
Prilly bersiap-siap untuk menjalankan rencana Dimas. Prilly mulai mengaktifkan handphonenya supaya Raka bisa melacak dirinya.
“Sayang kamu hati-hati. Aku akan jagain kamu terus dan pakai ini Sayang,” ucap Ali memberikan Prilly sebuah kalung.
“Ini Kak benda pelacaknya? Enggak kelihatan sama sekali,” ucap Prilly.
“Iya Sayang. Inget, aku mau kamu hati-hati jangan gegabah. Harus tenang hadapin orang gila kayak Raka,” ucap Ali memakaikan kalung itu ke Prilly.
“Makasih Sayang. Walau aku takut sih. Tapi aku ada kamu dan juga yang lain, apalagi pelacak ini,” ucap Prilly memperlihatkan kalungnya.
Ali tersenyum dan membelai puncak kepala Prilly.
“Lo pasti akan aman Prill,” ucap Dimas.
“Kita akan selalu jagain lo,” ucap Radit.
“Yang penting lo inget kata Ali. Lo harus tenang hadapin orang gila itu,” ucap Mich.
“Kita pasti akan secepatnya selamatin lo,” ucap Steve.
“Makasih semuanya. Berkat kalian, aku bisa ngerasa aman,” ucap Prilly tersenyum.
“Bagus kalau gitu. Aku gak akan biarin apapun terjadi sama kamu,” ucap Ali.
“Iya sayang. Makasih ya,” ucap Prilly memeluk Ali.
“Ciee… Ahem… Ahem… Romantisnya,” ledek Dimas.
“Enaknya ada yang meluk,”goda Radit.
Blush….
Wajah Prilly merona merah mendengar ocehan Dimas dan Radit.
“Apaan sih? Iseng deh,” ucap Prilly salah tingkah.
Prilly melepaskan pelukannya dan Ali tersenyum melihat wajah Prilly yang merona.
“Kalau gitu aku tinggal kamu supaya kalau Raka bergerak dia enggak ngelihat aku,” ucap Ali mencium kening Prilly.
“Ok sayang,” ucap Prilly.
“Ciee… Sayang,” ledek Dimas.
“Say… Say… Merdunya suara Prilly waktu manggil Ali sayang,” goda Radit.
Wajah Prilly semakin merona merah.
“Udah… Gak usah mulai deh isengnya. Ayuk ke luar sekarang,” ucap Ali.
Ali mendorong Dimas, Radit ke luar. Mich dan Steve mengikuti dari belakang. Pintu kamar Prilly tertutup namun pintu itu kembali terbuka dan Prilly melihat Ali.
“Jangan takut sayang. Kita ada di sini untuk kamu. Love you,” ucap Ali.
“Love you too,” ucap Prilly malu-malu.
Ali tersenyum lalu menutup pintu kamar Prilly. Sedangkan Raka berhasil masuk pancingan Dimas. Setelah Prilly mengaktifkan Handphonenya, Raka segera melacak keberadaan Prilly dan menyusul Prilly.
__ADS_1
Setelah sampai di Jogjakarta, Raka langsung mencari keberadaan Prilly. Saat Raka tau tempat penginapan Prilly,
Raka memilih tinggal di sana supaya bisa memantau Prilly.
Prilly merasa bosan menelpon Ali dan baru deringan pertama Ali sudah mengangkat telpon Prilly.
“Ada apa Prill? Sudah ada tanda-tanda Raka?” tanya Ali khawatir.
Ali baru mau membuka pintu untuk ke kamar Prilly langsung terhenti saat mendengar penjelasan Prilly.
“Belum. Aku bosen sayang. Boleh gak aku ke kolam renang? Aku mau lihat pemandangan sebentar saja,” ucap Prilly.
“Hmm… Raka sepertinya masih beberapa jam lagi sampai sini. Kamu masih ada waktu jalan di kolam renang. Tapi… Aku gak bisa nemenin kamu. Takutnya Raka melihat aku sama kamu nanti semua jadi gagal,” ucap Ali.
“Gapapa say. Aku sendiri saja. Boleh ya?” tanya Prilly.
“Boleh. Tapi hanya sebentar,” ucap Ali.
“Siap say. Makasih ya,” ucap Prilly.
“Iya. Kamu hati-hati ya say,” ucap Ali.
“Ok,” ucap Prilly.
Prilly memutuskan sambungan telponnya. Prilly bersiap ke luar dan saat Prilly sudah rapih, Prilly ke luar dari kamarnya.
“Ah! Aku lupa bawa Handphoneku. Ambil dulu ah,” ucap Prilly.
Raka yang mengintai Prilly dari depan kamar mengambil kesempatan untuk mendekati Prilly. Raka keluar kamar dan menahan tangan Prilly lalu menutup mulut Prilly. Raka menyeret Prilly ke kamarnya. Prilly kaget karena ini lebih awal dari rencana mereka dan Prilly tidak bawa Hp bersama dengan dirinya.
“Prilly, kamu tenang. Pasti Kak Ali tau kalau kamu lagi dalam bahaya. Ikutin kata Kak Ali dan yang lain, harus tenang hadapin Raka,” ucap Prilly dalam hati.
“Hmmm,” ucap Prilly mencoba bicara.
“Lo pasti bilang lo kangen gww,” ucap Raka.
Prilly mengangguk dan membuat Raka terkejut lalu melepaskan tangannya.
“Lo kangen sama gw Sayang?” tanya Raka.
“Iya Raka,” ucap Prilly takut-takut.
“Kak Ali, aku mohon cepet dateng. Aku takut. Ternyata ini lebih sulit di banding kedengerannya,” ucap Prilly dalam hati.
Ali merasa aneh dengan monitor tanda keberadaan Prilly yang berada di depan kamar hotelnya.
"Kenapa titik keberadaan Prilly aneh ya? Ini gak seperti lokasi kamar Prilly tapi kamar di depannya. Ada yang gak beres. Guys, kita cek sekarang," ucap Ali.
"Ok," ucap Dimas, Radit, Mich dan Steve bersamaan.
Mereka pergi untuk menyelamatkan Prilly.
“Akhirnya Prill, lo kangen sama gw,” ucap Raka memeluk Prilly.
Perasaan takut waktu itu muncul kembali dan membuat Prilly mendorong tubuh Raka. Raka melihat Prilly dengan curiga.
“Prilly? Lo kayaknya aneh. Apa yang lo rencanain?" teriak Raka mengguncang tubuh Prilly.
__ADS_1
“Enggak ada, aku enggak rencanain apa-apa. Percaya sama aku, Raka. Raka sakit, lepasin tangan aku,” ucap Prilly.
“Jangan bohong. Lo bilang kangen gw, kenapa lo menghindar dari gw dan ketakutan,” teriak Raka.
“Raka please jangan kayak gini. Katanya kamu sayang sama aku, tapi kenapa kamu kasar?” ucap Prilly.
“Gw sayang sama lo tapi lo nyakitin gw seperti yang lain. Jadi buat apa gw baik sama lo,” ucap Raka mendorong Prilly hingga terjatuh dan kepalanya terantuk pinggiran kasur.
Prilly meringis kesakitan dan memegangi kepalanya.
“Denger Prill, apapun yang lo rencanain, percuma! Enggak akan ada yang bisa nangkep gw dan lo pasti akan jadi milik gw,” teriak Raka menjambak rambut Prilly.
“Raka sakit,” teriak Prilly kesakitan.
Saat Prilly berteriak terdengar suara dobrakan pintu. Pintu terbuka dan Ali cs masuk ke dalam. Raka yang melihat mereka masuk mengeluarkan pisau saku dan menarik Prilly ke pelukannya lalu Raka menaruh pisau di leher Prilly.
“Jangan mendekat atau Prilly akan mati,” ancam Raka.
“Brengsek! Kalau sampai Prilly kenapa-napa gw pastiin lo akan merasakan hidup di neraka,” teriak Ali emosi.
“Oh ya? Gw sudah hidup di neraka dengan ngelihat lo ngambil Prilly,” teriak Raka menekan pisau ke leher Prilly sehingga mengeluarkan sedikit darah.
“Raka sakit please Raka jauhin pisaunya,” ucap Prilly lemas.
Prilly semakin lemas akibat sakit di kepalanya dan tekanan pisau di lehernya.
“Raka, lo bisa milikin Prilly tapi lo enggak boleh gegabah. Kasihan Prilly. Kalau Prilly kesakitan nanti yang ada Prilly ninggalin lo,” ucap Dimas.
Raka mengendurkan pisaunya dari leher Prilly karena mendengar ucapan Dimas. Saat Ali melihat kesempatan itu, Ali berusaha merebut pisau Raka. Sedangkan Prilly terjatuh ke lantai.
Saat Ali berusaha merebut pisau, tangan Ali tergores oleh pisau itu sehingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“Sial! Gw bakal bales perbuatan lo sesuai janji gw,” ucap Ali menonjok muka Raka berulang kali.
Ali menghajar Raka sampai puas. Saat sudah puas membalas Raka, Ali mengambil pisau lipat yang berada tidak jauh dari dirinya.
“Dim, gw serahin dia ke lo. Kalau lo mau hajar dia boleh saja, silahkan kalian hajar dia sesuka kalian dan sehabis itu masukkin dia ke rumah sakit jiwa,” ucap Ali.
Ali menghampiri Prilly yang terduduk lemas.
“Sayang kamu enggak apa-apa? Maaf aku telat jadinya dia nyakitin kamu lagi,” ucap Ali mengelus rambut Prilly.
“Aku enggak apa-apa Sayang. Justru kamu yang ngeluarin banyak darah. Sebaiknya bawa ke Dokter,” ucap Prilly.
Prilly mencoba berdiri namun gagal karena kakinya lemas sehingga membuat Prilly terjatuh ke lantai.
“Li, lo sama Prilly ke Dokter saja, biar kita kasih pelajaran ke orang ini,” ucap Dimas.
“Iya Li, lo bisa ke rumah sakit terdekat enggak?” tanya Radit.
“Bisa. Jadi kalian puas-puasin hajar dia,” ucap Ali menggendong Prilly.
“Sayang kenapa aku di gendong, nanti tangan kamu tambah sakit dan berdarah,” ucap Prilly.
“Enggak akan Sayang. Aku malah seneng gendong kamu,” ucap Ali.
“Tapi muka kamu sudah pucat Sayang,” ucap Prilly.
__ADS_1
"Perasaanmu saja sayang," ucap Ali.
Ali tetap menggendong Prilly hingga ke mobil dan Ali membawa mobil ke rumah sakit terdekat.