
Ali menurunkan Prilly dan Prilly melihat Dimas cs sudah berada di mobil lain.
“Kak kenapa mobilnya pisah?” tanya Prilly.
“Mobil aku cuma muat dua orang, buruan naik,” ucap Ali.
“Tapi Kak, aku gak bawa baju,” ucap Prilly.
“Nanti tinggal beli di sana,” ucap Ali.
“Yaudah aku naik mobil Kak Dimas saja kalau gitu,” ucap Prilly.
“Mau ke mana? Mobil Dimas sudah penuh, lagian kalau kamu gak mau ikut mobil aku terserah, kalau kamu mau bareng sama hamster lainnya,” ucap Ali naik ke mobil.
“Kak Ali tunggu aku ikut Kak Ali saja,” ucap Prilly naik ke mobil Ali.
“Ini baru Prilly yang aku kenal, aku harap kamu kayak gini terus. Aku kangen sama kamu,” ucap Ali dalam hati.
“Oh ya, aku harus kabarin Raka kalau aku gak bisa ketemu dia,” ucap Prilly dalam hati.
Line : Raka maaf besok kita gak bisa ketemu lagi. Aku ada urusan mendadak.
“Batal terus mau ketemu Raka, kalau gini gimana cara balikin duit yang waktu itu Raka kasih?” tanya Prilly dalam hati.
Prilly membuang napas dengan berat.
“Kak Ali mau ngapain ke puncak?” tanya Prilly.
“Ada urusan sama penjaga villa,” ucap Ali.
“Tapi besok kita pulang? Lusa Aku ada kuliah,” ucap Prilly.
“Iya lusa kita pulang,” ucap Ali.
“Yaudah aku mau tidur, ngantuk,” ucap Prilly.
Prilly memejamkan matanya dan tidak lama kemudian tertidur.
Prilly bermimpi buruk di kejar seorang pria bertopeng yang ingin menculiknya dan Prilly berteriak minta tolong.
“Tolong… Kak Ali tolong aku, aku takut,” ucap Prilly di tidurnya.
Ali yang melihat Prilly mimpi buruk langsung memberhentikan mobilnya di ujung jalan.
“Kak Ali, aku takut,” ucap Prilly dalam tidurnya.
“Hey Prill, Prilly Sayang bangun,” ucap Ali menepuk pipi Prilly pelan.
Prilly membuka matanya langsung memeluk Ali.
“Kak Ali, Prilly takut,” ucap Prilly.
“Tenang Prill, itu semua hanya mimpi bukan betulan. Aku ada di sini buat kamu, jadi tenang,” ucap Ali.
Ali mengelus punggung Prilly supaya Prilly tenang.
Prilly sadar sedang memeluk Ali langsung melepaskan pelukannya.
“Kak Ali ngapain peluk-peluk aku? Kak Ali cari-cari kesempatan,” ucap Prilly salah tingkah.
“Kamu yang meluk aku, kenapa malah nuduh aku? Dasar aneh,” ucap Ali.
“Jangan bohong, mana mungkin aku mau meluk Kak Ali,” ucap Prilly.
“Yaudah kalau gak percaya! Di bilang ngeyel banget. Males aku berantem sama kamu. Kamu mimpi apa sampai segitunya?” tanya Ali.
“Aku mimpi apa bukan urusan Kak Ali. Sudah Kak Ali nyetir lagi ngapain berhenti,” omel Prilly.
“Ikh! Ini anak makin lama makin ngeselin! Nyesel aku bangunin kamu, biar saja kamu mimpi buruk terus,” omel Ali.
Ali kembali menyetir sambil menahan rasa kesalnya.
“Maaf, aku marahin Kak Ali. Aku cuma gak mau nanti aku makin sayang sama Kak Ali dan Kak Ali malah kayak dulu ngecewain aku. Biar rasa sayangku di buang jauh-jauh asal Kak Ali bisa dapetin Kak Samantha, aku tau Kak Samantha itu orang yang Kak Ali cinta. Aku akan tetep jadi Prilly yang sekarang supaya aku bisa jadi cewek yang kuat, gak di anggap remeh,” ucap Prilly dalam hati.
Prilly melihat Ali dengan sedih lalu Prilly melihat ke luar jendela.
“Tadi aku kenapa bisa mimpi serem gitu? Aku gak pernah mimpi seserem itu. Sebetulnya ada apa ini? Semoga gak ada apa-apa,” ucap Prilly dalam hati.
“Kak Ali tutup atap mobilnya, sudah mulai dingin,” ucap Prilly.
Ali berhenti di tepi lalu Ali menekan tombol untuk menutup atap mobilnya dan Ali melepas jaketnya.
“Pakai jaketnya nanti kamu masuk angin, lagian siapa suruh ke puncak pakai tanktop,” ucap Ali memakaikan jaketnya.
“Aku gak mau,” ucap Prilly menghempas tangan Ali.
“Yaudah terserah kamu,” ucap Ali melempar jaketnya ke jok belakang.
“Kak Ali masih lama gak nyampenya? Ke belet pipis,” ucap Prilly.
“Kalau gitu kita ke pom terdekat,” ucap Ali.
Ali kembali mengendarai mobilnya ke pom bensin terdekat.
Prilly dan Ali langsung ke toilet. Saat selesai Ali pergi membeli minuman hangat untuk dirinya dan Prilly.
Prilly menunggu Ali di depan toilet sambil menggosok telapak tangannya.
“Aduh Kak Ali mana? Lama banget, dingin lagi,” ucap Prilly.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri Prilly.
“Neng ke dinginan, biar Abang hangetin mau gak?” goda pria itu.
“Heh! Gak usah macem-macem kamu sebelum aku hajar,” omel Prilly.
Prilly memperlihatkan tinjunya.
“Uhhh… Takut… Jangan galak-galak jadi cewek,” ucap pria itu mencolek dagu Prilly.
“Gak usah pegang-pegang atau aku teriak,” ancam Prilly.
“Neng bohay jangan gitu, temenin Abang yuk,” ucap pria itu merangkul pundak Prilly.
“Lepasin aku!” ucap Prilly mendorong pria itu.
__ADS_1
Namun pria itu masih saja merangkul Prilly.
“Kak Ali tolongin Prilly,” teriak Prilly.
“Eh! Neng jangan teriak-teriak,” ucap abang itu menutup mulut Prilly.
“Eeemmmm…” ucap Prilly ketakutan.
“Lucu banget Neng kalau lagi ke takutan. Neng bikin Abang makin bergairah deh,” ucap pria itu.
Prilly menangis ketakutan dan berharap Ali cepat keluar dari toilet. Sedangkan di tempat Ali, Ali selesai membeli minuman langsung menghampiri Prilly ke toilet belakang.
Air yang di beli Ali jatuh saat melihat Prilly yang menangis dan sedang di rangkul pria gak di kenal.
“Lepasin dia, ****!!” teriak Ali emosi.
Ali menghajar pria itu. Pria itu langsung terjatuh lalu pria itu melarikan diri. Ali ingin mengejar orang itu namun terhenti saat Prilly memeluk dirinya dari belakang.
“Kak Ali jangan tinggalin Prilly sendirian, Prilly takut Kak,” rengek Prilly.
Ali menggandeng tangan Prilly menuju mobil.
“Kamu tunggu di dalam dan jangan keluar. Aku mau beli sesuatu,” ucap Ali.
Prilly mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Ali mengunci mobil itu dan membeli minuman hangat lagi.
Saat di dalam mobil Ali menyerahkan minuman hangat itu ke Prilly.
“Di minum selagi hangat biar sedikit tenang,” ucap Ali.
Prilly menerima minuman itu lalu meminumnya. Ali memakaikan jaket ke tubuh Prilly.
“Jangan kamu tolak, tadi pas aku pegang tangan kamu dingin banget. Aku gak mau kamu sakit,” ucap Ali.
“Makasih Kak,” ucap Prilly.
“Gak usah makasih. Malah aku yang mau minta maaf, mestinya tadi aku gak ninggalin kamu sendirian di toilet. Harusnya aku tunggu kamu selesai baru beli minum,” ucap Ali.
“Yang penting sekarang aku sudah gapapa. Kak, jalan sekarang yuk nanti yang lain khawatir,” ucap Prilly.
“Ok,” ucap Ali.
Ali membawa mobilnya menuju villa. Sesampainya mereka di villa, di sana sudah terparkir mobil Dimas dan Ali serta Prilly berjalan masuk ke dalam villa.
“Kak Ali tunggu, tikusnya Kak Mich masih ada gak? Kalau masih ada, aku tidur di mobil saja. Aku gak mau serumah sama tikus,” ucap Prilly.
“Ya ampun Prill kamu segitu takutnya sama tikus? Gak, tadi tikusnya sudah aku suruh buang di jalan,” ucap Ali.
“Di jalan? Kasihan tikusnya, gimana nanti kalau kelindes Kak,” ucap Prilly.
“Prilly, kamu takut tapi kasihan. Ini baru Prilly yang aku kenal,” ucap Ali merangkul Prilly.
“Gak usah pegang-pegang, bisa?” ucap Prilly melepaskan tangan Ali.
Dimas menghampiri Ali dan Prilly.
“Akhirnya nyampe juga. Lo kenapa lama?” tanya Dimas.
“Sorry tadi ada gangguan sedikit di jalan,” ucap Ali.
“Gak usah di bahas. Oh ya mana Kang Maman?” tanya Ali.
“Gw suruh beli bahan barbeque,” ucap Dimas.
“Gw mau istirahat dulu di kamar,” ucap Ali berjalan pergi.
“Ali kenapa? Kenapa tiba-tiba kayak BT gitu?” tanya Dimas.
“Ciee… Prill pakai jaket Ali nih, yeii cieee.. Prilly,” goda Radit tiba-tiba muncul.
“Apaan?! Gak usah lebay! Satu lagi aku, Biee bukan Prilly,” ucap Prilly langsung duduk di sofa.
“Ganasnya kambuh ini anak, nanti gw kasih tikus baru nyaho! Kerjain akh…” ucap Radit dalam hati.
Radit tersenyum melihat Prilly.
“Prill di bawah ada tikus,” teriak Radit.
“Mana tikusnya mana?” teriak Prilly kaget dan berdiri di sofa.
“Lagian jadi cewek jangan galak-galak Prill, memang enak gw kerjain,” ucap Radit tertawa.
“Kak Radit!!” teriak Prilly mengejar Radit.
Saat berhasil menangkap Radit, Prilly menendang kaki serta menonjok perut Radit.
Radit meringis kesakitan sambil memegangi kaki dan perutnya.
“Gila Prill! Kecil-kecil makannya apa sih? Makan bom ya teriak-teriak melulu. Mana gw di tonjoknya beneran lagi,” ucap Radit.
“Biee! Sudah berapa kali aku bilang! Gak ngerti-ngerti. Lagian siapa suruh iseng,” omel Prilly.
“Yeii dasar mulut mercon, nama lo itu Prilly bukan Biee. Bodo gw mau istirahat,” ucap Radit berlalu pergi.
“Ish!! Ngeselin banget Kak Radit. Apa ketawa-ketawa?” omel Prilly ke yang lain dan kembali duduk di sofa.
“Biee jangan marah-marah, gw jadi serem,” ucap Clara.
“Emmm…” jawab Prilly.
“Biee, gw mau ngomong sama lo tapi jangan marah, kita berdua saja di kamar,” ucap Clara.
“Apaan Ra? Males akh aku,” ucap Prilly.
“Ayuk Prill kita ke kamar saja,” ucap Clara menarik Prilly dan mengedipkan matanya ke Dimas.
Dimas mengangguk dan ke kamar Ali di ikuti yang lainnya. Sesampainya di kamar, Prilly duduk di kasur.
“Mau ngomong apa? Kenapa mesti di kamar?” tanya Prilly.
“Prill, eh... maksud gw, Biee... Gw mau nanya lo ada hubungan apa sama Raka?” tanya Clara.
“Kenapa tiba-tiba nanyain Raka?” tanya Prilly.
“Gw cuma penasaran, sepertinya kemarin di kelas gw lihat lo Line Raka buat ketemuan,” ucap Clara.
__ADS_1
“Jadi kamu ngintip? Itu melanggar privasi tau,” omel Prilly.
“Prill please jangan marah-marah dulu. Gw cuma mau tau saja,” ucap Clara
“Aku gak ada hubungan apa-apa sama Raka, dia cuma temen dan aku ngajak ketemuan buat balikin sesuatu,” ucap Prilly.
“Balikin apa?” tanya Clara.
“Kenapa kamu jadi rempong?” tanya Prilly.
“Prill eh… Biee arghh! Apapun itu gw temen lo, jadi bisa gak lo bersikap seperti biasanya ke gw. Gak usah pakai marah-marah dulu. Prilly gak pernah bentak gw,” omel Clara.
Prilly hanya terdiam sebentar dan memeluk Clara.
“Ra maafin aku, sebetulnya aku gak mau kayak gini, aku juga gak sanggup marahin dan nyakitin hati kalian semua dan berubah jadi cewek matre tapi aku harus Ra,” ucap Prilly menangis.
“Prill please berubah jadi Prilly yang gw kenal. Gw kangen sama lo,” ucap Clara menangis.
“Aku…” ucap Prilly tertahan.
“Please Prill, seenggaknya kalau sulit, di depan gw saja lo jadi diri sendiri,” ucap Clara.
“Sebetulnya aku gak suka di deketin sama cowok-cowok yang aku gak kenal. Mereka suka maksa buat nraktir dan belanjain aku, aku sudah nolak tapi mereka bilang seenggaknya makan sama minum gapapa. Akhirnya dengan terpaksa aku menerima traktiran makan mereka dan aku gak suka marahin kalian, apalagi Kak Ali, tapi otak sama hatiku berkata lain,” ucap Prilly menangis.
“Jadi selama ini lo gak berubah Prill, lo gak jadi cewek matre bahkan lo sedih waktu marahin kita? Tapi kenapa lo harus maksa diri lo jadi orang lain? Terus barang belanjaan yang lo bawa selama ini apa? Itu bukan di belanjain cowok-cowok?” tanya Clara.
“Aku beli dari uang Bunda, aku gak tau aku cuma ngerasa aman kalau bersikap kasar supaya cowok-cowok gak semena-mena sama aku. Kalau soal cewek matre aku cuma kesel, itu gak betulan dan soal cara berpakaian sebetulnya aku mau buat cowok tau kalau aku bisa jadi cantik dan gak di remehin lagi karna cowok hanya suka cewek cantik dan seksi,” ucap Prilly.
“Prill gak semua cowok kayak gitu,” ucap Clara.
“Aku enggak tau Ra,” ucap Prilly meneteskan air mata.
“Terus waktu lo nerima uang dari Raka gimana? Apa lo bohong?” tanya Clara.
“Aku gak bohong. Waktu itu aku gak ada pilihan tapi aku mau balikin uang dia makanya ajak dia ketemuan. Aku juga sudah capek di telepon dan di Line terus setiap hari,” ucap Prilly.
“Prilly bodoh banget lo, kenapa mesti ngerubah diri kalau lo sendiri yang ke siksa,” omel Clara.
“Aku cuma sakit hati sama Kak Ali, dia gak anggep aku ada dan dia juga permaluin aku di depan semua dengan memilih Samantha. Aku tau Kak Samantha cantik dan sexy, makanya aku pikir aku harus berubah seperti dia supaya cowok-cowok tau aku bisa jadi cantik,” ucap Prilly.
“Maksud kamu cowok-cowok itu Kak Ali,” ucap Clara.
Prilly kaget dan melihat Clara lalu Prilly memilih tetap diam.
“Gw tau lo pasti masih sayang sama Kak Ali,” ucap Clara.
“Aku memang sayang sama Kak Ali tapi aku sudah capek di perlakuin kayak gitu. Waktu dia minta maaf sama aku dan minta balikan, aku gak mau karna aku tau Kak Ali gak sayang sama aku, dia masih sayang Samantha. Aku bisa buang rasa sayang aku dan aku bisa bertahan kayak gini asalkan..,” ucap Prilly tertahan.
“Asalkan apa Prill?” tanya Clara.
“Lupain saja yang aku omongin, anggep pembicaraan ini gak pernah terjadi,” ucap Prilly berdiri.
“Prill kenapa jadi kayak gini?” tanya Clara.
“Please biarin aku seperti ini, jangan buat aku marah dan benci sama kamu,” ucap Prilly ke luar kamar.
Sewaktu Prilly berjalan ke ruang tamu, tangannya di tarik oleh Ali.
“Sakit! Kak Ali, mau bawa aku ke mana?” tanya Prilly berusaha melepaskan tangan Ali.
Ali hanya diam dan masih membawa Prilly. Prilly kesal langsung menggigit tangan Ali dengan kencang, namun Ali tetap tidak melepaskan tangan Prilly.
“Kak Ali lepasin, mau ke mana?” tanya Prilly berusaha tidak ikut jalan dengan Ali.
Namun Ali bukan menjawab malah menggendong Prilly ke pundaknya.
“Kak Ali kebiasaan maksa aku, sudah aku bilang aku bukan karung beras, turunin,” teriak Prilly sambil meronta.
Ali tidak menjawab dan mendudukkan Prilly di mobil.
“Jangan kabur atau kamu mau nerima akibatnya,” ancam Ali.
Ali langsung masuk mobil.
“Kebiasaan banget Kak Ali,” omel Prilly membuka pintu mobil namun di tahan Ali.
“Aku sudah bilang jangan coba kabur,” ucap Ali dengan sorot mata marah.
Prilly hanya diam melihat kemarahan Ali dan bertanya-tanya. Akhirnya Prilly duduk dan diam.
Dimas cs mengintip dari tempat persembunyian mereka.
“Moga lo bisa selesaiin masalah lo sekarang, semua ada di tangan lo, Li,” ucap Dimas.
“Semoga Kak Ali bisa buat Prilly kayak dulu lagi,” ucap Clara.
“Gw seperti nonton sinetron tau tadi di kamar Ali,” ucap Radit.
“Tau… sedih banget ucapan Prilly, gw jadi terharu ternyata selama ini dia marah sama kita, dia juga yang sakit hatinya. Oh Adik gw, Prilly,” ucap Steve.
“Sejak kapan Prilly jadi Adik lo?” tanya Mich.
“Bawel lo Kakek-Kakek,” ucap Steve.
“Lo yang Kakek,” omel Mich.
“Udah diem, kalian berdua itu yang Kakek, kita saja yang muda,” ucap Radit.
“Rese lo!!” ucap keduanya menjitak Radit.
“Heran gw! Demen banget kalian jitak gw,” omel Radit.
“Ada-ada saja mereka itu ya kan Kak,” ucap Clara tertawa.
Radit, Mich serta Steve langsung adu mulut. Dimas dan Clara melihat itu sambil tertawa kecil.
“Iya biarin saja mereka, untung tadi Prilly gak sadar ada kamera,” ucap Dimas.
“Iya Kak, kita tungguin saja hasilnya nanti. Gw gak sabar lihat perkembangan mereka,” ucap Clara.
__ADS_1