
Dokter datang dan mengobati luka Prilly.
“Prilly baik-baik saja. Ingat luka Prilly jangan terkena air dulu selama dua hari,” ucap Dokter.
“Ok, makasih Dok,” ucap Ali.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Dokter.
Dimas mengantar Dokter ke depan dan yang lain juga pergi ke ruang tamu. Ali menemani Prilly di kamar sendirian.
“Prill sebetulnya gw benci sama sikap lo, tapi kenapa gw masih gak bisa biarin lo sendirian,” ucap Ali dalam hati.
Ali membuang napas dengan berat dan meninggalkan Prilly seorang diri.
Saat Ali keluar dari kamar Prilly, Ali duduk di sofa bergabung dengan yang lain.
“Di mana ******** itu?” tanya Ali.
“Tenang, dia sudah di sekap di gudang, jadi dia gak akan kabur. Lo mau nanyain dia sekarang?” tanya Dimas.
“Gak usah, nanti saja,” ucap Ali.
“Sebetulnya Prilly pantes dapetin itu semua. Lagian dia sudah nyakitin lo, kualat kali dia,” ucap Steve.
“Ini bukan Hp gw, ini kan Hp Prilly. Ish! Itu anak pasti salah ambil lagi. Heran, masa Hp dia sama Hp gw sering banget ke tuker, padahal beda,” omel Clara.
“Yaudah di tuker saja mumpung dia ada di sini,” ucap Dimas.
“Ya sudah. Bentar Kak,” ucap Clara berdiri.
Saat Clara berdiri ada Line masuk dari Raka dan Clara kaget saat melihat line Prilly.
Line Raka : Prilly, lo tau gw gak suka di bantah!
“Kenapa Raka masih Line Prilly? Bukannya Prilly sudah gak ada Line Raka,” ucap Clara.
“Lo ngomong apa barusan Ra?” tanya Ali.
“Iya ini Raka Line Prilly, dia bilang gak suka di bantah dan masih banyak Line dari dia kayaknya,” ucap Clara mencoba membuka line Raka.
“Alah! Palingan itu cuma akal-akalan Prilly. Lo tau aslinya Prilly itu jahatnya minta ampun,” ucap Steve.
“Tau, palingan Prilly kerja sama ama Raka,” ucap Radit.
“Gak usah ngomongin soal mereka di depan gw,” ucap Ali.
“Lagian kalau di baca juga percuma, palingan isinya soal hal jahat,” ucap Mich.
Prilly yang tersadar dan keluar mendengar percakapan mereka sedih mendengar perkataan mereka.
“Kalau gak mau baca gak usah di baca. Lagian ini Hp aku dan kalian gak ada hak buat pegang Hpku,” ucap Prilly
Prilly mendekati Clara dan mengambil Hp–nya.
“Prill Hp gw mana? Jangan lo bawa,” ucap Clara.
Prilly tidak menjawab ucapan Clara dan berjalan ke kamar.
“Ikh! Gitu banget jadi cewek,” ucap Mich.
“Nyebelin banget. Tau gitu dia gak usah kita tolong,” ucap Steve.
“Tau, nyesel gw nolong dia,” ucap Radit.
Prilly yang mendengar cercaan mereka meneteskan air mata.
“Bisa diem gak?” bentak Ali.
Semua terdiam, Prilly melihat Ali sekilas lalu menuju kamarnya.
“Kenapa mereka ngatain aku kayak gitu? Tapi wajar sih karna aku sudah jahat sama Kak Ali. Tapi kenapa Kak Ali masih baik sama aku? Maafin aku, Kak,” ucap Prilly dalam hati.
Telepon Prilly berdering.
“Hallo mau apaan lagi?” tanya Prilly.
“Lo harus ikut sama orang suruhan gw sekarang,” ucap Raka.
“Aku gak mau! Asal kamu tau orang itu sudah hampir celakain aku,” ucap Prilly kesal.
“Lo kenapa? Lo luka?” tanya Raka khawatir.
“Kamu gak perlu tau aku kenapa. Aku sudah bilang gak akan pacaran sama kamu,” ucap Prilly.
“Kalau lo gak dateng ke gw dan jadi pacar gw maka gw akan celakain Ali dan teman-teman lo,” ancam Raka.
“Kamu gak bisa kayak gitu. Kamu sudah janji kalau aku putusin Kak Ali, kamu bakal lepasin mereka semua dan gak akan celakain mereka,” ucap Prilly panik.
“Baby, gw gak akan lepasin lo. Lo itu milik gw. Jaadi sebelum lo jadi milik gw, nyawa mereka masih terancam,” ucap Raka
“Apa?! Aku bukan milik kamu! Sudah aku bilang berapa kali dan satu lagi kamu mesti tepatin janji atau aku bakal balik sama Kak Ali. Inget, kalau kamu sentuh mereka, kamu bakal nyesel Raka,” ucap Prilly menutup teleponnya.
Pintu terbuka dengan kasar lalu Clara mendekati Prilly dan menampar Prilly.
“Kamu kenapa nampar aku?” teriak Prilly kesal sambil memegangi pipinya.
Yang lain mendengar teriakan Prilly berlari ke kamar itu.
__ADS_1
“Lo bodoh atau **** Prill?” omel Clara.
“Apa maksud kamu? Sakit tau, kamu nampar hampir kena lukaku,” ucap Prilly memegang kepalanya yang sakit.
“Berdiri lo, kenapa lo bodoh banget nanggung ini semua?” ucap Clara menggoyangkan badan Prilly setelah Prilly berdiri.
“Ra maksud kamu apa? Stop kepalaku sakit,” ucap Prilly lemas.
“Ra, lo kenapa Sayang? Lepasin Prilly kasihan,” ucap Dimas menahan tangan Clara.
“Kak Dimas Prilly itu…. Prill,” teriak Clara saat Prilly tiba-tiba terjatuh ke badannya.
Ali yang melihat itu buru-buru menggendong Prilly ke kasur.
“Gw tau lo kecewa dan marah sama Prilly, tapi inget dia masih sakit. Kenapa pakai di tampar dan di goyang badannya,” ucap Ali kesal.
“Maaf Kak Ali, Clara emosi denger percakapan Prilly sama Raka,” ucap Clara.
“Emang ngomong apa lagi dia sampai lo emosi kayak gitu,” ucap Ali ketus.
Clara menceritakan semua yang dia dengar.
“Alah, paling akal-akalan dia,” ucap Mich.
“Diem lo! Gw gak minta pendapat lo,” bentak Ali.
Ali mengambil Hp Prilly dan mengecek Line dari Raka.
Saat membaca dan melihat foto dari Raka, Ali kaget dan marah besar.
“Bangsat! Gw bersumpah bakal ngabisin itu cowok dengan tangan gw,” teriak Ali emosi.
“Lo kenapa?” tanya Dimas.
“Lo baca dan lihat,” ucap Ali memberikan Hp Prilly.
Mata Ali memancarkan kemarahan yang besar. Dimas membaca dan yang lain ikut membaca. Mereka semua kaget.
“Jadi Prilly gak bales dendem sama lo? Dia cuma mau ngelindungin kita,” ucap Dimas.
“Astaga! Kita sudah jahat banget sama Prilly,” ucap Radit menepuk jidatnya.
“Aduh! Prilly kenapa gak bilang ke kita saja,” omel Mich.
“Ya ampun Prilly kasihan banget nanggung beban berat,” ucap Steve.
“Prilly maafin gw gak nyadar sama perubahan lo, malah gw nuduh lo yang gak-gak,” ucap Ali membelai pipi Prilly.
Prilly merasakan ada yang membelai pipinya terbangun.
“Kamu tiduran saja jangan banyak gerak, kepala kamu masih sakit,” ucap Ali membaringkan Prilly kembali ke kasur.
“Kamu? Emm… Tapi aku mesti pergi dari sini,” ucap Prilly.
“Prilly, kamu ini cewek paling bodoh yang pernah aku kenal. Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau Raka ancam kamu?” tanya Ali.
Prilly melihat Ali dengan kaget.
“Bahkan dia berani nyium kamu! Kamu putusin aku karna takut aku dan yang lain di lukain, kan? Kenapa kamu tanggung ini semua sendiri? Kamu anggep kita ini apa? Kita masih bisa jaga kamu. Kamu tenang, Raka gak akan bisa deketin kamu apalagi nyentuh kamu kayak kemarin. Jadi please, Prill lain kali kamu cerita ke kita kalau ada apa-apa,” ucap Ali membelai rambut Prilly.
“Kak Ali tau dari mana?” tanya Prilly.
“Aku tau dari Clara yang gak sengaja denger perbincangan kamu dan aku juga lihat Line kamu,” ucap Ali.
“Prill kenapa lo bodoh banget? Keselamatan lo juga penting,” ucap Dimas
Prilly menundukkan kepalanya sambil menahan air matanya.
“Sebetulnya Prilly takut. Raka gak mau lepasin Prilly, Prilly gak mau ada yang luka. Prilly gak mau orang yang Prilly sayang di sakitin, apalagi Kak Ali. Aku gak bisa lihat Kak Ali luka atau yang lain bahaya,” ucap Prilly menangis.
“Sayang, aku gak akan kenapa-napa. Kemarin kita sudah bilang kalau kita bisa jaga diri sendiri, kamu lihat tadi kita bisa dengan gampang kita menjatuhkan seorang raksasa,” ucap Ali menghibur Prilly.
Prilly memaksakan dirinya bangun dan memeluk Ali.
“Kak Ali maafin Prilly, Prilly sudah nyakitin hati Kak Ali dan buat Kak Ali sedih. Prilly gak bisa jauh dari Kak Ali dan maafin Prilly kemarin malem,” ucap Prilly menangis sambil memeluk Ali.
Ali membalas pelukan Prilly.
“Aku yang mau minta maaf karena gak peka sama perubahan kamu. Aku ikutan marah dan mikir yang macem-macem, sampai yang lain ikut marah sama kamu. Maaf Sayang,” ucap Ali membelai punggung Prilly.
“Prill maafin gw, gw gak maksud nampar lo. Gw cuma emosi karna kebodohan lo, gw bisa jaga diri. Lagian ada Kak Dimas jadi lo gak usah khawatir. Gw minta maaf semalem marah sama lo dan tadi pagi gw diemin lo,” ucap Clara.
“Iya, gapapa. Yang penting sekarang kamu sudah gak marah sama aku dan please jangan tampar aku lagi, sakit tau,” ucap Prilly.
“Iya maaf Prill,” ucap Clara.
“Gw juga mau minta maaf karna sudah ngatain lo. Gw nyesel dan gw bisa jaga diri sendiri,yang mesti jaga diri itu lo,” ucap Dimas.
“Iya Kak Dimas, aku ngerti kenapa Kak Dimas begitu, pasti karna Kak Dimas marah temennya disakitin. Aku malah seneng lihat persahabatan Kak Dimas. Aku gak marah,” ucap Prilly tersenyum.
“Gw juga Prill, maaf sudah ngatain lo dedemit sama ngeraguin lo,” ucap Radit.
“Auww…,” teriak Prilly kesakitan.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Ali panik melihat Prilly kesakitan.
“Kepalaku makin sakit, aku gak kuat,” ucap Prilly menangis.
__ADS_1
“Gimana ini? Kamu minum obat dari Dokter dulu buat ngilangin sakitnya ya,” ucap Ali.
“Li kayaknya Prilly belum makan. Mana boleh langsung minum obat,” ucap Dimas.
“Oh iya, Ra tolong lo ambil makan dan minum buat Prilly. Prill kamu baring dulu,” ucap Ali membaringkan Prilly.
Prilly meringis kesakitan dan yang lain memilih keluar meninggalkan Ali dan Prilly. Saat Clara membawa makan dan minum untuk Prilly, Clara keluar lagi membiarkan Prilly berduaan dengan Ali.
“Sayang makan dulu, habis itu minum obatnya,” ucap Ali.
Prilly mendorong tangan Ali yang mau menyuapi dirinya.
“Gak mau Kak, aku langsung minum obatnya saja,” ucap Prilly.
“Gak boleh Sayang, perut kamu harus ada isinya. Makan yuk,” ucap Ali.
“Gak mau Kak,” rengek Prilly.
“Makan 3 suap saja biar ada isinya. Nanti kalau sudah makan aku petikin bunga tulip di depan buat kamu, biar kamu lihat dari samping tempat tidur,” ucap Ali.
“Tapi itu punya Ibu Kak Ali? Emang boleh?” tanya Prilly.
“Boleh. Mom pasti kasih, jadi sekarang makan dulu ya,” ucap Ali
menyuapkan makanan ke Prilly.
Setelah Prilly memakan 3 suap, Ali memberikan obat ke Prilly untuk di minum.
“Sekarang kamu tidur biar enakan. Aku mau petik tulipnya,” ucap Ali.
“Iya Kak makasih,” ucap Prilly.
Ali keluar menghampiri yang lainnya dengan muka dan sorotan mata kemarahan.
“Kalian ikut gw nemuin ******** itu. Ra tolong jaga Prilly. Kalau ada apa-apa teriak saja,” ucap Ali.
Clara mengangguk dan berjalan ke kamar Prilly. Saat Ali masuk ke gudang dengan bantingan pintu keras, pria bertubuh besar kaget. Ali mendekati pria itu dengan senyuman yang sulit diartikan serta terlihat sorot kemarahan di mata semua orang.
“Kasih tau siapa yang nyuruh lo! Jangan coba bohong karna gw tau saat orang bohong. Satu kebohongan satu tonjokan dari kita semua,” ucap Ali menampar pipi pria itu.
“Gw gak tau siapa yang nyuruh, kalau gak salah namanya Alex,” ucap pria itu berbohong
Ali cs memberikan tonjokan ke muka pria itu.
“Gw tanya sekali lagi dan jangan bohong karna gw sudah bilang, kita tau saat orang bohong,” ucap Ali.
“Iya gw kasih tau. Yang nyuruh gw itu Raka,” ucap pria itu.
“Bagus! Satu lagi, dia nyuruh lo ngapain Prilly?” tanya Ali.
“Dia nyuruh gw bawa Prilly ke dia dengan paksa juga gak masalah asalkan Prilly di bawa ke tempat dia,” ucap pria itu.
“Terus lo kasar sama dia gitu,” ucap Ali emosi
“Gw terpaksa. Habis dia nolak ngikut gw,” ucap pria itu.
Setelah mendengar itu Ali menghajar pria itu berkali-kali.
“Gw sisain dia buat kalian. Hajar dia sampai kalian puas,” ucap Ali.
Selesai berkata seperti itu telepon dari pria itu berbunyi.
“Sepertinya bos lo mau ngecek tugas lo. Apa perlu gw kasih tau kondisi lo yang sudah mau mati?” ucap Ali tersenyum sinis.
Ali mengangkat telepon Raka.
“Kalau lo mau nyari bawahan lo percuma. Lo gak akan pernah dapetin Prilly. Asal lo tau, lo gak akan bisa nyentuh gw, seorang Ali George Richard. Justru yang ada lo yang hati-hati Raka. Sebaiknya lo berhenti sebelum menyesal. Satu lagi, lo nyentuh temen gw, lo bakal gw bales berpuluh kali lipat,” ucap Ali emosi.
Dimas cs fokus memukuli pria itu. Raka tertawa mendengar ancaman ali.
“Jangan pernah harap atau bermimpi gw berbaik hati lepasin lo! Kali ini gw lepasin lo walau lo sudah nyakitin Prilly hari ini. Tapi kalau gw tau lo nyentuh dia lagi, gw bakal habisin lo,” ucap Ali menutup telepon itu.
Ali melihat kesal ke arah pria berbadan besar.
“Nih Hp lo! Gw rasa lo sudah kapok dihajar gw sama temen gw. Ini uang untuk berobat. Gw gak mau jadi manusia biadab kayak lo dengan biarin lo mati kesakitan. Inget saat lo ketemu bos lo bilang ke dia, gw gak main-main soal ucapan gw,” ucap Ali memberikan pria itu uang.
“Dim urus dia. Kalau bisa bawa dia keluar dari sini atau suruh kedua penjaga ***** itu. Bilang ke penjaga itu, kalau sampai dia ketiduran lagi pas jaga, gw bakal turun tangan,” ucap Ali.
“Ok, biar gw yang urus sama yang lain, lo temenin Prilly,” ucap Dimas.
Ali menghampiri Prilly dan Ali melihat Prilly yang tertidur. Ali menyuruh Clara untuk tidak meninggalkan Prilly.
[Raka PoV]
“BRENGSEK! Ada apa sama Prilly? Apa maksud Ali, gw sudah ngelukain dia? Apa Igil sudah bikin dia terluka? Kerjanya dia gak becus. Prilly kenapa lagi? Ali!! Beraninya dia ngancem gw. Gw gak takut! Gw bakal dapetin Prilly apapun caranya. Prilly itu cuma milik gw! Gak ada yang boleh milikin dia selain gw,” teriak Raka.
Raka mengambil foto Prilly dan melihat foto itu dengan sedih.
“Prilly, gw kangen sama lo. Apa lo baik-baik saja?” ucap Raka.
Raka mengelus foto Prilly dengan sedih.
“Prill, gw mau di bilang gila atau apapun, gw gak peduli karna gw sudah tergila-gila sama lo,” ucap Raka.
__ADS_1