjung yang terlihat tidak sabaran.


"Burger regular dan cola masing-masing satu ya, kak.", Rhea mengulangi pesanan pengunjung tersebut.


"Kamu tuli, ya?! Aku bilang cheese burger tanpa keju!!!", bentak pengunjung yang ternyata sedang mabuk. Samar-samar Rhea dapat mencium bau alkohol saat dia mulai berteriak.


"Cheese burger tanpa keju sama saja dengan burger regular, kak.", jelas Rhea dengan masih tersenyum sabar.


"Diam kamu!!", pengunjung itu mengangkat tangannya hendak memukul Rhea, tetapi dengan cepat dihentikan oleh pengunjung lain yang sedang antri di belakangnya.


Rhea yang tengah menutup matanya lantas membuka matanya karena merasa pukulan pengunjung berhenti dan melihat ternyata dia mengenal orang yang sedang menghentikan pengunjung itu.

__ADS_1


"Langit?!"


__ADS_2