
"Kapan pulang?", tanya Sean setelah menutup pintu kamar dan melihat Langit sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Baru saja."
"Tidak masuk?", tanya Sean yang sudah duduk di sebelah Langit sambil menunjuk kamar Langit dengan dagunya.
"Tidak.", jawab Langit singkat sembari menyalakan televisi.
"Apa yang terjadi? Bukankah kau sangat khawatir padanya? Sampai semalam kau tidak tidur untuk berjaga di sampingnya."
"Sudahlah, sebaiknya kau kembalikan dulu mobil Julie.", kata Langit yang kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Oke. Aku akan pergi."
Sean memang berniat mengembalikan mobil Julie hari ini setelah ia membawa mobilnya sendiri ke sini.
Sesampai di dapur, Langit mengambil segelas air dan meminumnya dalam sekali teguk, mengingat kejadian barusan.
Sebenarnya ia sudah pulang ke rumah dari tadi. Begitu sampai rumah, ia langsung bergegas menuju kamarnya untuk melihat keadaan Rhea. Namun saat sampai di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka, ia melihat Sean yang mengecup kening Rhea.
Rasa cemburu dan amarah kembali meliputi hatinya. Ia kembali meminum air putih untuk mendinginkan kepalanya, lalu berjalan menuju kamarnya.
Langit membuka pintu kamar tanpa mengetuknya. Ia terkesiap saat pintu terbuka dan melihat Rhea yang hendak melepas pakaiannya.
Rhea mengangkat kaosnya ke atas memperlihatkan perutnya yang ramping dan putih mulus. Bra-nya yang berwarna hitam terlihat sedikit mengintip di balik kaos yang tengah terangkat.
Tidak hanya itu, Langit menurunkan pandangannya dan membuatnya melihat bagian bawah Rhea yang hanya tertutup dengan celana dalam yang juga berwarna hitam.
Warna hitam yang kontras dengan kulit putihnya semakin membuatnya terlihat mempesona.
"Aaaaaa...!!", teriak Rhea saat tahu ada yang tiba-tiba membuka pintu.
"Maaf!", Langit yang tersadar dengan teriakan Rhea lantas membalikkan badannya. "Maaf, aku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku kira kau tidur, jadi aku hanya ingin melihat keadaanmu."
Dengan cepat Rhea menurunkan kaosnya. "Tidak apa-apa. Berbaliklah."
Langit memutar badannya dan dengan canggung berjalan ke arah Rhea yang sudah duduk di tepi tempat tidur. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk tadi malam.", jawab Rhea dengan tertunduk.
"Iya."
Suasana hening karena mereka tidak tahu harus berbicara apa lagi. Langit berusaha menahan dirinya untuk tidak memeluk Rhea yang terlihat mempesona karena keluguannya.
Rhea yang hanya memakai kaos dengan panjang sepaha, terangkat sedikit ke atas ketika ia duduk, sehingga memperlihatkan seluruh pahanya yang mulus. Langit menelan salivanya melihat gadis di depannya yang tanpa pertahanan itu.
__ADS_1
Rhea yang tadinya menunduk lantas mendongak melihat Langit karena diam saja. Ia mengusap dahinya menyibakkan rambut yang sedikit menutup wajahnya. Ia hendak menyuruh Langit keluar karena ingin berganti pakaian lalu pulang.
Namun belum sempat Rhea mengatakan sepatah kata pun, Langit sudah mendorongnya ke belakang dan berada di atasnya.
Ia mencium bibir Rhea yang berwarna pink segar itu dengan tak beraturan dan sedikit kasar. Ia bahkan mulai ******* bibir Rhea.
Rhea mendadak tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak habis pikir kenapa Langit menciumnya. Ia juga tidak tahu harus bagaimana karena ini adalah ciuman pertamanya.
Karena tidak mendapat perlawanan, Langit semakin ingin ******* habis bibir Rhea. Ia mulai mencoba memasukkan lidahnya dan memainkannya di dalam mulut Rhea.
Rhea sedikit tersentak ketika merasakan lidah Langit yang menerobos masuk ke mulutnya. Ia memukul dada Langit agar menghentikan ciumannya.
Namun Langit tidak menghiraukannya. Ia menyusuri gigi-gigi Rhea dan berusaha melilit lidah Rhea dengan lidahnya. Ia mulai menghisapnya dengan kuat dan sesekali menggigit bibir Rhea.
Langit terlena merasakan bibir Rhea yang lembut dan kenyal. Itu mulai seperti candu baginya. Ia tidak ingin melepasnya.
Sampai akhirnya Rhea semakin keras memukul dada Langit karena merasa kehabisan nafas.
Langit tersadar dan melepas ciumannya. "Bernafaslah!", seru Langit yang melihat Rhea seperti kehabisan oksigen.
Langit beralih ke samping Rhea dan membantunya untuk duduk secara perlahan.
Kemudian ia menuang air putih ke dalam gelas yang tersedia di atas nakas dan memberikannya kepada Rhea. "Minumlah."
"Pelan-pelan.", ujar Langit.
Setelah habis meminumnya, Langit mengembalikan gelasnya ke atas nakas.
"Siapa yang menyuruhmu menahan nafas.", ujar Langit lembut sambil mengusap rambut belakang Rhea yang tergerai.
"Itu karena aku tidak tahu harus bagaimana.", jawab Rhea lirih karena malu.
"Apakah ini ciuman pertamamu?"
Sebagai jawaban, Rhea hanya mengangguk pelan.
Langit merasa senang karena ia adalah yang pertama bagi Rhea. Ia langsung menarik Rhea ke dalam pelukannya. "Kau tidak keberatan melakukannya denganku?"
"Em.", jawab Rhea sambil membalas pelukan Langit.
"Kenapa?", Langit melepas pelukannya dan menatap lekat ke mata Rhea yang terlihat berbinar terang.
"Karena aku menyukaimu.", jawab Rhea polos tanpa berkelit.
Langit sangat senang mendengarnya dan memeluknya sekali lagi dengan erat.
__ADS_1
"Tapi kenapa kau menyukaiku? Bukankah kita baru mengenal satu sama lain? Apa karena aku tampan?", goda Langit dengan membalikkan pertanyaan Rhea kemarin lusa.
"Lepaskan! Aku mau ganti baju!", Rhea mencoba melepaskan pelukan Langit karena malu teringat perkataannya sendiri.
Langit melepas pelukannya lalu mengecup bibir dan kening Rhea. "Oke. Aku keluar." Langit bangkit dan berjalan keluar.
Setelah pintu tertutup, Rhea langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Perasaannya campur aduk. Senang dan malu.
Ia lalu memegang bibirnya yang terasa agak tebal karena ciuman tadi. Ciuman pertamanya dengan orang yang disukainya.
Rhea keluar kamar setelah berganti pakaian. Ia melihat sekeliling ruang tengah mencari sosok Langit, namun tidak menemukannya.
"Langit...", panggilnya.
"Dapur.", terdengar suara Langit menyahuti.
Rhea mencoba mencari letak dapur di rumah yang tidak terlalu besar itu.
Ketika ia akan berbelok masuk ke ruangan yang terdapat meja makan di sana, tiba-tiba ia menabrak Langit yang hendak keluar menghampirinya.
Rhea terhuyung ke belakang, namun dengan sigap Langit merangkul pinggangnya agar tidak terjatuh.
"Hati-hati.", kata Langit sedikit berbisik tepat di samping telinga Rhea.
Bulu kuduk Rhea berdiri merasakan hembusan nafas Langit di telinganya. Wajahnya seketika merona merah sampai ke telinganya.
Ia pun segera mendorong Langit menjauh setelah ia dapat berdiri dengan benar.
"Aku mau pulang.", kata Rhea sedikit memalingkan muka.
"Kenapa? Kau masih butuh istirahat.", Langit menelengkan kepalanya agar dapat melihat wajah Rhea dengan jelas. Wajah malu-malu yang terlihat menggemaskan.
"Aku akan istirahat di rumah."
Rhea bermaksud manghadap ke depan kembali menatap Langit setelah menata perasaan gugupnya. Namun ia kembali berdebar karena wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Langit. Ia membelalakkan matanya yang hitam jernih.
Cup!
Seketika Langit mengecup bibirnya lalu berdiri tegak dan berbalik. "Ayo aku antar pulang."
Langit berjalan melangkah keluar rumah.
"Rhea...!", teriakan Langit dari luar rumah menyadarkan Rhea yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Iya...", sahutnya dan berjalan keluar rumah.
__ADS_1