la la lost you

la la lost you
Pertanyaan


__ADS_3

Raja tersenyum sambil menitikan air matanya, Ratu hanya menggenggam tangan raja sambil memandang kami berdua. Pria yang tak ku kenal itu hanya menatapku dan arham. Suasana semakin haru. Aku bingung apa yang terjadi? Mengapa saat aku dan arham tiba di sini rasanya jadi di luar ekspetasiku.


Arham menuntunku menuju meja makan, aku pun berjalan pelan sambil menggenggam kedua tanganku di depan tubuhku. Aku duduk di sebelah pria itu dan arham duduk di samping ratu.


Pelayan-pelayan mulai mempersiapkan makanan kami. Aku merasa tidak enak dan gugup sambil memandang arham. Namun, arham hanya tersenyum sambil memberi kode yang aku bahkan tak memahaminya. Aku hanya memasang wajah memelas di depannya.


Ditengah makan malam kami tak banyak yang dikatakan raja, ia bahkan tidak banyak bertanya siapa aku dan dari mana asalku. Ia hanya membahas hal-hal ringan yang membuat kami tertawa kecil, begitu pun dengan ratu yang hanya melempar senyuman. Hanya itu, aku sudah se gugup ini dan aku benar-benar senang akan hal ini.


Pria yang tak ku kenal pun dikenalkan oleh raja. Ya, dia ranaa pria yang menurutku lumayan tampan dan sangat sopan bukan hanya itu, raja beberapa kali bicara mengenai ranaa. Ia seorang pemanah yang hebat bahkan arham bilang jika ranaa lah saingan terberatnya dalam panahan.


Makan malam berakhir semua saling berpamitan untuk kembali pada kegiatannya begitu juga dengan ranaa yang harus pulang. Arham menyuruh pelayan wanita untuk mengantarku ke kamar.


Selama berjalan menuju kamar aku bertanya beberapa hal pada pelayan yang membuatku takjub akan tempat ini ya ! istana ini. Aku belum pernah melihat ini sekalipun. Sangat luas dan artistik.


“Aku kayla” kata ku mencoba memperkenalkan diri.


Namun pelayan itu hanya tersenyum dan aku balik senyum padanya.


“tempat ini luas juga ya? Pasti banyak orang yang bekerja disini” kataku mencoba basa-basi.


Pelayan tersebut tetap diam dan hanya mengangguk sambil tersenyum menatapku.


Setelah sampai, pelayan tersebut memberitahuku beberapa hal terkait kamar tersebut kemudian berpamitan pergi.


“apa omonganku tadi salah?” aku bicara sendiri.


“apa memang dia yang aneh?”


“ah terserah aku bingung !”


***


Pagi ini terasa sangat hangat, matahari yang sudah menembus sela-sela lubang udara berebut menyapaku. Aku terbangun, diam sebentar di tempat tidur dan sesekali menguap, mengusap wajahku. Suara terompet terdengar nyaring memancingku untuk mencari sumbernya.


Aku mulai berdiri dari ranjang dan berjalan menuju jendala di sebelah ranjang tempat tidurku. Aku membuka gorden berwarna coklat emas dan kedua pintu jendela dengan kedua tanganku. Aku memperhatikan sekeliling dari kamarku yang berada di lantai 2.


Aku melihat pelayan-pelayan yang sibuk dengan kegiatannya. Dan aku menemukan sosok yang baru ku kenal semalam. ya ! dia ranaa yang sedang berlatih memanah bersama dengan beberapa orang yang tak ku tahu.


Kamarku ternyata berhadapan langsung dengan lapangan panahan yang berjarak sejauh 30 meter. Aku memandangi mereka, sesekali melihat ke arah lain. Disaat aku tertawa kecil melihat tingkah mereka yang konyol, ranaa pun memandang ke arahku sambil tersenyum manis, meskipun aku tahu ia tersenyum bersama dengan teman-temannya bukan benar-benar tersenyum padaku. Yang Mendapati aku dengan wajah kumal, baru bangun tidur dan aneh.


Aku buru-buru menutup gorden dan berlari kecil menuju ranjangku. Aku menutup wajahku malu. Beberapa lama termenung dengan kelakuanku yang aneh aku pun langsung membersihkan kamar dan badanku.


**


Aku keluar menuju area panahan, sejujurnya aku mencari arham. Kebetulan pelayan bilang ia sedang berada di tempat panahan.


“berarti lagi sama ranaa?” kataku dalam hati.


Tawa kecil mereka sudah mulai terlihat, aku terus berjalan sambil mengangkat gaunku yang panjang. Sebelumnya aku tidak pernah memakai benda ini haha. Betapa gilanya ketika aku harus berhadapan dengan dunia yang sangat asing bagiku.


Aku telah berada di dekat lapangan panahan. Mereka sedang saling tertawa dan tiba-tiba mata masing-masing mengarah padaku. Aku terdiam dengan tangan yang masih mengangkat gaun panjangku, aku gugup dan melirik keduanya.

__ADS_1


Keduanya masih terdiam melihatku sambil tersenyum, aku bingung sendiri dengan diriku apa yang membuat mereka terdiam. Aku pun tersenyum miring melihat kejadian aneh ini.


“apa wanita ini yang telah membuatmu tergila-gila tuan arham?” sahut seorang pemanah dari belakang mereka, dengan panahan yang masih ia genggam, aku tidak mengenal lelaki ini. Ia tampan dan gagah.


“dia? Dia yang membuat raja tergila-gila bukan aku” arham tersenyum sinis sambil melihatku. Ranaa menunduk dan tersenyum kemudian melihatku kembali dengan tatapan tajamnya.


Aku memiringkan bibirku seraya berkata dalam hati “dasar, awas aja dia!”


“kalau begitu sepertinya aku harus membujuk raja agar beliau mau berbagi dengan ku, agar aku bisa tergila-gila padanya” kata ranaa sambil tersenyum dan memandangku.


Arham terbelalak dan dan tertawa sinis “apa katamu?” dengan kedua tangan di pinggangnya sambil menatap tajam ranaa.


“baiklah, ayo kayla” ajak ranaa padaku.


“maaf, kamu ingin mengajak nya kemana tuan ranaa?” arham mencegah ranaa yang telah menggenggam tanganku. Aku hanya tersenyum malu sambil menunduk.


“aku akan mengajaknya kencan” kata ranaa.


“aku melarangnya” arham tetap mencegah ranaa.


Ranaa hanya menaikan alisnya “dia kan milik raja bukan milikmu”.


“tapi dia masih menjadi kewenanganku. Jadi siapapun yang menyentuhnya harus izin dulu....”


“aku mau” kataku pada ranaa memotong pembicaraan arham. Ranaa tersenyum dan bergegas menarik ku pergi dari tempat ini.


“baiklah ada syarat jika kalian berdua ingin pergi” kata arham mengancam.


Kami berdua terdiam, berhenti dan melengkungkan bibir kebawah.


“kita akan memanah, siapa yang banyak mencetak poin tertinggi maka dia yang memiliki kewenangan atas kayla” arham melanjutkan. Aku merasa di perebutkan dua pria tampan (.


“kamu yakin?” kata ranaa. Aku heran dan menatap ranaa.


“ya !” arham merasa yakin.


“baik” ranaa menerima tawaran arham.


“danish yang akan menjadi wasit” kata arham sambil memanggil danish. Ia adalah pria yang tadi berbicara pada arham.


***


Hari ini aku akan keluar istana dan menuju ke kota. Ya aku bersama ranaa, ia yang memenangkan kompetisi panahan. Aku bahkan tak menyangkanya ia bisa mengalahkan arham sekelas pangeran yang ku pikir jago dalam segala hal terutama memanah.


Kami ke kota dengan berjalan kaki, tadinya ranaa menawari untuk menaiki kereta kuda. Namu aku menolak, aku lebih ingin menikmati tempat ini dengan berjalan.


Aku ingin banyak tau tentang ranaa, sepertinya ia adalah orang penting bagi kerjaan. Karena dirinya yang terlihat akrab dengan raja dan arham.


“maaf, apa aku boleh nanya?” kataku. Ranaa kaget dan aku pun bingung dengan tingkahnya, apa yang membuatmu begitu kaget.


“hm.. ya ya. Tentu” katanya.

__ADS_1


“kayanya kamu jago banget tadi memanah. Sampe-sampe arham kalah. Pasti kamu pemanah hebat ya?” kataku.


Ranaa tersenyum. “ sudah kuduga” kataku dalam hati.


Saat kami telah sampai di kota, ranaa menawari ku untuk membeli roti dan aku setuju.


“kamu mau roti yang mana?” kata ranaa. Aku menunjuk roti bertabur gula halus dengan isi coklat.


Kami memakannya sambil berjalan di kota, banyak hal yang aku lihat di sini. Dan aku telah terbiasa dengan ini. Kami melihat pertunjukan musik de tengah kota, berbagai instrumen musik di mainkan dan yang membuatku menyukainya adalah harpa. Kami menikmatinya.


“kamu bisa main musik?” tanyaku pada ranaa.


“aku bisa memainkan gitar dan biola” katanya. Aku pun mengangguk.


“oh ya aku berencana untuk kursus membuat roti” kataku dan ranaa pun tersenyum sambil mengangguk menatapku. Kebetulan toko tempat kami beli tadi membuka kursus namun terbatas dan hanya di lakukan sabulan sekali.


“aku ingin banyak membuat roti kacang nanti, dan kamu orang pertama yang harus mencobanya” kataku sambil tertawa kecil. Tiba-tiba ranaa pun tersedak saat makan. Aku buru-buru memberikannya minum sambil memukul kecil punggungnya.


“kamu gak papa kan?” tanya ku. Ia hanya mengangguk sambil sibuk dengan minumnya.


Wajah ranaa memerah seolah sesuatu terjadi padanya.


Setelah semuanya membaik ranaa mengajak ku ke tempat lain. Di tengah perjalan detak jantungku tak beraturan, kepala ku pusing dan pandanganku kabur, gelap dan tiba-tiba aku brukkk...!! Aku pingsan, terlihat samar orang-orang terutama ranaa berusaha membangunkanku.


Sepanjang aku pingsan seolah ada sesuatu yang membawaku ke tempat lain, ketempat dimana aku banyak mengenal sesuatu. Namu semuanya masih samar-samar, aku melihat sekolahku. Aku melihat teman-temanku mereka memakai seragam yang sama dengaku dimana aku memakainya saat tersesat di tempat ini.


Aku dibawa ke tempat tak asing bagiku, aku melihat sosok pria sedang bermain biola denganku yang sedang bermain harpa, ini ruangan seni musik. Namun aku tak bisa melihat wajah pria itu karena ia membelakangiku. Perlahan-lahan aku mendekati nya, sebentar lagi aku dapat melihat wajahnya. saat aku ingin membalikan badannya seolah aku tertarik kemabli ke dalam tubuhku dan aku pun tersadar dalam pingsanku.


“haaaaaaaaah...” badanku mendadak terbangun.


Aku melihat ranaa yang khawatir dan beberapa orang yang tak ku kenal sedang melihat ke arahku. Aku bingung dan aku merasa mual, seseorang menyugukan segelas air dan menyuruh ranaa untuk memberikan itu padaku. Ranaa mencoba membantu ku duduk dan memberi minum padaku. Orang-orang itu pergi meninggalkan kami berdua.


Aku meneteskan air mata, aku telah ingat beberapa hal tentang siapa aku. Aku tak bisa menahannya di hadapan ranaa. Dan ranaa memeluku seraya mengelus punggungku berusaha mencoba menenangkan ku.


“apa yang kamu ingat?” kata ranaa. Aku kaget dan heran bagaimana ia bisa tahu?. Namun aku tak menjawabnya dan tetap menangis.


“aku tahu ini membuatmu ketakutan, tapi percayalah nanti kamu akan terbiasa berada di tempat yang asing dan berbeda ini, sampai nanti kamu akan ingat semua siapa dirimu sebenarnya” lanjut ranaa. Aku semakin heran apa yang dimaksud ranaa, mengapa ia seolah mengetahui semua mengenai diriku. Aku tak pernah memberi tahunya, apakah arham yang memberi tahu ranaa?. Dan siapakah ranaa sebenernya?


**


“firasatku tidak pernah salah!” suara lantang arham terdengar mengerikan. Ranaa terdiam.


“semuanya bisa saja terjadi kan? Bahkan ketika kamu tak mengizinkannya untuk keluar istana, bisa saja dia pingsan di istana” balas afsoon. Arham terdiam menatap tajam ranaa dengan mata yang memerah. Aku terdiam menundukan kepala di hadapan mereka, aku merasa bersalah sekaligus ingin berteriak.


“kali ini aku maklumi, tapi ketika aku mendengar sesuatu terjadi pada kayla lagi karena ulahmu. Kau bukan lagi temanku” kata arham seraya meninggalkan ruangan.


Bibirku bergetar, air mataku sudah menumpuk namun seolah aku menahannya untuk tak menangis disini. Satu persatu dari mereka meninggalkan tempat ini kecuali ranaa. Ranaa masih berdiri seraya menatapku, kemudian ia tersenyum dan mendekatiku.


“lain kali kita harus berhati-hati di tempat ini” ranaa berbisik padaku sambil menepuk punggungku dan pergi.


Aku bingung apa yang dikatakan ranaa, aku memecahkan air mataku di kesunyian ruang ini. Aku menangis, aku sesak dan berteriak. Aku lelah berada di tempat ini, dan siapa ranaa? Seolah ia mengetahui dari mana aku.

__ADS_1


Siapa dia?


***


__ADS_2