la la lost you

la la lost you
Kehilangan


__ADS_3

Aku melihat sekeliling, tempat ini penuh dengan pepohonan dan tanaman bunga yang indah. 20 meter dari tempat duduk ku terlihat sungai yang memercikan airnya.


Pelayan-pelayan di sudut sana sedang sibuk dengan pekerjaannya, terlihat ada yang sibuk melihat tanaman yang rusak, dan ada yang sibuk dengan sapunya.


Afsoon menghampiriku bersama dengan arham sambil tersenyum. Aku bangkit dari tempat duduk ku.


“tugasku sudah selesai tuan arham. Sudah saatnya aku pergi” kata afsoon pada arham.


“baik, terimakasih sudah membantuku membawa dia ke istana” arham membalas sambil tersenyum dan melayangkan genggaman tangannya ke arah bahu afsoon.


“mereka kalo ngobrol dengan sesama formal banget sih” kataku dalam hati.


“okee kayla sampai jumpa lagi” kata afsoon sambil melambaikan tangannya.


“ya, makasih” kata ku hanya melempar senyum tipis.


Afsoon mulai pergi meninggalkan kami berdua. Aku dan arham terlihat canggung satu sama lain. Aku duduk kembali dan arham hanya menatap ke arah lain sambil mengusap belakang lehernya.


“puffttttt...” aku menghembuskan nafas dalam-dalam.


Arham mulai menatapku.


“gak usah canggung, kemaren-kemaren juga biasa aja” kataku menyindir.


“ada banyak hal yang mau aku tau dari tempat ini, dari mana asalku dan apa yang terjadi sebelumnya” kataku sambil menatap ke arah sungai “jujur aku kaya ada di dalem mimpi, aku kehilangan ingatanku, tapi anehnya aku percaya sama orang asing kaya kamu” sambungku.


Arham duduk di sebelahku sambil menatapku.


“sulit untuk jelasin satu-persatu dari awal, tapi yang jelas aku gak tau proses itu bisa terjadi begitu aja kay. Aku bener-bener nemuin kamu tergeletak pingsang di tengah padang rumput dimana pada waktu itu juga, aku lagi mencari adik ku yang hilang”


Arham menyelonjorkan punggunya ke badan kursi, tangannya mulai menyatu membantuk genggaman. Sedang matanya menatap ke arah sungai.


“ini keadaan yang lucu aku kehilangan adik ku yang ga mungkin kembali, dan tiba-tiba aku mendapatkan kamu” sambung arham.


Aku menatap arham seraya menggigit ujung bibirku. Aku merasa bersalah telah menanyakan masalahku pada arham.


“maaf soal itu” kataku pelan.


“aku cuma bingung dengan hidupku” air mataku menetes pelan.


Arham tersenyum seraya menggenggam tangan kanan ku.


“adik ku seumuran kamu dia perempuan. Tingginya, ukuran tubuhnya, warna kulitnya ,mata dan bibirnya, bahkan cara bicaranya sama seperti kamu. Yang membedakan adalah mungkin kalian dari dunia yang berbeda”


Aku diam “dunia yang berbeda?” kataku dalam hati.

__ADS_1


“dia hilang sudah sejak lima hari sebelum aku nemuin kamu. dan setelah itu ada warga berdine datang ke istana, kasih kabar kalo dia lihat adik ku di hutan nalowale”


“hah..” arham tertawa kecil.


“tapi aku ga nemuin dia. waktu seolah ngasih tau, supaya kami berhenti nyari. Seluruh hutan sudah kami lihat”


Air mata arham terjatuh membasahi genggaman tangan kami. “tapi ga ada” sambungnya.


Tangisanku semakin menjadi, genggaman tanganku ku eratkan.


“pasti dia bahagia, pasti dia bangga punya seorang kakak seperti kamu” kataku sambil menatap arham.


“gak kay, kamu salah”


“maksud kamu?” tanyaku.


“aku ini kakak yang bodoh, kakak yang ga bisa jaga adiknya sendiri” arham menundukan kepalanya. Tangannya masih menggenggam tanganku.


“kalo aja waktu itu dia gak pernah aku izinin untuk ikut berburu, ga akan jadi kegini”


“arham...” kataku lirih


“semua yang terjadi bukan kehendak kita, begitu juga dengan kehilangan adik mu, semuanya gak sepenuhnya salah kamu” sambungku.


“aku percaya suatu saat kamu pasti nemuin adik mu. Dia gak hilang, dia pasti balik lagi. Aku yakin tuhan pasti lindungin dia, ya kan?” aku menatapnya sambil tersenyum.


Arham pun menatapku, menganggukan kepalanya dan tersenyum seraya menyatukan tangan kanannya untuk menggapai genggaman kami.


"maaf aku terlalu fokus cerita tentang adik ku sampe aku lupa kamu juga sedang dalam masalah" kata arham.


"ahhh.. kalo gak gitu aku gak akan tau kan. toh aku juga gak inget apa-apa. jadi aku harus gimana pun juga aku bingung" kataku sambil tertawa kecil.


"kay.." panggil arham pelan.


"hemm ya?" aku menyaut.


"di istana ada orang yang bisa nanganin masalah-masalah seperti kamu gini. mungkin aja bisa"


"maksudnya kamu mau bawa aku ke dukun?"


"dia bukan dukun kay" guman arham.


"dia semacam dokter yang bisa.."


"psikolog" kataku memotong pembicaraan arham.

__ADS_1


"psikolog? sebentar?"


"itu semacam dokter yang nanganin kondisi dengan masalah kesehatan mental orang gitu ham" kataku.


"tapi ini tu beda kay" arham tetap ngotot.


"jadi semacam apa?" kataku.


"nanti kita langsung ketemu orangnya aja" balas arham.


Suasanan mulai hening, hanya terdengar suara-suara burung, gemercik air di sungai dan semilir angin yang berhembus.


aku dan arham tak saling bicara lagi, namun genggaman tangan kami belum terlepas juga.


"kadang aku merasa gak percaya sama hidupku sendiri. aku ngerasa aku sendirian, ga ada yang percaya sama aku. aku ngerasa banyak orang yang gak adil sama hidupku" aku memulai pembicaraan lagi.


Pelayan-pelayan itu tampak memperhatikan kami yang sedang duduk berdua di kursi panjang bewarna emas dekat pohon yang sangat rimbun. sesekali mereka saling berbisik dengan pelayan lainnya.


"dan tiba-tiba sekarang aku ketemu kamu yang aku pikir orang biasa. tapi justru kamu orang yang gak pernah aku duga-duga, kamu yang ketika ketemu aku langsung yakin dan bawa aku ketempat aman, kamu yang bahkan berusaha memastikan aku gak kenapa-kenapa, dan ngasih banyak hal ketika aku perlu. padahal kamu kan orang tersohor bisa aja kamu nyuruh anak buah kamu buat nganter aku kemana gitu, tapi kamu beda. aku ngerasa aneh banget hahaha" sambung ku sambil tertawa.


"Hidup penuh kejutan" lanjut arham melengkapi.


Aku hanya tersenyum begitu juga arham. kami saling menyenderkan bahu di kursi dan menatap langit yang hampir gelap menunjukan warna-warna cantiknya.


malam ini aku akan tinggal sebentar di istana sampai nanti ada keputusan kemana kah aku akan pergi. entah itu akan berlangsung lama atau tidak.


Sejujurnya aku merasa canggung ketika malam ini harus duduk bersandingan dengan raja dan arham untuk makan malam. begitu pun dengan istrinya, aku seperti orang asing. tapi bukankah aku memang orang asing.


**


Semua pelayan sibuk menata meja makan. ada banyak jenis makanan yang dihidangkan dari mulai makanan berat sampai buah-buah segar telah di siapkan.


raja dan ratu telah berada di meja makan beserta seorang pria yang tak ku kenal.


arham menuntunku menuju meja makan. aku berjalan agak pelan, sejujurnya aku takut ada kesalahan pada diriku.


saat sampai di dekat meja makan arham mulai memperkenalkan diriku.


"ayah, ibu. ini kayla" kata arham kepada kedua orang tuanya.


raja,ratu dan pria itu menoleh ke arah kami berdua. ratu terlihat kaget dan meletakan tangannya di dada. matanya mulai berkaca.


Raja hanya terdiam, begitu juga dengan pria tersebut. aku sedikit mundur dan gugup, sesekali menatap kearah mata-mata itu. namun arham menahanku, tangannya menggenggam tanganku.


***

__ADS_1


__ADS_2