Kuingin Yang Tak Kuinginkan

Kuingin Yang Tak Kuinginkan
Tidak Bertemu Lebih Dulu


__ADS_3

'Rhea, maaf ya, kemarin aku tidak mengantarmu pulang, karena aku harus berangkat pagi-pagi ke bandara.


Kemarin kamu baik-baik saja kan diantar pulang Sean?


Aku harap kamu bisa berteman baik dengannya. Walaupun dia terkenal playboy, tapi dia orang yang setia kawan.


Untuk Langit, kamu harus berhati-hati dengan perasaanmu, jangan sampai salah paham dengan sikapnya. Dia bisa jadi teman yang baik asal kamu tidak jatuh hati padanya.


Yaahhh, walaupun sepertinya kamu sudah jatuh cinta padanya sejak kalian bertemu kemarin.


Selalu kirimi aku surat, ya. Aku akan merindukanmu sahabat baikku.'


Keesokan harinya, setelah bangun dari tidurnya, Rhea membaca email dari Julie.


Dia termenung memikirkan apa yang dikatakan oleh Julie. 'Benarkah aku sudah jatuh cinta pada Langit? Apakah perasaan berdebar yang aku rasakan itu adalah jatuh cinta?'


'Kring Kring Kring'


Suara dari ponsel Rhea membuyarkan lamunannya.


Rhea tersenyum geli melihat layar ponselnya, 'Sean yang baik hati?'


"Pfft.. Halo?", Rhea menahan tawa melihat nama kontak yang disimpan sendiri oleh Sean kemarin.


"Halo, Rhea. Lagi apa?", sapa Sean.


"Baru bangun tidur."


"Kalau begitu belum sarapan, kan? Mau makan bareng? Sekalian jalan-jalan.", ajak Sean.


"Tapi nanti siang aku ada kerja sambilan."


"Makan bareng aja kalau begitu, jalan-jalannya lain hari aja. Ya?"


"Oke.", Rhea mengiyakan.


"Aku kesana sekarang."


Tuuut tuuut tuuut.


Sean langsung menutup telfonnya.


Sebenarnya Rhea tidak begitu suka bergaul dengan orang lain, dia lebih nyaman menyendiri.


Dia bisa berteman dengan Julie pun karena Julie yang begitu gigih mendekatinya. Seperti halnya yang dilakukan Sean saat ini.


Rhea menutup laptopnya, lalu beranjak dari tempat tidurnya berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


Tanpa perlu waktu lama, Rhea telah selesai bersiap-siap dan menunggu kedatangan Sean.


Tok tok tok.


Mendeangar ketukan pintu, Rhea keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.


"Hai.", sapa Sean ketika pintu terbuka dan langsung masuk sebelum dipersilahkan Rhea.


Rhea hanya bisa terdiam melihat Sean berjalan melewatinya.


"Kenapa masih berdiri di situ? Katanya mau makan bareng, cepat siap-siap gih, aku tunggu di sini."


"Siap-siap apa? Aku sudah selesai ini, tinggal berangkat.", Rhea ikut duduk di sisi lain sofa.


"Kamu pergi dengan penampilan seperti ini?", Sean memperhatikan Rhea dengan heran.


Seperti biasanya, Rhea memakai kaos oblong kesukaannya dipadu dengan hotpant. Rambut disanggul tak beraturan dan wajah polos tanpa makeup.


Setelah memperhatikan Rhea secara seksama, Sean malah terpesona dan tidak jadi mengkritiknya. Kecantikan yang murni alami tanpa dibuat-buat.


'Andai Langit tidak ada rasa sama Rhea, pasti sudah aku embat ini anak.', batin Sean sedikit menyesal karena tidak bertemu lebih dulu daripada Langit.


"Kenapa? Kan hanya pergi makan, bukan ke pesta.", ucap Rhea membela diri karena Sean memperhatikannya dengan wajah takjub seperti Julie saat mengomeli penampilannya.


"Oke. Kita berangkat sekarang?", Sean berdiri dari duduknya.


"Bukankah ini mobil Julie?", tanya Rhea setelah mengunci pintu dan menghampiri Sean.


"Iya, aku pinjam Julie sampai aku pindahan besok.", jelas Sean sembari membukakan pintu mobil untuk Rhea.


"Bukankah kamu baru saja pindah dari kota ini? Lantas kenapa pindah ke sini lagi?", setahu Rhea dari percakapan mereka kemarin, Sean sekeluarga baru saja pindah.


"Karena setelah bertemu dengan kamu, aku jadi ingin kembali ke kota ini.", gombal Sean tersenyum sambil mengedipkan satu matanya dan menutup pintu mobil.


'Untung saja aku sudah diberi tahu Julie soal Sean yang playboy, jadi aku tidak akan terlalu heran dengan mulut manisnya', batin Rhea sembari memandang Sean yang tengah berjalan di depan mobil.


"Kita akan pergi makan ke mana? Apakah ada tempat yang biasa kamu kunjungi?", tanya Sean begitu duduk di depan kemudi.


"Aku terserah mau makan apa, karena aku tidak terlalu pilih-pilih makanan.", jawab Rhea yang tengah memasang sabuk pengaman.


"Oke."


Dalam perjalanan, Rhea mulai merasa nyaman berbicara dengan Sean, karena Sean memiliki karakter yang hampir sama dengan Julie.


Sedangkan Sean juga semakin ingin mengenal Rhea, karena ternyata Rhea enak diajak bicara, tidak seperti tampilan luarnya yang terlihat acuh tak acuh.


"Jadi, kamu akan pindah ke daerah mana?", tanya Rhea.

__ADS_1


"Kenapa tanya? Apa kamu bakal sering main ke tempatku?"


"Ya kali aja kamu pindah dekat sini, kan aku jadi bisa minta kamu buat antar aku kemana-mana.", seringai Rhea.


"Tega kamu mau jadiin aku supir.", rajuk Sean sambil berpura-pura tidak terima.


"Kalau dijadiin pacar kamu, aku mau. Bahkan aku akan siap 24 jam untuk selalu berada di sisimu.", imbuh Sean.


"Sudahlah, aku tidak akan jatuh ke rayuanmu."


"Aku akan tinggal di rumah Langit.", karena rayuannya gagal, akhirnya Sean menjawab pertanyaan Rhea tadi.


Begitu mendengar nama Langit, Rhea langsung terdiam dan kembali memikirkan soal perasaannya.


Dia menatap keluar jendela mobil dan mengingat kejadian pertama kali dia bertemu dengan Langit.


Hanya memikirkannya saja sudah membuat Rhea berdebar dan tidak dapat berpikir dengan jernih. 'Apakah aku memang telah jatuh cinta dengan Langit?', perasaan seperti ini merupakan pertama kali baginya.


"Kamu suka Langit?", tanya Sean tiba-tiba.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Rhea sadar dari lamunannya, "Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Karena terlihat jelas dari tingkah lakumu sejak kemarin.", jelas Sean sambil tetap fokus memperhatikan jalan di depannya.


"Sejelas itu kah? Bahkan Julie juga berpikiran sama sepertimu."


"Seharian kemarin, kamu selalu curi-curi pandang ke arahnya, selalu salah tingkah saat berdekatan dengannya, bahkan kamu sering mendadak **** kalau dia mengajak bicara.", terang Sean panjang lebar.


"Benarkah? Aku saja baru sadar kalau aku jatuh cinta padanya setelah kalian kasih tahu.", Rhea malu mengingat tingkahnya kemarin yang memang sama seperti yang disebutkan Sean.


"Setidaknya sekarang kamu sudah sadar.", Sean hanya bisa menghela nafas ringan mendengar penuturan polos Rhea.


"Kalau kalian saja bisa tahu perasaanku, bagaimana dengan Langit? Mungkinkah dia juga tahu?", gumam Rhea sedikit panik.


"Tenang saja. Langit bukan orang yang peka soal perasaan. Dia belum tahu kalau kamu menyukainya."


"Syukurlah. Aku harap dia tidak pernah tahu, dan aku akan berusaha menekan perasaan ini."


"Kenapa? Kamu tidak ingin bersama dengannya?", tanya Sean tidak paham.


"Karena Julie memperingatkanku untuk tidak mempunyai perasaan terhadap Langit. Karena Langit sering membuat salah paham dengan kebaikannya."


"Entahlah. Siapa tahu orang bisa berubah.", Sean sedikit mengangkat kedua bahunya. "Kita sudah sampai.", imbuh Sean setelah menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai sederhana.


Rhea memperhatikan kedai di depannya sembari melepaskan sabuk pengamannya.


Tanpa sengaja dia melihat seseorang yang tadi sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


'Bukankah itu Langit? Dia sedang bersama dengan seorang perempuan. Mungkinkah pacarnya?'


__ADS_2