Langit Biru

Langit Biru
Bab 10


__ADS_3

šŸšŸKata orang Cinta itu tak harus memiliki,


Namun Kataku Cinta itu harus memiliki, Karena kalau kita tak berjuang berarti kita tak MencintaišŸšŸ


.


.


Hari ini BiruĀ  tak bisa mengikuti pelajaran lantaran harus menjalani Kemo ke rumah Sakit. Sebenarnya, Biru enggan pergi ke rumah sakit, kalau boleh memilih, dirinya lebih memilih untuk bersekolah. Tapi apa daya, bila dirinya tidak tepat waktu menjalankan kemo itu, maka dirinya tidka akan bisa bertahan lebih lama lagi di sekolah.


"Ayo sayang, kamu sudah siap?" tanya Elsa yang saat ini sedang menemani Putri nya ke rumah sakit.


"Insyaallah bun," ucap BiruĀ  seperti biasa selalu tersenyum ramah.Ā  Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kini Biru dan bunda Elsa sudah sampai di rumah sakit. Elsa dan Biru pun segera pergi menemui dokter Darren karena sebelum nya mereka sudah membuat janji.


"Hallo Cantik, gimana kabar kamu hari ini ?" tanya Dokter Derren yang menangani Biru sejak beberapa tahun terakhir ini. Dokter itu masih sangat muda, dan begitu menyayangi Biru, dokter Darren selalu memberikan semangat dan motivasi agar Biru sellau kuat dan bisa bertahan.Ā 


"Alhamdulilah selalu baik dong kak," jawab BiruĀ  dengan riang seperti biasa. Ya, Biru memang Ā  selalu memanggil Derren dengan sebutan kakak, bukan dokter. Itu karena itu juga permintaan Derren sendiri. Menurut dokter Darren, panggilan kakak membuat keduanya lebih dekat dan tidak canggung. Biru yang memang sudah nyaman bersama dokter Darren dan terlebih dirinya tidak memiliki sosok kakak, merasa sangat senang saat dokter darren menyuruh nya untuk memanggil seperti itu.


"Baiklah kita mulai kemo nya ya."Ā  Biru menganggukkan kepala nya, berusaha siap dan tetap tenang meski akan terasa sedikit menyakitkan. Namun BiruĀ  selalu menyembunyikan rasa sakit yang dia derita di depan semua orang, bahkan kepada sang Dokter pun dia selalu berusaha tetap tersenyum untuk menutupi rasa sakitnya. Dia tau umurnya tak akan lama lagi dan dia sadari itu, maka dari itu dia tidak ingin terlihat sakit, dia ingin memberikan kenangan Bahagia kepada semua orang, tanpa dia sadari bahwa sikap pura pura tidak apa apa nya justru membuat orang tua dan orang sekitarnya sakit.


Sementara itu, Faris yang sudah datang menyusul ke rumah sakit, segera menemui dokter Darren di ruangan nya, sambil menunggu proses kemo Biru selesai.


"Bagaimana Dok?" tanya Faris.

__ADS_1


"Secepatnya kita harus segera mendapatkan donor sumsum untuk BiruĀ  Pak, karena kondisinya semakin memburuk." ucap dokter Derren lirih."Kemo yang selama ini kita jalani hanya untuk memperlambat menyebarnya kanker itu, tidak untuk menyembuhkan."


"Ya Allah BiruĀ  Yah, anak kita hiks hiks.ā€Ā 


"Sabar bun, kita pasti akan segera mendapatkan Donor itu, ayah yakin." ucap Faris meyakinkan Elsa padahal dalam hatinya juga sedang menangis. Dokter Derren hanya diam, dia tidak bisa melakukan apapun, dia juga sudah berusaha membantu mencari pendonor namun belum bisa menemukanya.


****


Di sekolah terasa sangat sepi tanpa kehadiran Biru , entahlah padahal selama beberapa bulan ini LangitĀ  selalu menindas dan mem-bully gadis itu, tapi di saat gadis itu tidak masuk dia mulai merasa kehilangan, entahlah ada apa dengan nya.


"Woy ngelamun aja!ā€ pekik Maxim yang tiba tiba sudah ada di depannya.


"Tau nih, kita cari di kantin gak ada taunya masih ngetem disini!ā€ sahut GerryĀ  berdecak dan menggelengkan kepala nya.


ā€œBeda tipis Lang,ā€ balas Gerry terkekeh, saat keduanya tengah menggoda Langit, tiba tiba seorang gadis yang menyukai Langit kembali datang dengan gaya khas nya.


"Hay Lang," sapa nya dan langsung duduk di samping Langit, dialah Sisil.


"Hemm," jawab LangitĀ  sambil fokus dengan HP-nya.


Ā 


"Lang, kantin yuk,ā€ ajak Sisil bergelayut manja di lengan Langit, namun dengan cepat Langit tepis karena merasa risih.

__ADS_1


"Pergi aja lo sono, ngapain disini sih ganggu orang aja!ā€ cetus Maxim jengah dengan sikap Sisil yang sudah seperti cacing kepanasan setiap hari.


"Apa sih lo Max, gue kesini buat Langit , bukan buat elo,ā€ kata Sisil menatap Maxim tak suka.


"Gue males, mending lo pergi dari sini!ā€ ucap LangitĀ  dengan datar dan dingin.


"Lang, ayolah,,, temenin gue kali ini aja," rayu Sisil tidak menyerah.


"Lo mau pergi sendiri atau gue seret keluar?ā€ ancam Gerry memberikan tawaran.


"Langg, kenapa sih temen temen lo pada jahat sama gue?" kata Sisil merengek manja minta di belain, namun LangitĀ  hanya cuek masih asik dengan Game di ponselnya.


"LangitĀ  ayo dong." kini Sisil dengan berani menarik tangan LangitĀ  hingga membuatĀ  HP-nya terjatuh di meja dan itu berhasil menyulut emosi yang sejak tadi sudah ia pendam.


"Shiittt! apa apaan sih lo, kalo gue bilang enggak berarti ya enggak, ngerti bahasa kan lo!ā€ Bentak LangitĀ  kepada Sisil.


"LangitĀ  lo kok bentak gue?’ gumam Sisil dengan mata yang mulai berkaca kaca, namun Langit tidak perduli.


"Gue udah peringatin lo, lo mau keluar sendiri atau gue seret keluar." kata Gerry menghela nafas nya kasar. Membuat Sisil dengan cepat langsung berlari keluar kelas di susul Nindi.


"Gila tu cewek dari dulu gak ada bosannya ngintilin elu," kesal Maxim.


"Lo itu kurang tegas sama tu cacing Lang, jadi besar kepala kan dia,ā€ imbuh Gerry menambahi.

__ADS_1


"Udah ah, pusing gue jadinya!ā€ kata LangitĀ  sambil pergi berlalu keluar kelas.


__ADS_2