
ALI cs berusaha membuat Prilly melupakan kejadian Raka, dengan memperpanjang liburan di puncak.
Ali sudah mengganti nomor baru dan mengganti Line Prilly dengan yang baru.
Ali menelepon orangtuanya untuk memberitahukan kalau dia memperpanjang liburan dan menceritakan semuanya.
“Prill hari ini kita pindah ke villaku yang kemarin. Kamu suka kan?” tanya Ali.
“Serius Kak? Aku suka banget,” ucap Prilly riang.
“Prill baru dapet permen atau coklat dari Ali? Bagi satu dong,” ucap Radit yang baru keluar dari kamarnya.
“Siapa bilang aku dapet permen atau coklat?” tanya Prilly.
“Itu lo kesenengan, biasanya anak kecil seneng kalau di kasih permen atau coklat. Jangan pelit Prill, laper gw. Kang Maman belum belanja,” ucap Radit.
“Aku bukan anak kecil!” ucap Prilly kesal.
“Kata siapa bukan anak kecil, buktinya badan lo unyil begini,” goda Radit.
“Ikh! Kak Radit nyebelin, dasar playboy cap kapak yang sudah gak laku,” ucap Prilly.
“Enak saja! Siapa bilang gw gak laku? Banyak yang ngantre tau, dasar unyil,” ucap Radit menyentil kepala Prilly.
“Kak Ali, Kak Radit iseng ngatain aku, habis itu dia sentil aku,” ucap Prilly menghampiri Ali dan menunjuk-nunjuk Radit seperti anak kecil.
Ali melihat Radit lalu Radit langsung keluar keringat dingin.
“Eh! Prill gak, cuma bercanda jangan ngadu. Gw gak kenceng nyentilnya peace Li, Prill jelasin ke Ali kalau gw sentilnya gak kenceng, bisa habis gw sama Ali,” ucap Radit.
“Biarin wekkk,” ucap Prilly menjulurkan lidahnya.
“Nih anak kecil satu,” ucap Radit mendekati Prilly.
Radit berjalan mundur saat Ali mendekati dirinya.
“Guys tangkep Radit, gw lagi males keluar tenaga,” perintah Ali.
Yang lain menangkap Radit dan Ali mendatangi Radit sambil bersiap menyentil jidatnya.
“Li, gw betulan gak keluar tenaga,” ucap Radit.
“Gw cuma percaya sama pacar kesayangan gw. Sayang dia nyentil kamu kuat atau pelan?” tanya Ali.
“Kenceng Kak lihat sampai merah,” ucap Prilly.
Radit menunjukkan tanda x dengan jarinya. Prilly melihat itu menjulurkan lidahnya ke Radit.
Yang lain melihat itu menahan tawa termaksud Steve dan Mich yang memegangi Radit.
“Gak bisa nih, gw mesti ikutan nyentil juga. Siapa yang berani nyakitin Prilly harus di bales sama Kakaknya, yuk Ra,” ajak Dimas.
“Jangan nanti bisa bengkak jidat gw,” ucap Radit memohon.
“Tunggu! Aku ada cara lain Kak buat hukum Kak Radit,” ucap Prilly berlari ke kamar.
“Hah! Apes gw. Maksud mau hibur tapi malah kena hukuman,” ucap Radit.
“Udah pasrah saja Dit. Lagian lo iseng sama Prilly, tau dia anaknya iseng kayak lakinya,” ucap Dimas.
Yang lain tertawa melihat Radit ngedumel. Prilly berlari keluar dengan membawa sebuah kotak. Ali menghampiri Prilly.
“Sayang jangan lari. nanti kamu jatuh. Sini aku bawain barangnya pasti berat,” ucap Ali mengambil kotak itu.
“Gak terlalu Kak, ini tas make upku yang di bawa Clara,” ucap Prilly.
“Lo mau ngapain Prill jangan macem-macem,” ucap Radit.
“Prill kayaknya seru, gw ikutan,” ucap Clara.
Prilly mengangguk lalu Prilly berhenti berjalan.
“Sayang sini,” ucap Prilly.
Ali menghampiri Prilly lalu Prilly membisikkan sesuatu ke Ali.
Ali tertawa lalu membisikkan ke Dimas dan Dimas langsung ke belakang. Ali membisikkan ke Mich dan Steve. Setelah itu Dimas kembali dengan tali rafia dan bangku.
“Lo mau ngapain bawa bangku sama tali rafia? Prill please jangan macem-macem, gw masih suci booo,” ucap Radit.
“Suci kepala lo peang,” ucap Mich memukul kepala Radit.
Radit langsung di dudukkan di bangku dan di ikat kedua tangan dan kakinya.
“Woy! Mau ngapain kalian? Ampun,” ucap Radit.
“Hai Kak Radit, hari ini biar Prilly sama Clara kasih Kak Radit hadiah spesial… Muka baru,” ucap Prilly.
__ADS_1
Prilly dan Clara mulai mendandani Radit, walau Radit banyak melawan. Sedangkan yang lain menunggu sambil menonton acara televisi.
“Prill kayaknya ada yang kurang. Sebentar, topi gw sama butuh tali rafia lagi,” ucap Clara berlari keluar.
Beberapa saat kemudian Clara kembali, langsung membuat rambut dari tali raffia dan menyambungkannya dengan topi kemudian di pakaikan ke Radit. Prilly memakaikan Radit high heels.
“Kalian mau dandanin gw jadi bencong apa? Kalian gak takut nanti pacar kalian kesengsem sama gw,” ucap Radit.
“Maaf Kak Radit tapi Kak Radit cantik banget. Coba lihat sini Kak and say cheese,” ucap Prilly memfoto Radit.
Radit yang sudah pasrah mengikuti kejahilan Prilly, Radit memakai baju Clara dengan pasrah karena dia ingin membuat Prilly lupa masalahnya.
Setelah mengganti bajunya Radit keluar dari wc.
“Hai, gimana eyke cantik gak?” tanya Radit ke Prilly dan Clara.
“Kak Radit cantik banget, cucok booo,” ucap Prilly tertawa.
“Iya Kak, cantik banget,” ucap Clara.
“Makasih, eyke memang paling cantik di sini. Yuk ah, cus kita gangguin brondong di depan,” ucap Radit.
“Tunggu Kak. Kalau Kak Radit berani isengin mereka dengan mencium pipi mereka aku bakal beliin Kak Radit coklat sama permen 10 bungkus masing-masing. Berani gak?” tanya Prilly.
“Siapa takut? Deal,” ucap Radit.
“Deal,” ucap Prilly menjabat tangan Radit.
Prilly serta Clara keluar kamar sambil menahan tawa mereka.
“Ehem… Ehem… Ladies and gentleman… Eh! Salah maksudnya
Gentleman, silakan sambut Miss Indonesia tahun 2015,” ucap Prilly menunjuk ke arah pintu kamar.
Radit keluar dengan melambai-lambaikan tangannya seperti Miss Indonesia mengundang tawa di sana.
“Hello kenalin nama eyke Raisa, umur 20 tahun, kerjaan eyke kalau malem jadi Raisa dan kalau siang jadi Radit. Eyke pemenang Miss Indonesia,” ucap Radit mengedipkan matanya.
“Sumpah cocok banget lo,” ucap Steve tertawa terbahak-bahak.
“Aduh! Makasih Kakak Ganteng,” ucap Radit mencium pipi steve.
Steve kaget dan terdiam lalu Radit berjalan ke arah Ali yang sedang tertawa dan mencium pipi Ali di saat dia lemah.
Ali syok dan Radit menghampiri Dimas lalu memaksa mencium pipinya. Setelah berhasil Radit mengejar Mich dan mencium kedua pipi Mich.
“Ish! Mesti mandi kembang tujuh rupa gw,” ucap Dimas menghapus bekas ciuman Radit.
“Kalau gw mesti ngilangin ini bekas pakai air keras,” ucap Mich mengusap pipinya dengan keras.
“Arghh! Gw di cium banci lekong,” teriak Steve menghapus ciuman Radit.
Prilly serta Clara tertawa melihat itu sedangkan Dimas, Ali, steve, Mich masih sibuk membersihkan pipinya.
“Yes! Eyke berhasil cium brondong-brondong dan dapet coklat sama permen dari Prilly. Prill jangan lupa coklat 60 bungkus karna tadi eyke nyium Mich 2x. Kalian gak boleh marah sama eyke tapi marah sama Prilly yang nantangin,” ucap Radit menunjuk Prilly.
“Eh! Kak Radit jangan bilang-bilang,” ucap Prilly menutup mulut
Radit namun terlambat.
Ali berjalan mendekati Prilly serta Radit.
“Gak Kak Ali, Kak Dimas, Kak Mich, Kak Steve itu Kak Radit bohong sama kalian,” ucap Prilly.
“Li ciuman pipi gw, lo yang bales saja ke Prilly. Cium sampai puas biar kapok dia ngerjain orang tua,” ucap Mich.
“Emang lo sudah tua, baru nyadar,” ucap Radit.
“Bawel lo, banci lekong,” omel Mich menghapus bekas ciuman Radit.
Ali semakin mendekati Prilly. Prilly mundur ke belakang lalu lari. Tapi lagi-lagi berhasil di tangkap Ali dan sekarang Ali memeluk Prilly.
“Ampun Kak Ali, aku gak nyuruh Kak Radit buat cium Kak Ali. Aku cuma suruh cium yang lain,” ucap Prilly.
“Bohong Li, wuah! Cewek lo sudah belajar bohong,” ucap Radit.
“Kak Radit diem,” ucap Prilly.
“Bodo wekk,” ucap Radit menjulurkan lidahnya.
“Aku gak suka di bohongin kamu,” ucap Ali.
“Iya maaf Kak, aku cuma nantangin. Aku kira Kak Radit gak akan berani cium. Eh, tau-taunya dia nekat,” ucap Prilly.
“Li pokoknya jatah kita semua kita kasih lo. Walau gw gak rela tapi masa gw cium pipi cewek temen gw,” ucap Dimas.
“Yoii tenang broo jatah kalian bakal gw bales 2x lipat,” ucap Ali tersenyum jahil.
__ADS_1
Ali menciumi kedua pipi Prilly berulang kali di depan semuanya. Prilly hanya bisa pasrah. Ali terus menerus menciumi pipi Prilly.
“Kayaknya itu malah kesenengan Alinya sampai gak berhenti. Sosol terus Li sampai puas,” ucap Dimas.
“Kamu masih ada satu hukuman karna sudah bohong, siap-siap saja kamu,” bisik Ali saat menyudahi mencium pipi Prilly.
Pipi Prilly semakin memerah lalu Prilly menutupi wajahnya dengan tangan.
“Rame banget di sini, Mom sama Dad boleh ikutan kalian?” tanya Ibu Ali.
“Mom, Dad kalian kenapa bisa di sini?” tanya Ali memeluk kedua orangtuanya.
“Tante, Om apa kabar?” tanya Prilly.
“Baik Sayang, kamu sendri gimana?” tanya Ibu Ali.
“Baik Tan,” ucap Prilly tersenyum.
“Om senang kalau masalah kalian sudah selesai,” ucap ayah Ali.
“Iya Om maaf waktu itu bikin liburannya berantakan,” ucap Prilly.
“Gapapa, Om ngerti,” ucap Ayah Ali.
“Hallo Tante Cantik dan Om Ganteng,” ucap Dimas memeluk kedua orangtua Ali.
“Ini dia temen Ali yang gak kalah iseng sama Ali,” ucap ibu Ali.
Yang lain memberi salam kepada Ibu dan Ayah Ali. Namun saat Radit memberi salam, Ayah dan Ibu Ali kebingungan.
“Ali, kamu bawa banci dari mana? Buat apa kamu pesen-pesen banci?” tanya Ayah Ali.
“Tau ish Ali, kamu mainnya serem gitu,” ucap Ibu Ali.
Pertanyaan orangtua Ali membuat semua kembali tertawa.
“Om, Tante ini Radit,” ucap Radit.
“Ya ampun Dit, Tante gak tau kamu suka dandan kayak gini. Tante sampai gak ngenalin, tapi cocok juga asalkan bulu-bulunya di potong,” ucap Ibu Ali.
“Dit, Om baru tau. Kamu pantes juga kayak gini tapi gak nyangka saja kamu mau pakai kayak gituan,” ucap ayah Ali.
“Om, Tante jangan salah paham. Ini semua kerjaan Prilly sama Clara,” ucap Radit.
“Bohong Tan, itu Kak Radit yang minta,” ucap Prilly menahan tawa.
“Nih unyil satu minta gw pites,” ucap Radit mengangkat tangannya.
“Argh! Sayang aku mau di pukul,” ucap Prilly ngumpet di belakang Ali.
“Berani nyentuh Prilly lagi, gw masukkin kandang singa lo,” ancam Ali.
“Yang ada, lo masukkin dia ke kandang singa nanti Radit di kawinin lagi sama singanya,” ucap Dimas dan membuat yang lain tertawa.
“Rese kalian, males aku jadinya,” omel Radit dan membalikkan tubuhnya.
“Kak Radit jangan ngambek nanti cantiknya, eh! Maksudnya gantengnya hilang,” ucap Prilly.
“Bodo! Dasar mulut mercon tukang ngadu,” ucap Radit berjalan pergi.
“Dit mau ke mana? Tante sama Om mau ambil kenang-kenangan kamu lagi dandan gini, ini mesti di abadiin,” ucap Ibu Ali.
Ibu Ali mengambil kamera dan mereka berselfie ria bersama Radit. Saat foto Radit mencubit pipi Prilly. Lalu Ali membalas Radit dengan menarik kuping Radit.
[Raka PoV]
“Gw sudah bayar lo buat nyari Prilly, kenapa susah banget. Kerja gitu saja gak becus! Taunya duit kalian,” omel Raka.
“Maaf Bos, temen-temen kampusnya gak ada yang tau Prilly di mana,” ucap preman suruhan Raka.
“Bullshit lo! Udah tanyain nomor Hp baru Prilly atau Line dia atau BBM ke mereka?” teriak Raka.
“Maaf Bos belum,” ucap preman.
“Tolol lo! Udah gw bilang cari tau semua soal Prilly. Lama banget! Pokoknya besok lo mesti kasih tau nomor Hp baru Prilly,” teriak Raka.
“Siap Bos kalau begitu saya permisi dulu,” ucap preman itu dan pergi.
“Kerja gak becus banget, heran gw,” omel Raka.
Raka mengambil foto Prilly.
“Prilly, gw kangen lo Sayang. Kenapa lo gak mau jadi milik gw? Gw akan buat lo jadi milik gw secepatnya. I love you Prilly Kamelia. Lo mau bohong soal nama atau apapun percuma Prill,” ucap Raka.
Raka mencium foto Prilly.
“Gw sudah gak sabar ketemu sama lo,” ucap Raka memandang foto Prilly.
__ADS_1