
"Jadi, ayo kita berhubungan kembali. Aku sudah menyesali perbuatanku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Kalau kau tidak setuju, maka aku berjanji tidak akan menemuimu lagi.", pinta Intan.
Ponsel Langit berbunyi, namun ia hanya melihat sekilas ke ponselnya.
"Kenapa tidak kau jawab?", tanya Intan yang duduk di depannya.
"Nomor tidak dikenal.", jawab Langit singkat.
Saat ini, Langit sedang makan malam di sebuah kafe dengan Intan. Dan lagi-lagi Intan mengajak Langit kembali untuk menjadi sepasang kekasih.
Ponsel Langit berbunyi lagi dan Langit tidak menghiraukannya.
"Coba kau jawab, mungkin penting.", saran Intan.
"Baiklah."
Langit akhirnya menekan tombol terima di layar ponselnya setelah ponselnya berbunyi cukup lama. "Halo?"
"Siapa?", tanya Intan ketika melihat Langit sedikit mengernyit. Langit hanya menjawab dengan menggelengkan kepala pelan.
"Halo? Ini siapa?", tanya Langit lagi karena hanya mendengar suara tangisan.
"Langit..."
"Rhea? Ini Rhea, kan? Ada apa? Kenapa kamu menangis?", tanya Langit khawatir begitu mengenali bahwa yang menghubunginya adalah Rhea.
"Tolong aku Lang... Aku tidak bisa menghubungi Sean, jadi aku menghubungimu. Maaf, kalau aku mengganggumu, aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi...", jelas Rhea yang semakin terisak.
"Sekarang kau ada di mana?"
"Hotel Luxury, kamar nomor.... 303...", jawab Rhea.
Seketika Langit melihat keluar kafe, ia melihat ke arah hotel Luxury yang kebetulan berada di seberang kafe tempat ia berada sekarang.
"Aku ke sana sekarang."
Langit langsung memutus panggilan dan berdiri, "Maaf, Intan. Aku harus pergi sekarang. Besok aku akan menemui kau lagi."
"Berarti kau setuju kita berhubungan lagi, kan?"
"Ya...", jawab Langit asal karena ia lantas pergi meninggalkan Intan. Walau sedikit kesal, tapi Intan puas karena Langit mengiyakannya.
***
'Ting!'
__ADS_1
Pintu lift terbuka begitu sampai di lantai tiga. Langit bergegas keluar menyusuri lorong hotel mencari kamar nomor 303. Ia tampak sangat cemas mengingat tangisan Rhea di ponsel tadi.
Akhirnya Langit menemukan kamar tersebut lalu mengetuk pintu. "Rhea. Ini aku. Buka pintunya."
Mendengar suara Langit di luar pintu, membuat Rhea yang tengah terduduk lemah di lantai berusaha berdiri dengan berpegangan pada dinding. Dengan perlahan ia berjalan tertatih-tatih menuju pintu.
"Rhea.", Langit menggedor pintu dengan lebih keras karena tidak mendapat jawaban.
'Ceklek!'
"Langit...", panggil Rhea dengan suara lemah begitu ia membuka pintu.
"Rhea!? Apa yang terjadi?", Langit tidak menyangka kalau keadaan Rhea sangat mengkhawatirkan.
Penampilannya berantakan, rambutnya kusut masai, kancing kemeja putih bagian atasnya terlepas memperlihatkan dadanya yang putih mulus.
"Itu...", Rhea pingsan ke pelukan Langit sebelum ia dapat menyelesaikan perkataannya.
"Rhea!", Langit mencoba membangunkan Rhea. Ia juga melihat ke dalam kamar dan melihat seorang pria tergeletak bersimbah darah.
Langit pun melepas jaketnya untuk menutupi bagian depan Rhea, lalu membopongnya keluar hotel. Begitu sampai di bawah, mereka menaiki taksi yang sebelumnya sudah dipesan Langit, bahkan ia juga memanggil ambulans untuk pria yang ada di dalam kamar tadi.
***
Rhea membuka matanya ketika sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai jendela. Ia memiringkan kepalanya sedikit menghindari cahaya matahari yang menyilaukan matanya.
Ia berusaha beringsut bangun, namun seketika kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang dan ia merasa mual.
Dengan menahan rasa pusingnya, ia masih berusaha untuk duduk dan melihat sekeliling. Ruangan itu terlihat sederhana dan rapi.
"Rhea, akhirnya kau bangun. Pasti kau lapar, ini aku bawakan bubur. Ayo makan.", ucap Sean yang baru saja masuk ke kamar terlihat lega karena Rhea sudah sadar.
Ia berjalan dan duduk di tepi kasur setelah meletakkan piring yang berisi bubur di atas nakas.
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terasa sakit? Ini minum dulu.", Sean memberikan segelas air putih.
Rhea meminumnya dengan cepat karena memang tenggorokannya terasa sangat kering.
"Hei, pelan-pelan.", ujar Sean setelah melihatnya seperti itu.
"Ini dimana?", tanya Rhea setelah tenggorokannya terasa lega.
"Rumah Langit. Ayo makan dulu.", Sean mulai menyuapi Rhea.
Sebenarnya Rhea tidak begitu suka bubur, tapi karena lapar ia pun dengan lahap memakannya. Sampai akhirnya ia teringat dengan pria bersimbah darah yang telah ia pukul kemarin.
__ADS_1
"Oh, iya. Bagaimana dengan pria itu? Apakah ia...", Rhea tidak berani meneruskan perkataannya.
"Tenang, pria itu tidak mati. Ia sudah dibawa ke rumah sakit kemarin.", jelas Sean dengan masih menyuapi Rhea dengan sabar.
"Syukurlah.", Rhea bernafas lega setelah mengetahui bahwa ia tidak jadi seorang pembunuh.
"Maaf, ya. Aku tidak ada saat kau lagi membutuhkanku.", dengan wajah bersalah Sean memegang pipi Rhea yang masih sedikit memerah karena tamparan pria semalam.
Sean juga meminta maaf dan menyesali keadaannya yang tidak bisa berada di samping Rhea saat ia membutuhkannya.
Kemarin ia sedang pulang ke rumahnya dan sibuk berkemas untuk pindah ke rumah Langit. Ia baru tahu keadaan Rhea tadi pagi ketika ia baru sampai di rumah Langit.
"Tidak apa-apa. Berkat kau juga aku bisa selamat. Jika kau tidak menyimpan nomor Langit di ponselku, aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu."
"Lain kali aku akan selalu menjagamu.", janji Sean.
"Hei, jangan sampai ada kejadian seperti kemarin lagi lain kali.", sergah Rhea cepat.
"Iya, tidak akan."
"Sudah. Aku sudah kenyang.", Rhea menghentikan Sean yang sedang menyuapinya.
Ia benar-benar sangat tidak suka bubur dan sudah tidak sanggup untuk memakannya lagi walaupun perutnya masih sedikit lapar.
"Baiklah, kau istirahatlah lagi." Sean berdiri meletakkan buburnya di atas nakas lalu membantu Rhea berbaring dan menyelimutinya.
"Siapa yang mengganti pakaianku?", Rhea baru sadar ia tidak memakai pakaiannya kemarin. Sekarang ia hanya memakai kaos putih polos yang cukup kebesaran untuknya.
"Siapa lagi?", goda Sean yang kembali duduk di tepi kasur.
Seingat Rhea, Langit hanya hidup berdua dengan ayahnya, ditambah Sean yang akan tinggal di sini, dan mereka bertiga adalah pria.
'Tidak mungkin kan...', Rhea mulai ketakutan berpikir yang tidak-tidak. Ia kembali teringat kejadian semalam saat seorang pria berusaha melepas bajunya.
Melihat Rhea mulai ketakutan membuat Sean khawatir. "Tenanglah. Yang mengganti pakaianmu tidak seperti yang kau pikirkan. Tadi aku menyuruh adik perempuanku mengganti pakaianmu sebelum ia kembali pulang.", jelas Sean sembari mengusap kepala Rhea.
"Sekarang istirahatlah." Sean kembali menyelimuti Rhea lalu mengecup keningnya. "Kalau butuh sesuatu, aku ada di luar.", imbuhnya.
"Sean.", panggil Rhea.
Sean yang sudah berjalan dekat pintu lantas berbalik, "Iya?"
"Di mana Langit?"
"Entahlah, tadi pagi ia keluar, katanya akan bertemu dengan Intan sebentar. Mungkin sebentar lagi pulang.", jawab Sean sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih, Sean. Aku akan istirahat."
Rhea membalikkan badannya membelakangi Sean. Ia berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya karena mendengar Langit sedang bersama Intan.