
Sesampainya Prilly dan Ali di rumah sakit mereka langsung di obatin oleh Dokter. Kepala Prilly hanya butuh di perban, tidak perlu di jahit. Sedangkan lehernya hanya di obatin dan di tempelin perban supaya tidak masuk debu. Sedangkan Ali tangannya di jahit, setelah itu di perban.
“Anda harus di rawat inap sehari dan Anda harus infus darah karena darah Anda cukup banyak yang keluar,” ucap Dokter.
“Enggak usah Dokter, nanti juga sembuh,” ucap Ali.
“Sayang aku enggak mau akh kalau kamu ngelawan Dokter gitu,” ucap Prilly.
“Tapi aku mau pulang Sayang,” ucap Ali.
Prilly membisikkan sesuatu.
“Tapi benar ya, awas kamu kalau bohong,” ucap Ali.
“Iya enggak bohong, makanya dengerin kata Dokter," ucap Prilly.
“Ya udah Dok, saya mau,” ucap Ali.
"Ok. Silahkan urus administrasi dan kamu mau di tempatkan ruangan apa bisa langsung bicara ke resepsionist," ucap Dokter.
"Ok," jawab Ali.
"Kamu di sini biar aku bantu urus," ucap Prilly.
"Gak usah. Aku bisa sendiri sayang," ucap Ali.
"Kalau gitu aku bantuin kamu. Siapa tau kamu butuh bantuan," ucap Prilly.
"Ok," ucap Ali.
Ali menggandeng Prilly ke resepsionist lalu mengurus semuanya serta ke kasir membayar setengah biaya dulu. Ali di tempati di ruang VVIP lalu Ali di infus. Prilly menemani Ali di sebelahnya.
“Nanti setengah jam lagi saya kembali untuk melepas infus darah Anda sekalian ganti infus baru,” ucap suster.
“Iya Sus, makasih,” ucap Ali.
"Sama-sama," ucap Suster.
Suster itu keluar meninggalkan Ali dan Prilly.
“Sayang mana janji kamu?” tanya Ali.
“Sekarang Sayang? Kamu kan lagi di infus,” ucap Prilly.
“Maunya sekarang, buat tambah tenaga,” ucap Ali manja.
“Iya tapi kamu merem,” ucap Prilly.
“Eitz tapi kalau enggak bikin aku seneng, aku bakal hukum kamu setelah aku sembuh,” ucap Ali dan memejamkan matanya.
Prilly perlahan-lahan maju ke depan dan mengecup singkat bibir Ali.
“Ah gitu doang, males akh. Aku lepas saja infusnya, kecewa aku sama kamu,” ucap Ali ingin bangun.
“Eh Sayang... Iya, iya aku cium lagi tapi kamu tiduran,” ucap Prilly.
Prilly duduk di atas kasur Ali lalu Prilly kembali mencium bibir Ali.
“Sayang kamu enggak apa-apa?” teriak Ibu Ali panik saat masuk ruangan Ali.
Ibu, Ayah dan Dimas cs kaget melihat adegan ciuman
Prilly dan Ali. Ali serta Prilly melepaskan ciuman mereka saat sadar ada orang masuk ke dalam ruangannya.
“Kenapa Mom sama Dad ada di sini?” tanya Ali kesal karena di ganggu.
“Kamu enggak senang Dad sama Mom ke sini? Ya sudah pulang saja yuk Mom,” ucap ayah Ali.
“Bukan gitu Dad. Datengnya Daddy enggak tepat waktu, ganggu Ali yang lagi asyik,” ucap Ali.
“Sayang, kamu jangan buat aku malu. Enggak kok Om, kita enggak ngapa-ngapain,” ucap Prilly salah tingkah.
Semua menahan tawa mereka. Lalu Ibu Ali menghampiri Ali.
“Kamu enggak apa-apa Sayang? Luka kamu gimana? Masih sakit?” tanya Ibu Ali.
__ADS_1
“Udah enggak Mom, lagian sudah di obatin,” ucap Ali.
“Bagus dan kalau kamu, Prill?” tanya Ibu Ali.
“Prilly juga sudah enggak apa-apa, Tante,” ucap Prilly.
“Ya iya pasti enggak apa-apalah Tante, orang mereka sudah asyik-asyikan begitu,” ucap Dimas.
“Iya, padahal Tante sudah khawatir banget,” ucap Ibu Ali.
“Kayak Mom enggak pernah kayak gitu,” goda Ayah Ali.
“Daddy mulai iseng deh. Jangan di sini banyak anak kecil,” ucap Ibu Ali malu-malu.
Ayah Ali memeluk Ibu Ali dari samping.
“Bagus Li, kalau lo sama Prilly enggak apa-apa,” ucap Dimas.
“Dim gimana sama Raka?” tanya Ali.
“Tenang saja, rencana berjalan sesuai rencana. Dia kita taruh juga di rumah sakit jiwa. Di pastiin dia enggak akan keluar,” ucap Dimas.
“Iya Li, sekarang kita sudah bisa tenang,” ucap Radit.
“Iya betul, tinggal pemulihan lo sama Prilly,” ucap Mich.
“Iya sayangnya rencana enggak mulus-mulus amat. Buktinya kalian luka,” ucap Steve.
“Besok gw sudah boleh keluar kok. Luka segini mah kecil,” ucap Ali.
“Aku juga enggak kenapa-napa,” ucap Prilly.
“Bagus kalau gitu. Kamu bikin Mom sama Dad jantungan tau. Yaudah, Mom sama Dad tinggal dulu ya, mau jalan-jalan,” ucap Ibu Ali mencium pipi Ali dan Prilly.
“Ciee Om Ganteng sama Tante Cantik mau kencan, bikin iri saja,” ucap Dimas.
“Hush... Jangan suka godain orangtua,” ucap Ibu Ali.
“Iya Dim, makanya bawa pacar kamu ke sini supaya bisa pacaran,” ucap Ayah Ali.
“Kenapa Mom sama Dad aku ada di sini?” tanya Ali.
“Jadi tadi katanya tiba-tiba Tante nyariin kamu. Sudah itu maksa nyari kamu. Akhirnya mereka naik pesawat ke sini dan pas ketemu kita di jalan mereka kaget denger kabar kamu,” ucap Mich.
“Ooo... Terus Raka betul-betul sudah enggak akan bisa keluar kan?” tanya Ali.
“Iya Li, lagian tadi dia sudah hampir mati kita hajar,” ucap Steve.
“Kak Dimas makasih karna rencana Kak Dimas sekarang aku bisa bebas dari Raka,” ucap Prilly.
“Sama-sama Prill,” ucap Dimas.
Handphone Dimas berbunyi dan Dimas tidak mengangkat telepon itu. Dia malah mematikannya.
“Clara ya Kak?” tanya Prilly.
“Mmm enggak usah di bahas,” ucap Dimas.
“Tapi Kak..,” ucap Prilly tertahan karena Ali memberi isyarat untuk diam.
“Kalian boleh ninggalin gw berdua dulu enggak sama Dimas?” tanya Ali.
“Ya sudah bro, gw juga laper mau makan,” ucap Steve.
“Aku ikut kalau gitu Kak,” ucap Prilly.
"Ayuk makan," ucap Radit heboh.
"Yuklah. Kebetulan gw haus," ucap Mich.
"Aku keluar dulu ya say," ucap Prilly.
Ali mengangguk lalu Prilly dan yang lain ke luar meninggalkan Dimas dan Ali berduaan.
“Dim thanks ya. Berkat lo masalah gw selesai,” ucap Ali.
__ADS_1
“Sama-sama Li,” ucap Dimas.
“Gw tau lo lagi pusing soal Clara? Ada apa? Gw yakin lo berantem hebat lagi sama Clara,” ucap Ali.
“Iya Li, gw enggak ngerti mesti gimana lagi sama Clara. Gw kesel sama dia. Dia sudah salah tapi enggak mau ngaku. Sudah itu ujung-ujungnya bawa masalah dulu. Lama kelamaan gw capek sama sikap dia. Setelah itu dia bilang dia nyesel sudah bilang gitu ke gw. Gw capek Li setiap berantem pasti dia bawa masalah yang sudah lalu,” ucap Dimas emosi.
“Bro, gw tanya sama lo, lo masih sayang sama Clara enggak?” tanya Ali.
“Tentu saja gw masih sayang sama dia, Li,” ucap Dimas.
“Kalau gitu lo coba bilang ke dia, kalau dia ungkit masalah yang lalu lagi, lo bakalan betul-betul ninggalin dia. Lo mesti ancem dia Dim, supaya dia sadar. Daripada kalian berantem terus dan putus,” ucap Ali.
“Betul juga Li, tapi buat sekarang gw butuh waktu sendiri dan gw belum mau berantem sama dia,” ucap Dimas.
“Iya, semoga cepet hilang kemarahan lo, yang lain jadi takut ngedeketin lo. Mereka enggak pernah lihat lo marah jadi salah tingkah tuh,” ucap Ali menahan tawanya.
“Iya, thanks Li,” ucap Dimas.
"Sama-sama," ucap Ali.
Di kantin rumah sakit terlihat yang lain memesan makanan.
“Kak Radit pinjem telepon Clara boleh ya, Handphoneku ketinggalan,” ucap Prilly.
“Yah Prill, pulsa gw habis. Coba minta ke Steve,” ucap Radit.
“Kak Steve boleh pinjem telepon?” tanya Prilly.
“Boleh. Ini,” ucap Steve memberikan Handphonenya.
“Hallo Ra ini aku Prilly, kamu baik-baik saja?" tanya Prilly.
"Buruk! Gw semakin bertengkar sama Kak Dimas dan sekarang dia gak mau angkat telpon gw. Ini semua karena lo, Prill," ucap Clara menangis.
"Iya aku tau makanya maafin aku, aku bakal bikin Kak Dimas maafin kamu, jadi jangan nangis lagi. Lagian kenapa dia enggak mau maafin kamu?" tanya Prilly.
"Cuma karena masalah sepele. Gw waktu bertengkar mulut sama dia, gw gak sengaja ungkit masalah waktu itu," ucap Clara.
Apa?! Masalah waktu Kak Ali ulang tahun?" tanya Prilly.
"Iya," ucap Clara.
"Lagian kenapa kamu ungkit masalah waktu itu? Kalau kayak gini susah aku bantu kamu," ucap Prilly.
"Kenapa lo jadi marahin gw?" tanya Clara kesal.
"Eh! Bukan mau marahin kamu tapi kamu kelewatan Ra. Hallo... Hallo Ra?" ucap Prilly.
Prilly tidak mendapat jawaban dari Clara melihat handphone yang di pegangnya. Clara sudah memutuskan sambungan telpon mereka.
"Yah, pakai di matiin lagi teleponnya,” ucap Prilly.
Prilly memilih kembali ke tempat Radit dan yang lain.
“Makasih Kak Steve Handphonenya,” ucap Prilly.
Prilly menyerahkan handphone Steve dan Steve menerima handphone itu.
“Sama-sama Prill. Pesanan lo sudah dateng, makan gih,” ucap Steve.
“Aku enggak nafsu Kak, buat kalian saja kalau mau,” ucap Prilly.
“Lo kenapa? Kenapa tiba-tiba gini? Apa luka lo sakit?”
tanya Radit.
“Kalau sakit mending istirahat Prill,” ucap Mich.
“Iya, lo istirahat saja di kamar Ali nanti,” ucap Steve.
“Aku enggak apa-apa. Tenang, kalian lanjut saja makannya,” ucap Prilly.
“Ra, kamu kenapa enggak berubah? Setiap kesel kamu berubah jadi kasar, habis itu kamu ungkit masalah yang lalu-lalu. Bukannya aku enggak mau bantu kamu, tapi kamunya yang bikin semuanya sulit. Aku mau kamu berubah seperti Clara dulu, enggak kayak gini. Aku capek dan kecewa sama sikap kamu. Semoga kamu bisa kembali seperti dulu, enggak ngungkit-ngungkit masa lalu terus menerus,” ucap Prilly dalam hati.
Radit dan yang lain membiarkan Prilly bengong. Mereka yakin Prilly sedang tidak ingin di ganggu. Mereka melanjutkan makan mereka sedangkan Prilly memikirkan sifat Clara yang semakin emosian.
__ADS_1