Lala Land

Lala Land
Episode 38


__ADS_3

Prilly dan yang lain pindah villa. Prilly sangat senang berada di villa itu. Prilly dan Ibu Ali mengurus taman. Ibu Ali mengajarkan cara menanam bunga yang baik.


“Li untung Prilly sudah gak ke inget soal kemarin lagi,” ucap Dimas.


“Iya, ini berkat Radit yang rela di isengin Prilly…Thankz Dit,” ucap Ali.


“Eh! Gak gratis, bayar tau. Pokoknya lo mesti traktir gw makan enak,” ucap Radit.


“Tenang saja Dit, gw bakal traktir lo makanan sampai lo kenyang,” ucap Ali.


“Li, kita juga mau,” ucap Steve.


“Iye-iye gw beliin tapi kalau Radit khusus,” ucap Ali.


“Ok. Beli sekarang gih, gw laper. Pokoknya gw mau KFC terus pizza hut, martabak, jagung bakar. Jangan lupa minumnya,” ucap Radit.


“Astaga! Dit makan itu?” tanya Dimas.


“Bodo! Gw laper,” ucap Radit.


“Hati-hati Dit jadi gemuk nanti,” ucap Mich.


“Gak akan! Gw selalu olahraga,” ucap Radit.


“Gw cari di mana kayak gituan di sini Dit? Nanti pas balik saja Dit. Gw bakal bayar 2 kali lipat,” ucap Ali.


“Ya sudah tapi sekarang yang ada dulu,” ucap Radit.


“Ok, gw pergi beli dulu. Ngalah gw sama lo,” ucap Ali berjalan pergi.


Ali berjalan ke arah Prilly dan Ibunya.


“Kapan lagi bisa nyuruh-nyuruh Ali? Dari dulu temenan sampai sekarang dia yang nyuruh gw,” ucap Radit.


“Jangankan lo, gw saja gak pernah nyuruh-nyuruh dia,” ucap Dimas.


Di taman….


“Hello Mom dan sayangku,” ucap Ali.


“Kenapa Nak?” tanya Ibu Ali.


“Ali mau pergi beli makan. Mom mau nitip apa?” tanya Ali.


“Kayaknya gak usah. Kamu tau Dad mau barbeque, Kang Maman lagi siapin bahannya,” ucap Ibu Ali.


“Aku ikut Sayang,” ucap Prilly menghapus keringat di pipinya.


“Boleh Sayang tapi masa kamu mau pergi berantakan gitu,” ucap Ali menghapus kotoran di muka Prilly.


“Emang kenapa mukaku?” tanya Prilly.


“Banyak tanahnya. Lagian kamu berkebun jangan lap muka pakai tangan yang kotor,” ucap Ali.


“Oh iya lupa. Ya sudah aku cuci muka dulu Sayang,” ucap Prilly berjalan pergi.


Prilly pergi mencuci muka lalu setelah itu Prilly pergi membeli makanan pesanan Radit bersama dengan Ali. Di tempat Raka, Raka mendapatkan nomor Hp Prilly dari orang suruhannya.


“Bagus! Dapet juga lo,” ucap Raka.


“Gak gampang Bos. Setelah nanya satu kampus cuma ada satu orang yang tau nomor Hp baru Prilly,” ucap suruhan Raka.


“Bagus bagus, ini uang dan bonus kalian. Sekarang pergi,” ucap Raka memberikan uang ke preman suruhannya.


“Prilly Sayang lihat apa yang sulit akan jadi gampang sama gw,” ucap Raka.


Raka tersenyum lalu Raka mengeluarkan hpnya.


“Gw kangen suara lo, Sayang,” ucap Raka menelepon Prilly.


Di tempat Prilly berada Prilly sedang menunggu di mobil Ali. Ali sedang memesan makanan.


“Siapa yang telepon? Kenapa gak ada nomornya, apa Bunda? Pasti Bunda,” ucap Prilly.


Prilly mengangkat telpon itu.


“Hallo… Hallo? Kenapa gak ada jawaban? Apa gak ada sinyal? Hallo… Ini Bunda? Prilly lagi gak ada sinyal Bun, Prilly lagi di puncak sama Ali. Hallo… Bunda? Kenapa mati? Mungkin gak ada sinyal di sini,” ucap Prilly


“I got you baby, sekarang gw tau lo di mana. Akan gw cari lo Sayang, just wait for me baby,” ucap Raka.


Ali masuk ke dalam mobil.


“Sayang sudah nih, yuk pulang,” ucap Ali.


“Masa sudah mau pulang Sayang,” rengek Prilly manja.


“Emang mau ke mana Sayang? Sudah malem nanti panggang-panggangnya gimana? Terus nanti makanan pesenan Radit gak enak,” ucap Ali mencubit pipi Prilly.


“Sakit Sayang,” rengek Prilly.


“Habis kamu gemesin. Balik saja ya, lagian kamu pasti mau cepet makan dan lihat bunga-bunga di sana,” ucap Ali mengelus kedua pipi Prilly.


“Ya sudah,” ucap Prilly memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu tumben ngambek gini. Gak biasanya,” ucap Ali memegang kedua pipi Prilly.


Prilly hanya diam dan tidak melihat mata Ali.


“Sayang, bilang sama aku, kamu kenapa? Aku gak suka lihat kamu ngambek gini,” ucap Ali.


“Maaf Sayang. aku bukan marah sama kamu. Aku kangen sama Bunda dan Ayah. Tadi Bunda kayaknya telepon aku, tapi putus teleponnya,” ucap Prilly.


“Ya ampun Sayang, kamu bisa telepon balik,” ucap Ali.


“Udah Sayang tapi gak di angkat,” ucap Prilly.


“Ya sudah jangan sedih nanti di coba lagi,” ucap Ali.


“Maaf Sayang, aku tadi jadi ngambek ke kamu,” ucap Prilly memeluk Ali.


“Gapapa, yang penting sekarang kamu jangan ngambek-ngambek lagi,” ucap Ali.


“Makasih Sayang, aku cinta banget sama kamu,” ucap Prilly.


“Ikh, kamu gemesin banget. Aku juga cinta sama kamu,” ucap Ali mencium bibir Prilly.


“Mmm... Kak Ali,” ucap Prilly.


“Prill, aku kangen banget nyium bibir kamu. Dari kemarin aku rasanya pengen lahap bibir kamu tapi aku tahan,” ucap Ali saat dia memberikan Prilly waktu bernapas.


Wajah Prilly merona merah.


“Kamu harus membayar hukuman kamu karna sudah iseng tadi,” ucap Ali kembali menciumi bibir Prilly sebelum dia protes.


Setelah ciuman cukup lama Ali menarik Prilly supaya duduk di pangkuannya. Setelah itu Ali menciumi leher Prilly dan menghirup aroma tubuh Prilly.


Ali meninggalkan kiss mark di leher Prilly. Ali kembali ******* bibir Prilly. Di tengah ciuman mereka, Ali memasukkan tangannya ke baju Prilly, sontak membuat Prilly kaget.


“Sayang, kamu mau ngapain? Kamu sudah janji gak akan ngelakuin sebelum nikah,” ucap Prilly menahan tangan Ali.


“Maaf Sayang kelepasan. Ya sudah yuk kita pulang saja, nanti aku gak bisa nahan diri lagi,” ucap Ali.


Prilly dan Ali kembali ke villa. Sesampainya di villa, Kang Maman datang membukakan pintu gerbangnya.


“Den lama banget, di tunggu yang lain,” ucap Kang Maman.


“Ya sudah Kang Maman turunin barang, aku ke sana dulu sama Prilly,” ucap Ali.


“Sayang pakai jaketku, di kancing sampai atas, nanti kamu di godain yang lain lagi gara-gara ada bekas hickey,” ucap Ali memberikan jaketnya.


“Ish! Sayang, kamu kasih aku tanda lagi? Iseng deh,” ucap Prilly mencubit perut Ali.


“Maaf Sayang habis kamu buat aku pengen ninggalin tanda di semua badan kamu,” ucap Ali sambil memakaikan jaket ke Prilly.


Kang Maman dia mikir yang aneh-aneh,” ucap Prilly.


“Udah yuk jalan Sayang,” ucap Ali lalu menggandeng tangan Prilly.


“Hai semuanya, sudah nunggu lama? Dit ini pesenan lo, cuma ada ini,” ucap Ali memberikan jagung bakar ke Radit dan yang lain.


“Lama lo, sudah kenyang gw sama asep panggangan,” ucap Radit.


Radit memperhatikan Prilly dari dekat.


“Prill kenapa bibir lo kayak merah gitu? Hayo… Habis ciuman pasti,” goda Radit.


“Apaan sih Kak Radit sembarangan,” ucap Prilly malu-malu.


Tiba-tiba Hp Prilly berbunyi.


“Gak ada nomornya lagi, siapa ya? Pasti Bunda,” ucap Prilly mengangkat teleponnya.


“Hallo Bunda? Halllo... Hallo... Hallo ini siapa?” tanya Prilly


“Kenapa Sayang?” tanya Ali.


“Ini Kak ada yang telepon aku gak ada nomornya. Pasti Bunda, cuma gak ada suaranya,” ucap Prilly.


“Ya sudah sini biar aku yang coba,” ucap Ali mengambil hp Prilly


“Hallo ini Tante? Hallo Tan?” ucap Ali.


Raka mematikan telponnya.


“Kenapa di matiin?” Ucap Ali bingung.


“Ya sudah Prill coba telepon Bunda kamu lagi saja,” ucap Ali.


“Ok, Kak,” ucap Prilly.


Prilly menelpon kedua orangtuanya melalui Skype.


“Hallo anak Bunda yang cantik,” ucap Ibu Prilly.


“Hallo Bunda, Bunda tadi ada telpon Prilly?” tanya Prilly.


“Gak sayang, Bunda beberapa hari ini sibuk jadi gak sempet telpon kamu. Kenapa sayang?” tanya Ibu Prilly.

__ADS_1


“Gapapa Bun. Bunda apa kabar?” tanya Prilly.


“Baik. Prill besok Bunda telpon lagi ya, Bunda harus kerja,” ucap Ibu Prilly.


“Ok Bun. Hati-hati ya Bun dan sehat selalu,” ucap Prilly.


“Kamu juga sayang. Love you,” ucap Ibu Prilly.


“Love you too Bun. Salam buat Ayah,” ucap Prilly.


“Ok,” ucap Ibu Prilly mematikan telponnya.


“Siapa yang nelepon aku? Apa salah sambung?” tanya Prilly ke bingungan.


Prilly melihat hpnya dengan bingung.


“Mungkin salah sambung Sayang. Ya sudah gak usah di pikirin, yuk makan,” ucap Ali.


Di tempat Raka, dia sedang mengemudi menuju tempat Prilly. Raka menggunakan GPS untuk melacak keberadaan Prilly.


“Sial! Kenapa Prilly mesti sama Ali? Shit! Sayang kenapa lo kasih telepon nya ke Ali padahal yang gw mau denger itu suara lo. Tunggu gw, sebentar lagi gw sampai,” ucap Raka.


Raka mengemudikan mobilnya dengan cepat.


“Gw betul-betul sudah gak sabar lihat lo Sayang, walau dari jauh. Gw akan bawa lo dan gak akan biarin lo ninggalin gw lagi. Lo harus jadi milik gw. Lihat saja gw akan ngelakuin segala cara untuk dapetin lo,” ucap Raka.


Prilly yang sedang panggang-panggang  langsung merasa tidak enak.


“Sayang,” panggil Prilly.


“Iya Sayang, kenapa?” tanya Ali.


“Kenapa perasaanku tiba-tiba gak enak gini ya?” tanya Prilly.


“Kamu sakit?” tanya Ali menaruh tangannya di kening Prilly.


“Gak sakit Sayang, aku cuma ngerasa takut saja tiba-tiba dan perasaanku gak enak,” ucap Prilly.


“Mungkin kamu kecapean Sayang. Kemarin kamu gak nyenyak tidurnya. Mending kamu istirahat di kamar,” ucap Ali.


“Ok,” ucap Prilly.


Ali membawa Prilly ke kamar lalu Prilly istirahat. Ali kembali ke bawah untuk bergabung dengan yang lain. Saat Prilly ingin memejamkan matanya ada telepon. Prilly melihat tidak ada nomornya semakin bingung.


“Salah sambung bisa berkali-kali, aneh, bodolah,” ucap Prilly.


Namun telepon berdering terus sehingga membuat Prilly kesal. Akhirnya Prilly mengangkat teleponnya.


“Hallo ini siapa? Mau cari siapa? Kalau bukan cari yang namanya Prilly gak usah telepon-telepon lagi! Berisik!” omel Prilly.


“Ini gw, Sayang. Masa lo sudah lupa sama gw? Padahal gw gak pernah lupa sama lo,” ucap Raka.


“Raka? Kamu tau nomorku dari mana,” ucap Prilly ketakutan.


“Kamu masih inget aku, aku seneng Sayang. Aku dapet nomor kamu dari mana gak penting. Aku sedih banget waktu kamu ganti nomor Hp dan Line kamu,” ucap Raka.


Prilly gemetar ketakutan mendengar suara Raka.


“Kamu masih inget kan kalau gw bakal jadiin lo milik gw sepenuhnya? Sebentar lagi Sayang. Gw tau lo sekarang lagi di puncak sama Ali dan temen-temen lo yang waktu itu di pulau. Mereka sekarang sedang panggang-panggang. Tapi kenapa gw gak lihat lo? Padahal yang pengen gw lihat lo, lou pasti ada di dalem,” ucap Raka.


Prilly yang mendengar perkataan Raka ketakutan bukan main. Prilly berteriak sambil berlari keluar.


“Kak Ali, Kak Ali,” teriak Prilly sambil berlari dari kamar.


Ali yang mendengar teriakan Prilly langsung berlari ke dalam di ikuti yang lain. Ali menemukan Prilly yang sedang berlari ke arahnya sambil berlinangan air mata. Prilly langsung memeluk Ali.


“Kak Ali, aku takut,” ucap Prilly menangis.


“Kenapa Sayang? Kenapa kamu nangis? Hey Sayang, cerita sama aku,” ucap Ali panik.


“Raka Kak..,” ucap Prilly tertahan.


“Raka? Ada apa sama Raka? Kamu mimpiin dia lagi?” tanya Ali.


Prilly pun menceritakan semuanya dan membuat yang lain syok.


“Kamu ada kasih nomor kamu ke orang lain?” tanya Ali.


“Gak ada Kak. Eh! Tapi kemarin aku telepon temen kampus minta dia izinin aku gak masuk Kak,” ucap Prilly.


“Kamu kenapa telepon dia gak izin aku? Pasti dia tau dari sana,” omel Ali.


“Maaf Kak,” ucap Prilly menundukkan kepalanya.


“Ya sudah Li, sebaiknya Dad telepon penjaga buat berjaga di depan. Untuk malam ini kamu temenin Prilly dulu supaya tenang,” ucap Ayah Ali.


“Ok Dad,” ucap Ali.


Ayah Ali menelpon penjaga villa.


“Sayang jangan takut ada kita di sini,” ucap Ali menenangkan Prilly.


“Iya sayang,” ucap Prilly mencoba tenang

__ADS_1


Prilly menghapus air matanya.


__ADS_2