Langit Biru

Langit Biru
Bab 35


__ADS_3

🍁🍁Biarkan ku ukir indah namamu di dalam hatiku, Meskipun kita tak bisa bersama, biarkan namamu tetap abadi dalam hatiku.🍁🍁


.


.


.


.


“Aku bahagia, karena pada akhirnya, aku bisa menghabiskan hari ini bersama kamu. Aku bahagia karena kamulah orang terakhir yang aku lihat. A—aku, aku tidak mau membuat ayah dan bunda sedih saat melepas kepergian ku. Itu sebab nya aku ingin pergi bersama kamu. Maafkan aku Langit, maafkan aku bila aku egois,maafkan aku bila aku menyakiti kamu dan membuat mu menangis, aku menyayangi kamu, aku mencintai kamu, aku—“


“Biru, aku mohon, jangan bicara lagi, kita ke rumah sakit sekarang yah,” bujuk Langit namun Biru terus menggelengkan kepala nya dengan kuat.


Kini, Biru sudah meminta berpindah. Keduanya sama merebahkan diri di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu, saling menatap ke arah langit biru yang begitu cerah. Biru terus menggenggam tangan Langit, melarang agar laki laki itu tidak menatap ke arah nya. Biru tidak ingin terlihat menyedihkan, ia hanya ingin menikmati keindahan langit bersama kekasih nya.

__ADS_1


“Langit, kamu belum berjanji sama aku, kamu—“


“Aku gak bisa, aku gak bisa membuat janji yang begitu konyol. Bagaimana bis aku bahagia tanpa kamu, aku gak bisa Biru!” seru nya pelan sampai meneteskan air mata.


“Kamu gak sayang sama aku Lang?” Biru menatap ke samping, dimana ia bisa melihat wajah Langit yang sudah sangat frustasi karena tidak  bisa membujuk nya.


“Justru karena aku sayang sama kamu, aku ingin kamu sembuh, aku ingin—“


“Nyatanya waktu ku sudah habis Lang, Tuhan sudah begitu baik memberikan ku waktu selama ini sampai aku bisa bertemu dengan mu lagi. Dan aku—“ Biru lagi lagi menghela nafas nya berat, “Aku sudah lelah, izinkan aku istirahat.”


"Jangan buat langit biru yang selalu aku impikan menjadi kelabu. Aku mohon, meski pun aku tidak ada nanti jangan ubah langit cerah itu menjadi gelap. Meskipun Biru tiada, tapi kamu akan mendapatkan pelangi yang akan jauh lebih indah."


“Yang harus kuat itu kamu sayang, kamu harus kuat. Kamu harus bertahan, kamu pasti bisa melawan nya, kamu bisa.” balas Langit semakin tidak menyukai kata kata Biru, "Langit tidak butuh pelangi, ia hanya butuh satu warna, yakni Biru. Karena pelangi harus di dapatkan setelah badai, dan aku tidak menginginkan badai itu. Aku mohon, bertahan lah, ada aku yang akan selalu menemani kamu, kita bisa bersama, kita—"


“Lang ... “ suara Biru semakin lirih, tangan yang semula menyentuh wajah Langit kini sudah terjatuh, matanya masih saling menatap, dan sebuah senyum masih terbit di wajah Biru yang begitu ayu walau pucat.

__ADS_1


“Aku mencintai kamu,” gumam biru terbata dan hampir tak terdengar, hingga akhirnya ia benar benar menutup mata nya.


Langit langsung memejamkan matanya dnegan kuat, air matanya semakin deras membasahi wajah nya. Ia bangun duduk di samping Biru, mengangkat kepala itu dan ia letakkan di paha.


"Aku belum siap, aku belum bisa menerima ini hiks hiks. Kenapa—" Langit semakin terisak, ia berusaha untuk meredam tangis nya, menarik nafas sedalam mungkin dan melepaskan nya perlahan.


Siap tidak siap, mau tidak mau, nyatanya kini takdir mereka sudah berbeda. Akan sangat jahat bila dirinya semakin menahan Biru.


“Istirahatlah, istirahat yang tenang. Maaf bila aku terus membebani kamu, maafin aku yang terus menghalangi jalan kamu. Semoga—“ Lagi lagi Langit menghentikan ucapan nya karena dada nya terasa begitu sesak.


“Aku, akan berusaha untuk bahagia.Tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak menangisi kamu, maaf kan aku, karena ini sangat berat untuk aku. Aku tidak sekuat yang kamu bayangkan,” gumam Langit terisak dan semakin mengeratkan pelukan nya di kepala Biru.


“Aku harus apa sekarang hem? Aku harus bagaimana?” tanya Langit di sela isak tangis nya, tangan nya semakin bergetar saat sambungan telfon nya sudah terputus.


Tanpa Biru sadari, bahwa sejak mereka datang di Taman bunga, Langit sudah melakukan panggilan telfon dengan Nathan. Tentu saja itu untuk berjaga jaga bila nanti terjadi sesuatu dengan Biru, Langit tidak perlu berlari atau berteriak memanggil keluarga dan bantuan medis untuk Biru.

__ADS_1


“Kenapa waktu kita begitu singkat, aku belum bisa bahagiain kamu, kenapa harus secepat ini? Kenapa harus secepat ini kamu pergi. Luka yang pernah kamu obati, kenapa kini kamu gores lagi, kenapa hiks hiks.”


__ADS_2