
"Sudahlah. Anggap saja aku tidak pernah berkata apapun. Aku masuk dahulu.", Rhea berbalik dan masuk ke dalaml rumah meninggalkan Langit sendirian di luar.
Langit memperhatikan Rhea yang sedang masuk ke rumah. Begitu Rhea hilang dari pandangan, Langit menoleh sekilas ke arah mobil hitam yang berhenti di seberang tempat tinggal Rhea lalu berbalik berjalan pergi menuju restoran untuk mengambil motornya yang ia tinggalkan di sana.
Keesokan harinya, Rhea hanya berencana untuk bermalas-malasan seharian setelah ia kehilangan pekerjaannya.
Seperti saat ini, ia sedang tiduran di lantai teras belakang rumah. Ia memejamkan mata mengingat kejadian semalam, sungguh memalukan, bisa-bisanya ia bilang bahwa dirinya cantik.
Rhea menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu Langit lagi.
Karena tidak ingin memikirkannya lagi, Rhea bangkit berjalan menuju dapur hendak membuat sarapan.
Baru beberapa langkah berjalan, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia pun berbalik kembali mengambil ponsel yang masih tergeletak di lantai.
"Halo. Ada apa?", tanya Rhea tanpa basa-basi.
"Apakah kau sudah menemukan pekerjaan baru? Karena aku ada info pekerjaan, mungkin kau berminat?", jawab suara di seberang saluran yang ternyata adalah Siska.
"Belum.", Rhea tadi sudah mencoba mencari sebentar di lowongan kerja online, tapi belum ada yang sesuai.
Ia ingin bertanya ke kenalannya tentang pekerjaan, tetapi ia sadar ternyata daftar kontak di ponselnya sedikit sekali. Sepertinya ia harus mulai mencari banyak teman.
"Jadi, bagaimana kalau kita bertemu nanti malam sepulang aku kerja? Aku akan memastikan lagi dulu ke temanku tentang pekerjaannya."
"Oke. Nanti malam aku akan ke MnD.", Rhea menerima tawaran Siska.
"Jangan. Kita bertemu di hotel Luxury saja. Aku ingin sekali mencoba makan di restorannya. Aku yang traktir, anggap saja perayaan untuk kau yang baru keluar kerja. Hehe. Oke?"
"Baiklah."
"Oke. Sampai jumpa nanti malam.", Siska memutus panggilan.
Rhea berniat kembali meneruskan menuju dapur untuk membuat sarapan, namun karena masih merasa malas, ia pun pergi ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia menyalakan musik lalu melemparkan dirinya ke kasurnya yang empuk dan tidur.
Hari sudah menjelang malam saat Rhea terbangun karena rasa lapar di perutnya. Ia meraih air minum yang ada di atas nakas samping tempat tidur, lalu meneguknya hingga habis.
__ADS_1
Setelah sadar sepenuhnya dari rasa kantuk, ia berjalan ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke hotel Luxury.
'Kau di mana? Aku sudah ada di depan hotel.', Rhea mengirim pesan ke Siska begitu sampai di hotel.
'Maaf, Rhea. Sepertinya aku akan sedikit terlambat, jadi kau pergi duluan saja ke restorannya.', balas Siska.
Tanpa membalas pesan Siska, Rhea langsung masuk ke dalam hotel.
Ia berjalan ke arah lift dan menunggu pintu lift terbuka. Tidak lama kemudian pintu lift terbuka.
Saat ia akan masuk ke dalam lift, tiba-tiba ada seorang pria yang menerobos masuk mendahuluinya. Pria itu berperawakan tinggi kurus dengan mata sayu. Ia hanya memakai kaos dan celana training.
Melihat pria itu, membuat Rhea dengan enggan masuk ke dalam lift.
Setelah pintu lift tertutup, ia menekan tombol lantai tiga, dimana letak restoran hotel berada. Pria yang berdiri di belakang Rhea membuat perasaannya tidak nyaman.
Ia dapat melihat dari pantulan dinding lift di depannya kalau pria itu sedang menatapnya dengan penuh nafsu.
'Ting!'
Pria itu berjalan lurus dan berhenti di sebuah pintu kamar hotel.
Rhea berharap pria itu segera masuk kamar agar ia bisa menuju restoran yang berada di seberang lorong. Namun pria itu masih saja berdiri di depan pintu.
Ketika Rhea sudah hampir melewati pria itu, tiba-tiba pria itu menarik tangannya dan mendorongnya masuk ke dalam kamar. Pria itu langsung mengunci pintu dan mendorong Rhea ke dinding.
Rhea berusaha meronta-ronta tetapi tidak berkutik sama sekali. Pria itu mencengkeram kedua tangannya menempel di dinding. Ia berusaha mencium bibir mungil Rhea, namun Rhea selalu mengelak.
Karena kesal, pria itu pun memegang kedua tangan Rhea menjadi satu di atas kepala, lalu tangan yang lain memegang dagu Rhea. Rhea langsung menggigit tangannya itu dengan keras hingga berdarah.
Pria itu semakin geram dan menampar pipi Rhea dengan sangat keras. Mendapat tamparan itu membuat telinganya berdengung dan matanya berkunang-kunang seketika, pandangannya sedikit kabur, sudut bibirnya pun berdarah.
Melihat Rhea yang sedang sedikit linglung, pria itu lantas berusaha melepas celananya. Ia sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh Rhea.
Merasa ada kesempatan, Rhea yang kesadarannnya mulai membaik langsung membenturkan kepalanya ke hidung pria itu dengan sekuat tenaga.
Pria itu pun terdorong ke belakang sembari memegangi hidungnya yang kesakitan dan
__ADS_1
beberapa darah segar menetes dari hidungnya.
Pria itu berang dan berjalan maju mendekati Rhea. Namun tiba-tiba pandangannya gelap karena Rhea memukulnya dengan gantungan mantel yang diletakkan dekat pintu.
Dengan gemetar Rhea melepas gantungan mantel dari tangannya. Ia melihat ada darah merembes keluar dari kepala pria itu. Ia semakin gemetar hebat karena takut jika pria itu meninggal.
Rhea mengambil ponselnya, ia butuh bantuan untuk keluar dari tempat ini, karena ia sudah merasa sangat lemas.
Ia hendak menghubungi Julie, tetapi tidak jadi begitu ia ingat kalau Julie sedang berada di luar negeri.
Ia pun akhirnya menghubungi Sean, hanya Sean yang dapat ia pikirkan sekarang.
Rhea mencoba menghubungi Sean, tetapi tidak ada jawaban. Ia mencoba menghubungi sekali lagi dan berkali-kali, namun masih tetap tidak ada jawaban.
Rhea putus asa, karena ia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Ia tidak banyak memiliki teman, bahkan Siska yang tadinya mengajak bertemu, tidak bisa dihubungi karena ponselnya tidak aktif.
Rhea tiba-tiba teringat kalau Sean pernah bilang ia juga menyimpan nomor ponsel Langit ketika ia menyimpan nomor ponselnya sendiri.
Rhea lalu menghubungi Langit yang memang sudah ada di daftar kontaknya. Panggilan pertama tidak ada jawaban. Rhea mencoba lagi menghubungi lagi, namun tidak kunjung ada jawaban.
Dengan putus asa Rhea hendak memutus panggilan ketika akhirnya Langit menjawab, "Halo?".
Rhea langsung menangis tersedu-sedu begitu mendengar suara Langit.
"Halo? Ini siapa?", tanya Langit karena hanya mendengar suara tangisan.
"Langit...", Rhea memanggil namanya dengan terisak.
"Rhea? Ini Rhea, kan? Ada apa? Kenapa kamu menangis?", tanya Langit khawatir begitu mengenali bahwa yang menghubunginya adalah Rhea.
"Tolong aku Lang... Aku tidak bisa menghubungi Sean, jadi aku menghubungimu. Maaf, kalau aku mengganggumu, aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi...", jelas Rhea yang semakin terisak.
"Sekarang kau ada di mana?"
"Hotel Luxury, kamar nomor.... 303...", jawab Rhea setelah melihat nomor yang tertera pada kunci kamar.
"Aku ke sana sekarang."
__ADS_1