Langit Biru

Langit Biru
Bab 24


__ADS_3

🍁🍁 Terkadang, kita harus merasakan sakit agar bisa menjadi lebih kuat 🍁🍁


.


.


.


“Gue suka sama dia sejak saat kakak gue cerita tentang sosok nya. Dia gadis yang kuat, tangguh dan selalu ceria. Pantas kakak ipar gue sayang banget sama dia, bahkan gue sempat salah paham, sampai mengira bahwa Biru menjadi orang ketiga dalam hubungan kakak dan kakak ipar gue,” imbuh Nathan tersenyum getir.


“Biru mengidap kelainan jantung sejak dia kecil dan saat umur sepuluh tahunan, dia mendapatkan vonis leukimia dari dokter, yang tak lain ayah dari kakak ipar gue. Maka dari itu, setelah ayah dari kakak ipar gue pensiun, bang darren yang menangani Biru. Gue salut sama kegigihan Biru, dia sangat ingin sembuh tapi dia juga sudah pasrah bila umurnya hanya sampai sini. Dia selalu menjaga jarak dari beberapa orang, terlebih ketika dia tahu bahwa ada yang mencintai nya, maka dia akan menjauh.Dia tidak mau menyakiti siapapun, ia takut bila nanti dia pergi, akan meninggalkan banyak air mata untuk orang sekitar nya.” Nathan bercerita hingga terisak, membuat Langit hanya mampu terdiam.

__ADS_1


“Gue yang lebih dulu dekat sama dia, tapi lo yang berhasil merebut hatinya. Tapi lo malah nyia nyiain dia,” kata nya lagi dengan tersenyum sinis melirik ke arah Langit.


Memang benar, Langit merasa dirinya sangat bodoh. Ia merutuki kebodohan nya yang sudah menyakiti Biru berulang kali.  Dari saat pertama ia bertemu mengenal dan bahkan setelah ia mengatakan pada semua orang bahwa dirinya sudah berpacaran dengan Biru. Ia tetap masih menyakiti nya hingga membuat Biru anfal berulang kali. 


“Gue semakin benci sama lo, selain sombong dan arogan, tapi lo juga udah nyakitin cewek yang gue suka! Dan gue semakin benci sama lo saat lo—“


“Jangan di teruskan, gue tahu dimana letak kesalahan gue. Terimakasih!” ucap Langit dengan wajah datar nya memotong ucapan Nathan.


“Nak Nathan,” mendengar suara nya di panggil sontak membuat dua anak muda itu langsung mendongakkan kepala nya, menatap sepasang suami istri yang baru saja tiba di rumah sakit.


“Tidak, jangan saling menyalahkan. Memang keadaan Biru yang belum stabil,” jawab Faris  menghela nafas nya sedikit berat.

__ADS_1


Faris memicingkan matanya, menatap sosok Langit yang sejak tadi hanya diam dan juga memperhatikan ke arah nya. Keduanya saling menatap dan melihat dari atas hingga bawah.


“Saya Langit Om, saya teman Biru di sekolah, dan mungin karena kedatangan saya—“


“Kamu Langit Gaharu?” tanya Faris, Langit menganggukkan kepala nya dan menundukkan wajah nya, rasanya ia tidak nyaman dan tidak enak karena sudah menyakiti putri om Faris.


“Astaga!” pekik  Faris pelan, ia seketika langsung menutup mulut nya.


“Ayah kenapa?” tanya Elsa langsung menatap suami nya.


“Tidak, Bun. Hanya sedikit terkejut,” gumam Faris pelan, dan masih menatap ke arah Langit.

__ADS_1


Langit semakin merasa bersalah dan takut bila sampai orang tua Biru melarang nya untuk bertemu dengan Biru. Langit berfikir, mungkin Biru sudah banyak bercerita pada orang tua nya, terlebih tentang semua kata kata yang sudah keluar dari mulut tajam nya. Tentang dimana Langit menuduh Faris sebagai sugar daddy Biru. 


Langit berusaha menelan saliva nya dengan susah. Ia akui kini ia merasa sangat takut. Ia hanya bisa berharap dan berdoa semoga masih ada jalan untuk dirinya masih bisa bertemu dengan Biru.


__ADS_2