
Bruk.
Sean meletakkan Rhea di atas kasur berukuran king size dan meyelimutinya. Dia memandang Rhea yang tertidur pulas dengan penuh arti.
Sean menyingkirkan rambut hitam Rhea yang menutupi wajahnya, sehingga tanpa sengaja Sean merasakan kulit Rhea yang putih halus layaknya kulit bayi.
Walaupun penampilannya berantakan, itu tidak menutupi kecantikan Rhea yang alami tanpa polesan makeup.
Sean tertegun sejenak kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Aku harus mandi untuk menjernihkan pikiranku.'
Sean beranjak dari samping tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Sean mengguyur kepalanya di bawah shower dengan air dingin.
Dia berharap itu dapat menghilangkan rasa mabuknya.
Sementara Sean sedang mandi, Rhea yang sedang tidur menggeliatkan tubuhnya.
Dia menendang selimut yang menutupi tubuhnya karena merasa kepanasan. Dengan setengah sadar, dia juga melepas jaket, celana serta bajunya, karena dia terbiasa tidur hanya dengan memakai tanktop dan hotpant.
Setelah merasa badannya ringan, ia kembali tertidur dengan pulasnya.
Sean yang sudah mengguyur kepalanya, mulai hilang rasa mabuknya. Dia pun mematikan shower dan meraih handuk yang ada didekatnya.
Dengan hanya memakai handuk kecil yang dililitkan di pinggangnya, membuat Sean terlihat menggoda.
Rambut yang masih sedikit basah meneteskan air ke badannya yang bisa dibilang berotot itu.
Bruk!
Terdengar suara sesuatu yang terjatuh di luar kamar mandi.
Mendengar itu, Sean memakai jubah mandi yang terlipat rapi di rak, lalu bergegas keluar.
Sean sedikit panik ketika tidak melihat Rhea di atas tempat tidur.
"Mmmm...", mendengar suara erangan, Sean berjalan ke samping tempat tidur.
Di sana dia melihat Rhea yang sedang tergeletak di atas tumpukan bajunya.
Deg!
Darah Sean berdesir melihat Rhea yang hanya memakai pakaian minim. Tanpa memakai semua bajunya yang terlihat kebesaran, membuat tubuh molek Rhea terlihat menggairahkan.
Sean menelan ludahnya karena melihat tubuh Rhea yang putih bersih dan mulus itu.
Walaupun dia sering bermain-main dengan banyak perempuan, tetapi dia belum pernah melihat tubuh perempuan yang sangat menggoda seperti ini.
"Mmmmm...", erangan Rhea membuat Sean tersadar dari pikiran liarnya.
Rhea meringkuk kedinginan karena tidur di atas lantai.
Sean mengangkat Rhea dengan kedua tangannya. Rhea yang merasakan kehangatan tubuh Sean lantas membenamkan wajahnya ke dada Sean.
__ADS_1
Tindakan Rhea tersebut membuat Sean menundukkan kepala memandangnya.
Darah Sean kembali berdesir ketika melihat dua gundukan di dada Rhea sedikit menyembul keluar. Benda itu terlihat kenyal dan lembut.
Sean segera meletakkan Rhea kembali ke atas tempat tidur. Tubuhnya menegang melihat gadis di depannya yang tanpa pertahanan sama sekali.
Dengan sedikit kewarasan yang masih dimilikinya, Sean menarik selimut lalu menutupi tubuh Rhea.
Kemudian Sean kembali ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya yang tidak bisa dilakukan di tempat tidur untuk saat ini.
Keesokan paginya.
"Aw", Rhea yang telah terbangun, memegang kepalanya karena merasa sangat pusing.
Setelah pandangannya kembali normal, dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa ini bukan kamarnya.
Dia turun dari tempat tidur untuk membuka tirai kamar.
Saat melangkah dia merasakan sesuatu berserakan di kakinya, lalu melihat ke bawah.
Rhea sangat kaget melihat baju-bajunya berserakan di bawah dan hanya memakai pakaian minim.
Dia langsung melompat kembali ke tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
'Apa yang terjadi?', panik Rhea sembari berusaha mengingat-ingat.
"Sudah bangun, Rhea?", aroma sabun mengudara di kamar ketika Sean keluar dari kamar mandi.
"Sean? Apa yang terjadi?", Rhea panik dan bingung melihat Sean yang hanya memakai jubah tidur, membuat Rhea berpikiran buruk, 'Mungkinkah.....'
"Kenapa? Kenapa kamu lakukan itu Sean..?", Rhea mulai menangis tersedu-sedu.
"Hei. Tenanglah. Aku hanya bercanda. Tidak terjadi apa-apa semalam.", Sean berjalan menghampiri Rhea, lalu duduk di sebelahnya.
"Tapi kenapa kita ada di hotel?", Rhea sesenggukan.
"Karena semalam kamu mabuk berat hingga tak sadarkan diri. Aku yang mengantarmu pulang tidak tahu di mana alamatmu.", jelas Sean sambil mengelus kepala Rhea untuk menenangkannya.
"Lalu kenapa pakaianku berserakan di lantai?"
"Entahlah. Kamu sendiri yang melepasnya ketika aku tinggal mandi."
"Beneran?"
"Iya, beneran. Aku kan juga sudah janji ke Julie untuk menjagamu layaknya saudariku. Jadi, cepat berhenti menangis lalu mandi. Aku antar kamu pulang." Sean bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh membelakangi Rhea.
Rhea bergegas bangkit, mengambil pakaiannya lalu berlari ke kamar mandi.
Dia percaya dengan penjelasan Sean, karena bagaimanapun tidak ada yang terasa aneh di seluruh tubuhnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang ketika Rhea sampai rumah.
"Terima kasih, Sean."
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Oh iya, nomorku sudah aku simpan di ponselmu. Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya. Aku pergi dulu, sampai jumpa."
"Oke. Hati-hati"
Sean mengangguk, lalu menutup kaca mobil, dan melaju pergi.
Setelah melihat Sean sudah menghilang dari pandangan, Rhea langsung memasuki rumah kontrakannya.
Rhea termasuk golongan menengah ke bawah, sehingga dia hanya mampu menyewa rumah kecil ini. Berbanding terbalik dengan Julie yang merupakan orang berada.
Sesampai di dalam rumah, Rhea langsung menuju kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur. Rasa pusing akibat mabuknya masih belum hilang sepenuhnya.
Di tempat lain, setelah mengantar Rhea, Sean melajukan mobil ke rumah Langit.
Tanpa mengetuk pintu, Sean langsung memasuki rumah Langit yang sudah seperti rumahnya sendiri.
Dia berjalan langsung menuju kamar Langit yang berada tidak jauh dari ruang tamu.
Sean membuka pintu kamar Langit yang sedikit terbuka. Dia langsung merebahkan diri di samping Langit yang tengah terlelap.
Merasakan ada gerakan di tempat tidurnya membuat Langit terbangun.
Tetapi dia kembali memejamkan matanya ketika tahu bahwa yang datang adalah Sean.
"Hei.", Sean memulai pembicaraan.
"Hm?"
"Kamu nggak tanya kenapa kemarin aku minta ketemuan?"
"Memang ada apa?", Langit masih menjawab malas-malasan.
"Aku ingin tinggal sama kamu."
"Kenapa?"
"Karena terlalu jauh dari kampus."
"Terus? Kenapa mau tinggal di sini? Rumahku kecil, kamar tidur juga cuma ada dua."
Seperti halnya Rhea dan Julie, Langit juga termasuk golongan menengah ke bawah yang berbanding terbalik dengan Sean.
"Aku bisa sekamar dengan kamu. Atau gudang belakang bisa aku bersihkan untuk dijadikan kamar."
"Terserah kalau itu maumu."
"Kamu tahu, barusan aku mengantar Rhea pulang. Dan ternyata tempat tinggal Rhea tidak begitu jauh dari sini.", ujar Sean yang tiba-tiba teringat dengan Rhea.
Langit langsung bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Sean yang masih rebahan.
"Apa maksudmu kamu barusan mengantar Rhea? Bukankah seharusnya semalam kamu mengantarnya pulang?"
"Tidak. Semalam kita menginap di hotel..."
Tanpa menunggu kalimat Sean selesai, Langit langsung menarik kerah Sean, membuatnya terduduk.
__ADS_1
Buagh!