
“aku mencintaimu” bisik arham tepat di telinga kanan ku. Pelukan nya semakin erat, wajahnya semakin ia dekatkan di leher ku. Mata ku mulai ku buka perlahan seraya membalas pelukannya.
“arham” kata ku lirih
“mau kah_” ia menghentikan nya
Brukk!! Perahu kami bergeser dan terdengar ada yang menabrak. Arham melepaskan pelukan nya dan menghentikan kata-katanya.
“wah wah, tampaknya aku mengganggu malam kalian” ranaa terlihat sedang mengendalikan perahunya
“maaf aku benar-benar tidak sengaja” lanjutnya lagi sambil tertawa
Aku dan arham mulai canggung, aku memalingkan wajahku ke arah lain begitu juga dengan arham. Ranaa melirik tingkah kami yang tak biasa dan mulai berpindah dari perahunya ke perahu yang kami tumpangi.
“kalian kaku sekali. Baiklah bagaimana kalau aku menemani kalian?” ranaa lagi-lagi menggoda kami. aku dan arham masih berdiam tak bersuara dan melihat ke arah lain masing-masing tanpa menanggapi ranaa.
Ranaa yang berada di antara kami berdua terlihat khusyuk sedang memandang lampion-lampion di langit yang beterbangan. Aku melirik nya pelan berusaha untuk melirik ke arham juga. Namun tampak nya arham tidak begitu menikmati malam ini karena kehadiran ranaa yang berusaha mengacau.
***
Kami bertiga berjalan menyusuri kota, lagi-lagi ranaa berada di antara kami berdua. Namun aku merasa lega karena adanya ranaa, Aku tak perlu canggung.
“suasananya mulai terasa dingin, apa kalian berdua tidak berniat untuk minum kopi?” celetuk ranaa melirik kami berdua yang masih tak bersuara
“ah baiklah” ranaa menggandeng tangan ku dan tangan arham kemudian menyeret kami ke suatu tempat.
***
“seperti biasa” kata ranaa pada pelayan Aku hanya memalingkan wajahku ke luar jendela memandang langit-langit yang masih penuh dengaan taburan lampion.
“kalian ingin memesan apa?”
“terserah” jawab kami bersamaan. Ranaa melirik kami berdua kebingungan sambil mengangguk
“samakan saja” kata ranaa lagi pada pelayan itu
“kayla, harapan mu tadi apa?” tanya ranaa sambil memainkan vas bersisi bunga
Aku malah melirik arham dan arham melihat ku balik. Aku pun buru-buru memalingkan nya
“aku tidak ingin memberitahunya” kata ku
“hmm.. baiklah”
“bagaimana dengan mu pangeran?” ranaa kembali bertanya
“harapan ku ada di depan ku” kata arham sambil menatap ku serius
Ranaa menoleh ke arah ku sambil menaikan kedua alisnya.
Makanan yang tiba di meja memecahkan suasana serius ini, aku menghirup kopi susu yang telah di pesan oleh ranaa dan kemudian melahap kue dengan isian vla di dalam nya.
__ADS_1
“kamu baru saja melewatkan sesuatu di istana” kata ranaa berbicara pada arham
“maksud mu?” arham bertanya pada ranaa
“nanti kamu akan mengetahui nya, aku tidak ingin mersuka suasana” bisik ranaa pada arham yang masih terdengar samar-samar oleh ku. Arham menoleh ke arah ranaa dengan raut wajah yang sangat penasaran dengan secangkir kopi susu di tangan nya.
***
“kayla, ingin ku antar pulang?” tawar ranaa
“kayla pergi bersama ku dan pulang harus bersama ku pula” saut arham sambil beranjak dari kursi nya dan menghampiri ku. Aku masih merasa canggung setelah kejadian di danau tadi. Namun aku harus memasang ekpresi yang biasa saja.
“iya, aku dengan arham” kata ku pada ranaa
“baiklah” ranaa pun beranjak dari tempat duduk nya
“kalau begitu aku pergi duluan” lanjutnya sambil melambaikan tangan kepada kami berdua.
Setelah ranaa mengilang, aku dan arham hanya diam. Terlihat sangat canggung dan aku tak
tahu harus mulai bicara apa.
Arham menaiki kudanya,tak lupa tangannya ia berikan padaku yang kemudian aku terima. Ia menarik ku ke atas kuda dan memacu kuda nya. Sepanjang jalan aku dan arham tak bicara banyak sampai saat tiba di rumah.
***
Aku berjalan pelan menuju pintu rumah ku,tangan ku beruasaha membukanya perlahan, saat aku membuka arham menahan ku dengan memanggil ku. Aku menoleh ke arah nya ia berjalan ke arah ku pelan.
Aku hanya terdiam sambil menunggu jawaban dari arham
“anu_” kata-katanya terjeda
“apa?”
“aku”
Kepala ku seolah menyaut
“aku tunggu jawaban mu besok” lalu lagi-lagi bibirnya singgah di bibir ku tanpa permisi. Aku hanya terdiam membeku Mata ku menatapnya kaku. Terlihat senyumnya yang mengembang seraya menunganggi kudanya hingga mengilang tertelan gelap malam.
Sepertinya pikiran ku malam ini akan bercampur tak beraturan. Tak sadar tangan ku menyentuh bibirku seolah tak
percaya apa yang terjadi malam ini. Ku balikan badan ku dan membuka pintu dengan pikiran yang masih tak beraturan.
Ku bersihkan badan, membereskan tempat tidurku. Ku rebahkan badan ku dengan perlahan mataku ku hadapkan ke atap-atap rumah. Pikiran ku kembali memutar kejadian-kejadian tak terduga malam ini, dan malam ini aku terlelap dalam pikiran ku .
***
“ehemm!!”
Aku menoleh kebelakang dan kesamping berusaha mencari suara itu saat aku sedang sibuk menata bunga-bunga ku.
__ADS_1
“di sini”
Mata ku langsung menemukan ranaa yang duduk di bangku dekat pohon.
“hufft ku pikir siapa”
“pasti kamu pikir aku arham ya kan?”
“apasih” kata ku masih sibuk dengan pekerjaan ku, kemudian aku menghentikan nya seraya mengingat kejadian semalam yang membuat ku lemas. Tangan ku mulai melepas kan se pot bunga dan kemudian di letakan ke tempatnya.
“jadi gimana semalem?”
“apanya yang gimana?” kata ku sambil melanjutkan menggunting daun-daun yang sudah kecoklatan
“kamu terima arham”
“terima apaan?”
“ya elah kay, masa udah di sun gitu aja kamu masih ga peka sih?” kata ranaa sambil cengengesan. Aku melempar daun yang sudah ku potong ke arahnya. Ranaa mencoba menangkis dengan lengan nya masih sambil
tertawa.
“kayla” panggil ranaa. aku menoleh ke arahnya dan kepala ku menyaut
“ada hal yang mau aku omongin” Kini bukan hanya wajah ku yang mengarah padanya, tetapi juga badanku ku dekatkan dengan badannya. Ranaa menarik ku untuk duduk di samping nya seraya tersenyum.
“mau ngomong apa?” tanya ku serius
“kay_” sambil menatap ku kebingungan
Kepala ku sedikit menunduk ke arah wajahnya
“hmm..”
“kenapa sih ran!! Aku udah penasaran. Buruan ah bilang!” badan ku meronta
“nanti malam ada acara di istana, ratu yang ngasih amanat ke aku untuk sampein ke kamu buat dateng ke acaranya”
“dalam rangka apa?”
“entahlah” ranaa memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menarik nafas dan menghembuskannya seolah raut wajahnya tertulis sesuatu yang membuatnya khawatir.
“kamu beneran Cuma mau nyampein ini ke aku?” tanya ku lagi berusaha memaksa ranaa untuk mengatakan hal yang lain
“ya aku ga bohong, yaudah deh aku harus pergi. Istana lagi sibuk banget soalnya” ranaa berdiri dan melirik ku “di
tunggu nanti malam kedatangannya, dah” ia berjalan pergi
“dasar cowok aneh, untung cakep” kata ku menggerutu sendiri.
__ADS_1