
"Setelah ini kalian akan kemana?", tanya Langit.
"Kita mau nonton, karaoke, makan-makan, clubing. Pokoknya kita ingin senang-senang, karena besok aku harus ke luar negeri untuk meneruskan kuliah di sana. Jadi hari ini, kita merayakan semacam pesta perpisahan kecil-kecilan.", jelas Julie.
"Kamu jadi kuliah ke luar negeri, Lie? Bakal kesepian nih kita. Kan kamu satu-satunya teman perempuan yang paling paham tentang kita. Ya kan, Lang?" timpal Sean.
"Iya, Lie. Benar yang dikatakan Sean.", jawab Langit menyetujui ucapan Sean.
"Modus kalian berdua.", Julie meringis mendengar perkataan mereka.
"Sebagai ganti teman kalian yang mau pergi meninggalkan kalian ini, nih aku titipkan Rhea ke kalian. Jaga dia baik-baik, karena dia belum mengenal kejamnya dunia.", imbuh Julie menyeringai sambil menunjuk Rhea.
"Apaan sih kamu. Aku bukan barang yang bisa dititip-titipkan ke orang lain. Lagian aku masih bisa menjaga diriku sendiri.", sanggah Rhea.
Julie menghela nafas ringan mendengar sanggahan Rhea. Julie tahu kalau Rhea pada dasarnya orang yang mandiri dan suka menyimpan semua perasaannya sendiri.
"Tenang aja, Lie. Pasti kita jaga baik-baik. Teman kamu berarti teman kita juga. Apalagi teman kesayangan kamu, pasti bakal jadi kesayangan kita juga dong.", ujar Sean.
Langit yang awalnya hendak menganggukan kepala menyetujui ucapan Sean mendadak berhenti setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sean. Dia pun menendang pelan kaki Sean.
Sean hanya bisa memandang heran ke arah Langit, 'Apa masalahnya?'
"Jadi, kita boleh ikut gabung ke acara perpisahan kamu ini nggak?", Langit memalingkan wajah dari Sean dan menoleh ke sampingnya.
"Tentu saja boleh! Semakin banyak orang, semaki seru. Iya kan, Rhea?", Julie bersemangat karena bertambahnya anggota yang merayakan perpisahannya.
Rhea hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sebenarnya dia tidak begitu nyaman karena baru mengenal mereka, terutama dengan Langit. Tetapi demi menyenangkan sahabatnya itu, dia setuju-setuju saja. Apalagi ini terakhir mereka akan bertemu.
"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang.", ajak Julie sambil berdiri.
Rhea mengambil tas ransel yang tadi diletakkan Sean di bawah karena kursinya diduduki Sean ketika dia tiba tadi. Kemudian dia berdiri dan berjalan menghampiri Julie yang sudah ada di depan kasir.
Langit dan Sean pun berjalan mengekor di belakang Rhea.
"Ayo!", seru Julie ke teman-temannya setelah dia membayar tagihan mereka di kasir.
Julie berbalik dan melangkah terlebih dahulu.
Langit yang tadi berada di belakang Rhea mempercepat langkahnya untuk menghampiri Julie.
"Berapa tadi tagihannya? Biar aku ganti.", pinta Langit.
__ADS_1
"Tidak usah. Untuk hari ini, aku yang traktir kalian semua. Begitu pun nanti saat kita bersenang-senang, aku semua yang bayar.", seringai Julie.
"Tapi...", belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Julie sudah memotongnya.
"Sudahlah, Langit. Ayo kita pergi", Julie mempercepat langkahnya.
Langit hanya bisa mendesah perlahan lalu mengikuti Julie di belakangnya. Dia tahu, jika terus memaksa hanya akan membuat Julie marah. Karena dia sudah memahami sifat Julie yang keras kepala itu.
Nyut!
Rhea yang ditinggalkan mereka di belakang bersama Sean entah mengapa merasa nyeri di dadanya melihat keakraban Julie dan Langit. 'Apakah aku marah karena Julie melupakan aku dan malah bersama temannya yang lain?'
"Ada apa?", tanya Sean yang sedang berada di sebelah Rhea.
"Kenapa berhenti?", imbuhnya karena tidak mendapat respon dari Rhea.
"Hei.", Sean menyenggol pelan pundak Rhea dengan pundaknya.
Rhea tersentak dari lamunannya, melihat ke arah Sean, "Ada apa?"
"Justru aku yang tanya ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti? Ada yang sakit?", tanya Sean memperhatikan Rhea yang sedang menekan dadanya.
'Oke, aku sudah paham dengan situasi kalian.', batin Sean yang memang peka soal perasaan.
"Kamu yang nyetir ya, Sean!", Julie melemparkan kunci mobilnya ke arah Sean yang baru saja keluar dari kafe.
"Oke.", sahut Sean menangkap kunci mobil dan berjalan ke arah mobil sport milik Julie.
Sean duduk di depan kemudi dan Julie duduk di sampingnya, sedangkan Langit dan Rhea duduk di kursi belakang.
Langit dan Rhea mendadak kaku ketika mereka duduk bersebelahan. Sean tersenyum penuh arti melihat ke arah mereka melalui kaca spion tengah.
"Kita kemana dulu, Lie?", tanya Sean sambil menghidupkan mesin mobil.
"Karaoke!", Julie berteriak.
"Siap, bos. Aku tahu tempat yang bagus.", Sean mulai memutar kemudinya dan melaju cepat menembus jalan di depannya.
***
Di sebuah diskotik, terdengar dentuman musik EDM, para pengunjung menari dengan penuh semangat. Bau alkohol menyebar di seluruh ruangan yang hiruk pikuk itu.
__ADS_1
Di sudut ruangan.
"Hari ini sangat menyenangkan! Ayo kita akhiri hari ini dengan minum-minum. Mumpung ada kalian pria-pria yang bakal menjaga kita!", seru Julie yang mulai sedikit mabuk itu.
"Oke, apapun itu, akan aku penuhi semua keinginanmu Julie, jadi kamu bisa memanfaatkan kesempatan yang jarang aku berikan ini." ucap Rhea yang sudah mabuk berat. Toleransinya terhadap alkohol sungguh mengkhawatirkan.
"Bermainlah dengan mereka berdua saat aku berada di luar negeri.", jawab Julie dengan menunjuk Langit dan Sean. "Kalian setuju?", imbuhnya.
"Tentu saja. Akan aku perlakukan dia seperti saudariku sendiri.", ucap Sean sambil meneguk minumannya.
"Kita harus pulang sekarang, Julie. Sepertinya Rhea sudah sangat mabuk.", ajak Langit.
Julie melihat ke arah Rhea yang memang sudah tidak begitu sadarkan diri.
"Baiklah. Sean, tolong antarkan Rhea pulang, ya. Aku tidak bisa mengajaknya pulang ke rumahku karena besok aku harus berangkat ke bandara pagi-pagi sekali. Kamu pakai saja mobilku.", Julie bangkit dengan sedikit terhuyung-huyung.
"Ayo, Langit. Antar aku pulang.", Julie menarik Langit dan bergelayut di lengannya.
Tanpa sadar, Julie melakukan hal yang biasa dia lakukan saat mereka masih pacaran. Dahulu dia sangat suka bergelayut manja di lengan Langit.
Sean yang masih bengong karena intruksi Julie yang mendadak itu tersadar kembali dan memandang bingung ke arah Rhea.
'Kenapa jadi aku yang mengantar Rhea pulang? Kan seharusnya ini kesempatan Langit agar lebih dekat dengannya.', tanpa bisa protes, Sean menghampiri Rhea dan membantunya berdiri.
Langit menoleh ke arah mereka dari kejauhan. Dia cemburu melihat Sean yang meletakkan tangan Rhea melingkar ke pundaknya untuk membantunya berdiri.
"Ayo, Langit!", Julie menarik Langit yang memperlambat langkahnya.
"Iya." Langit mengikuti Julie sedikit enggan.
Brak!
Sean menutup pintu mobil setelah duduk di kursi kemudi. Dia memandang Rhea yang duduk di sebelahnya sudah tidak sadarkan diri.
Sean perlahan mendekat ke arah Rhea, memperhatikannya dalam-dalam, 'Lumayan.' Sean memajukan badannya, semakin dekat dengan Rhea. Dia mengulurkan tangannya ke samping kepala Rhea.
Sreeeett,,, klik!
Sean memasangkan sabuk pengaman untuk Rhea. Kemudian dia menarik badannya kembali ke depan kemudi dan memasang sabuk pengamannya sendiri.
'Mari kita ke hotel.', Sean melajukan mobilnya di malam yang dingin itu.
__ADS_1