Kuingin Yang Tak Kuinginkan

Kuingin Yang Tak Kuinginkan
Ronjot


__ADS_3

"Aku sih nggak masalah. Lagian aku dibonceng di belakang, jadi nggak bakal terlalu kena hujan. Kamu yang di depan gimana?"


Hening, tidak ada jawaban. 'Oke, terserah. Bicaralah ketika kamu berminat aja.', batin Rhea sambil memutar bola matanya.


Hujan benar-benar turun setelah sekitar satu kilometer perjalanan kemudian. Awalnya hujan yang hanya rintik-rintik berubah menjadi mulai deras dan semakin deras.


"Tunggu.", Rhea menepuk pelan pundak Gilang. "Kita berhenti sebentar, ya.", pinta Rhea.


Tanpa menjawab, Gilang menepikan motornya di sebuah kios kecil yang sedang tutup. Mereka berteduh di emperan kios sempit itu yang memang hanya muat untuk dua orang.


Rhea membuka ranselnya yang sudah dia pakai di depan dadanya. Dia merogoh-rogoh ke dalam ranselnya sedang mencari-cari sesuatu. Gilang hanya meliriknya sekilas tanpa bertanya apapun.


'Ah, ini dia. Letaknya paling bawah sendiri jadi susah nemunya.', setelah sekitar lima menit akhirnya Rhea menemukan apa yang dia cari. 'Lain kali sebaiknya aku taruh di ransel bagian depan aja.', batinnya.


"Siniin ransel kamu.", pinta Rhea menengadahkan telapak tangan kanannya ke arah Gilang.


Terukir pertanyaan 'buat apa' di wajah Gilang.


Rhea menjawab ekspresi Gilang tersebut juga tanpa kata-kata. Dia hanya menunjukkan tangan kirinya yang tengah menggenggam kantong plastik.


Gilang hanya melihatnya dengan tetap bergeming.


"Haaahh...", Rhea menghela nafas pelan melihat sikap Gilang. 'Menurutku, aku termasuk orang pendiam, tapi aku tidak akan seirit ini jika diajak orang bicara.', batin Rhea.


Rhea tanpa banyak kata akhirnya dia menarik sendiri ransel Gilang dari punggungnya. Gilang membiarkan Rhea melakukannya, dia juga menggerakkan tangannya sedemikian rupa agar Rhea lebih mudah mengambil ranselnya.


Setelah berhasil mengambil ransel Gilang, Rhea membuka kantong plastik yang ada di genggamannya. Kemudian dia memasukkan ransel Gilang ke dalam kantong plastik yang ukurannya lumayan besar.


"Ini, bawa bentar.", Rhea menyerahkan ransel Gilang yang sudah terbungkus rapat oleh kantong plastik.


Kemudian Rhea kembali mengambil kantong plastik lagi yang tadi sudah dia temukan di dalam ranselnya. 'Untung saja aku bawa satu kantong plastik lagi', batin Rhea.


Rhea memang selalu menyimpan satu kantong plastik ukuran paling besar di semua tas miliknya untuk berjaga-jaga jika hujan turun. Dan kemarin malam saat packing, dia membawa satu kantong plastik lagi untuk tempat baju ganti yang kotor saat camping.


"Ayo.", ajak Rhea setelah dia selesai memasukkan ranselnya ke dalam kantong plastik.

__ADS_1


"Masih hujan."


"Kan tadi kita sudah sepakat hujan-hujanan. Nggak enak juga sama yang lainnya yang sudah duluan sampai sana. Emang masih jauh tempatnya?"


"Nggak terlalu."


"Ya udah, ayo."


"Yakin?", Gilang memastikan. 'Aku kira tadi dia ngajak berhenti buat berteduh.'


"Iya, yakin. Buruan.", sambil berkata begitu Rhea mendorong Gilang agar segera beranjak dari sana.


Gilang menurut saja, karena toh memang mereka sudah lumayan basah karena kehujanan sebelum berhenti tadi.


"Ini biar aku bawa.", Rhea mengambil ransel Gilang saat dia sudah menaiki motornya.


Gilang tidak sempat menolak karena Rhea begitu tiba-tiba mengambil ransel yang dia letakkan di atas tangki motor.


Rhea meletakkan ransel mereka di pangkuannya setelah dia menaiki motor. Karena ada tambahan ransel di depannya, membuat Rhea duduk sedikit ke ujung belakang boncengan. Dia takut terjatuh, sehingga dia terpaksa berpegangan pada ujung baju Gilang. Ya, hanya ujung bajunya.


".....", Gilang yang merasa bajunya sedikit tertarik untuk berpegangan Rhea hanya terdiam. Setelahnya dia melajukan motornya, melanjutkan perjalanan mereka, menerjang derasnya hujan yang mengguyur tubuh mereka.


Gilang membelokkan motornya melewati sebuah gerbang kedatangan yang bertuliskan 'Selamat Datang Di Bumi Perkemahan Semanggi'.


Di sepanjang sisi kanan kiri jalan setelah memasuki gerbang terdapat kios-kios ataupun warung-warung kecil. Sebagian besar dari mereka menjual makanan ringan maupun minuman hangat yang umumnya sering ada di berbagai daerah wisata pegunungan.


Gilang bermaksud untuk berhenti di antara salah satu warung-warung tersebut ketika terdengar teriakan dari arah depan.


"Hei!! Gilang!! Di sini! Di sini!!!", teriak seseorang sambil melambaikan tangannya di kejauhan.


Gilang mengendarai motornya menuju sumber suara berasal yang ternyata adalah Riyan dan yang lainnya. Mereka semua sudah berkumpul dan berada di sebuah warung.


Gilang langsung mengambil ranselnya dari Rhea dan meninggalkannya setelah Rhea turun dari motor Gilang yang sudah berhenti di depan warung.


Rhea : ".....?"

__ADS_1


'Apa dia marah karena aku keukeuh ngajak hujan-hujanan? Haahhh,, biarlah, toh dia tadi nggak menolak. Jadi aku nggak salah.', batin Rhea yang akhirnya berjalan mengikuti di belakang Gilang.


"Kan udah aku bilang, kamu wajib jagain Rhea, tapi kamu malah membiarkan dia kehujanan!", serbu Sean dengan mendorong pundak Gilang.


"Dari tadi aku mbonceng ronjot*), jadi tidak masalah jika kehujanan.", dengan sedikit kesal Gilang berjalan melewati Sean.


Sean dan Emma terdiam mendengar olokan Gilang, sedangkan Riyan berusaha menahan tawanya.


"Apa maksudnya?", tanya Rhea bingung.


"Ah, kak Rhea, lebih baik kak Rhea ganti baju dulu. Ayo aku anterin, kak.", ajak Emma mencoba mengalihkan perhatian Rhea.


"Oke.", Rhea menerima ajakan Emma dan mengikutinya menuju kamar mandi yang terletak di samping belakang warung.


Sesampai di sana, Rhea melihat sekeliling mencari sosok Gilang. Dia kira tadi Gilang pergi duluan untuk segera ganti baju, tapi ternyata dia tidak di sana.


Kamar mandi yang cuma hanya satu bilik juga kosong tidak ada siapapun. 'Sudahlah, bukan urusanku.', Rhea pun masuk ke dalam kamar mandi untuk ganti baju.


Tidak jauh dari sana, di sebuah warung yang sedang tutup, tepat di sebelah warung yang saat ini mereka singgahi, Gilang duduk di emperan warung tersebut.


Dia sedang merokok untuk sedikit menghangatkan tubuhnya, walaupun sepertinya itu tidak terlalu berpengaruh, tubuhnya masih saja menggigil kedinginan.


Sebenarnya dia tadi bisa saja ganti baju duluan, tapi itu tidak mungkin dia lakukan, karena prinsipnya memang selalu mengutamakan wanita terlebih dahulu.


'Krieeettt..'


Suara decitan dari pintu kamar mandi yang sedang dibuka membuyarkan lamunan Gilang yang tadi sempat sedikit memikirkan Rhea.


Gilang bangkit dari duduknya setelah mendengar langkah Rhea keluar dari kamar mandi dan pergi ke tempat anak-anak yang lain.


Gilang segera masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian. Hari mulai senja membuat cuaca semakin dingin sehingga Gilang semakin menggigil kedinginan.


"Rhea, sini!", seru Sean menepuk tempat kosong di sebelahnya. Rhea pun berjalan menghampiri Sean dan duduk di sebelahnya.


"Ini kamu minum dulu teh hangatnya.", imbuh Sean sambil mendekatkan segelas teh hangat di atas meja ke depan Rhea.

__ADS_1


"Makasih.", pelan-pelan Rhea menyeruput teh hangat tersebut. Badannya yang tadi kedinginan mulai sedikit menghangat, terutama bagian perutnya.


*ronjot) : tas motor yang biasa digunakan oleh pedagang untuk membawa barangnya di bagian belakang motor. Atau kadang lebih dikenal dengan sebutan tas kurir.


__ADS_2