
kami telah berada di depan pintu ruangan. tangan ku begetar sambil menundukan kepala di belakang ranaa. ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu ruangan itu.
ranaa menoleh ke arahku seraya tersenyum mengangukan kepalanya sekali. aku hanya mengerutkan dahi ku.
dua pelayan membuka pintu itu, ranaa masuk di ikuti langkahku. pelayan itu mengantar kami ke dalam menuju ratu.
Kemudian mereka pergi lagi keluar. di ruangan ini hanya ada aku,ranaa dan ratu.
Salah satu pelayan kembali menuju ratu dengan beberapa barang ditangannya.
aku yang masih diam di belakang ranaa begitu lemas. Ranaa hanya mencoba mengangguk pelan seraya melirik ke arahku. mencoba meyakinkan.
"Kenapa tiba-tiba bersama ranaa?" tanya ratu.
"Kebetulan tadi bertemu di koridor yang mulia, pengawal tadi mendapat tugas lain" kata ranaa.
ratu hanya tersenyum.
"silahkan duduk" ratu mempersilahkan kami untuk duduk di bantu dengan pelayan yang berusaha memundurkan kursi di depan meja ratu.
Pelayan lain datang memberikan teh hangat ke arah kami. menghidangkan di depan. ratu tersenyum sambil mengaduk tehnya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan antara aku dan Kayla" kata ratu.
ranaa yang baru mau menyeruput tehnya tiba-tiba terhenti dan menengok ke arahku.
"baiklah ratu, saya akan meninggalkan ratu dan kayla" kata ranaa sambil meletakkan tehnya kembali di meja.
"ahh tidak ranaa, kamu tetap berada disini. ini hanya obrolan ringan" kata ratu sambil tertawa kecil.
Aku hanya diam sambil meminum tehku.
"aku dengar kamu sangat ahli dalam membuat lilin aroma?"
"Ahh aku bukan ahli nya ratu, aku hanya bisa beberapa karena kebetulan aku juga menyukainya" kataku.
"tapi ngomong-ngomong ratu tau dari mana kalau aku bisa membuat lilin?"
Ratu mengerutkan dahinya seraya meminum teh hangat miliknya.
"Tempat biasa aku membeli lilin" jawabnya.
aku mengangguk pelan "Apakah miss dafna yang memberitahu ratu?" aku bertanya-tanya dalam hati.
"Aku sudah membeli bahan-bahannya, jadi kamu bisa mulai membuat lilin"
"baik ratu dengan senang hati" kataku seraya tersenyum.
Saat kami sedang berbincang seorang pelayan menghampiri ratu dan berbisik sesuatu. aku dan ranaa diam hanya memperhatikan.
"sepertinya hari ini kita tunda dulu" kata ratu.
"baik ratu" kataku tanpa bertanya lebih jauh.
Aku dan ranaa berdiri dan berpamitan. kami berjalan keluar ruangan di dampingi pelayan tadi.
Setelah di luar aku menarik nafasku dalam-dalam dan mengeluarkannya. terasa lega, karena ku pikir ada hal yang lebih genting dari yang ku saksikan tadi.
"lega?" tanya ranaa.
__ADS_1
aku mengangguk pelan seraya tersenyum kecil pada ranaa yang berada di sampingku.
Iya hanya mengerutkan dahi dan merangkulku dengan sebelah tangannya.
"hushh ! ini kan istana" aku berusaha melepaskan rangkulannya.
"emangnya kenapa? kamu takut arham lihat?" ranaa mendekatkan wajahnya ke arahku.
"ihhh ya mana ada. lagian rasanya ga sopan kalo di istana keliatan kita lagi begini" logat bahasa kami mulai berubah.
"berarti kalo lagi gak di istana kamu mau kan?"
"mau apa?"
"mau aku peluk" sambil melebarkan kedua tangannya ke arahku.
"apaansi" kata ku dalam hati sambil tersenyum kesal.
ranaa hanya tertawa kecil. kami melanjutkan jalan.
"hari ini kita kemana?" tanya ranaa. masih sambil berjalan di sepanjang koridor sambil melihat-lihat ke arah luar.
"Terserah" kataku.
"cewek selalu begitu ya, ditanya mau kemana terserah, mau makan apa? terserah" ranaa bicara panjang lebar. di samping itu mataku mendapati arham sedang berjalan bersama seorang pria di seberang koridor kami.
ranaa melihatku heran "kenapa si kay?"
aku masih memperhatikan arham yang sibuk berbincang.
"ohhh pangeran" saut ranaa lagi.
Di tengah obrolan mereka, arham pun melihat ke arahku yang berjalan masih dengan rangkulan ranaa. Ia hanya diam sambil melihatku. mata kami seolah tak ingin berpaling ke arah lain dengan tatapan kosong. beberapa detik berlalu arham pergi bersama orang yang bersamanya. begitupun aku yang mengalihkan pandanganku pada ranaa.
***
"Jadi kapan mau mulai buat lilinnya?" ranaa bertanya.
aku menggeleng pelan sambil menatap kosong makanan yang sudah berada di depanku.
"Lagi marahan sama arham?" tanya nya lagi.
"ga tau" kataku.
"kepikiran arham?"
aku kali ini mengangguk seraya mulai mengaduk-aduk makanan ku.
"heiii !!" Seseorang tiba-tiba datang dan menggebrak meja.
"Danish !!" teriak ku dan ranaa bersamaan.
Seisi ruangan restaurant melihat kami.
"Kalian berdua akhir-akhir ini selalu bersama? aku curiga?" kata danish sambil mengunyah rotinya.
" karena kebetulan kami sering bertemu jadi selalu bersama" jawab ranaa di susul dengan anggukan pelanku.
"hmm.. hei kayla apa kamu sudah tahu kabar?" danish melihatku serius.
__ADS_1
"hah?" sambil mulai memakan makanan ku sedikit-demi sedikit.
"Kabar maksudmu?" tanya ranaa.
"ayah calandra akan ke istana"
Sontak membuatku batuk mendengarnya.
"kayla kau tidak apa-apa?" danish menyodorkan minumanku di meja. ranaa mengambil paksa dari danish dan memberikannya pada ku.
"kay ini minumannya"
"pertemuan biasa yang sering istana adakan untuk pejabat-pejabat tinggi" lanjut ranaa.
"ku pikir akan ada hal lain yang akan di bicarakan nanti" kata danish.
ranaa menatap danish dalam dan serius, danish merubah posisi tangannya yang tadi berada di atas meja sambil memegang roti. aku masih menyimak dengan serius obrolan mereka.
"Aku curiga ini seperti..."
"Kayla sebaiknya kita cepat pulang, terlihat langit mulai mendung" potong ranaa seraya menarik ku yang masih khusyuk ingin mendengar danish.
"kamu yakin akan pulang cepat?" kata danish.
tanpa menanggapi danish, ranaa langsung beranjak dari tempatnya sambil menarik ku pergi juga.
"kayla sampai jumpa besok di istana" danish berteriak pelan padaku tersenyum.
aku menoleh tersenyum dan mengangguk.
[Rumah kayla]
"Kayla" panggil ranaa.
"hmm.." sautku sambil membereskan lilin-lilin di lemari yang belum ku susun rapi.
"Kalo besok perlu bantuan kamu bisa cari aku ya, oh ya sekaligus kalo kamu perlu teman juga haha" ranaa tertawa.
"hah" Aku memiringkan senyumku.
"tapi aku serius" lanjutnya.
"Iya iya" kataku masih dengan barang-barang lilin.
"kayla" panggilnya lagi yang masih duduk di sofa.
kali ini aku berbalik dan menatap ranaa.
"kenapa si ran? khawatir segitunya? kamu kan selalu deket aku" sambil tertawa kecil.
"Iya juga sih" ranaa dan aku tertawa bersamaan.
*Note :
*Jadi kalo ranaa ngobrol dengan kayla mereka mulai pake bahasa non formal alasannya karena mereka udah tahu satu sama lain dari mana mereka. meskipun kayla belum ngasih tahu keterikatannya dengan ranaa.
Maaf kali ini aku jarang post karena sedang di sibukan dengan skripsian dan selain itu di novel ini juga aku harus bener-bener nyusun dan memikirkan setiap katanya dan itu perlu waktu hehe mohon maaf juga kalo suka ada typo atau kekurangan lainnya. Terimakasih yang sudah menyempatkan membaca dan Selamat membaca.
Tunggu episode selanjutnya yah 😊
__ADS_1