
Sesuai janji Langit tempo hari, siang ini sepulang sekolah ia membawa dua dayang Biru yakni Rina dan Sasa. Awalnya dua dayang itu tidak mau karena mengira bahwa Langit berbohong, namun setelah mendengar cerita tentang keadaan Biru, mereka percaya.
Langit sudah berpesan agar tidak menunjukkan wajah kesedihan di depan Biru. Langit tidak mau membuat mental Biru down lagi ketika melihat para sahabat nya sedih karena nya, dan juga Biru tidak suka di kasihani. Tak hanya Rina dan Sasa, namun Langit juga membawa dua pengawal nya yakni Maxim dan Gerry. Dan akhirnya ruangan kamar perawatan Biru terlihat sangat ramai.
Langit dan dua pengawalnya memilih duduk di sofa yang berada di ujung ruangan sambil bermain game. Sementara Rina dan Sasa duduk di samping brankar Biru sambil bercerita dan juga sedikit membahas tentang pelajaran sekolah.
“Eh, Biru kamu tahu gak—“
“Gak tahu, kan kamu belum ngomong,” ucap Biru memotong ucapan Rina hingga membuat gadis itu sedikit mendengus, karena ternyata Biru masih menyebalkan.
“Makanya dengerin dulu,” cetus Rina membuat Biru dan Sasa terkekeh.
“Sisil di keluarin dari sekolah!” bisik Rina agar tidak terdengar oleh Langit, “Dan kamu tahu gara gara siapa? Tuh,” imbuh nya melirik ke arah Langit.
__ADS_1
Biru ikut mengalihkan perhatian nya pada sosok Langit yang nampak masih asik dengan game di HP nya, lalu ia menatap Rina kembali dengan mengerutkan dahi, “Kamu yakin? Kenapa?”
“Soal itu aku gak tahu, yang jelas, pelaku utama nya itu pacar kamu. Dia sekali ngomong sama kepala seolah langsung beres,” kata Rina tampak bangga pada Langit.
“Ru, kamu tahu kan kalau Langit cucu pemilik sekolahan kita? Dan dia marah sama Sisil karena sudah nyakitin kamu,” ucap Sasa menggenggam tangan Biru, “Dia sayang banget sama kamu Ru, dia cinta banget sama kamu. Tau gak sejak kejadian saat itu, dia gak pernah lagi bikin onar. Hari hari nya tuh kelihatan murung banget, dia kaya mayat hidup, kasian banget.”
“Gue masih hidup woy! Mana ada mayat hidup ganteng kaya gue!” saut Langit seolah membalas ucapan Sasa.
“Bisa gak sih pura pura gak denger gitu!” cetus Sasa membuat Biru langsung terkekeh.
“Heh, pangeran!” cibir Rina dan Sasa menghela nafas kasar.
****
__ADS_1
Hari berganti dengan begitu cepat, kesehatan Biru juga ternyata semakin membaik ketika para sahabat nya selalu datang untuk mendukung nya. Orang tua Biru lega dan ikut senang karena pada akhirnya, Biru tidak sendiri lagi, Biru tidak takut memiliki teman lagi.
“Ini semua berkat Langit ya Yah,” kata bunda Elsa sambil melihat ke arah Langit yang sejak tadi membantu membereskan barang Biru dalam tas nya.
“Hem, memang benar kata Papa. Seperti nya dia dan sahabat nya memang akan berbesan,” jawab ayah Faris terkekeh.
“Bunda gak nyangka, kalau bocah yang dulu itu kini sudah tumbuh besar dan setampan ini. Tak hanya tampan, namun dia sangat tulus dan bertanggung jawab, bunda bersyukur kalau pada akhirnya Biru bisa bersama Langit.”
“Iya Bun, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka. Ayah juga berharap seperti itu, biarkan mereka melukis kisah nya di biru nya langit.”
“Cih, ayah masih aja sok puitis,” kata bunda Elsa terkekeh.
“Loh, kok puitis sih Bunda. Memang benar kan, kini ayah mengerti kenapa Anna kita menginginkan nama nya di panggil menjadi Biru. Agar namanya bisa di sandingkan dengan Langit.”
__ADS_1
Bunda Elsa tersenyum dan membenarkan ucapan suaminya. Memang iya, saat kecil nama panggilan Biru adalah Anna, namun sejak pertemuan nya dengan Langit, tiba tiba ia ingin di panggil Biru. Dan juga karena arti dari nama nya sendiri juga Biru jadi ia ingin menjadi Biru agar bisa menjadikan Langit sellau cerah berwarna biru.