Lala Land

Lala Land
Episode 48


__ADS_3

Prilly dan Clara sedang berada di rumah kaca sambil memainkan hp mereka.


“Ra hari ini temenin aku yuk ambil barang,” ucap Prilly.


“Barang apa Prill?” tanya Clara.


“Itu Ayah sama Bunda kirim barang buat aku,” ucap Prilly.


“Ya sudah tunggu Kak Ali. Masalahnya hari ini bodyguard lo lagi cuti,” ucap Clara.


“Sekarang Ra. Lagian nanti kita ada kelas, takut tutup tempatnya. Kak Ali kelasnya masih lama keluar, masa kita bengong saja di sini. Bosen tau,” rengek Prilly.


“Tapi Prill nanti kalau Kak Ali marah gimana? Dia sudah pesen, kita enggak boleh ke mana-mana sampai dia selesai. Gw enggak mau akh,” ucap Clara.


“Payah kamu, kamu kayak Kak Ali sekarang. Masa aku ke mana-mana mesti di kawal. Ya sudah kalau gitu aku pergi sendiri,” ucap Prilly dan beranjak dari duduknya.


“Prill mau ke mana? Lo enggak takut Kak Ali marah?” tanya Clara.


“Aku bosen Ra. Lagian Kak Ali takut apa? Raka sudah di tangkep, jadi sekarang aman-aman saja. Ya sudah kalau enggak boleh jauh-jauh, aku ke kafe depan, cari makan. Habis aku bosen,” ucap Prilly.


“Prill tunggu. Ya udah gw temenin tapi kalau Kak Ali marah gw enggak nanggung,” ucap Clara.


“Iya nanti aku yang tanggung. Nanti kita balik sebelum dia selesai kelas,” ucap Prilly.


Clara dan Prilly berjalan ke kafe depan. Namun tiba-tiba Prilly menabrak seorang Kakek hingga terjatuh dan Prilly membantu Kakek itu bangun.


“Ya ampun maaf Kek aku enggak sengaja,” ucap Prilly membantu Kakek itu bangun.


Namun Prilly merasa dirinya di tarik oleh sang Kakek hingga dia terjatuh ke pelukan Kakek itu.


“Ya ampun Prill, lo nolongin Kakeknya atau mau nimpa dia?” ucap Clara membantu Prilly berdiri.


Clara dan Prilly membantu Kakek itu berdiri.


“Maaf Kek, kita permisi dulu,” ucap Prilly dan berjalan pergi ke dalam kafe bersama Clara.


“Prilly Sayang walau gw harus nyamar, setidaknya gw bisa merasakan sentuhan dan pelukan lo,” ucap Raka dalam hati saat Prilly berlalu meninggalkan dirinya.


“Ra kenapa aku ngerasa aneh sama Kakek tadi? Kayaknya dia narik aku. Terus tatapan matanya kayaknya aku kenal,” ucap Prilly.


“Perasaan lo kali Prill, lagian memang lo ini letoy,” ucap Clara.


“Aku serius Ra,” ucap Prilly.


“Gw juga serius Prill. Ya sudah enggak usah ngomongin Kakek itu. Mending kita pesen makan, nanti ke buru Kak Ali keluar,” ucap Clara.


Mereka memesan makanan dan memakan makanan tersebut sambil bercerita. Tidak terasa jam menunjukkan pukul 13:40  dan Ali akan keluar pukul 14:00.


“Aduh Prill sudah jam segini lagi, yuk balik nanti Kak Ali ke buru  keluar,” ucap Clara.


“Iya sabar, aku ke toilet sebentar. Nanti aku balik lagi,” ucap Prilly.


“Jangan lama-lama Prill,” ucap Clara.


“Iya, lagian cuma mau buang air kecil,” ucap Prilly.


Prilly buru-buru pergi ke toilet dan setelah dari toilet, Prilly dan Clara membayar tagihan mereka dan berjalan kembali.


“Aduh Prill ke buru enggak? Lo lagian di toiletnya lama,” omel Clara.


“Mau gimana lagi toiletnya itu ramai,” ucap Prilly.


“Ya sudah, buruan yuk sebelum Kak Ali keluar,” ucap Clara menarik Prilly dan berlari.


Sewaktu melewati lorong menuju taman, Prilly dan Clara menabrak seseorang, karena mereka tidak sempat berhenti sehingga terjatuh.


“Maaf kita lagi buru-buru,” ucap Prilly.


“Iya maaf,” ucap Clara.


“Prilly,” ucap Ali membantu Prilly berdiri.


“Clara, lo kenapa lari-lari gini?” tanya Dimas membantu Clara berdiri.


“Mati aku, Kak Ali kenapa sudah di sini lagi. Alesan apa nanti kalau di tanya dia,” ucap Prilly dalam hati.


“Prill, kamu ngapain di luar lari-lari gini?” tanya Ali.


“Itu tadi ke toilet sama Clara, iya kan Ra. Tadi itu Clara ke belet,” ucap Prilly.


“Iya kita habis dari toilet, Prilly ke belet,” ucap Clara.


“Jadi ini siapa yang ke belet?” tanya Ali menahan marah karena dia tau Prilly berbohong.


“Aku.” Ucap Prilly dan Clara bersamaan.


“Ra, lo bohong?” tanya Dimas.


“Enggak Kak Dimas tadi itu aku sama Clara ke belet barengan, iya kan Ra,” ucap Prilly.


“Iya betul banget Prill,” ucap Clara.


“Prill, aku mau kamu jujur. Kamu habis dari mana? Kamu tau aku enggak suka di bohongin,” ucap Ali menahan emosi.


“Aku habis dari toilet Sayang,” ucap Prilly.


“Jangan bohong,” bentak Ali.


“Kamu kenapa marah gitu? Iya, iya aku tadi pergi ke luar buat makan sama Clara,” ucap Prilly.


“Kamu belajar bohong dari mana? Dan juga kamu bukannya aku suruh di rumah kaca. Kalau mau makan bisa di kampus, kenapa mesti keluar?” omel Ali.


“Aku bosen Kak Ali. Lagian cuma kafe depan, kenapa di permasalahin banget?” tanya Prilly.


“Permasalahin? Kamu sadar enggak di luar bahaya?” omel Ali.


“Bahaya apa Kak? Lagian Kak, Raka sudah enggak ada dan di depan itu ramai,” ucap Prilly.


“Udahlah aku males ngomong sama kamu. Terserah kamu mau ke mana? Dim anter Prilly pulang, jagain dia, gw mau pergi,” ucap Ali emosi.


“Kak Ali jangan marah. Prilly enggak maksud bohong Kak,” ucap Prilly menahan tangan Ali.


Ali tidak menjawab Prilly dan berjalan pergi.


“Tuh Prill sudah aku bilang pasti Kak Ali marah,” ucap Clara.


“Lo ngapain Prill keluar segala dan pakai bohong? Ali kayak gitu demi kebaikan lo,” ucap Dimas.


“Maaf Kak Dimas, Prilly cuma takut Kak Ali bakal marah kalau tau Prilly keluar lama,” ucap Prilly.

__ADS_1


“Sekarang juga dia marah. Lo ini ngertiin Ali enggak sih?” tanya Dimas kesal.


“Kak Dimas kenapa jadi marah?” tanya Prilly menahan tangis.


“Ya iyalah lo enggak tau di luar itu bahaya. Ali itu khawatir banget sama lo. Setiap di kelas dia mikirin lo terus, tapi lo malah kayak gini gak hargain perhatian Ali,” omel Dimas.


“Udah Kak Dimas jangan marah-marah, kasihan Prilly. Dia juga udah nyesel Kak,” ucap Clara.


“Kenapa lo enggak bilangin Prilly, Ra? Gw sama Ali pesen jangan keluar! Bahkan lo juga bohong,” omel Dimas.


“Kak Dimas kenapa jadi marahin gw? Gw sudah cegah Prilly tapi Prillynya tetep nekat dan kalau bohong tadi, gw takut Kak Ali marah sama Prilly,” ucap Clara.


“Argh! Sudahlah, enggak usah di jelasin,” ucap Dimas kesal.


Radit, Steve serta Mich yang baru sampai bingung melihat Dimas yang marah.


“Kenapa ini? Lo kenapa marah-marah, Dim?” tanya Radit.


“Dit jagain nih cewek-cewek, terus anter pulang. Gw mau balik duluan,” ucap Dimas.


“Eh Dim mau ke mana?" tanya Radit.


"Woy Dim mau ke mana?" tanya Mich.


Dimas tidak menjawab Radit serta Mich dan berjalan pergi dengan kesal.


"Kenapa lagi Dimas? Gak biasanya dia marah," ucap Steve.


"Yei itu anak kalau sudah marah memang susah. Lagian siapa yang bikin Dimas marah?  Setau gw, Dimas jarang banget marah, malahan hampir enggak pernah marah segitunya," ucap Radit.


Radit tidak mendapat jawaban langsung melihat ke belakangnya. Radit serta Mich kaget sekaligus bingung melihat Clara dan Prilly yang sudah berlinangan air mata.


"Loh! Kenapa kalian nangis?” tanya Radit.


"Ini sebetulnya ada apa sih?" tanya Mich.


Clara tidak menjawab Radit dan melihat Prilly dengan kesal.


“Prill ini semua karna lo! Sekarang Kak Dimas marah sama gw,” ucap Clara berlari pergi.


“Ra tunggu Ra maafin aku,” ucap Prilly.


“Ra," panggil Radit.


"Hais... Masalah lagi ini pasti," ucap Mich.


Steve mengangguk setuju mendengar ucapan Mich. Clara mempercepat larinya dan tidak menghiraukan Radit serta Prilly.


"Jiah itu anak mau ke mana lagi? Mich temenin dia sana,” ucap Radit.


"Ok," ucap Mich.


Mich berlari mengejar Clara.


“Lo mau ke mana Prill?” tanya Radit saat melihat Prilly mau berjalan pergi.


“Aku mau cari Kak Ali,” ucap Prilly.


“Yeii cari sih cari. Tapi enggak sendirian juga. Bisa berabe masalahnya nanti. Lagian Ali kayaknya tadi ke sana,” ucap Radit menunjuk arah yang Ali pergi,


“Kak Ali pergi, dia marah sama aku,” ucap Prilly semakin menangis.


“Malah makin nangis dia. Ya udah sekarang lo mau ke mana biar gw anter,” ucap Steve.


“Aku mau pulang saja,” ucap Prilly sesenggukan.


"Yaudah kita pulang sekarang tapi berhenti dulu nangisnya. Nanti gw di kira orang jahat karena bikin lo nangis," ucap Steve.


Prilly mengangguk dan mencoba menahan air matanya sambil menghapus sisa air mata di pipinya.


"Good. Sekarang gw anter lo balik. Dit, gw duluan ya," ucap Steve.


"Ok. Take care. Dan buat lo, Prill jangan sedih. Nanti kalau lo udah tenang dan butuh temen cerita gw siap dengerin kok curhatan lo," ucap Radit mengelus puncak kepala Prilly.


"Ok. Makasih Kak. Prilly pulang dulu," ucap Prilly.


"Hati-hati di jalan Unyil," ledek Radit.


"Kak Radit rese!" ucap Prilly kesal melempar pulpen ke arah Radit.


Radit menangkap pulpen itu dan tertawa.


"Makasih pennya. Kebetulan pulpen gw hilang," ucap Radit berlari pergi.


Prilly cemberut dan Steve tersenyum melihat itu.


"Jalan sekarang?" tanya Steve.


"Iya," ucap Prilly.


Steve langsung mengantar Prilly pulang. Namun tidak ada Ali dan Prilly mencoba menelepon Ali namun tidak di angkat. Akhirnya Prilly meninggalkan Line untuk Ali.


Line Prilly: Sayang maafin aku, jangan marah lagi. Aku tau aku salah, aku nyesel Sayang.


Tidak ada balasan dari Ali. Prilly kembali mengirim line untuk Ali.


Line Prilly: Sayang kenapa kamu enggak angkat telepon aku?


Prilly tetap tidak mendapat balasan chat dari Ali. Prilly kembali menelpon Ali hingga berulang kali namun Ali tetap tidak mengangkat.


Line Prilly: Sayang aku takut sendirian di rumah gede ini. Kamu di mana? Kamu enggak pulang?


Prilly menunggu hingga beberapa menit dan tetap tidak ada balasan.


Line Prilly: Sayang angkat telepon aku please kamu enggak pulang?


Hujan besar mulai turun membasahi bumi dan banyak petir yang terdengar. Prilly menutupi telinganya setiap petir menyambar. Tiba-tiba mati lampu. Prilly ketakutan sehingga dia mencoba mencari lilin.


Namun percuma, dia tidak tau di mana letak barang-barang di sana. Prilly mencoba menelepon Ali namun tetap tidak di angkat. Prilly memilih bersembunyi di pojokan ruang tamu.


“Kak Ali kenapa enggak angkat telepon aku? Aku takut Kak,” ucap Prilly.


Prilly kembali meninggalkan Line di Hp Ali.


Line Prilly : Sayang tolong aku, di rumah mati lampu. Aku takut.


Prilly tertunduk ketakutan namun Ali tidak kunjung datang. Sedangkan Ali sedang terduduk di teras kamarnya dan melihat hujan yang turun dengan deras.


“Prill maaf aku enggak angkat telepon kamu, aku kecewa sama kamu. Kamu bohong sama aku dan berani lawan aku. Aku tau kalau kamu enggak tau Raka masih berkeliaran dengan bebas di luar sana, tapi aku cuma butuh waktu untuk menenangkan pikiranku,” ucap Ali sambil melihat hujan yang turun dengan deras.

__ADS_1


Hp Ali ada di atas nakas dan menyala tanda line serta telpon masuk dari Prilly. Ali tidak dapat mendengarnya karena hpnya di silent.


“Kak Ali, kamu tega sama aku,” ucap Prilly menangis ketakutan sampai tertidur.


Keesokan harinya Prilly pagi-pagi sekali pergi keluar untuk menemui Clara karena dia tau pasti Clara juga sama sedihnya. Di perjalanan, Prilly di hadang sebuah mobil. Prilly kaget karena mobil itu hampir mengenai dirinya.


“Ya ampun kamu enggak apa-apa?” tanya Raka yang sedang menyamar menjadi perempuan.


"Iya aku enggak apa-apa Mas. Eh maksudku Mbak,” ucap Prilly.


“Ya ampun kamu mau ke mana? Biar aku anter,” ucap Raka.


“Enggak usah Mas eh Mbak nanti aku naik taksi saja,” ucap Prilly.


“kamu nolak maksud baik aku? Aku jadi sedih banget nih. Mentang-mentang aku bukan cewek asli, semua pada ngeremihin aku,” Ucap Raka pura-pura menangis.


“Aduh Mbak jangan nangis nanti make-up-nya luntur,” ucap Prilly sambil memegang pundak Raka.


“Makanya kamu ikut aku, Prill,” ucap Raka keceplosan.


“Kenapa Mbak tau nama aku? Kamu siapa?” tanya Prilly ketakutan dan mencoba kabur.


“Eh mau ke mana kamu Sayang?” tanya Raka menghadang Prilly.


“Raka!? Kamu bukannya sudah di tangkep?” tanya Prilly ketakutan.


“Mereka enggak akan bisa nangkep gw Sayang,” ucap Raka menarik Prilly ke pelukannya.


“Raka lepasin aku! Kenapa kamu enggak tinggalin aku sendirian?” teriak Prilly.


“Mana mungkin gw tinggalin lo sendirian? Lo itu milik gw Sayang,” ucap Raka mencium pipi Prilly.


Prilly menghindar dari ciuman Raka dan melihat Raka dengan jijik.


“Tolong! tolong!” teriak Prilly.


“Diam! Nanti ada yang denger,” ucap Raka menutup mulut Prilly.


Warga yang mendengar teriakan Prilly, menghampiri Prilly dan Raka melepaskan Prilly lalu kembali ke mobil meninggalkan Prilly sendirian.


“Non enggak apa-apa?” tanya warga 1.


“Aku enggak apa-apa, untung kalian dateng. Makasih,” ucap Prilly.


“Iya sama-sama Non. Hati-hati lain kali,” ucap warga 2.


"Iya Pak. Sekali lagi makasih buat kalian," ucap Prilly.


"Sama-sama Neng," ucap Semuanya secara bersamaan.


Prilly tersenyum begitu pula warga yang menolong Prilly. Para warga meninggalkan Prilly sendirian.


“Kenapa Raka masih berkeliaran? Jadi selama ini sikap Kak Ali yang khawatir sama aku gara-gara Raka belum ke tangkep? Tapi kenapa mereka enggak bilang? Kak Ali bilang enggak suka di bohongin tapi dia sudah berulang kali bohongin aku. Aku benci Kak Ali. Sebaiknya aku pergi dari sini supaya Raka enggak bisa temuin aku dan aku juga sudah males sama Kak Ali,” ucap Prilly.


Prilly pulang dan membereskan barang-barangnya kemudian ia naik kereta dan pergi ke luar kota untuk menenangkan diri. Prilly hanya meninggalkan Line untuk Ali.


Line Prilly: Kak Ali, aku kecewa sama Kak Ali. Ternyata selama ini Kak Ali bohong sama aku, Kak Ali bilang enggak suka di bohongin, tapi Kak Ali sendiri bohongin aku. Aku bisa maafin kebohongan Kak Ali waktu itu, tapi kenapa Kak Ali enggak bisa maafin aku. Asal Kak Ali tau Raka nemuin aku pagi ini. Untung Raka enggak berhasil bawa aku. Jadi aku harus pergi Kak untuk menghindar dari Raka dan menenangkan diriku. Makasih buat semuanya Kak.


Setelah Prilly mengirim Line ke Ali, ia langsung mematikan Hpnya. Ali yang baru bangun langsung melihat Hp-nya dan kaget dengan isi Line dari Prilly. Ali segera menelepon Prilly namun hp Prilly tidak aktif.


“Shit! Prill, kamu ke mana? Maafin aku enggak ada buat kamu di saat kamu butuh aku,” ucap Ali.


Ali menelepon Dimas.


"Dim tolong suruh anak-anak kumpul di rumah gw," ucap Ali.


"Ok," ucap Dimas.


"Sekarang juga dan gak pakai lama," ucap Ali.


"Iya. Astaga buru-buru amet sih lo," ucap Dimas.


"Ini penting! Soal Prilly," ucap Ali.


"Prilly!? Oh god pasti kalian makin bertengkar," ucap Dimas.


"Udah deh. Mending lo telpon mereka dan ke sini sekarang," ucap Ali.


"Ok, ok," ucap Dimas.


Ali mematikan sambungan telponnya. Ali mondar mandir dengan gelisah memikirkan Prilly. Sesampainya Dimas cs, Ali langsung menceritakan soal Prilly kabur serta soal Raka.


"Kita harus cari Prilly secepatnya. Bahaya banget dia sendirian di luar," ucap Dimas.


"Gw setuju. Selama Raka masih berkeliaran, Prilly akan selalu dalam bahaya," ucap Radit.


"Tapi kita mau cari ke mana?" tanya Steve.


"Kita mencar lagi saja. Gw bakal minta bantuan saudara gw buat bantu cari Prilly," ucap Mich.


"Tujuan pertama kita cari Prilly sampai dapat dan kita harus pikirin cara untuk nangkap Raka supaya dia gak celakain Prilly," ucap Dimas.


"Gimana kalau kita waktu cari Prilly sekalian cari Raka?" tanya Mich.


"Atau kita sebarin wajah Raka ke media sosial. Buat yang bisa nemuin Raka akan di kasih hadiah," ucap Radit.


"Gw gak mau pikirin soal itu dulu. Tujuan gw sekarang nemuin Prilly. Sebelum Prilly ketemu gw gak akan bisa tenang," ucap Ali.


Ayah Ali tanpa sengaja mendengar percakapan mereka. Ayah Ali menghampiri Ali cs.


“Ali,” panggil ayah Ali.


“Dad? Kapan balik dari luar negeri Dad?” tanya Ali.


“Barusan. Daddy denger semua percakapan kamu,” ucap Ayah Ali.


“Jujur, Ali enggak tau mesti gimana lagi? Ali gak tau harus cari Prilly ke mana,” ucap Ali.


“Pakai satelit Daddy buat nemuin Prilly. Kamu harus ngelindungin dia dari Raka. Mom pasti enggak mau kehilangan Prilly dan satu lagi jangan sampai Mom tau. Nanti Mom bisa syok dan panik,” ucap Ayah Ali.


“Makasih Dad,” ucap Ali.


Ali memakai satelit Ayahnya untuk menemukan Prilly.


“Gila, ayah lo beli satelit? Kan mahal banget. Mana mahal banget sekali penggunaannya,” ucap Steve.


“Iya keren. Gila seperti di film-film Hollywood gitu,” ucap Radit.


“Anjrit keren banget,” ucap Mich.

__ADS_1


“Fokus. Kita masih harus nemuin Prilly dan nyusun rencana,” ucap Dimas.


"Ok," ucap Mich, Steve dan Radit bersamaan.


__ADS_2