
'Klinting klinting... '
Terdengar suara lonceng kecil yang berada di atas pintu kafe saat seorang gadis memasuki kafe tersebut.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe mencari temannya yang bawel itu.
Walaupun kafe itu terlihat sederhana, tetapi banyak pengunjung yang datang setiap hari. Tampilannya yang minimalis membuat suasana di kafe seperti rumah sendiri, sungguh nyaman.
"Hei! Di sini! Di sini!"
Rhea menoleh ke sumber teriakan, sambil memicingkan mata. Setelah memastikan bahwa yang berteriak itu adalah Julie, dia berjalan menghampirinya.
'Tidak bisakah dia lebih memperhatikan penampilannya itu? Wajah polos tanpa makeup. Rambut dikucir kuda secara asal-asalan. Kaos oblong warna hitam yang terlihat kebesaran itu ditutupi dengan jaket hoodie yang juga kebesaran untuk ukuran badannya yang bisa dibilang ramping. Celana belel yang dia pakai terdapat beberapa sobekan melintang di sekitar lututnya.', batin Julie sambil memperhatikan Rhea dari atas ke bawah...
Mata Julie begitu takjub setelah perhatiannya sampai ke kaki Rhea, 'Sandal jepit? Seriusan? Tambah parah aja nih anak. Bagaimana bisa dapat pacar kalau tampilannya begitu!'
Bruk!
Rhea duduk di depan Julie dan melemparkan tas ranselnya secara asal di kursi sebelahnya. Sembari mengatur nafasnya yang sedikit ngos-ngosan, dia melirik ke arah minuman Julie yang terlihat segar dengan adanya embun es di gelasnya.
Tanpa menghiraukan tatapan takjub Julie, dia langsung mengambil gelas itu dan menghabiskannya dalam satu tegukan.
"Aaahh.. Lega rasanya habis lari minum yang dingin-dingin begini.", ujar Rhea sambil mengusap mulut dengan punggung tangannya.
"Rhea! Kamu kenapa datangnya telat? Lalu apa-apaan penampilan kamu itu? Berantakan begitu! Apalagi itu, di kaki kamu! Sandal jepit? Kan kamu bisa setidaknya pakai sepatu kets..", oceh Julie dalam sekali tarikan nafas.
Rhea hanya mendengarnya sambil lalu, dan mengusap peluh keringat yang menetes di dahinya dengan kedua punggung tangannya bergantian.
"Tuh kan! Nih tisu! Pakai itu buat ngelap keringat kamu. Jangan pakai tangan begitu. Kamu itu harus menjaga penampilan kamu. Nggak harus berdandan cantik dan modis, tapi setidaknya terlihat rapi. Karena orang-orang itu selalu melihat tampilan luarnya dulu. Kalau kamu begini, bagaimana kamu bisa dapat pacar.. ."
"Sudahlah, Julie. Kamu nggak bosen apa, komentar soal penampilanku terus dari dulu. Aku nyaman seperti ini, karena praktis. Nggak harus ribet memadu padankan setelan dari atas ke bawah. Buang-buang waktu.", potong Rhea cepat.
Karena Julie tipe orang bawel yang nggak akan berhenti bicara kalau nggak dipotong kalimatnya.
"Julie..."
__ADS_1
Julie yang tengah membuka mulutnya untuk menimpali ucapan Rhea menoleh ke belakang ketika dipanggil namanya.
"Langit? Kamu di sini juga? Sama siapa?", ucap Julie sambil melihat ke sekitar Langit.
"Iya, Julie. Lagi janjian, tapi dia mendadak nggak bisa dateng, ada urusan katanya.",sahut Langit sambil sesekali melirik ke arah Rhea yang sedang membuka menu kafe.
"Sama siapa? Sean? Terus sekarang mau kemana? Kalau lagi nggak ada urusan, sini gabung aja sama kita.", Julie menepuk kursi di sebelahnya.
"Tapi..." jawab Langit ragu-ragu melihat Rhea.
"Oh, santai aja. Tidak usah peduliin dia. Dia jinak kok.", cengir Julie menimpali.
"Oke."
Langit menggeser kursi ke belakang, kemudian duduk di sebelah Julie, sehingga dia bisa melihat dengan jelas wajah Rhea yang ada di depannya. 'Cantik!'
"Langit, kenalin, ini Rhea, sahabat baikku. Dan Rhea, ini Langit, teman kampus." Julie memperkenalkan mereka satu sama lain.
Rhea yang dari tadi menunduk melihat menu kafe, mengangkat wajahnya ke depan ketika merasa namanya dipanggil.
'Jantungku! Kenapa terasa sesak dan berdebar tidak karuan begini? Apa aku mendadak terkena penyakit jantung? Rasanya tidak nyaman, susah untuk bernafas!'
Rhea mendadak tidak bisa berbicara, pandangannya entah kenapa menjadi kabur terhadap sekelilingnya dan hanya pemuda di hadapannya itu yang terlihat jelas.
"Rhea.. Rhea.. Hei! Rhea!!!", panggil Julie sedikit memperkeras suaranya dan mengguncang tangan Rhea.
"Ha? Apa? Kenapa? Ada apa?", gagap Rhea terkejut.
"Kamu kenapa melamun? Ini! Kenalin, Langit, teman kampusku.", seru Julie sedikit dongkol.
"Ha? Ah, iya. Perkenalkan, nama saya Rhea? Saya tinggal di... di rumah?", jawab Rhea kikuk.
"Langit.", sahut Langit tersenyum tipis.
"Ahahahaha. Apaan sih kamu Rhea! Konyol banget! Mendadak bicara formal begitu. Dan kenapa pakai tanda tanya pas kamu kasih tahu nama kamu. Itu pernyataan apa pertanyaan.. Ahahaha...", Julie terpingkal-pingkal melihat ulah temannya itu.
__ADS_1
Rhea tidak menghiraukan ledekan Julie. Dia masih terpana melihat pemuda di depannya itu. 'Dia tersenyum! Aduh, ****** aku! Manis! Aku ingin masukin dia ke karung, terus aku bawa pulang!', batin Rhea masih belum melepas jabat tangan mereka.
Di sisi lain, Langit juga berpikiran hampir sama dengan Rhea, 'Imut. Lihat matanya yang berbinar penuh semangat itu. Hidungnya yang kecil mancung. Bibir ranumnya yang berwarna pink segar tanpa polesan apapun. Pipinya yang memerah sedikit chubby karena senyumnya yang mengembang. Membuat gemas orang yang melihatnya. Rasanya ingin aku tutup wajahnya dengan pelukanku terus aku bawa pulang agar tidak ada pria lain yang melihat kecantikannya itu!'
Tok. Tok. Tok.
"Ehem.. Sampai kapan kalian bakal menatap satu sama lain begitu.", dehem Julie sambil mengetuk meja.
Langit dan Rhea tersentak dan langsung melepas jabatan tangan mereka. Keduanya terlihat kikuk dan canggung.
"Jadi, kalian mau pesan apa?", imbuh Julie.
"Aku bakso bakar, jamur crispy, cireng, roti bakar, terus.. ."
Belum selesai Rhea menyebutkan pesanannya, Julie memotongnya, "Gila. Yakin kamu bisa menghabiskan semua? Jangan pesan banyak-banyak, mubadzir nanti kalau nggak habis. Dosa tau kalau buang-buang makanan!"
"Dijamin habis deh. Soalnya aku laper banget, belum makan dari pagi."
"Kamu itu, masih aja nggak makan teratur. Kalau maag kamu kambuh gimana? Mendingan kamu buruan cari pacar sana, supaya ada yang merhatiin kamu.", cuap Julie.
"Bagiku kamu sudah seperti pacarku, Julie.", senyum jahil tersungging di wajah Rhea.
"Jangan bicara yang sering membuat salah paham orang. Sudah berapa banyak aku mendengar orang-orang mengira kita pasangan..", keluh Julie.
Rhea meringis puas melihat temannya itu, sehingga matanya yang sipit membentuk bulan sabit menyembunyikan bola matanya yang jernih.
"Sudahlah. Kamu jadi pesan apa, Lang? Maaf ya, sebelumnya, Rhea nggak ada jaim-jaimnya.", Julie menoleh ke Langit.
"Aku mocca latte. Soal Rhea, aku nggak keberatan. Justru itu merupakan daya tariknya sendiri.", sanggah Langit penuh arti melihat Rhea.
Rhea yang mendengar itu, mendadak salah tingkah. Sebenarnya, dari tadi dia menutupi perasaan gugupnya yang tak terkendali. Ini pertama kalinya dia merasa salah tingkah di hadapan seorang pria. Dia juga merasa tidak nyaman dengan debaran jantungnya yang tak kunjung mereda. Dia takut mereka mendengar suara detak jantungnya yang berdebar semakin keras setelah mendengar ucapan Langit barusan.
Ting!
'Kamu jadi pergi atau masih di kafe? Aku sudah sampai depan kafe.'
__ADS_1