la la lost you

la la lost you
The land of Berdine


__ADS_3

Sudah dua hari arham tak kembali ke rumah. Selama itu pun aku kebingungan dimana dia saat ini dan dengan diriku sendiri. Aku masih belum bisa mengingat apapun. Tempat ini sangat sepi “ini tempat macam apa? Sepi kaya ga ada tanda-tanda kehidupan” aku bicara dengan diriku sendiri sambil mondar-mandir di kamar. “atau jangan-jangan aku...?” sambil menunjuk diri ku sendiri dan menghentikan langkahku. “ga mungkin kan dia jebak aku disini, aku ga tau sama sekali ini dimana. Bahkan aku ga tau aku siapa dan harus kemana” aku duduk di kasur dan menundukan kepala sambil mengusap wajah dengan kedua tanganku.


“aku mohon kembalilah arham, aku ga tau aku dimana. Aku pengen balik ke tempat asalku. Aku mohon” air mata ku menetes dengan perlahan.


Hujan mulai turun perlahan jatuh kebumi, suara jangkrik saling bersautan. Sungguh aku ketakutan selama dua hari dengan keadaan ku yang tak mengingat apapun di tambah aku pun tak mengenal dimana aku berada. Malam sepertinya akan semakin larut. Aku pun terbaring di kasur dan mencoba perlahan menutup mata. Berusaha menenangkan diri sendiri lagi.


Jekrekkkkk... pintu terbuka menyadarkan ku yang berusaha untuk tertidur. “Apakah itu arham?” tanyaku dalam hati. Aku bergegas terbangun dan keluar dari kamar. Benar saja arham kembali dengan panah dan anak panah di punggungnya. Membawa beberapa barang yang aku tak tahu apa isinya. Mata kami saling menatap, dia bingung menatapku dalam-dalam. Tangisku pecah dan berlari memeluknya yang masih berdiri terdiam di depan pintu karena melihat keanehanku. “aku mohon jangan tinggalin aku lama-lama dong!” aku tak peduli aku memeluknya dengan erat seakan tak memperbolehkannya pergi lagi. Jujur saja aku sangat takut karena aku tak tau harus bagaimana dan kemana. Arham pun balas memeluku dan berbisik pelan “aku tau kamu cewek pemberani dan aku percaya kamu tetep disini”. Aku pun sontak melepaskan pelukannya .


“gak lucu tau ninggalin anak orang sendirian selama dua hari di rumah yang jauh dari rumah-rumah warga, nanti kalo ada apa-apa dengan aku gimana? Aku heran deh kenapa rumah ini jauh dari perkampungan atau apalah. Kamu sengaja...”


Arham menutup mulutku dengan tangannya yang lembut. “kamu bisa masak kan? Tolong masakin masakan yang enak. Aku laper oke!” sambil menyugukan kantong yang berisi sayuran dan bahan makanan lain. Aku terdiam sambil menggerutu kesal.


*


Arham dengan apelnya yang di kunyah memperhatikan ku yang sedang sibuk mengiris-iris wortel. Aku bahkan tak ingat cara memasak masakan yang enak seperti apa. Sesekali aku bertanya padanya apa yang harus kumasukan ke dalam masakan yang ku masak. Dia jago juga untuk urusan dapur.


“besok rencananya aku ke kota ada penyambutan dari kerajaan, mau ikut?” tanya nya.


Aku membalikan badanku ke arahnya yang masih memegang seledri di tanganku. Aku pun mengangguk,memberi tanda bahwa aku setuju dengan ajakannya.


“ehmm... tapi besok kayanya gak dengan aku deh”


“trus?” kataku khawatir. Apakah aku akan di telantarkannya lagi.


“besok ada temen yang anter kamu ke kota”


“kenapa harus dengan temen kamu? Dengan kamu emang ga bisa?”


“setelah ini aku harus pergi lagi”

__ADS_1


Tanganku refleks menjatuhkan seledri dan bingung. “ mau pergi lagi?” tanyaku dengan wajah memelas. Arham mengangguk sambil melahap apelnya yang masih satu gigitn lagi. Tubuhku lemas dan pikiranku kembali tak beraturan.


*


Setelah selesai makan bersama, arham bergegas untuk bersiap-siap pergi lagi. Aku memperhatikannya sambil membereskan piring-piring dimeja. Arham menatapku sambil membereskan panahannya, mataku langsung menatap ke arah lain. Arham menghampiriku menatap dan tersenyum.


“tenang aja, aku udah buat tempat ini aman. aku juga udah pesen sama yang ada di luaran untuk ga ganggu kamu. Soalnya kamu kan galak haha” arham tertawa seperti mengejekku.


Tanganku memukul tubuh kekarnya. Arham berusaha mengelak dan melindungi dengan tangannya. “tenang aja besok temenku dateng buat jemput kamu. Jam 6 pagi sudah siap. Inget ! jangan dandan kelamaan. Dia gak suka nunggu. Hmm.. satu lagi dia agak cuek” arham berbisik di telingaku.


“udah sana cepetlah pergi! Aku mau tidur” aku kesal berusaha menahan tangis. Arham tersenyum dan bergegas pergi sambil mengacak-acak rambutku. “daaah.. “ lambaian tangan arham membuatku semakin ingin menangis. Arham keluar dan menunggangi kuda “arham naek kuda? Ini jaman apa sih? Aku lagi gak mimpi kan? Aku pikir arham pulang tadi naik kendaraan mobil atau motor” kataku bicara sendiri. Arham semakin menjauh dan menghilang dari pandanganku. Aku menutup pintu dan kembali ke kamar sambil kebingungan. Sebenarnya aku terjebak di dunia apa?. Bahkan ditempat ini tidak ada tv maupun telepon rumah, Aku heran. Dalam keheningan malam lambat laun mataku mulai terpejam tidur dengan alunan rintik hujan dan suara-sura jangrik yang saling bersautan.


*


Rintik hujan menyapa kembali pagi ini. Aku sudah membereskan rumah dan bersiap-siap untuk pergi ke kota. Jam menunjukan pukul 05.55, aku duduk di dapur sambil memegang secangkir teh hangat sesekali memandang ke arah luar lewat jendela. Memastikan teman arham sudah sampai atau belum. “kira-kira temen arham cowok atau cewek ya?” aku bicara dengan diriku sendiri. Aku melangkah ke menuju cermin dekat guci bewarna coklat tua dengan payung-payung di dalamnya. Celana hitam yang longgar, kemeja krim dan rambut panjang ku yang terurai aku mencoba merapikannya lagi.


Tokk.. tokk..


“pegangan yang kuat hmm.. siapa namamu?” ia bertanya.


“kayla”


“oke kayla, kudaku sangat cepat jadi harus pegangan yang kuat”


“oh.. ok. Namamu?” tanyaku


“panggil aja aku afsoon” sambil menoleh dan tersenyum.


Aku mengangguk pelan.

__ADS_1


*


Suasana kota yang ramai dengan orang-orang yang antusias melihat raja yang akan mengunjungi dan memberi sambutan di kota. Afsoon membawa ku berkeliling kota sambil berjalan. Aku melihat pedagang-pedagang yang berjualan makanan, mainan, hingga hasil kerajinan. Ini semacam pameran bulanan yang diadakan 2 kali dalam satu bulan di kota. Biasanya raja akan datang untuk mengunjungi dagangan-dagangan mereka. Masyarakat disini menggunakan pakaian khas rakyat kerajaan. Aku benar-benar merasa bingung apakah aku memang benar-benar berasal dari abad ini?.


Aku duduk di bawah pohon di kursi bewarna coklat tua dengan meja yang berisi makanan dan minuman yang telah di beli oleh afsoon. Ia menyuruhku untuk makan terlebih dahulu sebelum nanti akan bertemu raja dan pangeran yang akan mengunjungi kota.


“hmm.. afsoon ini pusat kota?” kataku.


“iya, disinilah tempat banyak masyarakat berdine mencari uang”


“hah.. apa maksudmu? Berdine?” aku bingung.


“iya kita sekarang berada di negeri berdine” kata afsoon sambil melahap makanannya.


“mungkin kamu akan bingung karena melihat sesuatu yang baru, tempat ini memang mengusung abad-abad pertengahan” sambungnya. Aku masih bingung, aku menghentikan kunyahanku dan meletakan makananku kembali di piring.


“apa aku kejebak di mesin waktu?” kataku pelan. Afsoon menatapku gugup.


“haha.. ingatanmu kan hilang. Mana mungkin. Aku yakin kamu pasti salah satu masyarakat berdine. Kamu di temuin arham di hutan kan?” afsoon meyakinkan.


Aku mengangguk.


“lambat laun kamu akan tau sendiri kay” afsoon tersenyum padaku.


Suara terompet berusaha menyelesaikan perbincanganku dengan afsoon. Terlihat orang-orang telah berkumpul mengerubungi sesuatu disana.


“itu raja dan pangeran sudah datang, ayoo kay” ajak afsoon.


Aku dan afsoon berlari kecil menembus kerumunan orang yang saling serobot untuk mendapatkan ruang paling depan. Aku melihat seseorang dengan umur kisaran 50 tahunan dengan pakaian khas kerajaan yang berdiri gagah di atas kereta kuda dengan 2 pengawalnya. Dia tampak sangat tampan dan ramah dengan masyarakat. Menyapa dengan senyuman kecil. Namun aku tak bertemu dengan pangeran yang katanya akan mendampingi raja disini. Dan akupun tak melihat arham yang akan menemuiku dikota. “afsoon, dimana arham?” tanyaku.

__ADS_1


Afsoon tampaknya sangat bersemangat menyambut raja sampai tak mendengarku. Baiklah akupun ikut bertepuk tangan di keramaian dan kerumunan orang-orang. “kay.. sebentar lagi kamu akan melihat ini. Dia idola seluruh wanita di berdine” kata afsoon bersemangat sambil bersorak tepuk tangan. Aku hanya mengangguk-angguk. Sosok itu muncul dan tersenyum ke arah orang-orang yang menyapanya. Aku berusaha maju untuk melihatnya lebih jelas. Ia semakin mendekat dan semakin jelas, mata kami bertemu senyumnya masih tak lepas. Aku seperti mengenal senyuman ini, aku seperti mengenal matanya, aku seperti mengenal semua yang ada padanya, hanya saja Gaya rambutmu berubah. Aku terdiam membeku, bibirku tak saling menempel dan Mataku tak mengedip. Aku berusaha memastikan itu bukan dirimu, hingga aku tersadar senyumu menghilang saat aku benar-benar terdiam dan menatapmu dalam-dalam.


*


__ADS_2