
šš Jangan berubah baik kepadaku, karena aku tak ingin menyakitimu nantinya.šš
.
.
.
.
.
Pagi ini, lagi lagi Biru pergi ke sekolah dengan di antar oleh sang ayah lagi.Ā Pak Mahdi sedang pulang kampung karena ada acara mendadak, maka dari itu ayah Faris yang mengantar jemput Biru, ia tidak perduli bahwa dirinya sangat sibuk. Demi putri tercinta nya ia rela meninggalkan pekerjaan nya, karena bagi ayah Faris, Biru adalah segalanya untuk nya.
"Hati hati ya sayang,āĀ Faris mengecup kening Biru saat akan melepas Biru masuk ke dalam sekolah.
"Iya yah, ayah tenang aja BiruĀ akan selalu hati hatiĀ kok,ā ucapnya penuh semangat dan keyakinan.
"Ya sudah kamu masuk gih, nanti ayah jemput." BiruĀ menganggukkan kepalanya lalu pergi setelah mencium tangan ayah nya.
__ADS_1
Dengan wajah yang selalu berseri Biru menyusuri beberapa koridor untuk sampai di kelas nya, namun, saat dirinya memasuki lorong terakhir, tiba tiba Langit sudah berada di belang nya, "Cihh, jadi sugar Baby lo sekarang!"Ā Langit yang sedari tadi menyaksikan interaksi antara BiruĀ dan ayahnya mengira bahwa Faris adalah Om om hidung belang dan menjadikan BiruĀ sebagai sugar baby nya. Terlebih saat mendengar kabar miring yang sejak kemarin terus mengusik pikiran nya.
Deg!
"Jaga ucapan kamuĀ Lang!ā seru BiruĀ tegas, matanya menahan amarah karena tak terima atas penghinaan yang di ucapkan Elang, āBisa kamu nuduh aku kaya gitu! Ada masalah apa sih kamu sama aku hem? Kenapa kamu sejak awal selalu Cuma bisa nya nyakitin aku aja!ā tanya BiruĀ dengan mata berkaca kaca. "Ada dendam pribadi apa sih Lang? baru beberapa hari kemarin kita masih baik loh! kenapa kamu bisa tiba tiba kaya gini? aku pikirā"
"Dibayar berapa sih lo jadi sugar baby, gue bisa bayar lebih dari yang om om itu kasih ke lo!āĀ seru Langit lagiĀ semakin marah dan tak terima bila Biru menjadi simpanan om om.
"Cukup Lang, aku bilang cukuuupppp!āĀ teriak BiruĀ membuat semua perhatian siswa siswi yang lewat menatap ke arah nya. "Aku tidak seperti itu."
"Ciihh, gue gak nyangka lo se munafik itu, gue kira lo lugu dan polos ternyata jadi sugar Baby dan mau di peluk cium di sembarang tempat, cihh," kata Langit berdecak menahan marah.
Plaaakkkk.
"Shiitt!ā pekik Elang langsung mengusap wajah nya yang terasa lumayan panas." Apa kalian lihat lihat, bubar!ā Bentak Langit membubarkan kerumunan itu.
BiruĀ berlari menuju kelasnya, lalu segera duduk dan menatap ke arah jendela, kata demi kata yang di ucapkan oleh Langit terus terngiang di telinga Biru.
'Serendah itukah dia dimata Langit?'
__ADS_1
'Apakah salah bila seorang ayah mencium putri kandungnya sendiri?'
Memang benar umur Faris saat ini yang baru menginjak 34Ā tahun membuatnya tak terlihat seperti Ayah untuk Biru. Faris dan Elsa menikah karena perjodohan sewaktu mereka SMA dan di umur 17 tahun, Elsa sudah melahirkan Biru. Jadilah mereka seperti kakak beradik bila bersama. Maka tak heran bila BiruĀ dikira berpacaran dengan om om karena memang sekarang lagi marak gadis SMA berpacaran dengan om om atau menjadi Sugar Baby.
BiruĀ memejamkan matanya membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya. Bersamaan dengan itu kepalanya terasa sakit, BiruĀ merasakan dunianya berputar dengan dasyat, namun dia masih berusaha terlihat biasa biasa saja.Ā
"Ru,Ā lo gapapa ?" tanya SasaĀ khawatir melihat BiruĀ menangis dan memejamkan matanya.
"Aku capek." satu kata yang lolos dari mulut BiruĀ dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Sasa dan Rina.
"Lo kenapa sih Ru, cerita sama kita?" ucap Rina di iyakan oleh Sasa.
"Akuā" belum sempat BiruĀ menjawab, suaranya terpotong oleh ucapan seseorang.
"Oohh, jadi ini si Sugar baby nya om om hidung belang?ā seru Sisil dengan sengaja mengeraskanĀ suara nya hingga membuat semua menatap ke arah BiruĀ cs.
"Heh, jaga ucapan lo yah!ā pekikĀ Sasa marah.
"Tau, percuma otak di sekolahin tapi mulut gak di sekolahin!ā cetus Rina menatap sinis pada genk Sisil.
__ADS_1
"Diem kalian yah, Dibayar berapa kalian berdua sampai mau jadi Pengawal Sugar baby itu.!ā ucap Sisil menunjuk wajah Biru dengan telunjuk nya.
Kepala BiruĀ semakin berputar putar dan dadanya kian terasa sesak, BiruĀ segera merebahkan kepalanya pada meja dan tak memperdulikan omongan Sisil dan temanya.