
Rintik hujan membasahi bumi. Dedaunan,rerumputan,pohon dan kelopak-kelopak bunga bertumbuh segar. Tepat jam 5 pagi aku terbangun dari tidur ku dan mulai mandi dan membersikan diri.
Setelah selesai aku melanjutkan membuat sarapan dan teh hangat. Jam mulai menunjukan pukul 5.40, aku sedikit menghirup teh ku dan memakan beberapa kue yang telah ku buat. Aku berjalan ke ruang tamu dan membuka
sedikit tirai bewarna putih dengan corak daun bewarna hijau, melihat ke luar yang masih di selimuti sedikit kabut.
“Arham belum juga menampakan dirinya” kataku dalam hati, aku berbalik seraya menutup tirai. belum sempat beranjak, pintu di sampingterdengar ada yang mengetuk. tanganku mencoba membukanya.
Arham menutupi wajahnya dengan se ikat bunga yang ia pegang.
“tadaaa!!” sambil menyingkirkan bunga tersebut
“apasih?” kataku pelan dirinya yang masih berdiri di pintu memberikan bunga yang ia genggam itu pada ku.
“semoga dengan ini kamu memaafkan keterlambatanku” katanya
“oh..? benarkah?” aku memainkan nya seraya mengambil bunga dari tanganya
“kamu lebih dari terlambat, bunga ini tidak cukup sebagai gantinya” kata ku judes
“ini pas jam 6.00 pagi aku tidak terlalu terlambat” kata arham
“hmm..“ gumam ku sambil tertawa kecil sambil beranjak ke dalam
“tuanputri apakah ini cara mu memperlakukan putra mahkota kerajaan?” arham menaikan
alisnya sebelah. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya
“bukan kah kamu selalu masuk tanpa meminta izin pada ku?” decak ku
Arham hanya tersenyum kecil dan melangkah kan kakinya menuju ke dalam rumah.
“aku akan bersiap dulu” kata ku sambil memasukan bunga yang arham bawa ke dalam vas kristal. Arham hanya mengangguk dengan menatapku dan kemudian aku masuk ke dalam kamar ku.
***
Kami berada di halaman rumah ku. arham menatap ku dari ujung kaki sampai ujung kepala ku, memperhatikan satu demi satu apa yang aku kenakan.
“kenapa?” kata ku
“tidak apa-apa?”
“kamu cantik dengan riasan peach” lanjutnya. Aku hanya mengangguk malu,kemudian tangannya memegang tanganku dan berjalan.
__ADS_1
“apa kita berjalan?”
“tidak, kuda ku ada disana” ia menunjuk ke arah kuda yang berada di dekat pohon yang tak jauh dari rumah kayla.
“oke” Arham melihat ku heran, namun aku terus berjalan tanpa menghiraukan kebingunganarham.
***
Aku melihat sekeliling kota yang nampak masih menyiapkan segala keperluan festival, pemilik toko mulai menghias toko nya secantik mungkin.
“festival nya kapan di mulai pangeran?” kata ku tepat di telinga arham, kepalanya ia jauh kan dari bibir ku.
“ 2 jam lagi, selagi menunggu bagaimana kalau kita ke danau?”
“ada sesuatu yang ingin ku tunjukan untuk mu” lanjutnya lagi. Aku hanya mengangguk pelan.
Arham memacu kudanya lagi dengan kencang, aku sudah terbiasa dengan hal ini. Aku memegang pinggang nya dengan erat. Ku sandarkan pipi kanan ku ke arah punggung nya yang bidang, senyum ku melabai seakan memperlihatkan betapa bahagia nya aku kali ini bersamanya.
***
Arham yang telah menuruni kudanya menjulurkan tangan kanan nya pada ku yang masih berada di atas kuda. Aku menggapainya perlahan, tangannya yang lain menahan badan ku yang kecil. Saat telah berada di bawah ia menggenggam tangannya lembut memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.
Aku berjalan mengikuti langkahnya, terlihat danau dengan airnya yang hijau kebiruan menyapa kami berdua, beberapa burung yang terbang di atasnya pun seolah mengerti kedatangan kami. Bunga-bunga berbagai warna mengayun-ayunkan tangkainya.
Entah kenapa hati ku merasa bahaga kali ini, tidak ada ke khawatiran dan ketakutan ketika berada di sampingnya. Arham menghentikan langkahnya tepat di bibir danau yang masih d tumbuhi rerumputan bewarna hijau tampak segar.
ku.
Jantungku mulai berdegup kencang, apakah aku mulai menyukai mu arham. Apakah benar ini perasaan suka? Aku masih ragu untuk itu. Aku memalingkan pandangan ku ke arah lain, aku memperhatikan danau dengan air nya yang tenang.
Arham melepaskan genggaman tangan nya dan menyelipkan kedua tangan nya ke saku celana. Aku menoleh lagi ke arahnya, tampak kedua kelopak matanya terpejam wajahnya sedikit terangkat seolah menikmati udara pag di tempat seindah ini.
Tak ada sepatah kata pun yang aku maupun arham keluarkan kecuali saling tersenyum sambil melihat suasana indah ini Sampai kami kembali ke kota untuk festival.
***
Arham selalu membantu ku turun dari kudanya, dan aku sangat menyukai cara yang ia lakukan padaku.
“apa yang perlu kita lakukan pertama” katanya
Aku hanya menggeleng, diri ku terlalu malu untuk bersuara
__ADS_1
“baiklah aku akan mengajak mu makan”
Aku menoleh kaget “hah?”
“aku tau pasti kamu lapar”
“ayolah” rangkulnya seraya berjalan, badanku tertarik ke pelukannya dan mengikuti langkahnya.
“kamu sangat menyukai vla susu kan?” kata arham, aku hanya mengangguk. Entahlah sedari tadi aku merasa gugup tak seperti biasanya.
Waktu berjalan begitu cepat, banyak hal yang kami lakukan saat festival berlangsung. Arham juga mengajak ku untuk berdansa bersama saat alunan musik di tengah kota di mainkan, ia mengajak ku bermain bersama anak-anak yang sedang sibuk dengan cat warnanya, melihat banyak hal yang tidak pernah ku lihat sebelumnya di dunia ku.
Waktu menunjukan pukul 19.00 ini saat yang paling di tunggu warga berdine saat menjelang tengah malam, mereka menuju danau yang tidak jauh dari kota dan tidak jauh dari istana dimana danau tersebuh memiliki jembatan penghubung antara istana dan kota. Namun ada hal yang berbeda mereka membawa lampion yang bewarna-warni.
Beberapa orang lagi menaiki perahunya dengan lampion di tangannya bersama beberapa kerabat bahkan pasangannya.
Aku hanya terdiam di samping arham yang masih sibuk memilih lampion yang ingin ia beli untuk di lambung kan ke langit.
“kamu menyukai warna yang mana kay?” kata arham seraya menunjukan beberapa lampion yang terpajang rapi di toko
“pink?” lanjutnya
Aku hanya tertawa kecil
“baiklah” tangannya mengelus ubun-ubun ku
Setelah selesai bertransaksi, arham mengajak ku ke tepi danau. Terlihat satu perahu yang tidak terlalu besar juga tak terlalu kecil telah terparkir. Arham menaiki nya dan kemudian ia membantuku untuk naik pula ke dalam perahu tersebut.
“tapi aku ga bisa mendayungnya” kata ku sambil meliat dayung yang berada di samping perahu
“lalu apa gunanya aku?” kata arham sambil mulai mendayung perahunya menuju ke tengah danau menyusul warga lainnya
Kembang api telah di luncurkan pertanda lampion akan mulai di lambung kan. Perahu kami telah berhenti tepat di tengah danau berdampingan dengan perahu lainnya.
“siap?” arham menatap ku
Aku hanya mengangguk tersenyum seraya mempersiapkan lampion untuk di terbangkan ke langit.
“pejamkan mata mu” kata arham. Dan aku menuruti nya, ku pejamkan mata seraya menunggu arham menyuara kan aba-aba
“terbangkan!!” serunya. Aku langsung menerbangkannya sambil tersenyum.
“jangan membuka matamu sebelum ada arahan dari ku” lanjut arham
__ADS_1
“hmm..” kata ku sambil mengangguk
Arham mendekati ku, sangat begitu dekat. Aku merasakan nafasnya,aku merasa kan wajahnya tepat di depan wajahku. Aku hanya terdiam dan bingung. Lalu perlahan bibir nya hinggap tepat di bibirku, aku kaget badan ku sedikit goyah. Tangannya meraih kedua pundak ku, mata ku masih ku pejamkan. Setelah beberapa detik berlalu ia melepaskan kecupan nya dan melanjutkan dengan memeluk ku yang tidak berkata sepatah kata pun dan masih terpejam.