
“Aku akan bahagia bila bersama kamu,” kata Langit, ia mendekatkan kepala nya agar kening mereka bersatu. Biru hanya tersenyum, begitu pun dengan Langit.
“Tapi kamu akan terluka bila—“
“Biarkan aku terluka, asal kamu tidak,” potong Langit dengan cepat, “Aku bersumpah akan membahagiakan kamu, aku akan melakukan hal apapun agar ita selalu bersama.”
“Tapi itu hal yang sangat mustahil,” desis Biru dengan lirih.
“Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Aku menginginkan kamu, maka itu harus kamu. Aku gak mau kehilangan kamu.”
“Langit, jangan memaksa, sejak awal aku sudah mengatakan nya padamu, kalau aku—“
“Biru, tidak bisakah kamu ikut yakin kepada ku? Tidak bisakah kamu membuat aku lega dengan kamu mengaminkan setiap doa ku untuk kesembuhan mu? Aku mohon, bertahanlah, kita pasti bisa melewati semua ini bersama.”
Biru menatap mata Langit yang penuh dengan ketulusan, ia pun mengangguk dan berusaha untuk mengiyakan, walau sedikit ragu, kini dirinya akan mulai optimis dnegan berusaha untuk bertahan. Iya, manusia hanya bisa berencana dan berusaha selebihnya kita serahkan kepada sang pencipta.
__ADS_1
“Aku mencintai kamu,” gumam Langit begitu lirih.
“Aku—“
“jangan di jawab!” kata Langit dengan cepat, ia tak ingin mendengar jawaban dari Biru, namun ia segera mendongakkan wajah Biru dan lekas mendaratkan ciuman nya di bibir Biru dengan tiba tiba.
Tentu saja Biru sangat terkejut, ia berusaha menghindar namun Langit menahan nya, hingga pada akhirnya ia pasrah dan langsung memejamkan mata. Ciuman Langit begitu lembut, tidak kasar dan juga tidak menuntut. Perlahan, Biru membuka bibir nya sat merasakan gigitan kecil dari langit, memberikan akses untuk Langit meng eksplor rongga mulut nya, hingga tanpa ia sadari ia mengeluarkan suara lenguhan.
Cukup lama keduanya berpagut dan terlena dalam ciuman panas itu, hingga saat merasa pasokan oksigen nya sudah habis, Langit langsung melepaskan ciuman mereka. Nafas keduanya terengah, namun Langit tersenyum senang.
Biru tidak berani menjawab namun ia segera menghambur ke pelukan Langit dan menyembunyikan rona wajah nya pada dada bidang Langit.
“Kenapa?” tanya Langit.
“Aku malu,” cicit nya pelan hingga membuat Langit semakin terkekeh.
__ADS_1
“Tapi aku suka,” bisik Langit membuat Biru semakin tak bisa menutupi perasaan nya.
****
Biru langsung masuk ke dalam rumah saat Langit sudah mengantarkan nya sampai di depan pintu. Biru melarang Langit untuk turun, ia tidak mau laki laki itu bertamu lagi di rumah nya setelah kejadian tadi di sekolah.
“Loh, Sayang, dimana Langit?” tanya bunda Elsa saat melihat kedatangan putri nya.
“Emmt, Langit mau ada acara keluarga Bunda, jadi dia langsung pamit deh,” jawab Biru sedikit gugup.
“Kamu kenapa pakai masker, Sayang? Kamu flu lagi?” tanya bunda Elsa langsung berubah cemas saat melihat Biru pulang dengan menggunakan masker.
Bukan karena flu, Biru memakai masker, namun dirinya berusaha menyembunyikan luka di bibir nya. Ia tidak mau ayah dan bunda nya khawatir melihat bibir nya yang sedikit bengkak. Walaupun bengkak itu bukan karena hal menyakitkan , namun tetap saja ia merasa malu.
“Enggak Bunda, tadi mobil Langit sedikit berdebu, Biru bersin tadi. Tapi sekarang gapapa kok,” jawab Biru dengan tersenyum lebar terlihat dari sorot matanya.
__ADS_1
“Oh, baiklah kalau begitu kamu istirahat dulu yah.” Bersyukur bunda Elsa percaya dengan alasan Biru, membuat gadis itu tersenyum lega lalu segera pergi ke kamarnya.