
"Ini.", Langit memberikan helm ketika Rhea sudah datang menghampirinya. "Pegangan yang erat.", imbuhnya begitu Rhea sudah naik diboncengnya.
Langit mengendarai motornya dengan santai, agar bisa lebih lama bersama Rhea.
Ketika di tengah perjalanan, Rhea memeluk Langit dengan erat.
Langit awalnya merasa senang dengan hal itu, tapi semakin lama ia merasa Rhea semakin maju ke depan bersandar di punggungnya dan semakin berat.
"Rhea?", ia menepuk pelan punggung tangan Rhea yang berada di perutnya.
"...", tidak ada jawaban.
"Rhea...!", ia mulai sedikit mengguncang tangan Rhea. Kedua tangan Rhea yang sedang bertaut pun sedikit terlepas dan terkulai. Rhea pingsan.
"Sial!". Langit mengulurkan satu tangannya ke belakang memegangi punggung Rhea agar tidak terjatuh. Ia sedikit mempercepat laju motornya dengan hati-hati dan menuju rumah sakit terdekat.
***
"Iya, aku lagi di rumah sakit Muara Kasih. Kamu punya kunci duplikat rumah, kan? Kamu masuk saja. Aku akan menjaga Rhea di sini.", Langit menutup sambungan telepon dari Sean.
Ia kemudian menangkupkan tangan kirinya dengan tangan kanannya yang tengah menggenggam tangan kiri Rhea.
Rhea masih belum sadar. Kata dokter asam lambungnya naik ditambah dehidrasi karena berada di bawah terik matahari yang menyengat dalam kondisi lemah.
Tidak lama kemudian, Sean datang. Ia berhenti di depan pintu melihat Langit yang menggenggam erat tangan Rhea. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam, lalu duduk di kursi luar ruangan.
Sean mendesah pelan karena merasa tidak rela melihat mereka berdua tadi. 'Aku harus menjaga perasaan ini untuk mereka. Jangan sampai aku membuat pertemananku rusak hanya karena seorang wanita.'
Ya, Sean menyadari bahwa ternyata ia pun juga jatuh hati pada Rhea. Dan ini juga yang pertama baginya untuk menyukai seseorang.
Selama ini ia memang terkenal seorang playboy. Ia selalu senang hati menggoda perempuan-perempuan yang mendekatinya. Tapi tidak satu pun yang ia anggap serius, sehingga ia tidak pernah berpacaran sekali pun.
Beda halnya dengan Langit yang sering berpacaran karena ia terlalu baik hati sehingga tidak tega untuk menolak jika ada yang menembaknya.
Kembali ke dalam kamar rawat Rhea. Rhea akhirnya sadar ketika Langit menelungkupkan kepalanya di samping ranjang Rhea dengan masih menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Lang...", panggilnya dengan suara lirih.
"Rhea!?", Langit langsung menegakkan kepalanya dan memegang pipi Rhea dengan tangan kanannya. "Akhirnya kamu sadar. Bagaimana perasaanmu? Apa masih ada yang terasa sakit?"
"Aku baik-baik saja. Aku ingin minum.", suara Rhea sedikit serak.
Langit membantu Rhea duduk bersandar lalu memberinya segelas air. Rhea meminumnya perlahan.
"Apa aku pingsan lagi?", tanya Rhea setelah minum sedikit dan memberikan gelas minumnya kepada Langit.
"Iya. Kata dokter asam lambungmu naik lalu dehidrasi.", jelas Langit sambil mengembalikan gelas ke atas nakas.
"Bisa-bisanya kamu pingsan di atas motor. Seharusnya tadi aku tidak menuruti permintaanmu untuk pulang ke rumah.", imbuhnya sembari memegang pipi kanan Rhea.
"Aku tidak apa-apa.", ujar Rhea tersenyum sambil memegang tangan Langit di pipinya.
Tok, Tok, Tok.
Sean mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum masuk. Mendengar itu, Langit dan Rhea langsung melepas tangan mereka. Walaupun sebenarnya Sean sudah melihatnya sebelum mengetuk pintu.
"Bagaimana keadaanmu, Rhea?", tanya Sean begitu ia masuk ke dalam.
"Apakah kamu bodoh? Memaksakan diri untuk pulang ke rumah padahal kondisimu masih lemah.", gerutu Sean menghampiri Rhea dan mengangkat bungkusan di tangan kanannya. "Ini aku bawakan bakmie."
"Uwaaa... Kamu pengertian sekali. Aku sangat lapar. Bahkan kamu membeli makanan kesukaanku. Sini, aku ingin makan sekarang." Rhea tersenyum lebar dan menjulurkan kedua tangannya ke arah Sean.
"Tadi waktu makan bubur kan tidak kamu habiskan, makanya aku tahu kamu pasti masih lapar. Makan kamu kan juga banyak, jadi mana kenyang kalau cuma bubur.", ujar Sean mencubit hidung Rhea.
"Apaan sih! Sakit tau!", Rhea mengibaskan tangan Sean dari hidungnya. "Lagian aku butuh makan banyak untuk menjalani beban hidup.", imbuhnya sambil menggosok hidungnya.
"Iya. Beban hidup kamu kan mikirin aku."
"Sok tahu! Sudah. Mana bakmie-ku?"
Walau tahu tidak ada apa-apa diantara mereka, tapi tetap saja membuat Langit cemburu akan keakraban mereka. Ia merasa Rhea sangat berbeda dalam memperlakukannya dengan Sean.
__ADS_1
Saat bersama Sean, Rhea terlihat bersemangat dengan senyum lebarnya. Berbeda jika saat bersamanya, tidak banyak bicara dan seperti masih menjaga jarak.
"Aku keluar dulu mengurus administrasi.", Langit bangkit berdiri lalu berjalan keluar tanpa memberi kesempatan untuk Sean dan Rhea menjawab.
"Ini. Makan sendiri atau disuapin?", Sean mengeluarkan bakmie dari bungkus plastik. "Aku suapin aja, ya? Biar mesra.", dengan senyum jahil Sean mulai membuka bungkus stereofoam bakmie.
"Nggak. Aku makan sendiri aja, lebih cepat selesai.", Rhea mengambil bakmie dari tangan Sean dan langsung memakannya dengan lahap.
"Dasar rakus. Pelan-pelan makannya, aku nggak bakal minta kok." Sean mengacak-acak rambut atas Rhea dengan gemas.
"Hm.", jawab Rhea dengan mengangguk.
Sean kemudian duduk di kursi yang tadi diduduki Langit. Ia memperhatikan Rhea dengan penuh arti. Ia ingin menanyakan bagaimana hubungannya dengan Langit. Apakah sudah terjadi sesuatu antara mereka.
Namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya hal itu. Karena ia belum siap menerima jika memang benar-benar ada sesuatu antara mereka. Walaupun ia tahu suatu saat pasti mereka akan bersatu karena mereka saling menyukai, tidak seperti dirinya yang bertepuk sebelah tangan.
"Apakah aku perlu mengingatkanmu setiap hari untuk makan teratur?"
"Seperti alarm?", tanya Rhea yang masih sibuk mengunyah.
"Iya. Aku akan jadi alarm hidup kamu. Kamu tinggal bilang saja mau diingatkan soal apalagi selain makan, nanti akan aku ingatkan. Dan akan selalu siap untukmu."
"Sudahlah. Jangan bicara manis di depanku. Sudah berapa banyak wanita yang kamu rayu."
"Yang aku rayu memang banyak. Tapi tidak satu pun dari mereka yang aku perlakukan khusus." Sean berdiri mengambil bungkus stereofoam yang sudah kosong dari tangan Rhea lalu memasukkannya ke dalam bungkus plastik sebelumnya.
"Benarkah? Lalu pacar kamu bagaimana? Apakah bukan seseorang yang khusus?", Rhea mengulurkan tangan kanannya menerima segelas air yang diberikan oleh Sean.
"Aku tidak punya pacar, dan memang belum pernah pacaran.", jawab Sean mengangkat bahu.
"Aku tidak percaya." Setelah meminum habis, Rhea memberikan gelas kosongnya kembali kepada Sean.
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada Langit.", Sean menerima gelas dari Rhea lalu meletakkannya di atas nakas.
"Langit pasti berpihak padamu."
__ADS_1
Rhea hendak mengusap mulutnya dengan punggung tangannya, namun ditahan oleh Sean dengan menarik lembut pergelangan tangan Rhea. Sebagai gantinya, ia mengusap lembut bibir Rhea dengan ibu jari tangan kanannya.
"Kalau kau masih tidak percaya, kamu bisa bertanya kepada teman-teman kampusku, SMA-ku, SMP-ku, atau SD-ku. Atau kamu bisa bertanya kepada keluargaku."