
Tidak cukup dengan menjambak dan menghempaskan tubuh Biru ke lantai, Sisil bangkit, lalu ia mengambil air dengan gayung dan menyiramkan nya ke tubuh Biru hingga membuat baju Biru basah kuyup. Biru sudah tidak bisa melawan, ia juga tidak menangis. Ia hanya berdoa semoga ada yang datang menolong nya.
‘Ayah, bunda ... Langit ... ‘ gumam nya dalam hati setelah hampir kehilangan kesadaran.
“Cewek murahan kaya lo, gak pantes buat Langit. Harus nya lo sadar diri, lo udah jadi simpenan om om, ya udah jadi simpenan aja, gak usah sok sok an mau deket sama Langit. Kasta lo itu beda sama kita kita, denger gak lo hah!” Sisil hendak menjambak rambut Biru kembali, namun tiba tiba ia terkejut saat pintu toilet itu di buka depan paksa, atau lebih tepat nya di dobrak oleh seseorang dari luar.
“Bangsaattt!” pekik Langit begitu marah saat melihat tubuh Biru sudah terkapar di lantai dan hampir hilang kesadaran.
Sontak Sisil langsung beranjak dari posisi jongkok nya dan hendak memundurkan langkah, “L—Langit, dia jatuh dia kepleset dan gue Cuma mau bantu, dan—aaaarrrrrkkhhhh!” pekik Sisil yang merasakan jambakan yang begitu kuat dari Langit.
__ADS_1
Tentu saja, Langit tidak sebodoh itu untuk percaya dengan ucapan Sisil, tadi selesai pertandingan Langit langsung mencari keberadaan Biru. Rina dan Sasa mengatakan bahwa Biru pergi ke toilet, hingga hampir sepuluh menit Biru tidak juga kembali. Merasa khawatir ia pun segera menyusul, namun naas karena pintu itu terkunci.
Awal nya, Langit ingin mencari ke kamar mandi lain, namun ia mendengar suara jeritan dari dalam, membuat akal sehat nya tidak bisa berfikir jernih. Dengan cepat ia berusaha mendobrak pintu itu agar bisa terbuka. Dan benar saja, dugaan nya bahwa Biru sedang dalam bahaya.
“Kayaknya peringatkan yang gue kasih ke elo, gak mempan!” bisik Langit menahan marah nya, tangan nya masih mencengkram dengan sangat kuat rambut Sisil hingga membuat gadis itu menjerit kesakitan namun Langit tidak perduli.
“La—Langit ... “ mendengar suara Biru yang begitu lirih, membuat Langit langsung menghempaskan kepala Sisil ke tembok hingga membuat nya berdarah.
“Bertahan lah Sayang, ku mohon bertahan. Kita ke rumah sakit sekarang!” gumam Langit di tengah lari nya.
__ADS_1
“Biru!” seru Nathan terkejut melihat penampilan Biru yang acak acakan dan basah.
“Nat, bantu gue bawa mobil. Kita harus ke rumah sakit!” pekik Langit, membuat Nathan tersadar.
“Pakai mobil gue!” Langit hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil Nathan.
Tadi nathan berniat mengambil baju ganti di dalam mobil nya, namun saat hendak kembali ia melihat Langit yang tengah berlari panik sambil menggendong Biru. Ia ikut panik dan memilih menunggu di dekat mobil nya.
“Bertahan lah Sayang, aku mohon. Bertahan,” Langit terus bergumam selama dalam perjalanan, sementara Biru, gadis itu malah tersenyum memandang wajah Langit.
__ADS_1
“A—aku mau kamu bahagia. Jangan menangis,” gumam Biru begitu lirih sambil tangan nya terulur menyentuh rahang kokoh milik Langit.
“Aku akan bahagia Sayang, aku pasti akan bahagia kalau sama kamu. Aku mohon, bertahan lah sebentar lagi kita sampai!” kata langit dengan suara yang sudah bergetar hebat.