
Hari ini hari kepulangan Prilly dan yang lain ke Indonesia. Prilly pagi-pagi sudah keluar bersama Raka dan sarapan bersama. Sewaktu Ali turun bersama Samantha, Ali melihat itu langsung menghampiri Prilly.
“Prill, kamu sama siapa ini?” tanya Ali.
Prilly hanya melihat Ali sebentar lalu kembali ngobrol dengan Raka.
“Prill, aku lagi nanya kamu, bisa di jawab gak,” ucap Ali.
“Siapa Biee? Kamu kenal? Terus Prill siapa?” tanya Raka.
“Kak Ali, aku sama siapa gak penting, lagian urusin Samantha seperti kemarin-kemarin saja. Anggep aku gak ada dan aku harap mulai sekarang juga. Ya sudah yuk Raka kita jalan di pantai, di sini moodku jadi hilang,” ucap Prilly berdiri.
“Prill bisa gak kamu gak kayak gini! Aku tau waktu itu aku udah jahat dan nyakitin kamu tapi aku betul-betul minta maaf Prill,” ucap Ali menahan tangan Prilly.
“Kak Ali, aku sudah bilang jangan panggil aku Prilly tapi Biee, aku sudah buang jauh-jauh panggilan itu dan satu lagi aku gak peduli Kak Ali mau minta maaf atau nyesel. Setelah pulang ke Indonesia kita sudah gak saling kenal,” ucap Prilly berlalu pergi meninggalkan Ali yang terdiam.
“Lo gapapa?” tanya Dimas menghampiri Ali
“Gw gak ngerti lagi mesti gimana ke Prilly. Dia sudah berubah, gw coba ngomong baik-baik tapi dianya nyolot gitu. Padahal gw sudah bersabar banget. Lo tau gw paling gak bisa di gituin,” ucap Ali.
“Li itu semua karna lo. Jadi lo gak bisa nyalahin Prilly. Sudah gw bilang hati wanita sekali tersakiti sulit untuk di sembuhkan dan asal lo tau Li, Prilly berubah begitu juga karna lo yang sudah bikin dia sakit hati,” ucap Dimas.
“Gw tau itu makanya gw nyesel banget. Kenapa gw bisa sebodoh itu perlakuin Prilly kemarin. Mestinya gw gak nyuekin dan bentak dia. Terus segampang itu bilang putus di depan kalian lagi Arghh!!” teriak Ali mengacak-acak rambutnya.
“Sabar Li, kita bakal bantuin lo buat balikin Prilly kayak dulu,” ucap Dimas.
“Iya Li, gw juga gak tau kenapa gak pewe lihat Prilly yang sekarang, walau dia berubah makin sexy tapi gw aneh saja lihatnya,” ucap Radit.
“Lo tenang saja Bro. Kita akan bantu sampai Prilly kayak dulu,” ucap Steve.
“Yoiii kita akan selalu bantu lo,” ucap Mich.
“Gw gak akan mau bantu Kak Ali,” ucap Clara.
“Ra, kamu apa-apaan sih?” tanya Dimas.
“Kak Ali tau gak kalau perbuatan Kakak sudah kelewatan sama Prilly? Sekarang Kak Ali mau balikan sama Prilly supaya bisa nyakitin dia lagi? Jangan harap Kak,” ucap Clara.
“Gw tau lo sebagai sahabat Prilly marah sama sikap gw tapi gw mohon kasih gw kesempatan. Orang selalu berbuat kesalahan dan dari kesalahan itu mereka belajar. Gw gak bisa kehilangan Prilly, gw sayang sama dia,” ucap Ali.
“Kak Ali jahat sama Prilly, Kak Ali sudah ngerubah Prilly. Balikin Prilly kayak dulu lagi. Gw mohon… Gw gak kuat lihat Prilly yang kayak gini,” ucap Clara menangis dan memukul lengan Ali.
“Gw janji bakal balikin Prilly lagi kayak dulu dan gw gak akan menyerah,” ucap Ali.
“Ya sudah sekarang mending kita jauhin Raka dari Prilly dulu. masalahnya gw lihat dia ada maksud gak baik sama Prilly,” ucap
Radit.
“Lo tau dari mana Dit?” tanya Samantha.
“Come on Samantha masa lo gak tau gw? Sesama cowok brengsek itu bisa mengenali,” ucap Radit.
“Akhirnya lo ngaku juga kalau lo brengsek Dit,” ucap Dimas.
“Sial lo! Minta gw hajar nih! Gw brengseknya masih tahap normal,” ucap Radit.
“Udah… Udah… Mending kita sarapan dan nyusun rencana,” ucap Mich.
Prilly yang sedang berjalan di pantai hanya diam. Sebetulnya Prilly sedih sudah menolak Ali.
Namun dia harus berteguh pada pendiriannya, harus melupakan Ali walau dia masih sayang Ali. Betul kata orang rasa benci kalah dengan rasa cinta.
“Hey Biee kenapa bengong? Mikirin cowok tadi? Dia pacar lo?” tanya Raka.
“Bukan urusan kamu dia siapa. Oh ya Raka aku mau minta sesuatu,” ucap Prilly.
“Apaan Biee? Apa saja yang lo mau gw pasti kasih. Apa sih yang gak buat cewek secantik dan sexy kayak lo,” ucap Raka mencoel dagu Prilly.
“Gak usah pegang-pegang! Aku mau minta uang sama kamu,” ucap Prilly.
Prilly mencengkram kedua tangannya dengan sedih.
“Sebetulnya aku gak mau minta duit Raka tapi kalau gak gitu nanti aku mau tinggal di mana? Aku gak bisa cerita ke Bunda kalau aku udah gak tinggal di rumah Clara. Setelah Ayah kirim uang pasti Prilly akan ganti uang Raka,” ucap Prilly dalam hati
“Uang? Buat apa Biee?” tanya Raka.
“Buat apanya gak penting. Mau kasih gak?” tanya Prilly.
Prilly mencoba untuk tenang.
“Iya, lo butuh berapa Sayang?” tanya Raka merangkul pundak Prilly.
“Udah di bilang gak usah pegang-pegang! Aku butuh 500 ribu,” ucap Prilly melepaskan tangan Raka.
Raka mengeluarkan uang yang di minta Prilly.
“Ok ini uangnya, nanti pas gw sudah balik ke Jakarta kita jalan ya Biee,” ucap Raka.
“Terserah kamu, nanti kabarin saja mau ketemu di mana. Balik yuk aku sudah mau balik jakarta,” ucap Prilly.
“Ok, ayuk Biee. Nanti kabarin kalau sudah sampai,” ucap Raka merangkul Prilly lagi.
Prilly kembali menepis tangan Raka.
Raka melihat Prilly dengan bingung.
“Nih cewek aneh banget, dia bikin gw jadi penasaran. Dari awal lihat dia, gw sudah tau ini cewek harus gw dapetin, gimana pun caranya. Tapi ternyata sulit juga, di pegang saja dia gak mau tapi ini tantangan buat gw,” ucap Raka dalam hati.
Raka memperhatikan Prilly yang berjalan di pantai sambil melihat ke arah laut.
”Lo tunggu saja Biee, lo bakal jadi milik gw dan nyerahin diri lo sepenuhnya. Lo boleh minta apapun dan bersikap dingin tapi lo gak akan lolos dari gw. Setiap ngelihat lo, gw selalu bergairah. Siap-siap saja Biee,” ucap Raka dalam hati.
Setelah Prilly sampai di hotel, Ali serta yang lain sudah menunggu dirinya dan sudah mengeluarkan koper Prilly.
“Ke mana saja kamu? Gak tau apa kalau kita mau pulang sekarang,” ucap Ali.
“Bukan urusan Kak Ali, lagian tinggal jalan. Raka, aku balik dulu nanti aku kontak kamu dan makasih uangnya,” ucap Prilly.
“Sama-sama Biee,” ucap Raka mencium tangan Prilly.
“Bisa gak usah pegang-pegang dan cium tangan dia? Kita sudah telat,” ucap Ali menarik tangan Prilly dari Raka dan membawa Prilly pergi.
“Ikh! Kak Ali apaan sih tarik-tarik aku? Lepasin, sakit! Aku bisa jalan sendiri! Aku juga lagi ngomong sama Raka,” ucap Prilly mencoba melepas tangan Ali.
“Udah, gak usah bawel! Jalan saja,” ucap Ali menarik tangan Prilly dengan kenceng.
Prilly kesal dan menggigit tangan Ali. Ali sontak melepaskan tangan Prilly.
“Prill apa-apaan kamu,” ucap Ali kesal.
“Biarin, siapa suruh gak mau lepasin,” ucap Prilly berjalan pergi.
Ali merasa kesal dan menggendong Prilly di pundaknya lalu Ali membawa Prilly ke pesawat.
“Kak Ali lepasin, aku bisa jalan sendiri,” teriak Prilly.
__ADS_1
“Berisik kamu, diam sekarang atau mau aku cium mulut kamu supaya diam,” ancam Ali.
“Aku sudah bukan pacar Kak Ali! Jadi Kak Ali gak akan bisa cium aku lagi,” ucap Prilly.
“Coba saja Prill, kalau kamu ngomong lagi aku akan langsung
bungkam mulut kamu! Kamu tau aku gak pernah main-main,” ucap Ali penuh kemarahan.
Prilly yang mendengar ancaman Ali langsung terdiam. Sesampainya di pesawat, Prilly di dudukkan di sebelah Ali. Sewaktu Prilly mau pindah tempat duduk Ali langsung melarangnya.
“Apaan sih Kak? Aku bilang aku mau pindah! Gak usah ngatur aku,” ucap Prilly mencoba berdiri.
Namun Ali mendorong tubuh Prilly untuk duduk lagi dan Ali mendekatkan wajahnya ke Prilly.
Prilly menahan napasnya melihat wajah Ali yang sangat dekat. Prilly tidak dapat kabur kemanapun.
“Ini pesawat aku jadi peraturan aku. Kalau kamu mau pindah silakan kamu turun di pulau selanjutnya dan aku gak tau itu di mana,” ucap Ali semakin mendekatkan wajahnya sehingga membuat Prilly memundurkan wajahnya.
“Nyebelin banget. Ya sudah tapi gak usah deket-deket gini, bisa?” omel Prilly.
“Emangnya kenapa kalau aku deket-deket gini? Kamu pikir aku pengen ngapain kamu? Cium kamu?” tanya Ali lalu menghembuskan napasnya di telinga Prilly.
“Gak usah kurang ajar,” ucap Prilly mendorong Ali.
“Ya sudah makanya duduk yang anteng,” ucap Ali kembali duduk di kursinya.
Prilly cemberut dan menutupi telinganya yang di tiup Ali.
Perjalanan sudah berjalan kurang lebih setengah jam dan Prillypun tertidur di pundak Ali tanpa sadar. Ali membelai pelan rambut Prilly saat melihat Prilly tertidur.
“Prill maafin aku sudah nyakitin kamu, aku harap kamu secepatnya balik jadi Prilly kesayanganku,” ucap Ali
Ali mencium puncak kepala Prilly.
“Asal kamu tau Prill hati aku sakit waktu kamu cuekin dan gak anggep aku waktu di restoran. Aku baru tau gimana perasaan kamu waktu itu, aku nyesel,” ucap Ali.
Ali membelai pipi Prilly.
“Prill kalau aku lihat sikap kamu sama cowok tadi, aku harap kamu selalu tertidur supaya kamu tetep jadi Prilly yang polos dan baik hati,” ucap Ali dengan mata berair.
“Li tenang kita pasti bakal balikin Prilly kayak dulu,” ucap Dimas dari kursi belakang.
“Thankz Dim, lo selalu bantu gw,” ucap Ali.
“Sama-sama, lo sudah gw anggep saudara. Jadi gak mungkin gw mau lihat lo susah,” ucap Dimas menepuk pundak Ali.
Selama di pesawat Prilly hanya tidur. Sesampainya di bandara Ali sengaja tidak membangunkan Prilly. Ali membawa Prilly ke salah satu rumahnya untuk di tinggali Prilly. Ali membaringkan Prilly di kamar. Setelah itu Ali keluar untuk istirahat.
“Hoam… Enak banget tidur aku, loh ini di mana? Bukannya tadi aku di pesawat? Ini kamar siapa lagi? Ya ampun sudah jam segini! Mana aku mau cari kosan lagi,” ucap Prilly kaget.
Prilly langsung bangun dan pintu kamar terbuka.
“Kamu sudah bangun?” ucap Ali.
Ali menaruh makanan dan minuman untuk Prilly di nakas.
“Kenapa Kak Ali ada di sini? Ini di mana? Bukannya kita di pesawat?” tanya Prilly.
“Kita sudah sampai dari sore tadi. Aku bawa kamu ke salah satu rumahku,” ucap Ali.
“Kenapa Kak Ali gak bangunin aku? Mana sudah malem, gimana mau cari kos-kosan,” ucap Prilly.
“Kamu gak usah cari, kamu bisa tinggal di sini,” ucap Ali.
“Gak! Aku gak mau! Aku sudah bilang setelah di Indonesia aku gak mau deket-deket Kak Ali dan kita enggak saling kenal. Aku mau pergi,” ucap Prilly beranjak dari kasur.
“Kak Ali minggir! Aku bukan Prilly yang dulu bisa Kak Ali perintah-perintah,” omel Prilly.
“Kamu mau ngebantah perkataanku,” ucap Ali mengunci kedua tangan Prilly di kasur.
“Kak Ali lepasin! Aku sudah bilang gak mau! Jangan buat aku makin ben..,” ucapan Prilly terhenti karena Ali sedang menciumi dirinya dengan kasar.
Prilly berusaha menolak namun percuma, tenaga Ali sangat kuat. Ali melepaskan ciumannya.
“Jangan buat aku bertindak lebih jauh Prill atau kamu akan nyesel. Satu lagi jangan harap kamu bisa pergi ninggalin aku karna percuma saja,” ucap Ali beranjak dari kasur dan berjalan keluar.
“Kenapa Kak Ali gak biarin aku pergi? aku benci Kak Ali!” teriak Prilly.
Prilly terpaksa tinggal di tempat Ali. Sudah 3 hari ke pulangan mereka ke Jakarta, Prilly masih bersikap seperti kemarin, kasar dan pemarah. Bahkan pakaian Prilly semakin sexy sehingga membuat Ali emosi karena semua pria di kampus melihat Prilly.
Bahkan Prilly mau di dekati oleh lelaki tersebut dan Prilly tidak segan-segan meminta mereka bayar makanan dan minumannya. Bahkan saat Prilly pulang terlihat belanjaan Prilly.
Ali dan yang lain semakin cemas dan mereka memutuskan bahwa Ali harus bersikap tegas dan menegur Prilly. Akhirnya Ali menghampiri Prilly yang sedang berada di kamar.
“Mau ke mana kamu?” tanya Ali.
“Bukan urusan Kak Ali,” ucap Prilly membetulkan lipstiknya.
“Cukup Prill! Kamu sudah kelewatan. Apa kamu mau dicap sebagai cewek nakal?” teriak Ali.
“Bukan urusan Kak Ali,” ucap Prilly beranjak pergi.
“Ganti baju kamu sekarang juga,” bentak Ali.
“Apaan sih Kak? Ngatur-ngatur aku gitu. Memang Kak Ali siapa?” teriak Prilly.
“Kamu mau ganti baju kamu atau aku yang gantiin,” ucap Ali mendekati Prilly.
“Kak Ali mau ngapain?” tanya Prilly mundur.
“Kamu pikir saja aku mau ngapain,” ucap Ali tersenyum sinis.
“Iya… Iya… Aku ganti baju,” ucap Prilly.
Prilly berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi.
“Prill kenapa kamu kayak gini? Aku belum tau mesti kayak gimana supaya kamu balik kayak dulu,” ucap Ali dalam hati.
“Kak Ali nyebelin banget! Aku kan ada janji sama Raka,” ucap Prilly.
Prilly mengganti bajunya dan membuang napas dengan berat.
“Sebetulnya berat jadi cewek matre dan berpakaian seksi gini, apalagi aku harus memarahi orang-orang dekatku tapi aku gak mau di anggap lemah dan gampang di permainkan lagi. Tapi kenapa Kak Ali masih suka perintah dan nyuruh aku tinggal di sini. Aku jadi makin gak bisa lupa sama dia apalagi perhatiaan Kak Ali sama aku bikin aku selalu luluh. Aku gak mau kayak gini, tapi kenapa hati sama otakku berkata lain,” ucap Prilly lirih.
Prilly menelpon Raka.
“Hallo Raka? Aku gak bisa jalan sama kamu hari ini. Aku ada urusan,” ucap Prilly.
“Gapapa prill. Lain kali saja kalo gitu,” ucap Raka.
“Ok,” ucap Prilly.
Prilly menutup telpon dan keluar kamar mandi. Prilly melihat Ali sedang duduk di kasur.
“Kak Ali ngapain masih di sini?” tanya Prilly.
__ADS_1
“Aku mau ajak kamu jalan, yang lain sudah nunggu di Dreamy,” ucap Ali berjalan pergi.
“Ikh! Kenapa tiba-tiba sikap Kak Ali semakin nyebelin,” ucap Prilly menyusul Ali.
Sepanjang perjalanan Ali hanya diam, begitu juga dengan Prilly.
Sesampainya Prilly di Dreamy, mereka langsung masuk ke ruangan latihan.
“Prill tumben dandanan dan pakaian lo gak pendek-pendek amat? Ini baru gw suka gaya lo. Kerenan gini,” ucap Radit.
“Iya Prill, eh! Biee, gw lebih suka lo yang gini,” ucap Clara.
“Gak usah rese dan mancing emosi aku deh,” ucap Prill duduk di sofa.
Ali duduk di samping Prilly.
“Biee lihat apa yang tadi gw beli, lucu banget tau,” ucap Mich.
“Apaan Kak Mich?” tanya Prilly melihat tangan Mich.
“Ini nih,” ucap Mich membuka tangannya.
“Wuoah!! Tikus!! Akh… Gak mau!!! Jauh-jauh,” ucap Prilly berdiri dan mundur.
Prilly hampir terjatuh karena tersandung kaki Ali, namun Ali menarik badan Prilly ke dirinya sampai Prilly terjatuh di pangkuan Ali dan mereka berpandang-pandangan.
“Hati-hati, hampir saja kepala kamu pecah kena meja,” ucap Ali.
“Biee, lo kenapa? Ini lucu tau, lihat deh,” ucap Mich menjejelkan tikus ke Prilly.
“Gak mau… Jauh-jauh sana. Itu tikus, aku benci tikus,” ucap Prilly menutup matanya di dada Ali tanpa sadar.
“Prill ini bukan tikus tapi hamster, lihat lucu, Clara saja berani,” ucap Mich sengaja makin mendekatkan hamster itu ke Prilly.
“Gak mau! Jauh-jauh sana, aku benci tikus,” teriak Prilly.
“Hayoloh Prill,” ucap Mich pura-pura menempelkan hamster itu ke leher Prilly.
“Gak mau! Kak Ali tolongin aku, aku takut,” ucap Prilly tanpa sadar.
“Sudah… Gak usah iseng atau nanti itu hamster gw satein,” ucap Ali mengedipkan sebelah matanya ke Mich.
Mich mengacungkan jempolnya ke Ali.
“Kenapa lo tabok? Jadi kabur hamsternya, eh! Ada di bawah kaki lo itu Prill,” ucap Mich sengaja menjatuhkan hamsternya di kaki Prilly.
“Akh!! Gak mau! Bunda,” ucap Prilly memeluk Ali dengan kencang dan menaikkan kedua kakinya.
“Udah Prill, dianya sudah jatuh dari kaki kamu, tenang saja,” ucap Ali.
“Argh… Buang tikusnya dari sini, gimana aku turunnya nanti,” rengek Prilly manja.
“Ya sudah nanti aku gendong kamu keluar,” ucap Ali.
Prilly yang mendengar itu mendongakkan kepalanya untuk melihat Ali dan betapa kagetnya Prilly saat sadar sekarang Prilly sedang memeluk Ali dan berada di pangkuan Ali. Prilly langsung berdiri.
“Maaf,” ucap Prilly.
“Prill di deket kaki lo barusan lewat hamsternya,” ucap Radit.
“Wuah... Bunda,” ucap Prilly naik ke atas sofa.
“Gw mau jalan ke puncak, kalian mau ikut gak?” tanya Ali.
“Kapan Li? Boleh tuh,” ucap Radit.
“Kak Mich tikusnya tangkep, terus buang,” protes Prilly.
“Bodo amat, suruh saja Ali, kan yang jatuhin Ali,” ucap Mich.
“Kak Ali tikusnya,” ucap Prilly.
“Hari ini juga gw ada urusan sama orang yang ngurusin villa di sana,” ucap Ali.
“Ya sudah, yuk. Eh! Prill sudah kali berdiri di sofanya, nanti rusak,” ucap Steve.
“Aku gak bisa turun nanti tikusnya muncul gimana,” ucap Prilly ketakutan.
“Lo ikut Prill?” tanya Clara.
“Ikut apaan?” tanya Prilly yang gak konsen.
“Ke puncak,” ucap Clara.
“Sama siapa? Kapan?” tanya Prilly masih melihat sekitar.
“Hari ini sama yang lain,” ucap Clara.
“Prill tikus itu di sana,” teriak Radit.
“Akh! Jauh-jauh sana. Kak Ali tolong buangin,” ucap Prilly memegang lengan Ali.
“Iya nanti aku suruh orang buang, kamu jawab Clara dulu sana,” ucap Ali mengelus kepala Prilly.
“Gak bisa Ra, aku ada janji sama Raka,” ucap Prilly.
Ali yang mendengar nama cowok waktu itu pun marah tetapi Ali hanya bisa menahannya dan Ali langsung berdiri.
“Ya sudah kalau kamu gak mau ikut, aku sudah mau jalan, yuk guys,” ucap Ali.
“Kak Ali tunggu, aku gimana keluarnya,” ucap Prilly.
“Panggil saja Raka,” ucap Ali dingin.
“Kak Ali please aku takut,” ucap Prilly.
“Prill kalau lo gak ikut mana mungkin Ali mau bantuin lo,” ucap Dimas.
“Iya deh aku ikut kalian,” ucap Prilly pasrah.
Ali yang mendengar jawaban Prilly langsung menggendong Prilly.
“Kak Ali kenapa pakai di gendong?” tanya Prilly.
“Kalau gak mau, aku turunin,” ucap Ali.
“Jangan Kak,” ucap Prilly menaruh tangannya di leher Ali.
Yang lain senang melihat Prilly yang seperti dulu, setidaknya walau hanya sebentar, mereka bisa melihat Prilly yang manja, tidak pemarah, dan polos.
Ali membawa Prilly keluar dari dreamy dan yang lain mengikuti dari belakang.
Saat melewati Stella, Mich berhenti dan mengembalikan hamster itu.
“Hey Stell, makasih hamsternya sudah di pinjemin, ini aku balikin,” ucap Mich.
__ADS_1
Mich langsung berlari menyusul yang lain.