Lala Land

Lala Land
Episode 49


__ADS_3

Prilly sudah tiba di tempat tujuannya. Prilly berjalan mencari penginapan yang murah. Prilly memilih mengasingkan diri di Jogjakarta karena di sana selalu di penuhi orang-orang.


Prilly berkeliling jogjakarta untuk mencari kos murah dan bertanya ke orang sekitar. Setelah bertanya-tanya ke orang, akhirnya Prilly menemukan penginapan yang murah walau dia harus tinggal di rumah penduduk yang menyewakan kamar mereka. Prilly menaruh barang bawaannya di sebelah kasur lalu Prilly melihat kamar itu.


"Gimana? Apa kamu jadi sewa?" tanya Ibu kos.


"Apa boleh aku bayar setengahnya dulu dan beberapa minggu lagi aku akan lunasin sisanya," ucap Prilly.


"Emm... Gimana ya?" ucap Ibu kos.


"Aku janji akan lunasin minggu depan," ucap Prilly.


"Baiklah. Kalau kamu gak lunasin maka kamu harus angkat kaki dari sini," ucap Ibu kos.


"Ok," ucap Prilly.


Prilly mengeluarkan uang 400 ribu dari dompetnya dan memberikan uang itu ke Ibu kos. Ibu kos menerima uang itu dan menghitungnya.


"Sisa uangnya aku tunggu mingu depan. Kamu sudah boleh istirahat dan ini kuncinya," ucap Ibu kos memberikan kunci ke prilly.


"Makasih Bu," ucap Prilly menerima kunci itu.


Ibu kos ke luar dari kamar Prilly. Prilly mengunci pintu dan tiduran di kasur.


“Akhirnya aku dapet tempat yang murah walau menguras tenaga. Tapi lumayan tempatnya," ucap Prilly mengamati sekitarnya dengan seksama.


Prilly mengeluarkan hpnya dan memperhatikan hpnya yang dia matikan.


"Kira-kira Kak Ali sudah baca Lineku belum ya? Apa dia bakal khawatir banget sama aku? Argh! Aku enggak mau mikirin Kak Ali dulu. Aku ke sini buat ngehindar dari Raka sama Kak Ali," ucap Prilly menaruh hpnya di kasur.


Prilly memperhatikan hpnya terus. Prilly mengambil hpnya dan menyalakan hp itu. Banyak pesan dari Ali yang masuk.


"Sebetulnya aku kangen sama Kak Ali, tapi dia sudah kelewatan. Enggak pernah ngehargain aku, aku tau aku salah sudah bohong dan main pergi. Tapi Kak Ali enggak boleh sampai semarah itu sama aku sampai enggak peduli kalau aku semalem ketakutan banget. Lagian Kak Ali juga bohong sama aku soal Raka. Aku ngerti maksud Kak Ali bohong supaya aku enggak panik dan ketakutan. Tapi aku kesel sama sikap Kak Ali semalem,” ucap Prilly.


Prilly melempar hpnya ke atas kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal. Prilly memejamkan matanya mencoba tidur dan tidak lama kemudian Prilly tertidur karena terlalu lelah di perjalanan.


Ali mendapatkan keberadaan Prilly saat Prilly menyalakan hpnya. Ali langsung menyusul Prilly bersama Dimas cs. Sepanjang jalan mereka khawatir bila Raka mengikuti Prilly.


Ali melakukan perjalanan menggunakan pesawat pribadinya. Sesampainya di Jogjakarta, Ali mencari lokasi Prilly. Prilly yang terbangun dari tidurnya pergi menelusuri Malioboro seorang diri.


“Coba aku ke sini sama yang lain, pasti seru. Clara kira-kira sudah baikan belum ya sama Kak Dimas?” ucap Prilly.


Prilly melihat penjual makanan yang membuat dirinya semakin lapar.


“Kayaknya makanan ini enak, apa aku makan ini saja? Tapi aku takut uangku enggak cukup. Mana masih harus bayar sewa lagi. Aku makan mi instan saja deh buat sementara waktu sampai Bunda kirim uang lagi,” ucap Prilly berjalan menuju warkop.


Setelah Prilly makan, dia kembali berjalan dan melihat-lihat Malioboro. Di sana ada pertunjukkan musik, Prilly pun berdiri di dekat sana sambil menikmati alunan musik.


“Kalau denger musik begini bikin aku ke inget sama Kak Ali waktu dia nyanyiin aku,” ucap Prilly.


Ali dan teman-temannya sudah sampai di Jogjakarta. Ali menyewa sebuah mobil untuk pergi ke tempat Prilly berada. Ali dan yang lain sudah sampai di Malioboro namun Ali terkena macet.


Saat Ali melihat ke arah kanannya dia melihat Prilly yang sedang menonton pertunjukkan musik. Ali turun dari mobil dan menghampiri Prilly.


Dimas langsung mengambil alih lalu Dimas memutar arah tujuannya untuk menyusul Ali. Prilly melihat Ali yang berlari ke arahnya langsung membelalakkan matanya tidak percaya.


“Itu Kak Ali? Enggak mungkin akh masa iya? Tapi kenapa Kak Ali ada di sini? Kayaknya dia lagi jalan ke sini? Berarti dia betulan Kak Ali. Aku lagi enggak mau ketemu dia dulu. Aku harus kabur,” ucap Prilly berjalan melewati para penonton dan pembeli.


“Prilly,” teriak Ali berusaha mengejar Prilly namun sulit untuk mengejarnya karena banyak orang di sana.


Ali kehilangan jejak Prilly dan memilih untuk menemui Prilly di penginapannya. Ali dan Dimas melanjutkan perjalanan semula. Prilly sudah sampai di penginapannya dan langsung masuk ke kamar.


“Kenapa Kak Ali bisa ada di sini? Aku lagi enggak mau ketemu dia,” ucap Prilly membenamkan dirinya di kasur.


“Permisi,” ucap Ali.


“Iya?” tanya Ibu kos.


“Apa di sini ada penyewa yang bernama Prilly?” tanya Ali.


“Ini ada apa ya?” tanya Ibu kos.


“Begini Bu, aku ke sini mau menyelesaikan masalahku dengan Prilly,” ucap Ali.


“Masalah? Maaf di sini enggak ada yang namanya Prilly,” ucap Ibu kos dan menutup pintu namun di tahan Ali.


“Ibu jangan coba bohong. Saya sudah baik-baik ke sini, jadi aku harap Ibu bisa bersikap baik,” ucap Ali kesal.


“Kamu jangan macam-macam di sini atau saya teriak,” ancam Ibu kos.


“Hmm... Coba saya lihat dulu, kalau tidak salah semestinya di jalanan ini enggak di bangun rumah karna tanah ini milik perusahaan Richard. Apa kamu mau aku adukan ke Ayah saya?” tanya Ali.


“Kamu anak Tuan Richard? Apa buktinya? Jangan bohong, saya tidak takut ancaman kamu,” ucap Ibu kos.


Ali langsung memperlihatkan KTPnya. Ibu kos kaget dan langsung melihat Ali sambil tersenyum.


“Maaf Tuan Ali saya mohon jangan beritahu Ayahmu karna ini satu-satunya caraku mencari nafkah. Silakan Anda masuk dan menyelesaikan masalah Anda dengan Prilly. Dia ada di kamar dan tenang, soal warga di sini, ini wilAyah saya,” ucap Ibu kos.


“Bagus. Dan satu lagi wilayah ini bukan milik Ibu,” ucap Ali.


"Li, kita tunggu sini saja. Gw yakin lo mau selesaiin masalah lo berdua sama Prilly," ucap Dimas.


"Betul. Kalau ada kita pasti kita ganggu," ucap Mich.


"Kita tunggu di depan saja," ucap Steve.


"Setuju gw. Sekalian gw mau kenalan sama cewek ayu yang lagi duduk di sebelah rumah. Lo lama juga gapapa," ucap Radit.


Dimas cs memukul kepala Radit secara bersamaan sehingga Radit meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Auch... Buat apa itu? Sakit tau," protes Radit.


"Lo yang gak bisa lihat sikon. Bukan semangatin sahabat yang lagi susah malah ini mikirin cewek," omel Dimas.


"Yeii Bercanda kali Dim. Biar Ali gak tegang. Lagian di depan mana ada cewek," ucap Radit.


"Ada. Kuntilanak yang nunggu lo pacarin," ledek Mich.

__ADS_1


"Dia maunya lo pacarin bukan gw," ucap Radit.


"Stop! Mau berantem setelah kita di depan. Nanti gw sediain kayu biar kalian bisa saling mukul," ucap Dimas.


"Ogah! Gw cinta damai keles," ucap Radit.


"Gw juga cinta damai. Males pakai kekerasan kalau sama orang kayak Radit," ucap Mich.


"Sama," ucap Radit.


"Ini gak bakal selesai nih masalahnya kalau mereka udah cekcok mulut. Gw bawa mereka ke luar deh. Lo semangat ya Li," ucap Dimas.


"Ok. Thanks," ucap Ali.


Dimas memberi tanda Ok dengan tangannya lalu Dimas menyeret Radit dan Mich ke depan sedangkan Mich mengikuti di belakang Dimas.


Ali pergi ke kamar Prilly yang di tunjuk Ibu kos itu. Ali mengetuk pintu kamar Prilly. Prilly baru bangun mau membuka pintu kaget saat mendengar suara Ali dari balik pintu.


“Prilly,” panggil Ali.


“Kak Ali? Kenapa Kak Ali bisa tau aku di sini?” tanya Prilly dalam hati.


“Prill, aku tau kamu di dalem. Buka pintunya atau aku dobrak,” ucap Ali.


Prilly langsung bangun dan membukakan pintu untuk Ali.


“Mau apa Kak Ali ke sini?” tanya Prilly ketus.


“Aku mau selesaiin masalah kita,” ucap Ali.


“Aku lagi butuh waktu sendiri,” ucap Prilly menutup pintunya lagi.


Ali menahan pintu itu dan Ali masuk ke kamar Prilly langsung mengunci pintu kamar itu.


“Kak Ali kenapa di kunci segala? protes Prilly.


“Kamu bisa enggak sih enggak kayak anak kecil? Dengerin aku ngomong sampai selesai,” omel Ali.


“Anak kecil?! Justru siapa yang kayak anak kecil? Kak Ali sadar enggak sikap Kak Ali semalem kayak anak kecil,” ucap Prilly.


“Prill, kamu itu sudah bohong sama aku dan kamu berani lawan aku kemarin. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku. Bukannya aku ngehindar dari kamu dan aku enggak maksud bohongin kamu soal Raka. Aku itu enggak mau kamu jadi ketakutan setiap harinya,” omel Ali.


“Bisa enggak Kak Ali enggak marah-marah sama aku? Aku enggak suka di marahin terus Kak,” ucap Prilly kesal.


Ali terdiam lalu Ali memejamkan matanya untuk mengatur emosinya. Ali membuka matanya dan melihat Prilly yang sudah hampir menangis.


“Maaf Prill, aku emosi. Aku ngaku salah dan Please bisa enggak kamu enggak kabur dari rumah setiap kita ada masalah? Kamu buat aku khawatir, kamu tau Raka masih berkeliaran,” ucap Ali.


“Kak Ali sudah jahat sama aku. Aku telepon Kak Ali berkali-kali tapi Kak Ali enggak angkat dan Kak Ali biarin aku ketakutan. Kak Ali tega sama aku, Kak Ali sudah enggak sayang lagi sama aku,” ucap Prilly menangis dan memukul dada Ali.


“Prill maafin aku, aku enggak tau di tempat kamu mati lampu,” ucap Ali memeluk Prilly.


“Prilly benci Kak Ali, Prilly benci sama sikap Kak Ali,” ucap Prilly memukul punggung Ali.


“Sayang please jangan pernah kamu benci sama aku. Aku tau aku sudah buat kamu takut dan enggak ada buat kamu saat Raka dateng Prill, tapi sekarang aku ada di sini buat lindungin kamu,” ucap Ali.


“Please Prill maafin aku, kamu ikut aku yuk. Jangan tinggal di tempat kayak gini,” ucap Ali menghapus air mata Prilly.


Prilly mencoba menghentikan tangisannya.


“Kamu mau maafin aku, kan?” tanya Ali.


“Aku maafin Kak Ali tapi janji jangan bentak-bentak aku terus. Aku enggak suka,” rengek Prilly.


“Iya Sayang maaf,” ucap Ali.


“Iya. Maafin aku juga Sayang karna sudah bohongin kamu,” ucap Prilly.


“Kita saling memaafkan kalau gitu," ucap Ali membelai pipi Prilly.


"Iya," ucap Prilly tersenyum.


Ali menghapus sisa air mata di pipi Prilly.


"Ya udah yuk ke hotel Ayahku,” ajak Ali.


“Ayah kamu ada hotel di sini?” tanya Prilly.


“Iya Sayang, yuk biar aku yang bawa koper kamu,” ucap Ali mengambil koper Prilly.


Saat di depan, yang lain menyambut Prilly.


“Prilly ke mana saja? Main kabur-kabur, kasihan Alinya jadi kalang kabut sampai pinjem satelit Daddynya,” ucap Radit.


“Iya Prill jangan suka kabur-kabur, enggak baik,” ucap Mich.


“Iya Prill mending tetep sama Ali, jangan kabur-kabur lagi,” ucap Steve.


“Tau Prill, lo kabur kita semua kalang kabut,” ucap Dimas.


“Maaf semuanya,” ucap Prilly.


"Di maafin asal janji gak kabur-kabur lagi," ucap Dimas cs secara bersamaan.


"Iya janji," ucap Prilly tersenyum.


Semua tertawa bersama.


"Kita jalan ke hotel sekarang yuk. Laper nih," ucap Radit.


"Lo mah kapan sih gak laper? Perasaan di otak lo kalau bukan cewek ya makanan," ledek Mich.


"You know me so much Bro," ucap Radit.


"Yeh.. Yeh... Yeh... I know everything about you," ucap Mich.


"Udah-udah mending kita jalan sekarang," ajak Steve.

__ADS_1


Mereka semua pergi ke hotel Ayah Ali. Sesampainya di hotel itu mereka berkumpul di kamar Prilly.


"Prilly udah ketemu jadi sebaiknya sekarang kita mikirin cara nangkep Raka," ucap Dimas.


"Betul juga. Kita harus nangkep orang gila itu secepatnya," ucap Steve.


"Jadi ada yang punya ide?" tanya Ali.


Semua langsung berpikir masing-masing. Dimas menepuk tangannya ke paha dan berdiri.


“Gw dapet ide! Gimana kalau kayak gini,” ucap Dimas membisikkan pendapatnya ke Ali, Radit, Mich serta Steve.


“Gw enggak mau! Itu terlalu bahaya,” ucap Ali.


“Kita mesti bertindak terlebih dahulu di banding Raka. Mau sampai kapan kita takut sama dia dan cuma nyari dia. Lagian dia itu  pintar bersembunyi dan menyamar,” ucap Dimas.


“Gw juga setuju sama rencana Dimas,” ucap Steve.


“Iya menurut gw masuk akal juga rencana Dimas,” ucap Radit.


"Kalian ngomongin apa sih? Rencana apa? Kenapa gak kasih tau aku?" tanya Prilly.


"Semua setuju kecuali Ali. Sekarang yang bisa mengubah pendapat Ali hanya Prilly. Dimas kasih tau rencana lo ke Prilly," ucap Radit.


Dimas memberitahukan rencananya ke Prilly.


“Aku juga setuju Kak Ali,” ucap Prilly.


“Tapi Prill itu bahaya buat kamu,” ucap Ali.


“Enggak ada yang bahaya kalau kalian lindungin aku,” ucap Prilly.


Ali membuang napasnya dengan berat melihat antusias teman-temannya serta Prilly.


“Ya udah aku setuju, besok kita mulai jalanin rencananya,” ucap Ali.


“Bagus, kalau gitu besok mulai beraksi,” ucap Dimas.


"Kalau gitu gw ke kamar dulu. Gw capek nih," ucap Steve.


"Gw mau pergi cari makan dulu," ucap Radit.


"Gw mau cari oleh-oleh buat orang rumah," ucap Mich.


"Gw mau istirahat di kamar dulu," ucap Dimas.


"Ok," jawab Ali.


Mich, Radit, Steve serta Dimas berjalan ke arah pintu. Prilly menghampiri Dimas.


“Kak Dimas tunggu,” ucap Prilly.


“Iya kenapa Prill?” tanya Dimas.


“Kak Dimas masih marahan sama Clara?” tanya Prilly.


“Ya gitulah,” ucap Dimas.


“Kak Dimas ini semua salah Prilly bukan salah Clara, jadi Prilly harap Kak Dimas jangan marah lama-lama sama Clara. Kasihan Clara. Memang Clara enggak hubungin Kak Dimas?” tanya Prilly.


“Dia ada ngehubungin gw, cuma teleponnya enggak gw angkat dan gw enggak bales Line dia,” ucap Dimas.


“Woiii Dim, jadi cowok jangan ngambek lama-lama. Kasihan ceweknya nanti di ambil orang,” ucap Mich.


“Kalau lo enggak mau, buat gw saja Claranya,” ucap Radit.


“Lo macem-macem sama Clara, gw yakin besok lo enggak bisa lihat matahari lagi,” ancam Dimas.


“Serem amat Pak,” ucap Radit.


Dimas berjalan pergi dengan kesal.


"Gimana ini Kak Dimas pasti marah sama aku," ucap Prilly.


“Dia gak marah sama kamu kok. Kamu tenang ya, nanti Dimas juga reda sendiri emosinya. Dimas memang gitu kalau sudah emosi paling susah redanya,” ucap Ali.


"Betul... Betul... Betul," ucap Radit.


"Stt... Berisik," ucap Mich.


"Iya. Mending kita cabut jangan ganggu waktu Ali sama Prilly," ucap Steve.


Steve serta Mich menarik Radit pergi. Prilly tertawa kecil melihat itu.


"Kamu tidur gih," ucap Ali.


"Tapi kamu temenin?" tanya Prilly.


"Iya, aku temenin kamu. Aku akan jagain kamu jadi kamu bisa tidur dengan tenang," ucap Ali.


Prilly mengangguk lalu mereka berjalan ke arah kasur. Prilly tiduran di kasur lalu Ali menyelimuti Prilly.


"Istirahat yang banyak. Aku lihat mata kamu udah kayak panda. Pasti semalem kamu gak tidur," ucap Ali.


"Mana bisa tidur akunya saja ketakutan," ucap Prilly.


"Maaf kalau gitu. Makanya sekarang kamu puas-puasin tidur biar aku yang jagain kamu," ucap Ali.


"Nyanyiin lagu buat aku," ucap Prilly.


"Ok," ucap Ali.


Ali mulai menyanyikan lagu untuk Prilly. Prilly memperhatikan Ali bernyanyi tersenyum. Prilly memejamkan matanya dan menikmati lantunan nada yang di nyanyikan Ali.


Tidak lama kemudian Prilly tertidur. Selesai bernyanyi dan memastikan Prilly tertidur, Ali mencium kening Prilly.


"Sweet dream my love. Don't worry tomorrow i will protect you," ucap Ali membelai pipi Prilly.

__ADS_1


Ali menemani Prilly yang tidur sambil memainkan hpnya.


__ADS_2