
Rhea memegang pergelangan tangan Sean yang sedang mengusap bibirnya. Ia menatap lurus ke arah Sean dan membuat Sean merasa tenggelam ke dalam matanya yang hitam berbinar.
"Aww!", Sean teriak sedikit kesakitan karena Rhea menggigit ibu jarinya. Dan ia langsung menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya.
"Kenapa kamu gigit? Masih lapar? Nih, gigit leherku sekalian.", ujar Sean mendekat sambil menarik kerah bajunya memperlihatkan lehernya yang putih bersih.
"Sini!" Rhea tanpa diduga menarik kerah baju Sean dengan kedua tangannya, sehingga wajah mereka sangat dekat hanya berjarak lima sentimeter.
Sean tertegun tidak berkedip, ia tidak menyangka bahwa Rhea akan menariknya.
Ceklek.
Mereka berdua menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu dibuka seseorang, yang ternyata adalah Langit.
"Langit. Bagaimana kata dokter? Apakah aku boleh pulang sekarang?", tanya Rhea dengan masih mencengkeram kerah Sean.
Langit tidak menjawab, ia hanya melihat ke arah mereka.
"Lepas, bodoh.", Sean menarik kedua tangan Rhea menjauh agar melepas cengkeramannya. 'Dasar tidak peka!', batin Sean.
Rhea hanya mengernyit melihat sikap Sean yang tiba-tiba itu.
"Jadi, bagaimana Lang?", tanya Sean mencoba menghilangkan rasa canggungnya.
"Kata dokter, besok pagi boleh pulang.", jawab Langit sambil mulai berjalan mendekati mereka.
"Besok? Aku ingin pulang hari ini. Aku besok mau pergi ke kampus mengurus cuti kuliah.", desah Rhea pelan.
"Jangan memaksakan diri. Turuti apa kata dokter." Langit mengelus kepala Rhea dengan penuh kasih seolah-olah sengaja menunjukkannya kepada Sean soal kepemilikannya atas Rhea.
"Sekarang kamu tidur." Langit membetulkan letak selimut Rhea. "Sean, kamu pasti lelah. Kamu pulanglah, aku akan menjaga Rhea di sini malam ini.", imbuhnya.
"Ok. Rhea, aku pulang dulu. Jangan rindu, ya.", pamit Sean menepuk pundak Rhea pelan.
Sebelum pergi, ia mengambil bungkusan sampah bakmie untuk di buang di tempat sampah di luar kamar. Dengan berat hati, ia melangkahkan kaki untuk pulang.
"Kalau begitu, aku tidur dulu, Langit.", Rhea kembali kikuk setelah Sean pergi. Ia masih belum terbiasa berhadapan dengan Langit.
"Iya. Tidurlah.", Langit mengecup kening Rhea lalu duduk di kursi samping tempat tidur dan menggenggam tangan Rhea.
Rhea semakin merasa salah tingkah dan ingin melepas genggaman tangan Langit, namun tidak bisa, karena Langit menggenggam tangannya dengan erat.
Mungkin karena pengaruh obat, Rhea akhirnya mengantuk dan terlelap.
***
__ADS_1
Sekitar jam sepuluh malam, Rhea terbangun dan mendapati Langit tidak ada di kamar.
Ia bangun dari tempat tidur lalu meminum segelas air putih yang sudah tersedia di atas nakas.
Ia kemudian beranjak dari tidurnya dan pergi keluar kamar. Ia ingin menghirup udara segar.
Dengan memegang tiang infus, ia berjalan perlahan dan duduk di bangku tunggu depan kamar.
Suasana sangat hening membuat perasaan Rhea sedikit nyaman. Ia memejamkan mata merasakan ketenangan di sekitarnya.
Ia juga memikirkan bagaimana ia akan memenuhi kebutuhannya karena belum mendapat pekerjaan. Tabungannya memang masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari, namun tidak cukup untuk biaya kuliah walaupun sudah mendapat beasiswa.
Ia jadi terpaksa cuti kuliah, untuk bekerja secara harian. Meski ia mendapat uang bulanan dari orangtuanya, tapi ia tidak menggunakannya sama sekali.
Ia menyimpan uang tersebut untuk persiapan hari tua orangtuanya kelak.
'Sekarang ia harus mencari pekerjaan di mana?', Rhea mendesah pelan.
Rhea membuka matanya saat merasakan dingin di dahinya.
"Ada apa? Kenapa mendesah? Apakah ada yang sakit?", tanya Langit yang baru saja duduk di sampingnya dan menempelkan telapak tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Rhea.
"Aku hanya ingin mencari udara segar.", jawab Rhea sambil membenarkan duduknya.
"Apa itu?", tunjuk Rhea ke arah bungkusan plastik yang dibawa Langit. Tercium aroma menggiurkan dari sana, membuat perut Rhea merasa lapar.
"Mau.", tanpa basa-basi Rhea langsung mengambil satu potong dan memakannya dengan lahap.
"Enak?"
"Ehm.", Rhea menganggukkan kepala.
Melihatnya seperti itu, Langit merasa Rhea sudah sedikit menghilangkan rasa sungkannya. Ia ingin merasakan keakraban darinya seperti yang Rhea lakukan pada Sean.
"Kamu tidak makan?", tanya Rhea yang sudah habis sekitar empat potong.
"Kamu makan saja dulu."
"Aku sudah kenyang.", jawab Rhea yang sebenarnya masih ingin makan. Ia tidak ingin terlihat rakus di depan Langit.
"Tunggu.", Langit memegang pergelangan tangan Rhea saat hendak mengusap mulutnya dengan punggung tangannya seperti biasa. "Ini ada tisu.", imbuh Langit seraya mengeluarkan tisu dari bungkusan plastik.
Langit mengusap pelan mulut Rhea dengan tisu. Rhea menjadi tegang dan kikuk.
"Aku bisa sendiri.", Rhea mengambil tisu dari tangan Langit lalu mengusap mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa tadi kamu mendesah? Apakah ada yang kamu pikirkan?", tanya Langit mengalihkan perasaannya yang kecewa karena Rhea kembali menjaga jarak.
"Aku hanya berpikir untuk mencari pekerjaan di mana.", jawab Rhea sambil membuka tutup botol air mineral yang diberikan Langit.
"Kalau kamu mau, kamu coba bekerja di cafe Intan. Barusan aku bertemu dengannya, ia sempat membicarakan kalau cafenya sedang membutuhkan pegawai."
"Uhuk, uhuk.", Rhea sedikit tersedak air minumnya.
"Pelan-pelan.", sambil menepuk-nepuk pelan punggung Rhea, Langit mengambil botol mineral dari tangan Rhea.
"Jadi, kamu habis bertemu Intan?", tanya Rhea memastikan setelah batuknya mereda.
"Iya."
"Oh."
Suasana kembali hening. Rhea terdiam, entah kenapa ia tidak suka saat tahu bahwa Langit baru bertemu dengan Intan.
"Rhea.", Langit memecah kesunyian.
"Hm."
"Bagaimana?"
"Apanya?"
"Kerja di cafe Intan."
"Iya."
"Oke. Nanti aku akan hubungi dia."
"Hm."
Hening lagi. Rhea dalam suasana hati tidak baik. Sedangkan Langit tidak mengetahui kenapa Rhea mendadak menjadi seperti itu.
Ya, Langit memang seseorang yang kurang peka. Ia tidak mengerti bahwa dengan membahas Intan, dapat membuat suasana hati Rhea memburuk.
"Apa kamu lelah? Ayo masuk ke dalam. Di sini dingin.", ajak Langit sambil berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Rhea untuk membantunya berdiri.
Rhea berdiri begitu saja tanpa menjawab, bahkan tidak menghiraukan uluran tangan Langit. Ia berjalan pergi memasuki kamar meninggalkan Langit.
Langit mengepalkan tangannya canggung yang menggantung di udara. Ia berpikir mungkin Rhea benar-benar kelelahan. Ia pun berbalik lalu berjalan menyusul Rhea yang sudah masuk ke dalam terlebih dahulu.
Rhea sudah terbaring di atas kasur dengan posisi membelakanginya saat Langit masuk.
__ADS_1
Langit menghampiri Rhea, berdiri di depannya. "Selamat tidur.", Langit menunduk mencium kening Rhea. Setelah itu ia duduk di kursi samping tempat tidur.
"Selamat tidur juga." Rhea membalikkan badannya agar membelakangi Langit. Ia masih tidak nyaman menghadapi Langit, karena mengingat bahwa tadi Langit meninggalkannya sendiri di rumah sakit dan pergi menemui Intan.