
Setelah Ali selesai di rawat inap, Prilly, Ali dan yang lain pergi menikmati kota Jogjakarta. Setelah itu mereka kembali ke Jakarta karena mereka tidak bisa pergi lama-lama. Apalagi Ayah Ali menyuruh Prilly untuk masuk kuliah dan mengikuti ujian.
“Clara kenapa enggak ikut ujian hari ini? Ke mana Clara? Enggak biasanya dia begini,” ucap Prilly.
Setelah selesai kuliah Prilly pergi ke rumah Clara sendirian setelah meminta izin dari Ali.
“Eh! Ada Neng Prilly, ayuk masuk Neng,” ucap Bi Sumi.
“Bi Sum, Clara di mana?” tanya Prilly.
“Oh Non Clara ada di kamar Non,” ucap Bi Sumi.
“Ya sudah saya ke sana dulu, makasih Bi,” ucap Prilly menghampiri Clara.
Prilly masuk ke dalam rumah Clara dan menuju kamar Clara. Prilly membuka pintu kamar Clara dan melihat Clara yang termenung. Prilly menghampiri Clara.
“Ra, kamu baik-baik saja? Kenapa kamu enggak masuk kuliah? Kamu sakit?” tanya Prilly memegang kening Clara.
“Enggak usah pura-pura baik lo,” teriak Clara menepis tangan Prilly.
“Ra? Kamu kenapa?” tanya Prilly ke bingungan.
“Gw kenapa? Enggak usah sok perhatian Prill,” ucap Clara ketus.
“Ra, aku betul-betul enggak ngerti maksud kamu,” ucap Prilly.
“Oh ya? Lo memang hebat Prill, sahabat macam apa lo? Di saat sahabatnya butuh malah seneng-seneng sama pacarnya dan pacar gw. Bukannya bantuin gw nyelesaiin masalah malah lo cuek saja kelihatannya,” teriak Clara.
“Cukup Ra, aku bisa jelasin. Kamu jangan keterlaluan gini,” ucap Prilly.
“Lo mau jelasin apa lagi? Lo selalu mendapat perhatian lebih dari Kak Ali. Bahkan saat lo butuh seseorang pasti Kak Dimas akan bantu lo. Lo selalu dapat perhatian dari semua cowok. Lo betul-betul beruntung,” ucap Clara.
“Ra please dengerin aku,” ucap Prilly.
“Lo mau bicarain apa lagi? Gw rasa sudah enggak ada yang perlu di bicarain. Silakan keluar dari kamar gw,” ucap Clara emosi.
__ADS_1
“Ra, kamu betul-betul susah di bilangin. Kamu mau masalah kamu cepet selesai enggak?” tanya Prilly.
“Diam lo! Lo enggak ada hak ngatur-ngatur gw dan satu lagi gw benci sama lo! Lo ngerebut perhatian Kak Dimas,” teriak Clara.
“Ra, aku enggak ngerebut perhatian siapapun. Kak Dimas cuma bantu aku saat aku lagi susah. Itu wajar sebagai sahabat, lagipula kalau kamu sedang kesusahan aku sama Kak Ali akan kasih perhatian lebih
ke kamu,” ucap Prilly.
“Enggak usah bohong. Lo ini memang wanita bermuka dua dan perebut laki-laki orang dasar pela...” ucapan Clara terhenti saat Prilly menamparnya.
Plakk….
“Auwww! Berani-beraninya lo nampar gw,” teriak Clara emosi.
“Kamu sudah kelewatan bicaranya. Aku ini sahabat kamu dari dulu. Kenapa kamu bisa ngatain aku kayak gitu?” teriak Prilly emosi.
“Denger Prill, enggak ada yang boleh nampar gw bahkan orangtua gw enggak pernah nampar gw dan lo berani-beraninya,” ucap Clara menampar Prilly.
Plakk….
“Apa-apaan ini?” tanya ibu Clara.
“Ibu, Prilly nampar Clara, Bu,” ucap Clara.
“Apa?! Lancang sekali kamu nampar anak saya? Apa kamu enggak sadar posisi kamu? Dasar orang miskin,” ucap Ibu Clara mendorong tubuh Prilly hingga terjatuh.
“Tante dengerin Prilly dulu,” ucap Prilly.
“Enggak ada yang perlu kamu jelasin. Pergi kamu dari sini, dasar wanita penjilat,” ucap Ibu Clara.
Kata-kata dari Clara dan Ibunya sangat menusuk hati Prilly.
“Denger Ra, kamu tau aku orang yang bukan pendendam. Tapi kamu dengan Ibu kamu sudah kelewatan. Aku benci sama kamu. Mulai sekarang kamu bukan sahabatku lagi,” ucap Prilly berlari keluar.
Prilly berjalan di taman sambil menangis dengan kencang. Hati Prilly sangat sakit mendengar kata-kata dari mulut Clara dan Ibunya.
__ADS_1
Apalagi yang mereka lakukan ke Prilly. Ali merasa khawatir karena Prilly belum pulang juga. Ali menyusul Prilly ke tempat Clara.
“Mau ngapain Kak Ali ke sini?” tanya Clara ketus.
“Gw cari Prilly,” ucap Ali.
“Prilly wanita penggoda itu? Dia sudah enggak ada hubungannya dengan gw,” ucap Clara.
“Ra! Lo kenapa? Kenapa lo jadi kasar?” tanya Ali.
“Gw kenapa? Tanya saja kekasih Kak Ali,” ucap Clara ketus.
“Ra, gw enggak ngerti ada apa sama lo, tapi asal lo tau, selama di Jogjakarta Prilly selalu menanyakan diri lo ke Dimas dan khawatir sama lo. Prilly sampai enggak nafsu makan. Prilly selalu membanggakan lo di depan yang lain, tapi kenapa sikap lo ke balikannya? Awalnya gw khawatir sama lo tapi gw lihat lo enggak pantes di khawatirin. Satu lagi Prilly bukan wanita penggoda. Kalau lo enggak jaga mulut lo, lo sendiri yang akan menyesal kelak,” ucap Ali meninggalkan Clara yang terdiam.
“Jadi Prilly betul-betul khawatir sama gw? Gw enggak percaya. Pasti ini akal-akalan Kak Ali sama Prilly. Gw benci kalian,” ucap Clara.
Ali mencari Prilly lalu menelepon Hp Prilly namun tidak di angkat Prilly. Ali betul-betul khawatir karena sekarang sudah mulai turun hujan. Akhirnya Ali menggunakan GPS Hp-nya untuk mencari keberadaan Prilly. Saat Ali sampai di tempat Prilly berada, Ali langsung menghampiri Prilly yang sedang duduk di ayunan dan memandang ke atas langit.
“Prilly,” teriak Ali dan menghampiri Prilly.
“Kak Ali? Kenapa Kak Ali bisa di sini?” tanya Prilly.
“Kamu apa-apaan sih Prill? Apa kamu mau sakit hujan-hujanan begini? Terus kenapa kamu enggak angkat telepon aku? Kamu mau buat aku khawatir apa?” bentak Ali.
“Iya! Aku mau sakit karna hujan. Aku capek Kak Ali, hatiku sakit Kak,” teriak Prilly dan terjatuh di tanah.
Prilly menangis sejadi-jadinya sambil memegangi dadanya.
“Prill maafin aku, aku enggak maksud bentak kamu. Aku khawatir sama kamu Sayang. Kamu boleh menangis sepuasnya supaya kamu bisa tenang Sayang,” ucap Ali memeluk Prilly.
“Kak Ali,” ucap Prilly di sela tangisnya dan menangis dengan kencang.
Hujan di malam itu seperti tangis Prilly yang tumpah dengan deras. Setelah Prilly puas menangis Ali membawa Prilly ke mobil dan membawa Prilly pulang. Prilly masih terus menangis.
__ADS_1