
tiga hari kemudian aku mengunjungi istana hanya untuk ke perpustakaan, langkahku begitu cepat tanpa menghiraukan sekitar. ada banyak hal yang aku ingin ketahui dari apa yang telah kudengar tentang putri miss dafna yang membuatku menjadi semakin yakin bahwa ini ada hubungannya dengan ku di tempat ini.
tanganku sibuk mencari buku-buku yang sering dibaca oleh Putri dari miss dafna, dan aku hanya menemukan dua judul yang sama persis diceritakan oleh miss dafna dari banyaknya judul buku yang pernah di baca olehnya.
mataku melihat sekeliling berusaha menemukan tempat duduk dan setelah menemukan aku mulai membacanya. ini buku yang berhubungan dengan fisika namun pada buku ini dibumbui oleh unsur magis yang menurutku tak masuk akal. ku bulak balik lembaran buku tersebut namun otak ku tidak bisa mencerna lebih jauh. ku ambil buku selanjutnya dan mulai membaca satu persatu dan yang membuatku bertamah tidak paham lagi adalah bahasa yang digunakan di tambah dengan gambar-gambar di setiap halaman yang sangat sulit untuk dipahami.
aku menutup halaman buku yang terakhir ku baca, dan pikiran ku mulai menunjukan untuk bertemu dengan ranaa. kaki ku bergegas untuk pergi dari tempat ini dengan membawa kedua buku yang telah kubaca namun sama sekaliaku bahkan tidak memahaminya.
**
hal yang tidak di duga ternyata berada di hadapanku, ya siapa lagi kalau bukan ranaa yang memang sedang ku cari
"ada angin apa yang bawa kamu sampe ke perpus?" tanya ranaa sambil menghampiri ku
"aku perlu bantuan" kataku
"bantuan?" ranaa berhenti dan melihatku dengan mata tajamnya
"aku serius kali ini"
"memangnya mau minta bantuan apa?"
aku menyugukan kedua buku tadi ke depan wajahnya, wajah ranaa refleks bergeser kebelakang. kepalanya bergerak kesamping seolah memberi tanda tanya maksud dari ku berikan buku itu padanya.
perlahan ranaa mengambil buku yang berada di genggaman ku sambil melihatku tajam, mungkin dia merasa bahwa aku hari ini terlihat aneh.
"aku ga tau maksud dari buku itu, lagian itu bahasanya juga aku ga paham. siapa tau tau" kataku sambil menyilangkan kedua tanganku di dada.
ranaa membalikan buku itu dan memperhatikannya dengam bibir nya yang naik ke atas kemudian membukanya perlembar.
"aku pernah belajar aksara ini, tapi aku ga janji akan bisa menerjemahin secara sempurna" katanya
"puffttt ok, kalo gitu nanti malem aku bakalan traktir makan deh. terserah mau makan apa" kataku berusaha menbujuk agar ranaa mau membantuku
"hmm.. masih aku pikir-pikir" sambil mengusap belakang kepalanya
"oke panahan baru" tawar ku lagi
ranaa hanya mengerutkan dahi sambil memainkan buku yang ia pegang.
"terus apa?" tanya ku masih belum bisa menebak keinginan ranaa
"cukup datang bersama ku ke festival di kota sebelah" katanya sambil tersenyum lebar
aku hanya terdiam sambil menatap kosong ke arah ranaa
"oke kalo ga mau, kamu bisa minta orang lain aja" ranaa memberikan bukunya kepada ku lag
"ehhh ga, ok ok aku temenin, tapi ada syarat" kataku merasa lesu dengan permintaan ranaa
__ADS_1
alis ranaa terangkat seolah meminta jawaban
"ga lebih dari 4 jam"
"tuan puteri 4 jam itu cuma habis di jalan, kamu tau?"
"6 jam, 4 jam di jalan 2 jam di festival"
"pulangnya ga di hitung" tambah ranaa
"oke 10 jam !!"
"tapi aku yakin itu ga akan cukup untuk seukuran festival" ranaa hanya tertawa dan aku menatapnya sinis
**
Malam mulai menyapa aku kembali namun kali ini aku kembali bersama ranaa yang akan mengantarku menuju rumah miss dafna. aku telah membuat janji untuk menginap di rumahnya malam ini.
"ranaa" kata ku dengan tatapan kosong sambil berjalan menyusuri perkotaan
ranaa hanya menoleh dan mengedipkan kedua matanya seolah memberi jawaban ya padaku
"terimakasih"
"untuk apa?" tanya nya
"untuk selalu bersama ku, untuk selalu siap membantu ku" senyum ku
"kadang aku berpikir untuk menerima dan nggak mau nyari jalan keluar dari tempat ini, tapi aku sadar bahwa kita punya kehidupan lain di luar sana" kataku, ranaa tiba-tiba menghentikan langkah pelannya dan terdiam dengan tatapan kosongnya
"aku hanya ingin kembali ke rumah" kata ku lagi, air mataku mulai berjatuhan
"arham?" tanya nya dan menoleh ke arah ku
aku menatapnya dengan mata yang berkaca oleh air mataku, kepalaku ku tundukan dan tangan ku berusaha mengusap air mataku di pipi.
"apa kamu sudah ingat semuanya?" tanya ranaa lagi
"kehidupan kamu? darimana kamu?" pertanyaan itu datang dari ranaa lagi
aku hanya mengangguk pelan, tubuhku terjatuh seolah tak berdaya dan menangis sejadinya. ranaa memangku ku di dekapan dadanya tangannya mengelus rambutku berusaha menangkan ku. isak tangis ku tak berhenti seiring berlanjutnya perjalanan waktu malam.
**
ranaa menggedongku di punggungnya, aku hanya diam sepanjang jalan begitupun dengan ranaa. langkahnya kemudian terhenti di pagar beton bewarna orange dengan pintu berwarna coklat.
"ingin ku antar sampai dalam?" tawarnya
aku hanya diam turun dan melepas kalungan tangan dari lehernya. mata ranaa terlihat sangat lelah dan sayu.
__ADS_1
"sekali lagi terimakasih" kataku sambil tersenyum dan memegang kedua bahunya. ranaa hanya tersenyum dan memejamkan matanya.
"cepatlah masuk kedalam dan istirahat, aku ingin kamu besok ada tenaga untuk mencari transportasi pulang ke rumah" katanya sambil menaikan kedua buku tadi.
"kamu harus ikut" kataku. ranaa kembali diam agak lama dan kemudian menatapku sambil tersenyum secukupnya
tanpa berpikir panjang bibirku ku hinggapkan di bibirnya dan memeluknya dan ranaa pun tak menolaknya
"aku ikut ke rumahmu" kataku lagi
"kamu?"
tanpa ingin mendengar pertanyaan lebih panjang lagi aku pun langsung mengagguk, aku paham apa yang ingin ranaa tanyakan.
**
ranaa menyalakan api untuk menghangatkan ku, aku yang berbalut selimut dan duduk berbaring di sofa hanya terdiam sambil menatapnya. kemudian ranaa menuju ke arahku dan duduk di sampingku sambil menyilangkan lengannya di kedua dengkul, ranaa menatapku dan tersenyum.
"kamu terlalu cepat ngambil keputusan" ranaa memalingkan pandangannya ke arah api unggun
"kenapa aku harus lelah berlari hanya untuk mengejar orang yang ga pernah cinta dengan ku" aku menatap ranaa dalam
"aku udah ngerasain hal ini lama, tapi seolah aku ga mau tau. maaf aku sampe ga sadar akan orang yang benar-benar sayang dengan ku" lanjutku lagi
"jangan sampe setelah semua yang udah kita susun dan perjuangkan tiba-tiba membuat kamu jadi berubah pikiran untuk kembali lagi"
"aku ga mau rencana kamu kali ini kamu jadiin pelampiasan kamu" rana menoleh ke arahku
"ranaa kamu.." kata-kata ku terjeda
"hmm.." masih sambil menatapku
"kamu paham gak sih apa yang aku omongin !!!"
"pahamlah"
"apa?"
"kamu putus dengan arham dan mau balik ke rumah cuma gara-gara kesel sama dia kan?"
aku terdiam dan menatap ranaa kesal
"tau ah!" aku menarik selimut ku dan menjatuhkan kepala ku ke bantal dengan membuang muka dari ranaa.
"yaudah tidur aja sana!" kata ranaa. aku melempar bantal lain ke arah kepalanya
"aishh !!!" ia menggerutu sambil memegang bantal di tangan kiri dan tangan kanan mengusap kepalanya
aku hanya tertawa kecil dibalik selimutku.malam berlalu semakin larut kami menghabiskan waktu bersama di ruang tengah dengan api unggun yang mulai redup habis terbakar.
__ADS_1
"terimakasih untuk ciumannya, ini yang pertama" kata ranaa pelan. ia mengira bahwa aku telah lelap tertidur, aku hanya tersenyum.