
Hari ini aku tampil lebih awal untuk ke istana. istana juga tampak sedang di sibukan dengan sesuatu seperti suatu acara penting. di keramaian orang-orang yang sedang berdiri di luar aku melihat ranaa dan afsoon sedang berbincang serius dan satu pria lagi yang mengalihkan pandanganku terhadapnya. ya siapa lagi kalau bukan arham yang sedang tertawa bersama ranaa dan afsoon. aku hanya bisa melihatnya dari ke jauhan, aku bahkan takut untuk bergabung, dulu aku cuek saja untuk sekedar menyusup pada perbincangan arham namun tidak untuk sekarang. seolah aku takut apa yang aku lakukan akan membuatnya semakin tidak menyukaiku.
aku masih berdiri menunggu salah satu pelayan yang akan mengantarku ke tempat pembuatan lilin.
"kayla !!" danish memecahkan lamunanku yang datang dari belakangku.
"hmm" aku hanya menaikan alisku.
"Mengapa tidak ikut bergabung dengan arham dan ranaa?" tanya nya
"Ah tidak, sebentar lagi aku harus bersiap membantu ratu untuk membuat lilin" kataku sambil menatap kebawah.
"hmm.."
"arham !" teriak danish kencang memanggil arham yang sedang asyik berbicara pada afsoon. ia menoleh ke arah kami, saat mata kami saling bertemu aku langsung memalingkan pandanganku ke arah lain.
"danish ngapain sih?" kataku dalam hati.
"ayo kay, aku tidak akan membiarkanmu sendirian di sini" danish menarik tangan ku seraya berjalan ke arah mereka.
"pelayan mana nih? keburu aku mati kutu" kataku lagi dalam hati.
aku setengah menolak permintaan danish namun langkah ku tetap mengikuti nya.
"Dan.." belum sempat melanjutkan bicara afsoon langsung menghampiri.
"kaylaaaaa" seru afsoon
"kamu semakin hari semakin cantik" katanya
aku hanya tertawa kecil.
arham hanya diam sambil melihat ku,afsoon dan danish.
"Apakah kamu hari ini akan membuat lilin aromaterapi bersama ratu?" tanya afsoon.
aku hanya mengangguk gugup.
Ranaa terlihat hanya tersenyum melihat tingkahku.
"jangan terlalu kaku" lanjut afsoon
"aku hanya kurang tidur semalam"
"Hah kenapa?" danish menyilangkan tangannya.
"hehe tidak apa-apa itu kebisaanku"
"Khawatir terhadap sesuatu?" tanya afsoon.
aku hanya diam dan tersenyum paksa. terlihat arham masih diam sambil melihat ke arah lain. "apa ga ada niatan menyapaku?" aku bicara dalam hati.
"Kayla, Biar ku antar ke tempat pembuatan lilinnya" ajak ranaa.
"ah tidak perlu repot-repot, ratu sudah menugaskan salah satu pelayan untuk mengantarku"
"mana?" lanjut danish.
aku hanya menggeleng.
"Hari ini ratu tidak bisa membuat lilin bersama, ia akan mendapingi raja di pertemuan petinggi" arham mulai bicara.
aku hanya mengangguk kecil sambil menatap kebawah.
arham masih dengan tatapannya ke arah lain.
"arham bicaralah menatap ke lawan bicaramu" kata afsoon.
arham menoleh ke arahku.
__ADS_1
mataku melebar dan spontan mengalihkan ke arah ranaa. ranaa hanya diam tanpa ekspresi.
"ada sesuatu yang terjadi dengan kalian berdua?" tanya afsoon.
"tidak !" ucap aku dan arham serentak.
"Lalu dengan siapa nanti kamu membuat lilin?" tanya ranaa.
"mungkin di bantu beberapa pelayan" sautku
"aku bisa membantumu jika kamu merasa kesulitan nanti" ranaa menawarkan diri
arham langsung menatap ke arah kami berdua.
"bukankah kamu harus mendampingi ku dalam pertemuan petinggi?" kata arham.
"danish dan afsoon siap menganggantikanku" kata ranaa sambil menyenggol danish dan afsoon yang berada di sampingnya.
"Aku setuju, lagi pula kasihan kayla dia tidak ada teman nanti" ujar danish sambil mengelus dagu dengan jarinya.
"aku kurang setuju" afsoon menyela
"seperti nya kalau hanya ranaa saja itu agak canggung, arham kau juga harus ikut" lanjut afsoon sambil melirik arham.
arham seperti salah tingkah.
"kalau tidak mau biar aku saja" sela ranaa
"nanti aku yang menganggantikanmu di pertemuan" kata afsoon.
arham memasukan kedua tangannya ke saku celana seraya melirik ku.
"karena banyak yang memaksa, jadi baiklah" seraya berbalik pergi menuju ruangan pembuatan lilin.
ranaa memegang tanganku dan menarik ku untuk berjalan bersama.
"semoga kalian bertiga akur" teriak danish seraya tertawa bersamaan dengan afsoon.
***
Arham menyelusup antara genggaman kami berdua mencoba memisahkan antara tanganku dan ranaa. aku hanya mengerutkan dahi, ranaa menaikan sebelah alisnya.
"Tidak ada yang boleh bermesraan di istana" ketus arham melirik ku dan berjalan. kami masih terdiam tak bergerak.
"mengapa diam?" lanjutnya
Kami kompak berjalan menyusul arham.
aku dan ranaa tepat di samping arham. aku mulai canggung berbeda dengan ranaa yang tampak santai.
***
Aku masih sibuk dengan Bahan-bahan membuat lilin, ranaa membantuku memilih apa saja yang harus di gunakan. sedangkan arham sibuk mengendus beberapa lilin-lilin aromaterapi yang telah di buat.
"Menurutmu minyak essensial ini bagaimana?" tanya ranaa sambil menyodorkan drop botol mendekati hidungku.
aku mencoba merasakan dan berpikir sebentar.
"Sangat Lembut segar dan tidak terlalu menusuk" kataku
"Rosewood" Lanjutku
"woaaa kamu hebat, bisa menebak" kata ranaa sambil tertawa kecil
arham melirik kami yang masih sibuk menebak wangi minyak aromaterapi.
"Kalau ini?" ranaa menyodorkan lagi drop mendekati hidungku.
"manis dan lembut, neroli " jawabku
__ADS_1
ranaa terkesima dan mencoba memilih minyak yang lain untuk di tunjukan ke padaku.
"bagaimana dengan ini?" arham menyodorkan drop ke depan wajahku. aku terdiam, mataku tak lepas dari tatapannya. tanganku mendekatkan drop yang arham pegang mendekati hidungku.
"kuat dan manis" kataku seraya menatap arham.
"Kamu menyukainya?" tanya arham
Aku mengangguk masih dengan menatapnya
"hmm ya ya" kata arham seraya melihat botol kecil yang berisi minyak itu dan membaca tulisan kecil dengan pelan "Galbanum".
"kayla Kamu menyukainya?" ranaa menyodorkan lagi drop ke depan wajahku, dan tanganku mendekatkan ke hidungku.
"hmm.. ya, bargamout"
"kamu hapal semua jenis essensial ?"
"tidak semua" kata ku
"Hmm dari semua essensial kamu paling menyukai yang mana?" Sela arham di tengah obrolan ku dengan ranaa.
"Hmm.. Rosewood " jawabku
arham hanya mengangguk pelan sambil mengambil sebotol kecil minyak beraroma Rosewood .
***
Dua pelayan mulai membantu ku membereskan semua alat dan bahan membuat lilin dan merapikannya lagi.
Sejumlah lilin aroma yang telah kami buat hari ini akan di serahkan ke ruangan ratu.
"Biar nanti aku saja yang membawanya pada ratu" kataku pada kedua pelayan itu.
"Baiklah nona, kami permisi untuk keluar" sambil menundukan sedikit kepalanya pada ku, arham dan ranaa dan kemudian beranjak pergi.
"kamu yakin ingin membawanya sendiri dengan lilin sebanyak ini?" tanya arham.
" kalian berdua kan ada" kataku
"hah" arham tersenyum miring seraya memasukan kedua lengannya ke saku celana.
"Biar aku saja yang membantu mu kay, kamu bawa saja 2 kotak itu. sisanya aku yang membawanya" kata ranaa
ranaa memberikan 2 kotak berisi lilin di kedua ku. dan ranaa 4 kotak yang akan ia bawa.
arham dengan Cuek mengambil 2 kotak di tangan ranaa.
"Biar kubawa" kata arham dengan cueknya dan berjalan keluar.
aku dan ranaa saling menatap dan sama-sama menaikan kedua pundak.
Aku dan ranaa menyusul arham di belakang.
"arham kalo cuek tampan juga ya" kata ranaa seraya tertawa geli.
"Apanya yang tampan, yang ada bikin kesel iya" kataku
"jangan gitu ah kay, nanti dia ga mau ngomong lagi sama kamu" goda ranaa
"apasi ran?" kataku cemberut
" jadi kalian udah baikan belum?" tanya ranaa
"Baikan apanya? dia mau ngomong sama aku aja udah syukur"
"Hmm.. nanti juga dia ngajak kamu baikan kok kay. dia orang nya memang agak jaim"
aku menghentikan langkahku dan menatap ranaa. ranaa menyusul ikut berhenti juga dan menoleh kebelakang dan menatap ku.
__ADS_1
"kenapa kay?"