la la lost you

la la lost you
Keterikatan 4


__ADS_3

“ini tempat tinggalmu sementara” kata aster seraya duduk.


“kamar nya telah siap, aku harap kamu betah tinggal di tempat ini” kata seorang wanita yang bernama davina, bahunya ia senderkan di tiang pintu antara ruang tamu dan kamar.


Aster hanya melihat ku dengan senyum paksa. Aku mengamati setiap sudut ruangan yang bernuansa abad pertengahan yang di dominasi dengan warna coklat dan warna gelap lainnya dengan batu marmer yang menghiasi lantai.


“baiklah aku titipkan pria ini padamu” kata aster pada wanita itu. Ia hanya mengangguk pelan, aster mengarah padaku dan menepuk pundaku “aku harap kamu terbiasa” bisiknya di telingaku.


“kamu akan pergi kemana?” tanya ku pada aster


“aku harus kembali ke istana” sambil berjalan meninggalkan kami berdua.


“aku tidak tinggal di rumah ini, jadi sebaiknya jaga dengan baik tempat ini” kata davina sambil meninggakan ku sendiri.


“kamu mau kemana?” panggil ku, ia berbalik dan melihatku.


“aku harus kembali ke tempat ku” kemudian kembali berjalan lagi


“ahh.. aku hampir lupa, kalo terjadi sesuatu kamu bisa datang padaku di 5 rumah dari rumah ini” senyumnya sambil berjalan pergi.


END


[Note] Cerita ranaa selesai


***


“dari situ aku hidup seperti rakyat berdine pada umumnya, sampai suatu hari salah satu orang dari istana mengetahui bahwa aku manusia mereka langsung memberi tahukan pada raja untuk memberikan hal yang kamu liat kemarin saat bertemu davina” kata ranaa. Aku hanya menyimak sambil menatapnya sedari tadi bercerita.


“aku sempat menjadi budak hingga akhirnya aku berhasil membuktikan kekuatan ku” lanjutnya.


“maksudmu?” tanyaku


“aku berhasil mengalahkan negeri lain untuk pertandingan panahan, karena saat itu arham tidak bisa ikut serta karena cidera”


“apa yang membuatmu di tunjuk untuk itu?” tanya ku lagi


“aster, dialah yang meyakinkan kerajaan”


“bukan nya kerajaan punya pemanah-pemanah hebat selain arham” kataku


“hmm.. tapi ga ada yang bisa mengalahkan pemanah dari negeri satu itu. Bahkan seorang arham saja pernah kalah 2 kali”


“bagaimana denganmu?”


“belum pernah ada yang mengalahkan ku” ia menoleh padaku sambil tersenyum


Aku terdiam sambil mengalihkan pandanganku ke arah susunan bunga yang rapih.


“lalu yang aku liat kemarin saat ga sengaja ketemu davina itu maksudnya apa?”


“mereka adalah orang-orang dari negeri lain yang memiliki hutang pada berdine. Sebagai gantinya mereka di perbudak sampai waktu yang telah di tentukan dalam perjanjian”


“ku pikir mereka sama seperti kita”


“maksudmu? Manusia?”

__ADS_1


Aku hanya mengangguk pelan dan menatapnya.


“aku sempat banyak mengobrol dengan raja, kamu tahu. Bahwa kejadian seperti kita memiliki kemungkinan kecil bisa terjadi di suatu tempat. Bahkan tidak mungkin. Aku pikir kita berdua sedang terjebak di perjalanan waktu. Kamu paham kan?”


“pufftt gimana sains jelasinnya? Bahkan aku bodoh di pelajaran ini” kataku tanpa sadar


“hah?”


“hah apa?” aku menatap ranaa


“sains?”


“ah lupain deh” kataku sambil berdiri dan bergegas kembali mengurus tanaman-tanaman lain.


“aku ko tiba-tiba ngomong gitu ya?” tanya ku dalam hati sambil terus memasukan tanah ke dalam pot-pot kosong. Aku menoleh ke arah ranaa, ia hanya serius menatapku sambil menyondongkan punggunya. Aku kembali pada kegiatan ku.


***


“setelah festival nanti aku akan berkegiatan seperti biasa di istana, sepertinya akan sangat jarang untuk kita bertemu” arham menjatuhkan punggungnya ke bumi yang berhamburan rerumputan. Aku duduk di samping dan menatapnya sambil merangkul kedua kaki ku yang bertekuk.


“kayla, aku mohon tunggu sebentar lagi” kemudian ia menoleh ke arah aku.


“aku tidak mengerti apa maksudmu?” kataku bingung.


ia terbangun dan duduk sejajar dengan ku. Ia menarik ku agar aku tepat berada di depannya. awan-awan bewarna ke orenan mulai memperlihatkan dirinya dan matahari perlahan mulai turun dari atapnya. Arham masih menatapku terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun dan masih memegang kedua tangan ku dengan kedua tangan nya.


“ada sesuatu yang ingin kamu katakan?” kata ku pelan


“ya” jawabnya singkat


“aku akan menjemputmu besok untuk festival” ia tersenyum manis padaku. Aku balik tersenyum dan mengangguk.


Ia kemudian melepas genggaman nya dan kembali tersandar di rumput-rumput hijau ini sambil menyaksikan matahari yang sebentar lagi akan terbenam.


“arham” panggil ku


“hmm” saut nya


“apa kamu merindukan aster?” tanya ku. Arham terdiam tidak menjawab pertanyaan ku


“yah aku tahu jawabannya. Pasti kamu sangat merindukan nya. Pertanyaan ku memang sangat bodoh” kataku


“lebih dari yang kamu tahu. Bahkan sampai saat ini aku terus berniat untuk mencarinya lagi” arham mulai menjawab


“aku merasa dia tidak hilang” aku mulai berbica tak sadar lagi


“maksudmu?”


“ah.. ya aku merasa aster tidak benar-benar_” aku terdiam sejenak “kamu tahu kan” lanjutku


“bagaimana kamu yakin?”


“memangnya kamu menganggap ia sudah tidak ada?”


“bukan begitu, sampai saat ini pun aku merasa ia pasti ada di suatu tempat. Tapi aku benar-benar bingung dengan mu. Bagaimana kamu bisa tahu itu?”

__ADS_1


“naluri ku” wajahku ku paling kan ke arah nya


Arham menatapku tajam


“kamu bisa melihat sesuatu yang jauh, apa kamu seorang clairvoyance?” wajah arham menuju wajah ku dengan sangat dekat sambil menatap mata ku yang sangat dalam.


Badanku reflek ku mundurkan “maksudmu?” kataku


“tidak, aku hanya menebak saja” arham mengembalikan posisinya ke posisi semula.


“huuffftt” aku menghembuskan nafas ku.


“lalu bagaimana?” aku bertanya lagi


“bagaimana apanya?” arham bertanya balik pada ku


“ya niat mu yang ingin mencari aster lagi” jawabku


“aku masih menyusun semuanya, tanpa sepengetahuan kerajaan”


Aku bingung dan melihatnya, aku mengerutkan dahi.


“karena kasus ini telah di tutup lama, kerajaan telah menghentikan pencarian adik ku”


“bagaimana bisa? Bukan kah aster pun putri dari raja dan ratu” aku tak percaya


“berdasarkan rekomendasi dari penasihat dan perdana menteri kerajaan, sebenarnya ayah ku juga masih ingin terus mencari. Namun penasihat kerajaan bilang ini akan memperparah keadaan ayahku yang saat ini memang sedang tidak baik”


“lalu?”


“hmm?” arham menoleh ke arah ku


“ah tidak”


Hari mulai malam, arham mengantar ku kembali ke rumah dengan kuda nya. Hari ini aku banyak menemaninya bercerita dan aku bahagia karena kami tak lagi saling berdiam maupun saling menjaga jarak.


***


“terimakasih telah mengantar ku pangeran” goda ku pada arham


“baiklah tuan putri dengan senang hati” katanya sambil tertawa kecil


Arham memegang pundak ku dan kemudian memegang kedua pipi ku, mengelusnya pelan “berjanjilah jangan pernah menghilang lagi, bahkan saat kita sedang tidak saling bicara” kata arham.


Tangan ku meraih jari-jari arham yang tengah hinggap di kedua pipi ku seraya tersenyum.


“kamu juga, aku tidak akan membiarkan mu menjauhi ku lagi” sambil tertawa kecil.


Kemudian sebelah tangan nya mengelus ubun-ubun ku.


“ah sudahlah, kembali lah. Dan jangan lupa untuk menjemput tuan putri tepat waktu” kataku sambil bercanda


“baiklah tuan putri yang menyebalkan” sambil membungkuk. Aku hanya memukuli bahu nya pelan.


Ia berbalik menuju kudanya, aku hanya menatapnya penuh senyum. Ia menoleh pada ku seraya melambaikan sebelah tangan nya, begitu pun dengan ku. Senyum kami saling bertemu dan kemudian saling menghilang dengan gelapnya malam.

__ADS_1


__ADS_2