la la lost you

la la lost you
Aurora


__ADS_3

"gimana?" tanya arham yang menghampiri ku di halaman istana


"gimana apa nya?" aku bertanya balik


arham menunduk dan mengurut dahi nya kemudian melihat ku kembali dan tersenyum. aku masih belum paham dan terus menatapnya seolah meminta jawaban.


"mau jadi kekasih ku?"


mata ku terbelalak dan menatapnya lebar "ini beneran dia nembak aku ya?" kata ku dalam hati.


"aku?" tanya ku pada arham


"ya iyalah, emang siapa lagi?" tanya arham sambil melihat ke kanan dan ke kiri seolah menunjukan bahwa tidak ada yang ia ajak bicara selain diri ku.


bibir ku seolah tertahan dan bungkam untuk mengatakan sesuatu. aku hanya kebingungan bagaimana mengatakan nya pada arham.


"jawab saja ya atau tidak" kata arham


aku hanya mengangguk


"apa?" tanya nya


"iya" kata ku tersipu malu sambil sesekali menunduk karena tak kuat dengan tatapan dan senyum nya.


arham hanya tertawa kecil seraya mengacak-ngacak rambut ku.


"kebiasaan!" kata ku sambil menepuk tangan arham yang masih berada di kepala ku.


ia pun melepaskan dan menarik tangan ku


"mau kemana?" tanya ku


"rahasia, hari pertama pacaran aku ingin memberikan kejutan pada mu. ikuti saja, lagi pula kekasih mu yang tampan ini tidak mungkin mengajak mu ke tempat berbahaya"


"hmm.. eh tapi tunggu!" seru ku


arham berbalik ke balakang dan menatap ku seolah meminta jawaban.


"bukannya acara istana sebentar lagi akan di mulai?"


"itu urusan belakangan, lagi pula masih ada raja yang bisa memimpin"


"tapi_"


"ah sudahlah" arham terus berjalan sembari memegang tangan ku.


***


"tempat apa ini?" tanya ku dalam hati


arham melepas tangan ku dan berjalan menghampiri sebuah pintu besi yang tak jauh dari tempat ku berdiri.


ia mencoba membukanya, terlihat sangat kesulitan. dan aku pun tak melihat ada kunci di tangan nya. seperti nya ia membuka pintu itu dengan peniti yang telah ia rangkai menjadi sebuah kunci namun tetap sulit untuk membuka pintu itu.


greekk!!


suara itu berasal dari gembok yang berhasil terbuka oleh arham. tidak membutuhkan waktu lama nyata ia dapat menyelesaikan dengan baik.


"ayo" bisik nya pelan pada ku yang masih berdiri mengamati nya sedari tadi.


aku berjalan dan memberikan tangan kanan ku pada tangan arham, namun kedua tangan nya justru menutup kedua mata ku dengan punggung ku yang pas berada di depan dada nya. ia menuntun ku menuju ke dalam.

__ADS_1


perlahan tangan arham menghindar dari kedua kelopak mata ku. aku pun membuka kedua mata ku dengan perlahan terlihat hamparan rumput hijau di depan ku dengan bunga-bunga kecil tidak terlalu tinggi yang berbagai warna.


dan ada satu hal yang membuat ku takjub, aurora dengan perpaduan hijau, biru, dan kekuningan. bagi ku ini mustahil terjadi di tempat ini.


aku tersenyum seraya kedua tangan ku menutup bibir tipis ku. mata ku berbinar.


arham memeluku dari belakang, sesekali mengusap rambut ku yang terurai tak terlalu panjang.


aku membalikan badan ku pada arham.


"ini benar-benar indah" mata ku hampir menjatuhkan air mata.


"bagi ku semua tempat indah dengan hadir nya diri mu kayla" senyum arham


kedua tangan ku memeluknya, kepalaku ku sematkan di sela-sela dada nya yang bidang seraya memejamkan mata berusaha menikmati malam yang lumayan dingin ini.


namun beberapa menit berlalu aku merasakan sakit kepala yang hebat hingga tubuh ku terjatuh dan tak sadar kan diri.


suara arham terdengar memanggil-manggil nama ku saat aku telah terbaring lemah di depan nya. namun pandangan ku mulai kabur dan gelap.


***


"semoga tidak terjadi apa-apa"


"aku lihat pangeran sangat khawatir"


"terlihat raja dan ratu juga menjeda acara pertemuan"


"aku pikir ini akan menjadi buruk untuk istana"


"bagaimana dengan penyerahan takhta?"


suara-suara itu terdengera samar di telinga ku, entah milik siapa saja kah itu. aku merintih pelan dan berusaha merubah posisi ku sedikit lebih tinggi.


"apakah dia baik-baik saja?"


salah seorang pelayan berjalan ke arah ku dan membantu ku untuk duduk.


"apa yang terjadi pada ku?" tanya ku pada pelayan tersebut


"nona tadi pingsan, pangeran arham yang membawa nona ke sini. sepertinya ia sangat cemas"


"dimana tuan arham?" tanya ku seraya melihat ke sekeliling


"dia tidak di sini nona"


"lalu?"


"saat ini istana sedang dalam pertemuan penting, ia harus hadir"


mata ku sayu dan hanya mengangguk pelan sambil merebahkan punggung ku ke tumpukan bantal.


"untuk sementara nona bisa istirahat di sini, setelah merasa agak baikan nona bisa keluar atau ada hal lain yang ingin nona lakukan di istana? aku bisa mengantarkan"


"tidak, tadi siang aku sudah menyelesaikan tugas ku untuk membantu ratu. setelah agak baikan aku akan kembali ke rumah" kata ku sambil tersenyum pada pelayan itu. ia hanya membalas senyum juga.


"baiklah, aku dan pelayan lain akan beranjak dari sini. jika nona memerlukan bantuan bisa panggil aku di ruang ramuan yang tidak jauh dari tempat ini"


"baiklah, terimakasih telah mengurusku" kata ku lagi tersenyum. ia mengangguk tersenyum dan keluar bersama teman palayan lainnya.


aku mengusap rambut ku dan sesekali memijit kepala ku. aku seperti melihat kejadian yang sama. aku meringis berusaha menahan nyeri ku yang masih sedikit muncul.

__ADS_1


jegrek!! suara pintu ruangan ini terbuka terlihat lengan dengan baju lengan panjang bewarna hitam membaluti nya.


"ranaa"


ranaa masuk dan memeluk ku


"apa yang terjadi?" tanya nya seraya melepaskan pelukan nya.


"aku pingsan, selain itu aku tidak ingat sesuatu"


"sekarang bagaimana?" tanya ranaa lagi


"agak mending"


ia memeluk ku lagi, terlihat cemas dan terus mengusap-ngusap rambut ku.


"ranaa"


"ya? "


"aku_"


"jangan terlu banyak bicara dulu lebih baik istirahat" ia melepaskan pelukan nya lagi dan kemudian duduk di ranjang tepat di depan ku.


"ranaa bukan nya kamu harus ke pertemuan kerajaan?" kata ku


"aku tadi izin untuk ke kamar mandi"


"terus kenapa ke sini?"


ranaa menoyor kepala ku "awww" teriak ku pelan


"ya itu cuma alasan, sebenarnya aku cemas waktu arham ngasih tau kalo kamu pingsan"


"kok dia bisa ngomong gitu"


"dia di tanya raja kenapa terlambat hadir"


"oh... "


aku terdiam beberapa detik begitu pun dengan ranaa.


"ranaa_"


"hmm" katanya sambil menatap ku


"aku ngerasa setiap ada acara pertemuan petinggi, aku selalu di undang ke istana sama ratu cuma untuk buat lilin aroma terapi"


"trus?"


"apa kamu gak ngerasa ada ke anehan?"


"apa nya yang aneh, lagian lilin-lilin itu di gunain di pertemuan itu juga"


"oh... mereka suka suasana kaya gitu?"


"hmm" jawab ranaa singkat


"sudahlah istirahat, aku mau balik pertemuan. nanti mereka curiga" aku hanya mengangguk dan ranaa berdiri lalu pergi.


"tapi aku ga sepenuhnya setuju dengan apa kata ranaa soal buat lilin itu" otak ku terus berbicara hal-hal ini.

__ADS_1


...


__ADS_2