
Angin berhembus pelan.
Pepohonan, rumput dan bunga mengikuti alunan angin.
Gemercik air terdengar harmoni. Aku melihat banyak burung kecil menari-nari di atas awan.
Mataku masih sayu, sesekali mengedip berusaha mengkondisikan penglihatanku. Tubuhku terbaring di atas rerumputan dan masih sulit untuk bergerak. Aku menghela nafas dan mulai tersedar. Mata ku terbelalak.
“aaaaaaaaa...” teriak ku.
Badan ku terbangun dan memperhatikan sekeliling. “ aku dimana” kataku dalam hati.
*
Sudah hampir 3 jam aku mengamati setiap sudut yang kulihat, memperhatikan satu-persatu. Tubuhku masih sedikit kaku. Aku melihat sosok yang semakin mendekat ke arahku dan aku mulai berusaha untuk berlari namun berdiri dan melangkahpun masih berat. Dia semakin mendekat, sosok seperti seorang pria bertubuh besar tinggi dengan rambut hitam kecoklatan bergaya quiff, berkulit putih susu, bermata biru keabuan. Menggunakan kemeja putih dan celana cargo short bewarna mocca. Pria itu semakin mendekat tepat di depanku, mataku terpejam, bibirku gemetar. “ini cowok mau ngapain?” tanyaku dalam hati. “tolong siapapun kamu, tolong jangan sakitin aku, please” kataku memohon kepada seorang pria yang berada di depan ku sambil masih memejamkan mata. Ia duduk dan Tangannya menggapai tanganku dengan lembut. Aku refleks menghempasnya dengan kuat.
“buka matamu” pria itu mulai berbicara.
“aku bilang buka matamu bodoh!” katanya lagi. Aku kesal dan membuka mataku.
“apa katamu? Bodoh?” aku berontak. “baru ketemu udah nyolot ni cowok?” kataku dalam hati.
“bagus, sekarang berdiri dan ikut denganku” pria tersebut mengajak ku.
“mau kemana?” kataku penasaran.
“coba lihat sekelilingmu, kamu sedang berada di tengan hutan” kata pria tersebut sambil merapikan lengan kemejanya yang kotor dengan tanah. Aku menggurutu pelan.
“ kamu sendiri ngapain disini?” kataku balik. Pria tersebut terbelalak dan menariku sambil berjalan. “eh eh tunggu tunggu!!” sambil melepas tangannya yang menggeanggam tanganku. “kamu mau bawa aku kemana? Maen tarik-tarik aja”
“aku mau bawa kamu ke tempat yang aman. Ga bisa diem banget jadi cewek”
“ya bilang kek kalo mau bawa ke tempat yang aman, maen tarik-tarik aja ni orang”.
__ADS_1
Pria itu melepaskan genggamannya. “yaudah kalo gitu ikutin aku” sambil beranjak dari tempatnya.
“ kamu gak berniat jahat kan?” aku curiga.
“untuk cewek seukuran kamu, buatku itu terlalu ga berharga. Lagian aku cuman ga pengen kamu mati sia-sia disini”
“hah !” aku tersenyum kecut. Akupun memutuskan untuk mengikutinya.
*
Sangat aneh bagiku tiba-tiba berada di tempat yang sangat asing. Aku tak ingat apapun yang terjadi padaku sebelumnya. Bahkan aku tak ingat siapa namaku,dimana aku tinggal, orang tuaku,tempatku sekolah dan teman-temanku. Aku disini masih menggunakan seragam sekolahku tanpa menggunakan tasku. Tubuhku semakin lemah dan berkeringat, aku tidak bisa menahannya lagi. dan tiba-tiba brukkkkkk !!!
“heii..!!”
“heii..!!”
Suara itu samar-samar di telingaku begitu juga pandanganku yang sudah kabur. Badanku terjatuh. Aku pingsan !.
*
“bisa ga..”
“kalo udah sadar cepatlah mandi dan makan, oh... dan itu pakaianmu” potongnya sambil pergi meninggalkanku di kamar.
“gila ni cowok! Baru ketemu tapi.. ah sudahlah” kataku sambil geleng-geleng kepala.
*
Setelah selesai mandi akupun keluar dari kamar. Dan aku melihat pria itu lagi !. dia tampak sibuk dengan sandwitch yang sedang ia buat. Aku mendekatinya sambil memperhatikan sudut-sudut ruangan dengan tema-tema vintage yang sangat artistik. Ada beberapa jenis senapan dan kulit dari beberapa jenis hewan. Di tambah dengan kursi yang langsung dari potongan pohon besar tampak bulat coklat dengan sedikit pernisan. Aku duduk dan memperhatikan tangannya yang berbalut perban putih.
“itu tanganmu luka?” tanyaku.
“iya” jawabnya singkat sambil mengoleskan mayonaise ke roti.
“siapa namamu?” tanya ku lagi. Tiba-tiba tangannya berhenti bekerja dan menatapku dalam-dalam. Alisku mengrenyit dan mataku terbelalak. “aku salah ngomong?” sambil menunjuk diriku sendiri. Badannya terus mendekati ku, wajahnya semakin mendekat ke wajahku. “gila ni cowok !!!” kataku dalam hati sambil terpejam. Beberapa detik kemudian aku membuka mataku perlahan memastikan tidak ada yang terjadi. Dia melanjutkan kerjanya. Aku bingung.
__ADS_1
“jadi maksud kamu tadi...”
“keningmu terluka, ada darah sedikit tadi. Tapi udah aku bersihin” potongnya “ tenang aja aku bukan tipe cowok yang punya pikiran kotor kaya kamu ya!” sambil menoyor kepalaku.
“idiiiihh ya kali! Kamu nya aja tadi tiba-tiba..wkwdjheghcy” dia menyumpal mulutku dengan sandwitch, akupun mengunyahnya dan melanjutkan kata-kataku “deketin aku. Coba langsung bilang aja kalo ada luka di keningku, siapa yang ga akan curiga kalo...”
Tok..tok..tok.. suara itu memotong ceramah panjangku. Aku dan si pria aneh ini pun menengok ke arah pintu bersamaan. Pria itu menaruh sandwitchnya di meja dan beranjak menuju pintu, ia membukanya dan keluar menemui seseorang. Aku tak peduli dan melanjutkan makan. Setelah beberapa menit ia pun kembali dan duduk di sampingku mengambil sandwitch sisa yang makan tadi. Makanan ku sudah habis akupun memperhatikannya sesekali.
“nam..” belum sempat melanjutkan ia langsung memotongnya
“namaku arham” sambil melirik tajam ke arahku “ kamu sendiri?”.
“namaku? Oh.. aku, aku lupa. Aku ga ingat” kataku.
“jadi kamu ga ingat siapa namamu?”
Aku mengangguk sambil meneguk susu.
“asalmu?”
Aku menggeleng.
“orang tuamu?”
Aku tetap menggeleng.
“hmm..jadi kamu hilang ingatan” sambil menghela nafas pelan. “oke mulai hari ini namamu kayla”
“kayla?” kataku meyakinkan.
“ya, kayla. Artinya cewek yang cerewet, menyebalkan dan aneh”
“haaaaah!! Ga!!” teriakku “ kamu yang aneh. Dasar cowok aneh !” lanjutku.
Ia tertawa kecil sambil membenarkan kancing lengan kemeja hitamnya. Sepertinya ia akan pergi. Oh..tuhannn aku masih tidak mengingat apapun. Aku benar-benar seperti di dunia yang tidak nyata, aku cubit pipiku keras “awww..!!!” arham menengok ke arahku “memang benar aneh” sambil tersenyum. Aku tidak terima, aku langsung memukul tangannya dengan kedua tanganku. Arham berteriak kecil dan beranjak dari tempat duduknya menjauhiku. “karena kamu lagi sensitif ada baiknya aku tinggal dulu, tenangin pikiran biar ga agresif dan aneh” senyum evilnya muncul. Aku menggerutu pelan. Arham pergi dan aku sendirian di tempat yang sangat asing bagiku. Aku menunduk dan menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan pikiranku yang kacau.
__ADS_1
*