
Prilly melihat Ali sedang merapikan bajunya ke dalam koper.
“Sayang, aku tunggu di depan. Kamu beres-beres dulu, aku mau bantu Kang Maman buat sirem tanaman,” ucap Prilly.
“Ok, kamu tunggu depan. Nanti baju kamu biar aku yang bawa ke mobil,” ucap Ali.
“Makasih Sayang,” ucap Prilly.
“Sebentar Prill, jangan keluar pakai rok gitu nanti masuk angin. Ganti dulu,” ucap Ali.
“Males Kak, aku sudah mendingan. Lukanya juga gak terlalu sakit lagi,” ucap Prilly.
“Yaudah, tapi pakai jaketku,” ucap Ali memberikan jaketnya.
“Iya Sayang,” ucap Prilly mengambil jaket Ali dan keluar.
Raka sedang berbincang di luar pagar dengan penjaga di sana.
“Mas yang kemarin, ada apa Mas?” tanya salah satu penjaga.
“Cuma mau bawain kalian buah. Ngomong-ngomong kenapa sepi? Penghuninya mana?” tanya Raka.
“Makasih Mas, mereka mau pulang dan maaf aku gak tawarin masuk. Habis Mas Ali pesen jangan bawa siapapun masuk ke sini. Jadi cuma bisa ngobrol di gerbang,” ucap sang penjaga.
Penjaga mengambil buah dari Raka.
“Jadi mereka mau pulang hari ini? Makasih,” ucap Raka.
“Makasih apa Mas?” tanya sang penjaga.
“Makasih kemarin sudah di kasih tau jalannya,” ucap Raka.
Raka kaget melihat Prilly yang keluar dari villa dengan riang dan ada perban di kepalanya.
“Untung lo sudah sembuh dan ceria lagi. Semakin hari lo semakin cantik dan hari ini lo sexy banget,” ucap Raka dalam hati.
“Mas kenapa bengong? Ada apa?” tanya penjaga itu.
“Gw mau numpang toilet boleh? Sakit perut,” ucap Raka berbohong.
“Toilet, boleh saja Mas tapi aku izin Mas Ali dulu,” ucap penjaga.
“Aduh! Gak usah izin, sudah ke belet banget,” ucap Raka.
“Yaudah, tapi jangan sampai kelihatan Mas Ali,” ucap penjaga.
“Iya aku janji,” ucap Raka.
Raka masuk ke dalam villa Ali penjaga itu memberitahu letak toilet.
Raka jalan sendirian. Saat Raka melihat penjaga itu sudah tidak melihat dirinya, dia berbelok ke arah taman tempat Prilly berada.
Raka melihat Prilly sedang asyik menyiram tanaman dengan wajah berseri, Raka semakin jatuh cinta dan rasa ingin memiliki semakin besar.
Raka mendekati Prilly dan menutup mulut Prilly serta mengunci kedua tangan Prilly.
Prilly yang sedang asyik menyiram tanaman kaget dan ingin berteriak namun tidak bisa karena mulutnya di tutup.
”Hallo sayang,” sapa Raka.
Prilly kaget mendengar suara Raka.
“Mmm....mmmmm..,” ucap Prilly dalam bekapan Raka.
“Iya Sayang, gw juga kangen banget sama lo. Maaf gara-gara anak buah gw yang gak becus lo jadi luka,” ucap Raka.
Raka mencium pipi Prilly.
“Mmmm.....mmmm...mmmm.,” ucap Prilly.
Prilly berusaha untuk berteriak dan melepaskan dirinya, namun sia-sia.
“Stt... Sayang jangan kenceng-kenceng nanti ketauan. Lo kenapa jahat delete Line gw dan gak angkat telepon gw?” tanya Raka.
Prilly sangat ketakutan sehingga menangis.
“Kenapa Raka bisa masuk ke sini. Kak Ali tolong, Prilly takut,” ucap Prilly dalam hati.
“Semakin hari lo semakin cantik. Lo buat gw makin jatuh cinta. Lo sangat cantik,” ucap Raka mencium kepala Prilly.
“Kak Ali, aku mohon cepat datang,” ucap Prilly dalam hati.
“Sayang maaf gw belum bisa bawa lo dan jadiin lo milik gw secepatnya. Gw takut ketauan dan nanti kita di ganggu orang jahat itu,” ucap Raka.
Prilly menggeleng dengan linangan air matanya.
“Maaf Sayang, gw terpaksa ngelakuin ini,” ucap Raka.
Raka memukul belakang leher Prilly sehingga Prilly pingsan.
“Maaf Sayang, gw terpaksa. Nanti kalau sudah di Jakarta gw janji akan bawa lo pergi yang jauh dari mereka semua,” ucap Raka.
Raka mencium bibir Prilly kemudian berlalu keluar.
“Makasih toiletnya. Gw balik dulu, ini ada sedikit uang buat kalian, karna gw juga mau balik,” ucap Raka ke penjaga.
Raka memberikan uang ke mereka.
“Makasih Mas hati-hati di jalan,” ucap penjaga.
“Justru gw yang mau berterima kasih sama kalian. Gw jadi bisa ketemu Prilly dan menyentuh dirinya karna kebodohan kalian,” ucap Raka dalam hati dan tersenyum penuh kemenangan.
Raka pergi dari villa ali. Ali yang selesai menaruh barang di bagasi dan yang lain juga sudah siap untuk berangkat, maka Ali memanggil Prilly.
Ali kaget mendapati Prilly pingsan. Ali menghampiri Prilly dan membangunkannya.
“Sayang hey, kamu kenapa? Sayang bangun,” ucap Ali berulang
kali.
Prilly sadar dan saat melihat Ali, dia langsung memeluk Ali.
“Sayang aku takut tadi ada Raka di sini,” ucap Prilly menangis.
“Raka? Gak ada siapa-siapa di sini Sayang, kamu mimpi lagi? Kamu kenapa bisa pingsan? Kamu masih sakit kepalanya?” tanya Ali.
“Gak Sayang, tadi jelas-jelas ada Raka. Dia di sini Sayang, aku gak mungkin salah. Dia tadi di sini,” ucap Prilly menangis.
“Sayang dari tadi di sini gak ada siapa-siapa. Kalau kamu gak percaya boleh tanya yang lain sama penjaga depan. Mungkin kamu mimpi, sekarang kita ke mobil. Kamu harus istirahat. Kayaknya kamu sakit lagi,” ucap Ali.
“Maaf Sayang, aku jadi ketakutan gini tapi aku ngerasa nyata banget mimpinya,” ucap Prilly.
__ADS_1
“Gapapa Sayang,” ucap Ali.
“Sayang kenapa leher aku rasanya sakit?” tanya Prilly.
“Mana coba aku lihat,” ucap Ali melihat leher Prilly.
“Merah, mungkin ke pentok waktu kamu pingsan,” ucap Ali.
Prilly dan Ali menuju ke mobil. Mereka semua melakukan perjalanan kembali ke Jakarta. Selama perjalanan terlihat Prilly yang sudah mulai melupakan kejadian tadi dan ceria kembali.
Seminggu setelah mereka pulang dari puncak, Prilly di sibukkan dengan kuliahnya. Sedangkan Ali sibuk dengan latihan band dan juga basket karena sebentar lagi ada pertandingan basket antar kampus.
Prilly selama di kampus seperti di awasi oleh seseorang tapi Prilly diam saja karena dia tidak mau dibilang paranoid. Prilly merasa senang karena Raka tidak pernah menelepon dirinya lagi. Hari ini pertandingan basket Ali.
Semua anak berkumpul di lapangan basket kampus. Prilly dan Clara datang untuk menyemangati kampus mereka. Saat Prilly melihat Ali sedang duduk dan memakai sepatunya,
Prilly langsung mengendap-endap menghampiri Ali. Setelah itu Prilly menutup mata Ali.
“Sayang jangan iseng, aku tau ini kamu,” ucap Ali memegang tangan Prilly.
“Kenapa kamu bisa tau Sayang?” tanya Prilly melepaskan tangannya dari mata Ali.
“Aku tau aroma tubuh kamu dan tau yang mana tangan kamu,” ucap Ali memegang tangan Prilly.
“Ah… Gak seru,” ucap Prilly memanyunkan bibirnya.
“Kenapa di majuin gitu bibirnya, minta aku cium?” Ucap Ali.
Prilly yang mendengar ucapan Ali langsung tersenyum dan membisikkan sesuatu ke Ali.
“Ok, kamu janji kalau aku menang kamu harus kasih..,” ucap Ali tertahan karena Prilly menutup mulut Ali.
“Kasih apa Li? Hadiah? Enak banget, gw juga mau Prill,” ucap Radit.
“Hadiah? Gw juga mau Prill,” ucap Steve.
“Apa? Siapa bilang mau kasih hadiah? Kak Ali saja yang salah denger,” ucap Prilly malu-malu.
“Alah paling hadiahnya Ali ciuman dari Prilly,” ucap Dimas mengedipkan matanya ke Prilly.
“Kenapa Kak Dimas tau? Eh! Maksudku gak, sembarangan saja Kak Dimas,” ucap Prilly malu-malu.
Ali cs tertawa melihat tingkah prilly.
“Prilly-Prilly, lo itu lucu banget,” ucap Dimas tertawa.
“Gw mau banget Prill kalau di kasih hadiah kayak gitu. Enaknya jadi Ali,” ucap Radit.
“Yang boleh cium Prilly cuma gw! Bukan lo!” ucap Ali.
“Iya Bos, gw juga takut di bunuh sama lo kalau gw minta cium sama bini lo,” ucap Radit.
“Bini? Siapa?” tanya Prilly.
“Siapa ya? Menurut kamu siapa Sayang?” tanya Ali.
“Aku?” tanya Prilly malu-malu.
“Aduh Sayang, rasanya kamu pengen aku makan deh. Lucu banget kamu. Mana pipinya ini gemesin banget,” ucap Ali mencubit pipi Prilly.
“Auww Sayang, sakit tau,” ucap Prilly melepas tangan Ali dari pipinya.
“Sini sayang, aku elus pipi kamu,” ucap Radit mengelus pipi Dimas.
“Aduh Sayang makasih, aku seneng kamu pegang pipiku,” ucap
Dimas meniru Prilly.
“Ish! Kak Dimas sama Kak Radit iseng,” ucap Prilly mencubit tangan Radit dan Dimas.
“Eh udah, jangan cubit-cubit mau tanding. Kalian nonton sini saja, dukung kita,” ucap Dimas.
“Kamu di sini saja jangan ke mana-mana,” ucap Ali.
Prilly mengangguk sambil tersenyum.
“Gw temenin mereka. Kalau gitu good luck pertandingannya, gw mau pacaran sama Prilly dan Clara,” ucap Radit.
Radit duduk di sebelah Prilly serta Clara kemudian merangkul pundak mereka.
Ali dan Dimas menjewer kuping Radit, Dimas bagian kiri sedangkan Ali bagian kanan. Mereka menarik telinga Radit hingga ke lapangan.
“Sialan! Berani banget Ali sama temennya pegang Prilly! Prill kenapa lo biarin mereka pegang lo,” ucap Raka di balik pohon besar kampus itu.
Raka melihat prilly yang tertawa mencengkram erat pohon di depannya
“Gw kangen meluk dan cium lo, sayang,” ucap Raka.
Raka memukul pohon itu dengan kesal melihat prilly yang sedang menyemangati Ali.
“Hari ini gw mesti bawa lo,” ucap Raka berapi-api.
Ali cs memenangkan pertandingan dan mereka sedang berfoto bersama. Tiba-tiba Clara merasa sakit perut dan meminta Prilly menemani dirinya ke toilet. Sewaktu Prilly menunggu Clara di
toilet, Prilly keluar untuk menelepon Ali.
“Hallo Sayang, aku lagi sama Clara di toilet,” ucap Prilly.
Tiba-tiba tangan Prilly di tarik seseorang dengan keras sehingga hp Prilly terjatuh. Prilly menabrak tubuh orang itu. Orang itu mendekap Prilly dengan kencang.
Prilly melihat orang yang memeluknya adalah Raka mau berteriak namun Raka menutup mulut Prilly.
Ali heran pembicaraannya terputus dan sehabis itu hp Prilly tidak aktif. Ali pergi mencari Prilly ke toilet kampus yang dekat lapangan.
“Mmm....mmmm..,” ucap Prilly.
“Gw tau lo pasti kangen banget ama gw. Hari ini gw akan bawa lo bersama gw dan lo akan menjadi milik gw seutuhnya,” ucap Raka mencium kening Prilly.
Prilly berusaha memberontak namun gagal. Raka membungkam mulut Prilly dengan solatip. Sehabis itu mengikat tangan Prilly kemudian Raka menggendong Prilly di pundaknya.
Prilly begitu ketakutan hingga menangis karena dia tidak bisa berteriak minta tolong. Prilly berusaha berontak sekuatnya namun sia-sia hingga tiba-tiba terdengar teriakan.
“Brengsek! Lepasin Prilly,” teriak Ali.
Raka yang mendengar teriakan Ali kabur membawa Prilly. Namun dia tidak tau bahwa Ali adalah seorang pelari yang hebat. Ali sudah berhasil mengejar Raka dan menendang dia hingga terjatuh.
Ali menangkap tubuh Prilly yang hampir terjatuh ke lantai. Raka memanfaatkan itu untuk melarikan diri. Ali berusaha mengejar Raka.
Saat Ali mau berlari, Prilly menangis keras menandakan bahwa dia tidak mau di tinggal sendirian. Ali membuka tangan Prilly dan mulut Prilly.
“Kak Ali, aku takut,” ucap Prilly menangis memeluk Ali.
__ADS_1
“Tenang ada aku di sini sekarang, dia gak akan bisa nyentuh kamu,” ucap Ali mengelus punggung Prilly.
“Dia datang lagi, aku tau kalau selama ini dia yang ngikutin aku.
Aku bukan paranoid atau trauma,” ucap Prilly menangis.
“Sayang jadi maksudmu dia yang ikutin kamu terus?” tanya Ali.
“Maaf Sayang aku kira dia sudah kapok. Ternyata dia masih belum menyerah. Kamu tenang nanti aku akan selesaiin ini semua,” ucap Ali dengan sorot kemarahan di matanya.
“Iya Sayang tapi jangan tinggalin aku sendirian, aku takut,” ucap Prilly sesenggukan.
“Iya Sayang, ya sudah jalan yuk,” ucap Ali dan membangunkan Prilly namun Prilly terjatuh lagi.
“Sayang kenapa malah duduk lagi?” tanya Ali.
“Aku lemes Sayang, gak ada tenaga,” ucap Prilly.
Ali menggendong Prilly dan berjalan menuju rumah kaca kampus. Ali menurunkan Prilly di bangku dan menelepon Dimas.
“Hallo Dim, ke rumah kaca sekarang urgent! Tolong bawa minum terus bawa barang-barang gw,” ucap Ali lalu menutup teleponnya.
Dimas tanpa bertanya sudah mengerti arti omongan Ali. Ali tidak akan menelepon dan mengatakan urgent bila tidak ada sesuatu yang terjadi. Apalagi Clara bilang Prilly menghilang. Dimas dan yang lain pergi ke rumah kaca.
“Sayang jangan takut lagi ada aku, aku gak tega lihat kamu gemeteran,” ucap Ali memeluk tubuh mungil Prilly.
“Iya Sayang, aku berusaha tapi aku takut banget,” ucap Prilly.
Dimas cs masuk ke dalam rumah kaca dan mengernyitkan keningnya melihat prilly.
“Li, Prilly kenapa gemeteran kayak anjing ke cebur di air? Mana pucet dianya, lo apain dia?” tanya Dimas.
“Masa lo samain cewek gw sama anjing,” omel Ali.
“Habisnya Li, dia lucu banget kalau kayak gitu. Gemesyinnnn banget,” ucap Radit.
“Serius gw! Jangan malah godain cewek gw, dia lagi ketakutan,” omel Ali.
“Takut? Ada apa Li?” tanya Steve.
“Udah diam, kita dengerin penjelasan Ali,” ucap Dimas.
Ali menceritakan semuanya sehingga membuat yang lain kaget.
“Untung Prilly telepon lo sebelum Raka dateng dan lo nyusulin Prilly. Gw gak habis pikir apa maunya dia. Jelas-jelas Prilly gak suka sama dia dan Prilly juga sudah ada lo. Tapi masih saja ngejer-ngejer Prilly,” ucap Dimas.
“Gw juga gak nyangka ternyata itu orang muncul lagi,” ucap Steve.
“Gila pshyco betulan itu orang,” ucap Mich.
“Orang itu betul-betul gila. Mesti di masukkin ke rumah sakit jiwa tuh. Kalau gak bisa celaka Prillynya,” ucap Radit.
Yang lain menatap Radit dengan pandangan marah dan Radit heran apa yang salah dengan perkataannya. Saat dia melihat Prilly yang semakin gemeteran, Radit sadar apa yang salah dengan ucapannya.
“Tenang Prill kita bakal jagain lo,” ucap Radit.
“Betul Prill, lebih baik kita gantian buat jagain Prilly,” ucap Dimas.
“Gw udah ke pikiran kayak gitu tapi mau sampai kapan,” ucap Ali.
“Ya sampai itu cowok capek,” ucap Steve.
“Yaudah nanti kita jagain Prilly gantian sewaktu lo gak sempet Li,” ucap Dimas.
“Maaf ngerepotin kalian,” ucap Prilly.
“Sayang ngomong apa sih? Kita gak repot sama sekali,” ucap Ali mengelus rambut Prilly.
“Gw seneng kali setiap hari bisa isengin lo. Jadi lo sama sekali gak repotin,” ucap Radit.
“Yang ada kalau di temenin lo, dia bisa jadi ubanan saking emosinya sama lo,” ucap Mich.
“Udah, mending sama Kakak. Pasti kakak lo ini akan menjaga lo dengan benar. Itulah tugas seorang kakak,” ucap Steve.
“Sejak kapan lo jadi Kakak Prilly? Prilly itu Adik ipar gw,” ucap Dimas.
“Iya, Prilly itu Adik ipar gw tau,” ucap Clara.
“Ciee… Berarti nanti ketahuan Ali nikah sama Prilly, sedangkan Dimas sama Clara ahay…” goda Radit.
Clara, Dimas, Prilly dan Ali merona merah akibat ucapan Radit.
“Uhuy… Gw ada 2 Adik nanti, senengnya gw,” ucap Steve.
“Lo bukan jadi Kakak mereka tapi jadi Om. Tampang lo gak mendukung,” ucap Mich.
“Apaan lo? Rese! Lo itu yang Om-om,” omel Steve.
“Udah-udah yang Om-om itu kalian berdua, gak usah ribut,” ucap Radit.
“Bawel lo, Kakek,” omel keduanya berbarengan.
“Berisik amat, sesama Kakek jangan ngatain,” ucap Dimas.
“Lo juga berisik Kakek!” ucap radit, steve dan mich.
“Kalian lucu banget,” ucap Prilly tertawa.
Mereka yang melihat Prilly tertawa, menjadi lega.
“Ada bidadari lagi senyum,” ucap Dimas.
“Iya bidadarinya cantik banget,” ucap Radit.
“Bukan, dia bukan bidadari tapi dia putri kahyangan,” ucap Steve.
Ali merasa kesal dan mau protes namun di potong Mich.
“Gw rasa dia itu bukan dua-duanya, melainkan malaikat penggoda. Habis senyumannya manis banget,” ucap Mich.
“Siapa suruh kalian godain pacar gw,” omel Ali
Dimas cs kabur melihat Ali ngamuk. Ali mengejar Dimas cs. Prilly tertawa menyaksikan Ali yang mengejar teman-temannya dan melakukan burger. Prilly sudah betul-betul melupakan masalah Raka.
[Raka PoV]
“SIAL! Kenapa susah banget buat bisa bersama Prilly. Selalu gagal. Gw mesti nyusun rencana yang mateng supaya berhasil. Padahal tadi sedikit lagi bisa dapetin Prilly, tapi sialnya Ali dateng, shit! Sayang sabar ya kita akan segera bersama,” ucap Raka.
Raka berpikir sambil mondar mandir dengan gelisah.
“Ah! Gw tau, gw sudah ada rencana yang bagus tapi pertama-pertama gw mesti beli sesuatu dulu. Prilly, gw yakin rencana ini akan berhasil,” ucap Raka mencium foto Prilly.
__ADS_1