Kuingin Yang Tak Kuinginkan

Kuingin Yang Tak Kuinginkan
Sean


__ADS_3

Ting!


'Kamu jadi pergi atau masih di kafe? Aku sudah sampai depan kafe.'


Terdengar suara tanda pesan masuk dari ponsel Langit. Dia membuka layar kunci di ponselnya lalu membaca pesan yang ternyata dari Sean itu.


Selesai membaca, bukannya membalas pesan tersebut dia malah meletakkan kembali ponselnya ke meja sambil melirik ke arah luar kafe.


Langit dapat melihat dengan jelas teman dekat yang sudah seperti saudaranya itu tengah berdiri di depan kafe sedang memainkan ponselnya.


Sean Dirgantara, tetangga sekaligus teman masa kecil Langit. Sedari kecil, Langit hampir setiap hari bermain ke rumah Sean, dikarenakan ayahnya yang harus bekerja sedangkan ibunya sudah tiada ketika Langit masih kecil.


Karena tidak kunjung dapat balasan pesan dari Langit, Sean menggerutu dalam hati, 'Sialan, Langit ini! Batalin janji begitu saja, padahal kita sudah lama tidak bertemu sejak aku sekeluarga pindah keluar kota.'


Sean melangkahkan kaki ke arah pintu masuk kafe. Dia bermaksud untuk istirahat sejenak menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan jauhnya.


'Klinting Klinting Klinting...'


Suara lonceng kecil yang dipasang di atas pintu kafe berbunyi menandakan ada pelanggan masuk ke dalam kafe.


Sean berdiri sejenak setelah masuk ke dalam kafe. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe, mencari tempat kosong.


Tapi dia menghentikan pandangannya ke sosok gadis yang dikenalnya. Gadis itu sedang berbicara dengan pemuda yang duduk di sampingnya, dan pemuda tersebut terlihat begitu familiar baginya, walau sosoknya tampak dari belakang.


'Itu Julie, kan? Siapa orang yang duduk di sampingnya? Seperti kenal. Ha! Langit..?', Sean mengernyit mengenali pemuda tersebut ketika melihat pemuda itu sedang menoleh ke samping menimpali ucapan Julie, sehingga terlihat jelas wajahnya dari samping.


Sean bergegas menghampiri mereka. "Langit! Ternyata kamu masih di kafe? Aku kira kamu sudah pulang karena tadi kamu bilang mendadak ada urusan. Lantas kenapa kamu tidak membalas pesanku?", cerca Sean begitu dia sampai di meja mereka.


"Sean? Kamu masih di sini? Kenapa tidak kembali pulang?", Langit kaget melihat Sean yang tiba-tiba menghampirinya dari belakang.

__ADS_1


Dia mengira Sean bakalan pulang karena tidak mendapat pesan balasan darinya.


"Urusan? Bukannya tadi kamu bilang kalau teman janjimu yang mendadak ada urusan?", sahut Julie bingung setelah mendengar ucapan Sean.


"Ha? Kenapa jadi aku yang ada urusan? Apa maksudnya, Lang?", tanya Sean sambil mengambil kursi di depan Langit dan kemudian duduk di sana menunggu penjelasan dari Langit.


"Hmm,, tadinya memang aku ada urusan mendadak, tapi sekarang sudah selesai.", elak Langit yang terlihat sedikit panik dan menggaruk belakang telinganya.


'Bohong!!', batin Sean.


Sean tahu kebiasaan Langit yang selalu menggaruk belakang telinganya ketika dia berbohong.


Sean pun tidak bertanya lebih jauh lagi, karena dia merasa Langit berbohong untuk membuat alasan di depan Julie dan ... 'Siapa dia?', batin Sean.


Sean baru menyadari keberadaan Rhea ketika dia menoleh ke sampingnya. Rhea yang merasa telah diperhatikan Sean, tidak begitu mempedulikannya karena pelayan kafe datang mengantar pesanan mereka.


Rhea yang memang tengah kelaparan langsung menyantap makanannya tanpa rasa canggung sedikitpun.


"Jangan hiraukan dia. Lama-lama kalian akan terbiasa jika sudah mengenalnya.", ucap Julie ketika melihat kedua pemuda itu memperhatikan Rhea.


"Kamu nggak pesan sekalian Sean? Mumpung pelayannya di sini?", imbuh Julie mengalihkan perhatian mereka.


"Iya. Aku pesan lemon tea sama siomay satu porsi, Mas."


"Baik, Kak.", ucap pelayan tersebut setelah mencatat pesanan Sean, kemudian berbalik pergi.


Setelah pelayan itu pergi, Sean bertanya pada Julie, "Siapa dia? Teman kamu? Kenapa tidak kamu kenalin ke aku?"


Tanpa menunggu jawaban dari Julie, Sean menghadap ke Rhea dan mengajaknya bicara. "Hei, cantik. Kamu temannya Julie? Nama kamu siapa? Kenalin, aku Sean, Sean Dirgantara.", Sean mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Rhea menghentikan aktivitas makannya, lalu menatap heran ke arah Sean, 'Orang aneh. Sok akrab banget!'


Kemudian Rhea melihat ke arah Julie dengan wajah menyiratkan, 'Orang ini teman kamu juga? Kenapa sok akrab begini?'


Julie yang dilihat Rhea dengan ekspresi seperti itu hanya bisa tersenyum tipis sambil mengangkat bahunya.


Melihat respon Julie seperti itu, dia berganti menatap ke arah Langit yang diam saja dari tadi.


Mendadak mendapat tatapan dari Rhea membuat Langit sedikit salah tingkah dan hanya bisa tersenyum canggung karena ulah Sean tersebut.


Deg!


Rhea langsung mengalihkan pandangannya dari Langit ketika melihatnya tersenyum. 'Sepertinya ada yang tidak beres dengan Langit. Kenapa setiap melihatnya jantungku berdebar tidak karuan. Apalagi kalau dia tersenyum, mendadak terasa sesak dadaku saking cepatnya jantung ini berdetak! Nanti aku harus bilang ke Julie untuk hati-hati terhadap Langit karena dia mencurigakan, bisa membuat seseorang tidak bisa bernafas dengan baik.', batin Rhea sambil mengepal erat.


"Hei, kenapa diam?", ucap Sean membuyarkan pikiran aneh Rhea.


"Ah, iya. Kenalin, aku Rhea, Rhea Diandra."


"Nama yang cantik. Kalau digabung dengan nama Langit, jadi RheLa, rela mencintaim... AHH!!", pekik Sean menahan sakit karena kakinya diinjak oleh Langit.


Sean yang hendak marah ke Langit karena menginjak kakinya tiba-tiba langsung diam tanpa kata melihat tatapan tajam dari Langit.


Sean yang memang sudah mengenal Langit dari kecil pun sedikit mengerti akan arti tatapan mata itu, yang artinya, 'Jangan coba-coba untuk merayunya!!!'


"Lepasin!", Julie memukul tangan Sean yang belum juga melepas jabat tangannya.


"Jangan pernah berpikir untuk menggodanya! Dia orangnya lugu, dia tidak seperti aku yang tahu apa arti dari sikap kamu. Dan asal kamu tahu, dia sahabat baikku yang sudah aku anggap seperti saudaraku. Awas saja kalau sampai kamu memperlakukannya dengan buruk...", tanpa menyelesaikan kalimatnya, Julie membuat garis horizontal dengan telapak tangannya di depan leher.


Sean hanya bisa menelan ludah melihat ancaman Julie.

__ADS_1


'Yang satu menginjak kakiku, yang satunya memukul tanganku dan mengancamku. Memang apa bagusnya gadis yang bernama Rhea ini? Lihat penampilannya yang jauh dari kata gadis ideal. Yaaahh,, walaupun sebenarnya dia sedikit cantik, tapi dia tetap bukan tipeku. Toh, aku tadi menggodanya karena memang sudah panggilan jiwaku yang menyukai sedikit tantangan soal wanita. Soal Julie aku tidak heran kalau dia marah karena Rhea sahabatnya, tapi kenapa Langit juga ikut marah? Padahal sepertinya dia juga baru kenal sama Rhea. Apa mungkin dia ada rasa sama Rhea? Melihat mereka suka terhadap orang yang sama, bahkan kompak untuk melindunginya, dan memang dari dulu mereka punya kesamaan selera dalam beberapa hal,,, tidak membuatku heran jika mereka dulu pernah menjadi sepasang kekasih.', batin Sean tak habis pikir.


__ADS_2