
"Rhea? Ada apa?", tanya Sean membungkukkan tubuhnya melihat Rhea karena tidak kunjung keluar dari mobil.
"Itu Langit, kan?", Rhea bertanya memastikan ke Sean dengan apa yang dia lihat.
Sean memutar pandangannya mengikuti ke arah yang ditunjuk Rhea. "Iya, itu memang Langit. Tadi pagi dia bilang ada janji dengan seseorang. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."
"Hei, Langit. Ternyata kamu di sini juga, kebetulan sekali kita bertemu. Kita gabung, ya?", Sean langsung menyapa Langit dan menghampirinya.
Tempat duduk Langit tidak terlalu jauh dari tempatnya memarkir mobil, karena memang kedai ini terletak di trotoar yang buka hanya sebentar di pagi hari.
"Sean? Kamu tadi pagi-pagi pergi ninggalin aku duluan, tapi sekarang nyusul kesini."
"Kan kamu bilang mau ada janji, jadi aku pergi duluan cari teman makan." Sean menarik kursi di dekatnya dan duduk satu meja dengan Langit, lalu menyapa perempuan yang duduk di depan Langit, "Hai, Intan.."
"Hai juga, Langit.", balas perempuan itu.
"Lalu mana teman makan kamu.", tanya Langit.
Sean pergi kembali ke mobil memanggil Rhea yang tak kunjung keluar dari mobil, "Rhea, kenapa tidak turun? Ayo."
Sean memegang pergelangan tangan Rhea dan menariknya keluar mobil dengan lembut. Rhea mengikuti Sean dengan sedikit enggan, perasaannya berdebar tidak tenang saat melihat Langit, padahal dia sudah bertekad untuk memendam perasaannya.
"Kamu harus terbiasa melihat Langit dengan perempuan lain, karena dia selalu bersikap baik pada semua perempuan yang mencoba mendekatinya. Itulah yang membuat mereka sering salah paham dengan Langit. Seperti yang diperingatkan oleh Julie, jangan jatuh hati dengannya karena dia tidak peka terhadap perasaan orang lain.", jelas Sean, setengah berbisik menundukkan kepalanya ke dekat telinga Rhea yang sedang berjalan di sampingnya.
Rhea tersenyum tipis mendengar penjelasan Sean, "Lalu kenapa kamu berkomentar buruk tentang teman yang sudah kamu anggap seperti saudara itu?"
"Yaahhh, karena aku juga sudah menganggapmu seperti saudariku sendiri, dan tidak ingin kamu sakit hati seperti perempuan-perempuan lain yang salah paham terhadap Langit.", jawab Sean dengan tersenyum penuh arti. "Ayo, kita makan bersama mereka.", imbuh Sean sembari melangkah maju mendahului Rhea.
Rhea mengikuti Sean di belakangnya, "Duduklah.", Sean menarik kursi yang ada di samping Intan.
"Terima kasih.", Rhea pun duduk dan tersenyum canggung, salah tingkah karena tidak sengaja bertatapan mata dengan Langit.
__ADS_1
"Hai.", sapa Rhea lirih saking gugupnya.
Langit hanya mengangguk sedikit lalu memalingkan wajahnya menunduk meneruskan makannya.
Dia merasa kesal, cemburu melihat kedekatan Sean dan Rhea. Mereka terlihat serasi ketika berjalan berdampingan tadi. Dan dia merasa kecewa, karena Rhea bisa dengan mudahnya akrab dengan Sean, sedangkan terhadap dirinya Rhea seperti menjaga jarak.
Langit teringat kejadian ketika dia memukul Sean, kemarin Sean menjelaskan kalau mereka tidak ada apa-apa, bahkan Sean menjelaskan kalau dia sudah tahu tentang perasaanku terhadap Rhea. Bahkan dia mendukungku karena ini pertama kalinya aku jatuh cinta dengan seseorang.
"Dia siapa, Sean? Pacar kamu?", pertanyaan Intan membuyarkan lamunan Langit.
"Bukan. Dia temanku, walau sebenarnya aku berharap lebih... Aw.", pekik Sean pelan, karena lagi-lagi Langit menginjak kakinya.
"Jadi, kenalin. Rhea, ini Intan. Intan, dia Rhea.", Sean memperkenalkan mereka berdua.
"Intan Wijaya.", Intan tersenyum ke arah Rhea.
"Rhea Diandra.", Rhea juga tersenyum, mengangguk ke arah Intan.
"Terserah kamu saja, Sean.", jawab Rhea sambil mencuri pandang ke arah Langit.
Melihat itu, Sean hanya menghela nafas ringan, 'Kamu benar-benar tidak pandai menyembunyikan perasaanmu di depan orang yang kamu sukai, Rhea.'
Intan yang baru bertemu dengannya pun langsung tahu perasaan Rhea terhadap Langit. Dia memahami arti pandangan Rhea tersebut, karena dia juga memiliki perasaan suka itu.
"Aku pesan satu porsi nasi goreng sama mie goreng seafood. Terus minumnya teh tarik hangat dua.", Sean menyebutkan pesanannya kepada pelayan yang baru saja dipanggilnya itu.
"Maaf, Sean. Sepertinya kita harus pergi duluan, karena kita masih ada urusan.", mendadak Intan bangkit dari duduknya dan berjalan ke samping Langit. "Ayo."
Langit bingung dengan ajakan Intan yang mendadak. Langit mendongak melihat Intan yang terlihat jengkel. 'Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba menjadi marah?'
"Ayo!", dengan tidak sabar Intan menarik lengan Langit agar segera berdiri.
__ADS_1
Dengan sedikit terpaksa Langit berdiri, "Kita pergi dulu, ya.", pamit Langit lalu menatap Rhea dengan perasaan menyesal, karena tidak bisa lebih lama bersamanya.
"Kita pergi duluan, Sean.", pamit Intan kepada Sean dan melihat sekilas ke arah Rhea dengan sinis.
Sean hanya melambaikan tangan ke arah mereka. Merasa kasihan kepada Langit karena masih berurusan dengan perempuan yang arogan itu.
"Rhea, tidak bisakah kamu menjaga ekspresimu saat berada di dekat Langit? Bahkan Intan yang baru bertemu denganmu sepertinya tahu bahwa kamu menyukai Langit.", setelah melihat Langit dan Intan sudah pergi, Sean mengeluhkan sikap Rhea.
"Bagaimana kamu tahu kalau Intan tahu perasaanku? Dan apa yang salah dengan ekspresiku? Tadi aku hanya menyapa Langit dan tidak bicara apapun dengannya.", Rhea heran dengan keluhan Sean.
"Silahkan dinikmati, kak.", ucap pelayan yang telah meletakkan pesanan mereka di meja.
"Terima kasih.", Rhea langsung menggeser piring yang berisi mie goreng favoritnya ke depannya begitu pelayan itu pergi.
"Karena dia mendadak kesal setelah melihat kamu memandang Langit dengan wajah tololmu.", Sean juga mengambil nasi gorengnya dan mulai melahapnya.
"Entahlah, Sean. Aku tidak tahu kenapa aku selalu mendadak kosong jika berhadapan dengan Langit.", kilah Rhea yang berbicara dengan mulut masih penuh makanan.
"Telan dulu itu makanannya, baru bicara, jadi belepotan kan.", sembari mengomelinya, Sean mengulurkan tangannya mengelap makanan yang menempel di pinggir mulut Rhea.
Tidak hanya itu, tanpa sadar dia juga mengusap bibir Rhea yang lembut berwarna pink segar.
"Sean, kamu memang benar-benar pandai dalam memperlakukan perempuan, ya? Tidak heran jika kamu dijuluki playboy.", Rhea yang melihat Sean mulai memajukan badannya, seketika memegang pergelangan tangannya dan menariknya menjauh dari wajahnya.
Sean tersadar saat tangan kecil Rhea memegang tangannya dan langsung menariknya kembali. "Maaf."
"Tidak apa-apa. Toh, aku tahu kalau kamu seperti itu dengan banyak perempuan, jadi aku tidak akan menganggapnya serius.", Rhea kembali melahap makanannya tanpa tahu kalau Sean merasa sakit hati, canggung dan sedikit salah tingkah.
"Jadi, apa yang kamu lakukan dengan perasaanmu? Kenapa tidak kamu coba ungkapkan ke Langit? Siapa tahu dia juga memiliki rasa yang sama?", walaupun Sean sudah tahu perasaan Langit, tapi dia tidak ingin ikut campur soal itu.
"Tidak, karena sepertinya dia tidak menyukaiku. Apalagi tadi dia terlihat dekat dengan Intan."
__ADS_1
"Mereka dekat karena Intan adalah mantan pacar Langit."