
Hari telah menjelang malam ketika akhirnya hujan berhenti turun sepenuhnya. Hawa pegunungan yang memang pada dasarnya sudah dingin, menjadi semakin sangat dingin setelah turunnya hujan tadi.
Sean dkk pun mulai merapikan emperan warung sebelah mempersiapkan tempat untuk tidur bagi mereka. Dari mulai menyapu, menggelar tikar dan menata ransel mereka masing-masing berjejer sebagai ganti bantal untuk tidur nanti.
"Oh, ya, nak. Nanti kalau mau pesen makan atau minum, kalian bilang aja ke bapaknya, nanti orangnya nonton tv di dalem. Biasanya warung kan tutup kalau malam, tapi untuk hari ini warungnya nggak ditutup, kok.", ucap ibuk pemilik warung yang sedang membersihkan meja tempat mereka makan tadi.
"Iya, buk.", jawab Rhea. "Ini sapunya terima kasih ya, buk, sudah dipinjami.", imbuh Rhea sambil meletakkan sapu di ujung dinding warung.
"Iya, nak."
Setelah mengembalikan sapu, Rhea kembali ke emperan warung sebelah. Penataan tempat untuk mereka tidur sudah ditentukan, dan Rhea mendapat tempat paling ujung, alasannya karena Intan maupun Emma tidak mau berada di paling ujung.
Buat Rhea yang tidak terlalu pilih-pilih sih bukan masalah, toh hanya untuk tidur. Jadi urutan letaknya dimulai dari Rhea di ujung, lalu Emma, Intan, Langit, Sean, Riyan, Feri, dan Gilang sebagai pemilik tempat ujung lainnya.
Rhea yang sudah duduk di tempatnya, ingin sekali segera tidur, karena tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan. Emma yang duduk di sebelahnya masih saja sibuk dengan ponselnya.
Intan yang di sebelah Emma, masih saja lengket kayak perangko sama Langit. 'Mereka dari tadi ngobrolin apa aja, sih? Nggak bosen apa, dari tadi ngedumel berduaan aja.', batin Rhea geram sendiri.
Lalu tempat di sebelah Langit kosong, karena Sean dan Riyan entah pergi ke mana. Mereka hanya pamit jalan-jalan melihat suasana sekitar. Sedangkan Feri juga sama seperti Emma, sibuk dengan ponselnya, bermain game.
Di ujung lainnya ada Gilang, yang juga sendirian sama seperti Rhea. Dia hanya merokok sambil melihat ke depan, ke tanah lapang yang redup dan gelap karena kurangnya pencahayaan.
Rhea melirik ke arah Gilang, memperhatikan gumpalan asap yang keluar dari mulut Gilang. 'Sepertinya hangat.'
__ADS_1
Mungkin karena merasa ada yang memperhatikannya, Gilang mendadak menolehkan kepalanya sehingga matanya yang tajam dan cuek bertatapan dengan mata Rhea yang hitam jernih.
Rhea tersentak kaget dan langsung menundukkan kepalanya. Dia menekuk kakinya dan memeluknya, membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
'.....', Gilang kehabisan kata-kata melihat penampilan Rhea yang sedang meringkuk kedinginan. 'Bodoh. Salahnya sendiri pakai celana pendek, nggak pake jaket pula.', batin Gilang kembali memalingkan wajahnya melihat tanah lapang di depannya.
Ya, Rhea sendiri juga mengolok dirinya bodoh. Bagaimana bisa dia membawa baju ganti berupa celana pendek, bukannya celana panjang.
Maklum juga sih sebenernya, karena ini pertama kalinya Rhea pergi camping, jadi nggak kepikiran kalau udara di daerah pegunungan bakal sedingin ini, apalagi ketika malam tiba.
Dia hanya berpikir dia bawa baju ganti untuk dipakai saat tidur seperti di rumahnya sendiri, berupa celana pendek dan kaos oblong. Kalau saja dia tadi tidak kehujanan, dia tidak perlu ganti baju dan tetap bisa memakai celana panjang dan jaket yang dia kenakan saat berangkat tadi.
Bagian tubuh kanan Rhea kedinginan kembali saat Emma beranjak berdiri dan pergi. Tapi tidak lama kemudian ada seseorang yang duduk di sebelahnya, yang tak lain adalah Sean. Merasa ada yang berbeda dari posturnya, Rhea mendongakkan wajahnya melihat ke samping, "Sean."
"Lumayan.", jawab Rhea sekenanya.
"Langit, ranselku.", pinta Sean kepada Langit sambil menunjuk ransel yang ada di samping kanan Langit. Langit lalu mengambil dan melemparkannya ke Sean.
"Paha kamu mulus juga ya, Rhe.", goda Sean sambil tangannya masih merogoh-rogoh ke dalam ranselnya.
"Ha? Apa?", tanya Rhea kurang fokus sejak Sean menyebut nama Langit barusan.
"Sudahlah. Pakai ini biar nggak terlalu dingin.", Sean menyelimuti kaki Rhea dengan sarung yang dia ambil dari ranselnya. Andai dia bawa jaket juga, pasti bakal dia kasih ke Rhea, sayangnya Sean tidak bawa jaket, karena dia sudah memakai kemeja lengan panjang, jadi dia tidak mau repot-repot bawa jaket.
__ADS_1
Begitu juga Langit, dia juga ingin memberikan jaket yang dia pakai sekarang kepada Rhea, tapi tidak bisa dia lakukan, karena ada Intan pastinya. Langit sedikit lega ketika Sean menyelimuti Rhea, walau dia kecewa karena bukan dirinya yang melakukannya, tapi setidaknya Rhea sudah tidak terlalu kedinginan.
"Terima kasih.", ucap Rhea sambil membenarkan posisi duduknya. "Kamu habis dari mana?"
"Jalan-jalan aja, kali aja nemu sesuatu."
"Terus, akhirnya nemu apaan?"
"Itu.", jawab Sean sambil mengarahkan dagunya ke tanah lapang di depan mereka. Di sana ada Riyan dan Feri yang sedang jongkok berhadapan, sedangkan Emma berdiri dibelakang Feri memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh keduanya.
"Emang apaan?", karena gelap, Rhea tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Riyan dan Feri.
"Kayu bakar. Mereka mau bikin api unggun."
"Iya? Dapet di mana kayu bakar malam-malam begini? Sepertinya semua warung sudah pada tutup.", ujar Rhea sambil melihat sekeliling di kejauhan yang tampak gelap dan tenang. "Ah!", Rhea memekik pelan, kaget ketika sebuah tangan tiba-tiba meraih dan menggenggam tangan kanannya yang berada di sampingnya.
Rhea lalu melirik melihat ke tangannya dan menelusuri asal tangan yang sedang menggenggamnya. 'Langit?!', Rhea tertegun ketika mengetahui bahwa Langit lah yang sedang menggenggam tangannya di balik punggung Sean. 'Bagaimana bisa? Sejak kapan dia berpindah posisi dan duduk di sebelah Sean? Lalu Intan?'
Rhea sedikit memajukan badannya untuk melihat keberadaan Intan, tapi ternyata Intan tidak ada di sana, yang ada dia malah melihat senyum tipis Langit yang sedang melihat ke arahnya. Rhea langsung buru-buru kembali memundurkan badannya menghindari tatapan Langit, gugup.
"Iya, dapat dari mana kamu, semua kayu bakar itu?", tanya Langit kepada Sean, mengulangi pertanyaan dari Rhea. Ekspresinya tenang seperti tidak melakukan sesuatu yang salah.
Sedangkan Rhea kebingungan mencoba melepaskan genggaman tangan Langit, namun tidak bisa. Sebenarnya bukannya tidak bisa, hanya saja Rhea memang tidak menariknya dengan sekuat tenaga, sehingga genggaman itu tidak terlepas. Bagaimanapun juga Rhea sedikit merasa senang karena Langit menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Aku nemu di samping warung yang sudah tutup.", jawab Sean jengkel. Walau dia berharap tidak tahu, tapi pergerakan tangan mereka berdua terasa di belakang punggungnya. 'Gila ni anak! Gercep banget! Begitu Intan pergi, dia langsung menggeser duduknya dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Kalau ni anak bukan Langit, pasti udah aku hajar aja sampai bonyok!', gerutu Sean dalam hati.